
Aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu mengingat Ciko yang ternyata masih saja merajuk padaku, padahal aku pikir dia sudah memaafkan aku karena sudah mau bersikap baik membantuku duduk dan membayar ongkos busnya untukku.
"Hmmm....ayolah Ciko mau sampai kapan kita saling marahan terus seperti ini, apa kamu merasa nyaman dengan situasi canggung dan aneh begini?" Ucapku kepadanya.
Dia tetap saja tidak menjawab aku hingga aku juga tidak memiliki ide lainnya, dan hanyanbisa tertunduk lesu dan diam saja selama perjalanan hingga sampai ke tempat tujuan kami.
Aku berjalan dengan Ciko dan terus saja mengimbangi langkahnya yang cukup cepat saat itu, tapi dia seakan tidak mau berdekatan denganku, dan terus saja menjauh, itu cukup membuat aku kesal sehingga aku segera menahan tangannya dan bicara dengan tegas kepada dia saat itu juga.
"Ciko tolong berhenti marah seperti ini. Kita itu sudah berteman sejak kecil apa kau anak-anak yang masih mau merajuk sampai berhari-hari kepadaku? Kalau kau marah katakan padaku apa salahku padamu, kau yang tidak mengijinkan aku untuk ikut kesana aku juga yang meminta maaf karena telah bicara kasar dan membentakmu sebelumnya tapi apa semua itu belum cukup bagimu? Hah!" Ucapku padanya dengan sedikit terpancing emosi.
Ciko mulai menoleh ke arahku dan tidak aku sangka dia malah membulatkan matanya dengan kedua tangan yang berkacak pinggang saat itu, sepertinya dia memang sangat marah denganku kali ini.
"Barsha aku tidak suka kau dekat dengan Jepri, dia itu berbeda dengan kau dan kita semua, dia bukan orang baik dan kau tahu dia sering mempermainkan banyak wanita, dia juga sumber rumor, apa aku salah sebagai teman karena mencemaskan temanku? Hah!" Balas dia kepadaku saat itu.
Seketika aku langsung terdiam mendengar ucapan dari Ciko saat itu, tidak aku duga, rupanya dia sangat mencemaskan aku sampai bersikap seperti ini, aku sangat senang ada orang yang mencemaskan aku tapi bagiku dia tidak perlu sampai berlebihan seperti ini padaku karena aku bisa menjaga diriku sendiri.
Namun aku justru merasa curiga saat itu, sebab bahkan teman yang lainnya juga tidak pernah mencemaskan aku sampai seperti itu, bahkan merajuk selama ini seperti Ciko.
"Eehh? Ada apa denganmu, kenapa aku merasa sikapmu begitu aneh hari ini, apa kau suka padaku ya?" Ucapku kepadanya.
"Hah....aku, suka padamu? Yang benar saja, aku tidak akan menyukai sahabat kecilku sendiri, aishh bagaimana aku bisa menyukaimu aku bahkan tahu kau sering mengompol di celana saat kau kecil, kau sering menggigit tangan orang seperti seekor anjing dan mencakar wajah Niko ketika kalian bertengkar, aaahhh....dimana kau simpan otakmu itu sampai berpikir aku menyukaimu," balas dia sambil menggelengkan kepala dan pergi meninggalkan aku sendiri.
Aku sudah cemberut kesal menahan emosi di dalam diriku sendiri saat itu, karena malah mendapatkan penghinaan seperti ini dari Ciko, padahal aku hanya berusaha menebak sesuai dengan apa yang aku rasakan saja, tapi dia malah memberikan reaksi yang sangat luar biasa seperti ini, sampai mengungkit hal yang sering aku lakukan dimasa lalu.
"Aishh....kalau kau memang tidak suka padaku setidaknya jangan menghinaku seperti itu, dasar kau sialan. Persetan denganmu! Aku tidak perduli lagi meski kau akan merajuk selamanya, eughhh.....Ciko sialan!" Bentakku sambil terus saja menggerutu kesal padanya.
Tapi dia sama sekali tidak menanggapi aku sedikitpun, Ciko terus masuk ke dalam rumahnya tanpa beban apapun dan tanpa rasa bersalah sedikitpun, aku yang masih kesal juga segera masuk ke dalam rumah dengan mulut terus menggerutu sendiri sampai duduk di samping Wili dan terus saja memasang wajah yang ditekuk kuat saat itu.
"Dasar manusia menyebalkan, kenapa juga dia harus mencemaskan aku seperti ayahku saja, memangnya dia siapa berani mengatur aku? Awas saja kau, aku tidak akan memintamaaf lagi pada manusia es sepertimu." Gerutuku sambil terus saja mengucek bantal bantal kecil di sofa yang aku ambil.
"Hei....hei...ada apa denganmu, datang-datang malah merusak suasana nontonku, apa kau baru saja di kejar preman lagi ya?" Tanya Wili padaku saat itu.
"Huuuh.... Wili aku tanya padamu, apa ada seorang teman yang bisa mencemaskan temannya sama seperti ayahnya sendiri, tapi dia mengatakan bahwa dia tidak menyukai aku?" Tanyaku kepada Wili saat itu.
Dia terlihat langsung mengerutkan kedua alisnya, karena merasa heran dengan apa yang tiba-tiba saja aku tanyakan kepadanya saat itu
Bahkan dia juga malah menyentuh dahulu secara langsung dan membuat aku langsung mundur menjauh darinya.
"Eehh...apa yang mau kau lakukan?" Tanyaku dengan heran saat itu.
"Apa kau sakit ya? Kenapa tiba-tiba bertanya begitu padaku?" Ucap dia kepadaku.
"Tidak, aku sehat, bahkan masih sangat kuat, aku hanya bertanya saja padamu, karena kau sudah sering di kelilingi banyak wanita yang menyukaimu tentu kau akan tahu masak seperti ini bukan? Jadi cepat beri tahu aku jawabannya." Balasku kepada dia dan mendesaknya dengan cepat.
"Heh...kakakku yang sangat-sangat urakan dan bar-bar tidak ada otak, kau dengar ini baik-baik," ucap dia yang lagi-lagi malah menghina aku.
Tapi aku tetap saja harus menahan emosi meski raut wajahku sudah berubah dengan sangat datar tanpa ekspresi apapun selain rasa dongkol dan terus bersabar karena masih mau mendengar penjelasan darinya saat itu.
"Kak Barsha yang sangat menyedihkan, menurutku tidak ada ada pertemanan apalagi persahabatan diantara wanita dan pria di dunia ini, karena pasti salah satu diantara mereka akan ada yang memiliki perasaan lebih terhadap yang lainnya, termasuk antara kau dan ketiga pemuda kompleks yang meresahkan itu, kalau aku tebak pasti ini tentang kak Ciko bukan? Tapi sebaiknya kau jangan menyukai dia lebih dulu, sebab dari wajah dan cara perlakuannya saja sudah bisa di lihat kalau dia hanya menganggapmu sebagai bebannya saja," balas Wili yang benar-benar sangat menusuk jantungku sampai aku tidak bisa berkata-kata lagi.
Hanya bisa menyandarkan tubuh ke belakang dengan cepat dan menghembuskan nafas dengan kasar, sebab memikirkan apa yang dikatakan oleh Wili memang ada benarnya juga, aku memang terlalu konyol karena mengira dia menyukai aku sebelumnya.
"Haaahhh....kau benar juga, tapi Wili kenapa dia selalu ikut campur dalam urusanku, dia bahkan merajuk saat aku pergi dengan pria lain, apa itu bukan pertanda kalau dia tertarik denganku dan cemburu kalau aku dengan pria lain?" Balasku lagi pada Wili.
Dia malah tertawa menanggapi ucapan lanjutan dariku saat itu, dan aku merasa benar-benar di ledek habis-habisan oleh adik sialanku itu malam ini.
Dia memang hanya mengkhawatirkan aku sebagai temannya saja, dia juga hanya tida mau aku semakin merepotkan dirinya jika aku pergi menonton pertandingan itu dengannya, aku baru sadar ketika Wili memberitahunya padaku.
"Huuh...kau benar, tapi untungnya aku tidak sempat menyukai Ciko, aku juga hanya menganggapnya teman saja, jadi tidak ada yang perlu di permasalahkan sekarang," balasku merasa lega seorang diri.
"Hei....kalau kau tida menyukainya untuk apa kau memikirkan hal ini, dan kenapa kau memperdulikan apakah dia menyukai dirimu atau tidak, Barsha cinta itu kadang tidak akan kamu sadari, jadi berhati-hatilah, apalagi kau selalu bergaul dengan banyak pria, aku sampai tidak mengerti mengapa mereka bisa dekat dengan wanita sepertimu, mereka mungkin hanya menganggapmu sebagai pria bukan wanita sebenarnya." Ucap Wili yang membuat aku semakin terpikirkan.
Aku terus bertanya-tanya kepada diriku sendiri saat itu, apakah aku benar-benar menyukai Ciko, atau Ciko yang menyukai aku, tapi semua ucapan dari Wili itu semakin membingungkan dan aku tidak tahu bagaimana perasaan diriku sendiri sekarang ini.
Aku tidak mau memikirkannya lagi, jadi aku pergi saja ke kamarku saat itu, namun Wili malah meminta bayaran dariku karena sudah mengobrol mengenai hal sebelumnya dan meminta pendapat darinya.
"Aaahh..sudahlah bodo amat, yang penting aku bisa pergi kemana-mana dengan senang dan terus menjalani hidup tanpa beban, tidak perduli dengan percintaan yang membuat kepala pening." Ucapku sambil bangkit berdiri dan hendak masuk ke dalam kamarku saat itu.
"Barsha...kau mau kemana? Apa itu caramu berterima atas saran yang sudah aku berikan kepadamu dengan panjang lebar sebelumnya?" Ucap Wili padaku saat itu.
"Aishh...Barsha.... Barsha. Aku ini kakakmu apa kau tidak bisa menghormati aku sedikit saja, aku tiga tahun lebih tua darimu bodoh!" Bentakku kepadanya.
Aku sudah menahan emosi ini sejak awal Wili memanggil aku dengan meyebutkan namaku seperti itu, tapi dia terus saja mengatakannya lagi dan lagi sampai sekarang malah meminta imbalan dariku, tentu saja itu tidak bisa aku biarkan dengan mudah, dia memang harus diberikan pelajaran olehku.
"Memang namamu itu Barsha, tidak mungkin aku memanggilmu Lea karena dia tidak ada disini." Balas Wili kepadaku lagi.
"Dasar kau tidak tahu sopan santun, aishh kemari kau beraninya berbicara tidak sopan dengan kakakmu sendiri, apa kau ini sudah bosan hidup ya, hei....kemari kau manusia sialan!" Teriakku sambil mengejar Wili dan terus melempari dia dengan bantal yang ada disana sekencang yang aku bisa.
Sampai tidak lama ibu memisahkan kami berdua dan dia menyuruh kami untuk makan bersama karena ayah sudah pulang saat itu.
"Hei....ada apa dengan kalian ini, setiap hari kerjanya bertengkar terus, apa kalian ini tidak lelah terus bertengkar setiap hari? Ibu yang mendengarnya saja sudah sangat lelah. Ayo cepat makan ayah akan menyusul setelah dia membersihkan diri." Ucap ibu kepadaku saat itu.
Aku pun berhenti mengejar Wili dan pergi ke meja makan dengan cepat, aku sangat lapar sekali saat itu, karena melewakan makan siang, jadi saat duduk di meja makan aku langsung saja mengambil nasi dan hendak mengambil lauknya juga, tapi ibu malah menahan tanganku dan dia membelalakkan matanya kepadaku.
"Heh...beraninya kau mau mulai makan disaat ayahmu belum muncul, tahan tanganmu ini, aishh... Kenapa kau sangat tidak sopan." Ucap ibu sambil menepuk tanganku cukup keras.
Aku pun terpaksa menarik kembali tanganku sambil mengusapnya pelan karena terasa cukup sakit, terkena oleh tepukan tangan ibu sebelumnya.
"Ssstt. Awww... Ibu kenapa sih, selalu saja melarangku, aku kan lapar Bu," ucapku mengeluh kepadanya.
Namun ibu malah memberikan tatapan tajam lagi padaku, jadi aku mana berani untuk melakukannya lagi, sedangkan disaat aku baru saja di marahi oleh ibu, Wili langsung mengambil satu buah telur ceplok yang ada diatas piring saat itu, tapi ibu sama sekali tidak melarangnya dan membiarkan Wili makan lebih dulu, tanpa.harus menunggu ayah sampai di meja makan terlebih dahulu.
"Eee ...eee..ehhh.. ibu lihatlah Wili mengambil telurnya lebih dulu dan dia mengambil semuanya, harusnya dia memotong telur itu jadi dua, karena aku juga menginginkannya bu, dan dia juga makan sebelum ayah datang, kenapa ibu tidak menahannya juga?" Ucapku protes kepada ibu saat itu.
"Aishh....apa kamu anak-anak, dia kan masuk SMP kamu sudah SMA Barsha, sebentar lagi kamu juga harus kuliah, jangan membandingkan dengan adikmu. Biarkan dia makan lebih dulu dan kau makan dengan lauk yang lain saja, masih ada sayur dan bakso goreng yang ibu buat, jangan mempermasalahkan telurnya," ucap ibu kepadaku yang lagi dan lagi hanya menyuruh aku untuk tidak berebutan dengan Wili.
Aku sangat kesal sekali, cara ibu memperlakukan aku dengan Wili dan pada Lea sangat jauh berbeda sekali, dan aku tidak bisa menerima semua ini.
"Aku sudah tidak lapar kalian makan saja." Ucapku yang sudah tidak bisa melakukan apapun lagi.
Meski aku berontak, marah ataupun berbicara untuk membela diriku di hadapan mereka tetap saja aku akan disalahkan, karena aku tidak pernah menjadi benar walau hanya sekalipun.
Aku harus terus bersikap layaknya aku kakak pertama di keluarga ini, diabaikan, dibeda-bedakan dan selalu dibandingkan, semua hal itu membuat aku kesal dan emosi. Karena mereka melakukannya hampir setiap hari.
"Hei... Barsha.... Barsha mau kemana kau... Apa kau sungguh tidak mau makan, aishh..anak itu benar-benar sulit sekali diatur." Ucap ibunya sambil menghela nafas dengan berat.
Wili yang melihat Barsha begitu kesal malam itu, dia akhirnya tergerak juga dan tidak jadi memakan telur miliknya, dia mengambilkan piring milik Barsha lalu memberikan telur itu padanya dan membawa piring itu ke kamar Barsha untuk memberikannya makan karena dia tahu kakaknya itu tidak makan siang di rumah dan sudah pasti dia akan keluyuran.
"Hei...makan ini, kau tidak akan jadi manusia yang kuat lagi jika kau tidak makan." ucap Wili sambil menaruh piring itu di meja belajar milik Barsha.