
" kenapa si bang " tanya Arsha yang baru saja masuk ke dalam mobil dengan nafas yang terengah-engah
" opa jatuh sakit dek " jawab Ardian.
" APA!! " teriak Arsha setelah mendengar jawaban dari Ardian. Seketika itu air mata jatuh membasahi pipi putih Arsha.
Opa atau kakek Hartomo merupakan orang yang paling Arsha sayang karna berkat kakeknya dia berhasil menjadi orang terkaya nomor 4 seperti sekarang.
Sepanjang perjalanan menuju kembali ke Jakarta, Arsha tak henti hentinya memanggil nama kakeknya, dia semangis sejadi jadinya. Dia takut jika dia harus kehilangan sosok pahlawan baginya.
" udah dek jangan nangis terus ya, kasian bang Ardian nggak bisa fokus nyetir karna takut. Udah ya cup....cup....cup jangan nangis lagi ya, berdoa aja semoga opa nggak kenapa kenapa oke sayang " ucap Shail berusaha menengangkan Arsha yang masih menangis sesenggukan.
" bang....... Ar, Arsha sa, sayang opa " ucapnya terbata karna masis saja terus menangis.
Sambil terus menyetir mobil, dalam hati Ardian terus berdoa agar tidak terjadi apa apa pada opanya. Dia tidak mau jika kejadian beberapa tahun lalu terulang kembali, dia tidak mau kehilangan senyum manis yang selalu terukir indah di wajah Arsha, dia tidak mau kehilangan sosok Arsha yang sekarang, dia juga benar benar sangat takut.
Tidak hanya Ardian rupanya, dalam hati Shail juga berdoa agar semuanya baik baik saja.
" bangg....... Agak cepet sedikit kenapa!! " teriak Arsha yang masih dalam keadaan menangis.
Ardian dan Shail tak kuasa mendengar teriakan itu, hatinya di selimuti rasa khawatir yang benar benar dalam, hati mereka teriris. Bayang bayang kejadian beberapa tahun yang lalu kini bermunculan di hadapan keduanya.
Bukannya mempercepat laju mobilnya, Ardian malah menepikan mobilnya di pinggir jalan. Dia tidak kuasa menahan rasa sesak yang menjalar di seluruh dadanya. Dia terdiam sejenak.
Ardian yang sedang berusaha menormalkan pernafasannya terperanjat kaget, begitupun dengan Shail. Sedari tadi Shail tidak mau melepaskan pelukannya kepada Arsha, dia tahu Arsha akan sangatmembutuhkan bahu untuk bersandar.
" Arsha tenangin diri kamu ya, jangan buat bang Shail sama bang Ardian takut " ucap Ardian sembari menengok ke arah kursi belakang.
Diambilnya tangan mungil Arsha, di belainya lembut sambil berkata " kita pelan pelan aja ya, kalo nanti sampai terjadi apa apa sama kita, bukan cuma opa yang akan masuk rumah sakit tapi kita juga "
Mendengar nasehat dari Ardian seketika itu raut wajah kesedihan berubah datar, tak ada lagi isakan yang terdengar dari mulut Arsha.
" maafin Arsha bang, Arsha cuma khawatie sama opa " ucapnya lirih.
Seletah di rasa semua aman, Ardian kembali melajukan mobilnya perlahan.
Arsha masih diam tak bergeming dari pelukan Shail, pelukan hangat yang selalu Shail berikan jika hal hal semacam ini terjadi. Dalam hati Arsha berdoa semoga semua baik baik saja, matanya kembali meneteskan air mata tapi dia hanya bisa terdiam agar tidak membuat kedua bangnya khawatir.
Shail tahu betul jika adik kesayangannya itu kembali menangis tapi dia biarkan saja agar dia bisa sedikit lega. Shail juga tidak melepas pelukannya, malah dia semakin erat memeluk Arsha agar suara isakannya tak sampai terdengar di telinga Ardian.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, jetiganya akhirnya sampai di rumah sakut dimana opanya dirawat. Mereka bergegas turun dan masuk kedalam rumah sakit.
" suster saya mencari pasien bernama Hartomo, beliau ada di ruanh sebelah mana ya " tanya Ardian kepada suster yang bertugas di bagian administrasi.
" sebentar, yang bernama Hartomo ada di ruang VVIP tuan. Ruangannya berada di lantai 2 paling pojok kiri " ucap suster menjelaskan.