BARSHA

BARSHA
Draft



Ke esokan paginya aku sengaja bangun sangat awal dan membukakan pintu untuk menyambut kepulangan ibu, ayah dan Wili, setelah mereka pergi selama beberapa hari untuk mengurus Lea sebelumnya, saat aku hendak pergi ke sekolah, Wili justru malah bisa libur dengan alasan lelah, aku juga tidak mau ke sekolah lagi pula ini hari yang sangat menyebalkan untukku, yang tidak lain adalah hari dimana pengumuman nilai ujian akhir akan di bagikan, semuanya akan di umumkan di mading sekolah, setiap tahu aku selalu mendapatkan rasa malu sebab selalu berada di urusan ke dua paling bawah, menjadi bahan ejekkan teman-teman yang lain atau di jadikan lelucon yang sangat tidak menyenangkan sama sekali.


"Barsha kau kirimkan surat ini ke sekolah Wili ya, dia sangat kelelahan membantu ibu menjaga Lea di rumah sakit sebelumnya, Lea sakit parah dia dirawat beberapa hari, kau jangan membuat masalah." Ucap ibu sambil memberikan surat kepadaku.


"Bu aku juga tidak mau sekolah, boleh ya ibu buatkan aku surat juga." Ucapku berusaha membujuk ibu saat itu.


Aku lupa kalau aku tidak asam seperti Wili yang semua kemauannya selalu dituruti, aku juga tidak seperti Lea yang selalu menjadi kebanggan keluarga, yang sudah pasti ibu memberikan tatapan tajam kepadaku dan berteria sangat keras menyuruh aku untuk segera pergi dari rumah saat itu juga.


"Apa kau bilang? Sudah sana pergilah kau ke sekolah, atau ibu tidak akan membelikan pakaian baru untukmu tahun ini!" Teriak ibu sangat memekikkan telinga.


Aku yang ketakutan segera saja bergegas memakai sepatuku dengan cepat, dan hendak pergi dari rumah secepatnya, namun baru saja aku hendak memegangi gagang pintu, ibu sudah kembali memanggilku dan rupanya dia malah memberikan ancaman yang sangat mengerikan untuk anaknya sendiri.


"Hei tunggu, awas ya kalau kau mendapatkan nilai yang jelek, apalagi tidak lulus, ibu tidak akan menerimamu masuk ke rumah ini!" Ucap ibu sambil menyipitkan matanya dan membuat aku merasa sangat ngeri mendengarnya.


Ku telan salivaku dengan susah payah dan segera mengangguk kepada ibu, karena dia terus mendesak aku saat itu.


"Kenapa kau diam, ayo jawab!" Bentak ibu lagi kepadaku.


"Aaahh..iya iya, aku sudah belajar dengan sangat giat sebelumnya, ibu tidak perlu merasa cemas." Balasku berusaha menenangkan diriku sendiri.


Pada sebenarnya aku sudah sangat cemas tidak menentu, dan takut dengan hasil ujianku, hingga dalam keadaan takut dan penuh kecemasan seperti ini aku malah dikagetkan dengan kemunculan Varel yang tiba-tiba saja ada di depanku saat aku baru membuka pagar rumah pagi ini.


"Astaga...aahh kenapa kau tiba-tiba saja disini, apa kau hantu ya, mengagetkan aku saja." Gerutuku kepadanya.


Dia hanya tersenyum kecil saja padaku sambil menggaruk belakang kepalanya pelan, lalu aku terus menatapnya dengan perasaan aneh dan heran sebab tidak biasanya Varel sepagi ini sudah muncul di hadapanku dalam keadaan seperti ini.


"Hei, mau apa kau berdiri di depan pagar rumahku?" Tanyaku kepadanya.


"Aku mau bertanya apakah kemarin kau langsung pulang setelah mengantar aku ke rumah?" Tanya dia padaku.


Aku mulai merasa gugup dan jantungku mulai berdetak cukup kencang, teringat dengan kejadian kemarin yang masih membuat aku merasa gugup untuk menghadapi Varel, jika membahas hal itu.


"Aahh...aku langsung pulang setelah menidurkan kau di kamarmu, aku juga membawamu dibantu Ciko kemarin kau bisa bertanya padanya." Ucapku kepada dia.


Sengaja aku mengatakan begitu agar dia tidak bertanya tentang hal yang lainnya aku takut dia menyadari kejadian yang sangat memalukan itu, aku juga terasa sangat gugup sekali, dengan kaki yang sedikit gemetar dan tangan yang terus saja tidak bisa diam saat itu.


"Aahh...ku pikir kau.." ucap Varel kepadaku sambil menatap dengan lekat.


Aku sudah sangat tegang dan penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh Varel saat itu, namun Ciko tiba-tiba muncul memanggilku bersama dengan Niko yang ada di sampingnya, mengajak aku untuk pergi ke sekolah bersama.


"Hei Barsha, ayo pergi ini sudah siang." Ucap Ciko membuat aku langsung saja pergi dengannya dan akhirnya bisa bebas dari Varel.


"Aahh..iya, Varel aku harus ke sekolah, sampai jumpa." Ucapku sambil melambaikan tangan padanya dan segera berjalan menghampiri Niko dan Ciko secepatnya.


"Nanti kita rayakan kelulusan bersama, kau jangan kemana-mana Varel." Teriak Niko kepadanya.


Varel hanya menanggapi dengan mengangguk pelan sambil tersenyum lebar, dia juga membalas lambaian tangan dariku saat itu, baru saja aku bisa bernafas lega dari pertanyaan Varel, sekarang sudah harus memikirkan masalah kelulusan yang tidak menentu sama sekali, selama di dalam bus aku tidak bisa bersemangat, yang biasanya selalu ceria dan tersenyum lebar kini aku seperti tidak memiliki semangat sedikitpun, rasanya sangat cemas sekali dengan nilai yang akan aku dapatkan nantinya.


Disisi lain Niko yang memperhatikan wajah Barsha terlihat melamun sejak pertama kali masuk ke dalam bus, dia mulai menyenggol Ciko dan menunjuk ke arah Barsha.


"Syuutt...Ciko, lihat dia, sepertinya dia cemas soal nilai hari ini, sana kau hibur." Ucap Niko kepadanya.


Ciko mengerutkan kedua alisnya dengan kuat dia sama sekali bukan orang yang pandai menghibur dan dia sama sekali tidak bisa melakukan hal itu, terlebih kepada Barsha yang selera humornya memang berbeda dengan dia.


"Kenapa tidak kau saja, biasanya kan kalian yang lebih dekat dan banyak bercanda." Balas Ciko membalikkan ucapan Niko.


"Tidak bisa, aku tidak akan menghibur dia dalam kondisi begini, yang ada dia akan marah atau mengamuk padaku." Balas Niko yang memang ada benarnya.


"Aishh...dasar kau, ya sudah minggir sana, aku akan duduk di sampingnya." Balas Ciko yang meminta bertukar tempat duduk dengan Niko saat itu.


Ciko mencoba membuka obrolan dengan Barsha dan mulai bertanya dengan keadaannya saat itu.


"Ekhm....apa kau mencemaskan hasil ujianmu?" Tanya Ciko kepadaku secara tiba-tiba.


Aku langsung menoleh ke arahnya dengan menatap heran dan sangat sinis.


"Untuk apa kau bertanya begitu padaku, kau sudah tahu aku selalu mendapatkan nilai yang buruk, aaahh apa lagi yang bisa ku harapkan, ditambah lara fansmu di sekolah akan menyerang aku hari ini, semuanya karena ulah yang seenaknya mengaku menjadi pacarku, aahh hidupku akan semakin sulit." Keluhku kepadanya sambil terus menundukkan kepala dengan lesu.


"Sudah, lagi pula hari ini hanya berkumpul di lapangan bukan? Tidak ada yang akan mempermainkan mu, mereka tidak akan berani macam-macam denganmu, asal kau terus denganku juga Niko," ucap Ciko membuat aku semakin heran dengannya.


Langsung saja aku menoleh dengan cepat ke arahnya dan terus memberikan tatapan menyelidik.


"Eehh....sejak kapan kau begitu perhatian denganku, dan mau bersamaku di sekolah? Biasanya juga kau sangat enggan untuk aku ikuti." Balasku kepadanya.


Ciko membuka matanya cukup lebar dan dia malah langsung saling tatap dengan Niko karena bingung harus menjawab apa padaku saat itu.


"Sudahlah, kalian tidak usah menjagaku, aku bisa pergi sendiri, aku juga masih punya Kesi bahkan jika Kesi tidak ada, aku bisa menghajar cewek-cewek centil itu sendiri." Balasku sambil kembali duduk dengan tegak dan terus saja memupuk semangat sendiri di dalam diriku.


Aku tidak bisa menjadi lemah dan emosional seperti ini, lagi pula ini adalah hari terakhir aku ke sekolah dengan seragam putih abu, jadi aku harus mempersiapkan diri sebaik, mungkin dengan apapun yang akan aku hadapi nantinya, entah nilai yang mungkin tidak bagus, para perempuan yang akan menghajar ku, maupun menghadapi hal lainnya.


"Aku Barhsa, aku pasti bisa melewati semuanya dengan mudah, seorang diri!" Teriakku dengan tekad yang kuat dan mengepalkan kedua tanganku saat itu.


Tepat ketika bus berhenti aku langsung berdiri dan berjalan lebih dulu keluar dari bus, langsung memperbaiki seragam yang aku kenakan dan segera saja berjalan penuh dengan keberanian, hingga membuat Ciko dan Niko merasa heran yang melihat aku tiba-tiba saja sudah memiliki banyak energi lagi seperti sebelumnya.


"Eehh..apa dia kerasukan setan atau gimana? Barusan saja mengeluh dan kebingungan, kenapa sekarang sudah bersemangat tinggi lagi?" Ucap Niko yang keheranan sendiri.


"Sudahlah itu lebih bagus untuk kita, tidak usah menghiburnya lagi atau harus mengikutinya, ayo pergi." Balas Ciko sambil segera mengikuti Barsha masuk ke dalam gerbang sekolah.


Aku dan kedua temanku memang duduk di kelas berbeda, sehingga sudah pasti aku tidak bisa terus menerus berlindung dibalik kedua orang itu, sehingga satu satunya cara yang bisa aku lakukan adalah menjaga diriku sendiri, aku berjalan mengendap-endap menuju kelasku karena menghindari para wanita yang bisa saja tiba-tiba muncul dimanapun lalu menyerang ku, seperti yang terjadi sebelumnya.


Meski di hadapan Ciko dan Niko aku begitu pemberani dan sangat kuat, namun nyatanya saat tidak ada kedua orang itu, aku tetaplah takut dengan serangan gerombolan fans Niko dan Ciko yang selalu menyerang aku semenjak Ciko mengaku sebagai pacarku di kantin sebelumnya.


Untunglah aku sampai di sekolah sangat pagi jadi belum terlalu banyak siswa yang ada di sekitar sana, dan aku masih bisa berjalan dengan mudah menuju ke kelasku saat itu, pergi dengan perlahan dan sengaja terus berjalan dengan menutupi setengah wajahku menggunakan tas selempang yang aku bawa saat itu.


"Oh tuhan tolong selamatkan aku, semoga saja aku bisa sampai di kelas denga selamat." Ucapku sambil terus melihat kondisi di sekitar sana.


Setelah aku rasa sudah aman, barulah aku berlari secepat yang aku bisa untuk sampai ke dalam kelas, namun saat aku baru saja hendak masuk ke dalam kelas, ku lihat sudah ada segerombolan wanita yang sebelumnya pernah mau menangkap ku, mereka duduk di kursiku dan ada Kesi juga disana, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dimana Kesi tengah di desak oleh beberapa perempuan yang ada disana dan memakai rok terlalu pendek saat itu, aku tidak bisa masuk ke dalam dan segara saja menghentikan langkahku dengan cepat.


Aku langsung kembali ke luar dan terdiam bersembunyi di balik dinding luar kelas saat itu.


"Astaga... Apa yang mereka lakukan? Kenapa sepagi ini sudah ada di kelasku, aishh..sial bagaimana aku bisa masuk kalau begini?" Gerutuku merasa cemas sendiri.


Aku terus saja mengintip mereka di balik jendela kelas dengan perasaan was was, hingga tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dan membuat aku hampir berteriak saat itu.


"Aahh... Jepri, astaga...bisa tidak kau jangan menyapaku seperti itu lagi, aahh jantungku hampir copot karenamu." Ucapku kepadanya dengan mata yang tajam.


"Kenapa kau terus disini, ayo masuk." Ucapnya padaku sambil menarik tanganku begitu saja.


Aku langsung menahannya dengan cepat, karena tidak mungkin masuk ke dalam, disaat masih ada banyak perempuan fans nya Ciko yang sudah siap memburuku di dalam sana.


"Eehh...eeehh..ehh..tidak, aku tidak bisa masuk sekarang, Jepri lepaskan tanganku." Ucapku kepadanya.


"Memangnya kenapa?" Tanya dia lagi yang sangat menjengkelkan untukku.


"Apa kau tidak lihat, di dalam ada banyak fansnya Ciko dan Niko, mereka akan meringkus aku kalau aku masuk ke dalam, aaahh aku tidak bisa melawan mereka yang banyak sedangkan aku seorang diri, sudahlah kalau kau mau masuk, sana masuk sendiri saja, biarkan aku disini sampai mereka pergi." Ucapku kepadanya.


Jepri menatap ke arah banyak wanita yang ada di dalam kelas, tepatnya di kursi yang aku duduki saat itu.


"Kenapa kau harus takut dengan mereka? Kau kan tidak salah, ayo masuk saja aku akan menjagamu." Ucap Jepri sambil terus menarik tanganku dengan paksa.


Aku tidak bisa berontak, karena kekuatan dia lebih besar dibandingkan kekuatanku jadi aku terbawa masuk ke dalam kelas oleh Jepri dan semua anak perempuan yang centil dan memakai make up tebal itu mengetahui keberadaanku.


"Astaga...jangan jangan, Jepri kau akan membunuhku jika membawaku masuk astaga..." Ucapku terus saja berontak berusaha melepaska diri darinya, tapi dia terus saja tidak mendengarkan ucapanku.


"Hei lihat, bukankah dia si Barsha itu." Ucap salah satu wanita disana.


Semuanya menatap ke arahku dan aku sudah benar-benar diketahui oleh mereka semua, aku tidak bisa kabur lagi selain dari bersembunyi di balik tubuh Jepri saat itu.


"Astaga...Jepri ini semua salahmu kau harus menepati janjimu untuk menahan mereka, ayo cepat, kenapa kau diam saja." Ucapku sambil segera bersembunyi di balik Jepri dengan cepat.


Dia malah terus terlihat santai dan tersenyum kecil disaat para wanita itu datang menghampiri ke arah aku dan Jepri berdiri.