BARSHA

BARSHA
Ditinggal Varel



"Barsha.... Tapi Barsha..." Ucapnya terus bicara pelan kepadaku saat itu.


Aku terus saja berpura-pura tidur dan tidak mau mendengarkan suara dia sama sekali, tetapi disaat aku terus berputar-putar tidur, dia malah semakin keterlaluan dan sangat menjengkelkan sekali, dia terus saja memanggil aku lagi dan lagi hingga aku benar-benar tidak bisa tertidur dengan tenang dan lelap, terus saja memanggil namaku tanpa henti.


"Barsha...kau tidak benar-benar tidur kan? Barsha... bangunlah Barsha...." Ucap dia lagi yang mulai memegangi tanganku saat itu.


Aku sudah benar-benar jengkel dan naik pitam di buatnya sehingga ketika dia kembali memanggil namaku lagi, langsung saja aku bangkit terduduk dan membentak dia dengan sangat kencang.


"APA? Ada apa lagi Varel? Kenapa kau selalu menggangguku? Aku mau tidur Varel mataku sudah sangat mengantuk." Ucapku sangat emosi dengannya.


"Kalau aku tidur di sana bagaimana denganmu, apa kita akan tidur bersampingan?" Tanya dia yang sangat menyebalkan.


"Jadi sedari tadi kau terus memanggil aku karena hal ini? Iya?" Bentakku lagi dengan mata terbelalak lebar kepadanya.


Dia mengangguk pelan yang membuat aku semakin frustasi dibuatnya, aku terus saja menghirup udara cukup lama dan membuangnya kasar sekaligus.


"Asihh...Varel... Kau! Dasar kau sialan, ayo cepat tidur, kemari kau... Cepat eugh..." Ucapku menarik dia dengan paksa sampai berhasil membuat Varel jatuh ke ranjang dan aku terus saja menyelimuti dia hingga memberikan ancaman kepadanya agar dia segera tidur dan beristirahat dengan tenang tanpa harus mengganggu aku lagi seperti sebelumnya.


Meskipun saat itu wajah Varel terlihat linglung dan penuh dengan kebingungan, tapi aku sama sekali tidak memperdulikan hal itu, terus saja aku menatap dia dengan tajam dan bicara dengan tegas kepadanya.


"Dengar aku baik-baik! Kau tidur disini, di sampingku dan jangan banyak bicara lagi, atau kau akan aku tendang ke bawah, tidur di lantai!" Bentakku sangat kencang sambil menunjuk dia dengan kuat saat itu.


Dia pun langsung saja terdiam dan terlihat menelan salivanya susah payah, kembali mengangguk padaku dan segera saja aku kembali membaringkan tubuhku dengan kenyamanan, lalu menutup mata hingga tidur dengan lelap, tidak perduli lagi apakah Varel tidur di sampingku atau tidak yang terpenting bagiku saat itu, aku sudah sangat mengantuk sekali dan butuh tidur yang panjang.


Sedangkan disisi lain tanpa sepengetahuan Barsha sebenarnya saat itu Varel sangat tegang dia sama sekali tidak bisa bergerak dengan leluasa, sebab ini adalah pertama kalinya bagi dia tidur di ranjang yang sama dengan seorang perempuan, berbeda dengan Barsha yang terlihat begitu santai dan bisa tidur dengan nyenyak begitu saja tanpa merasa resah dan tidak terganggu dengan semua itu sama sekali, sebab dia merasa bahwa Varel seperti saudara baginya jadi bagi Barsha tidak masalah sama sekali meski dia akan tidur dengan Varel di ranjang yang sama bersampingan seperti ini.


Sedangkan Varel tidak sama dengannya dia terus saja merasa sangat gugup dan tidak tahu harus berbuat apa agar dirinya bisa menghilangkan rasa gugup itu dan bisa mulai tidur dengan lelap, agar besok bisa beraktivitas dengan kuat juga menjaga energinya sendiri, sampai tidak lama baru saja selang beberapa menit, disaat Varel tengah mengatur nafasnya beberapa kali, justru malah Barsha yang berbalik mengarah ke arahnya dengan sebalah kaki dan tangannya yang menimpa tubuh Varel, membuat Varel semakin tegang dan sama sekali tidak bisa berkutik lagi saat itu.


"Astaga...apa yang dia lakukan... Barsha hei..lepaskan aku, kenapa kau memelukku?" Ucap Varel berusaha untuk menjauhkan diri dari Barsha saat itu.


Sayangnya jika sudah tidur Barsha memang sangat sulit untuk di bangunkan, terlebih dia mungkin kecapean setelah menempuh perjalanan panjang dari negara A ke negara C yang jaraknya memang sangat jauh, jadi wajar saja jika Barsha tidur begitu lelap dan tidak bisa di bangunkan oleh Varel saat itu.


Hingga lama kelamaan akhirnya Varel memilih untuk berdamai dengan dirinya sendiri, dan mengusahakan diri agar bisa menerima keadaan dia yang sulit seperti ini, dia mulai kembali mengatur nafasnya dan melirik ke arah wajah Barhsa yang terlihat sangat kelelahan sekali saat itu.


"HM.... Barsha kamu cantik, seandainya kamu tahu jika aku..." Ucap Varel hampir saja dia akan mengutarakan perasaannya kepada Barsha saat itu.


Namun untungnya tangan Barsha menepuk wajah Varel sehingga membuat Varel langsung menghentikan ucapannya tersebut dengan cepat, dia memindahkan tangan Barsha itu ke tempat lain namun semuanya sia-sia, baru saja Varel hendak melarikan diri untuk menjauh dan menjaga jarak dari Barsha tetapi kaki dan tangan Barsha seakan bisa mengetahui dimana keberadaan dia saat itu, sehingga terus saja dia bisa ditangkap olehnya dan tetap ditemukan saat itu.


"Astaga .. aaahh sebaiknya aku tidur saja, masih ada hari esok yang harus aku lawan," batin Varel memikirkan.


Dia pun mulai tertidur dengan lelap seiring dengan berjalannya waktu dan bertumpuknya rasa kantuk dalam dirinya sedari tadi, jadi dia terus saja menutup matanya sedikit demi sedikit hingga tertidur dengan sangat lelap saat itu juga.


Malam telah berlalu, Varel sudah bangun lebih dulu dan dia suda bersiap-siap dengan memakai seragam ya kumplit dan rapih, dia kembali ke kamarnya dan bertemu dengan profesor yang sudah berdiri di depan kamar dia hendak masuk ke sana.


"Profesor.." ucap Varel menyapanya lebih dulu sebelum profesor mengetuk pintu saat itu.


"Eeh... Varel kenapa kamu keluar dari kamar gadis itu sepagi ini?" Tanya profesor kepadanya.


"Aahh...saya mau membangunkan dia, tapi saya sudah siap, dia tetap tidak bangun juga jadi saya pikir sebaiknya kita pergi lebih dulu saja, saya sudah menaruh pesan di samping mejanya." Balas Varel yang langsung dianggukkan oleh profesor pembimbing dirinya.


Mereka pun pergi ke tempat perlombaan dan semuanya akan segera di mulai, satu nomor dengan nomor urut lainnya mulai di sebutkan satu persatu untuk memastikan kehadiran mereka semua pagi itu, hingga selang beberapa saat kini giliran Varel yang di panggil, dia segera naik ke atas panggung dan dia mendapatkan lawan yang cukup berat saat ini, dimana lawannya adalah seseorang dengan usia yang jauh lebih tua dibandingkan dia dan memiliki riwayat mengajar di beberapa kampus terkenal juga sudah memiliki dua laboratorium aktif sampai saat ini yang masih di kelola dengan baik olehnya.


Disisi lain aku baru terbangun dengan sinar matahari yang mulai menyinari wajahku dan membuat mata silau, sehingga membuat aku langsung terbangun dengan cepat, aku yang berpikir itu masih pagi, terus saja menggerutu kesal sendiri.


"Aishh....kenapa matahari disini terang sekali sih, padahal kan masih pagi." Gerutuku sambil segera bangkit dengan perlahan saat itu.


Sampai aku melihat ponselku dan disana menunjukkan sudah jam sepuluh pagi, diamana acara lomba penampilan robotnya sudah di mulai sejak satu jam yang lalu.


"Astaga...jam sepuluh? Acara perlombaannya? Aaahhh...sial, Varel pasti meninggalkan aku, pantas saja dia sudah tidak ada disini." Gerutuku terus saja terburu-buru dan segera mengambil tas kecil lalu pergi ke tempat perlombaan yang di tuliskan oleh Varel dalam secarik kertas yang dia tinggalkan di atas meja rias dalam kamar hotelku saat itu.


Aku harus berlari dengan sangat kencang untuk mencari keberadaan dia, dan bertanya pada beberapa orang yang berlalu lalang di sekitar sana dengan bicara menggunakan peragaan tubuh dan tangan, karena aku sama sekali tidak tahu bahasa Inggris dan tidak mengerti orang-orang disana berbicara apa saat itu.


Sampai setelah sepuluh menit berlalu akhirnya aku berhasil menemukan aula besar yang ada di hotel tersebut dan aku bisa segera pergi kesana dengan cepat, aku benar-benar di buat lelah dan terus berkeliling kesana kemari hingga hampir tersesat di hotel yang sangat luas dan memiliki banyak lantai tersebut.


Sesampainya disana, ada banyak sekali orang yang menyaksikan kontes tersebut, untungnya saat aku sampai diatas panggung sana bisa aku lihat bahwa itu adalah giliran Varel, setidaknya aku datang tepat waktu dan bisa memberikan dukungan penuh kepada dia secara langsung.


"Bagus, ini masih giliran Varel, aku harus mendekat ke arahnya agar dia bisa melihat aku dan aku akan memberikan dukungan penuh kepada dia." Gerutuku sambil segera berlari walau berdesak-desakan dengan yang lainnya.


Setelah ku rasa sudah sangat dekat aku langsung berteriak memanggil nama Varel dengan sangat kencang agar dia tidak berputus asa dan bisa terus percaya diri juga diberikan semangat penuh, meskipun lawannya menurutku tidak seimbang.


"Varel....semangat! Go Varel! Go Varel Go!!" Teriakku sangat kencang dengan begitu antusias yang malah di ikuti oleh beberapa orang penonton yang juga mengidolakan Varel saat itu.


Dia menatap ke arahku dan menunjukkan senyum kecil yang cerah aku senang jika dia sudah bisa tersenyum seperti itu lagi, setidaknya itu menandakan bahwa dia memiliki semangat penuh lagi atas apa yang ingin dia gapai dan apa yang ingin dia lakukan selama ini pada dirinya dan membuktikan pada semua orang bahwa dia mampu.


Aku tidak bisa berhenti berteriak untuk memberi dukungan penuh bagi Varel, aku tidak mau membuat nyali dan kepercayaan diri Varel menciut hanya karena tidak ada orang yang bisa bersorak untuknya karena dia datang dari luar negeri dan acara ini di siarkan secara langsung di semua saluran televisi internasional.


Ayah, ibu Wili dan kak Lea juga kedua temanku, mereka juga bisa melihat pertarungan sengit ini lewat siaran langsung di waktu itu juga.


Disaat peserta yang lain memiliki banyak pendukung karena mereka erada dari negaranya sendiri yang merupakan tuan rumah, sedangkan yang lainnya menyewa penonton bayaran, ada yang memberikan dukungan dari seluruh anggota keluarganya yang bisa turut ikut dalam acara ini, jadi karena melihat semua itu, aku juga tidak mau kalah dan tidak bisa membiarkan Varel seorang diri saja tanpa dukungan yang keras.


Profesor dan panitianya juga hanya memberikan dukungan pelan sebab jumlah mereka yang hanya tiga orang saja, pantas itu tidak akan cukup untuk bersorak keras.


Aku memberanikan diri mengambil mic milik salah satu wartawan yang meliput perlombaan bersejarah cipta robot tersebut.


"Ayo... Varel Robotmu yang paling hebat, dia yang paling kuat, aku mendukungmu!" Teriakku sangat kencang, bahkan bisa mengalahkan para suporter yang lainnya.


Mereka langsung melirik ke arahku dengan tatapan yang sinis, seperti tidak suka mendengar teriakkan kunyang sangat kencang hingga dapat mengalahkan teriakkan mereka yang memiliki banyak orang di dalamnya.


"Eeee.....eee..ehh, kenapa malah horor gini ya?" Batinku merasa sangat aneh.


Tapi ketiga pendamping Varel mereka malah memberikan dia jempol tangan mereka kepadaku dan menyuruh aku untuk memberikan semangat lagi kepada Varel dengan caraku seperti sebelumnya, mereka bahkan memuji aku lagi dan lagi, dan itu sangat mencurigakan untukku.