BARSHA

BARSHA
Keras Kepala



Hingga sesampainya di salah satu toko sepatu kami pun mulai memilih sepatu yang cocok untuk seorang fisikawan seperti Varel ini, walaupun sudah melewati beberapa pertengkaran karena sibuk memilihkan yang terbaik menurut pandangan masing-masing saat itu, tetapi pada akhirnya kami bertiga berhasil menemukan satu sepatu yang cukup bagus dengan harga yang tidak terlalu tinggi juga berwarna hitam polos sesuai dengan model yang sering di gunakan oleh Varel meskipun, jelas sekali bahwa merk yang dipakai oleh Varel adalah yang asli sedangkan yang kami beli adalah barang tiruannya sebab kami tidak sanggup jika harus membeli barang yang asli sama persis dengan yang di beli Varel, harganya bisa membuat aku bangkrut dan membuat Niko di matahari kakaknya hanya Ciko yang mungkin masih mampu untuk membeli barang semahal itu.


"Sudahlah kita beli yang tiruannya saja, lagi pula Varel tidak akan masalah dengan hal itu dia kan anak penurut dan baik aku yakin dia akan senang bahkan jika kita hanya memberikan sepotong kue atau tidak sama sekali, asalkan kita datang menyambutnya dengan baik," ucapku kepada Niko dan Ciko yang masih saja berpikiran keras untuk membeli barang tiruan tersebut.


"Hei...apa lagi yang sedang kalian pikirkan, kalian memangnya punya uang untuk membeli yang asli?" Ucapku pada mereka.


Dan seketika di balas dengan gelengan kepala yang pelan oleh keduanya saat itu.


"Kan...kalau tidak punya ya sudah kemarikan biar aku yang akan membelinya, kau siapkan saja uangnya sekalian aku talangin ya hehe," balasku sambil merampas sepatu itu dari tangan Ciko dan membawanya ke kasir.


Sesuai dengan dugaanku harganya memang masih di ambang kenormalan jadi ya aku santai saja membelinya dan disaat kasih sudah memberitahu harganya langsung saja aku berbalik kepada Ciko dan Niko yang ada di sampingku saat itu.


"Mana? Kemarikan uangnya cepat berikan," ujarku sambil mengulurkan tangan kepada mereka berdua saat itu.


Ciko pun memberikan uangnya kepada termasuk dengan Niko yang menambahi uangnya sampai dengan cepat saja aku berikan ke kasir itu dan kami sudah tidak perlu membungkus kadonya lagi sebab sudah sekalian di bungkus oleh kasir disana yang sangat baik karena mau memberikan diskon kepadaku.


Aku juga sangat senang dan segera pulang dengan cepat, lalu memberikan sepatu itu pada Ciko sebab tidak mungkin aku akan membawanya ke rumah.


"Nih kau pegang dan jaga baik-baik jangan sampai rusak apa kau mengerti?" Ucapku pada Ciko saat itu.


"Kenapa harus aku, kau yang membelinya kau saja yang pegang aku malu untuk memberikan hadiah murah seperti itu pada Varel, apa kau tidak malu apa?" Balas Ciko padaku saat itu.


"Hei...tentu harus kau yang memegangnya di rumahku ada Wili dia akan sangat penasaran jika melihat aku pulang membawa kado, terakhir kali kado ulangtahunku yang di beri oleh Varel saja dia rusak, bagaimana jika sekarang aku membawa pulang kado ini dan di rusak lagi oleh Wili, bukankah itu akan bahaya?" Ucapku kepada Ciko yang berhasil membuat Ciko langsung mengambil kembali kado tersebut dari tanganku.


"Aishh....iya iya biar aku yang pegang, tapi ingat nanti jika berhadapan dengan Varel kau sebut saja ini idemu dan kau sendiri yang memberikannya aku malu sekali harus memberikan kado murahan begini pada Varel," ujar Ciko saat itu.


Aku hanya mengerutkan kedua alisku dengan perasaan sedikit kesal padanya.


"Heh...apa yang perlu kau buat malu, ini bukan barang yang jelek kok, ini kan barang baru kalau kau tidak mau tidak masalah juga, biar aku yang akan memberikannya nanti," balasku kepadanya saat itu.


Kami terus berjalan hingga aku sudah sampai di depan rumah lebih dulu, tapi rasanya aku sangat berat untuk masuk ke rumah dan sangat tidak ingin melangkahkan kaki ke dalam sana, rasanya begitu berat dan aku takut ibu sudah pulang saat itu, aku juga malas bertemu dengan Wili, sampai akhirnya aku memutuskan untuk tidak pulang ke rumah saat itu dan ikut dengan Niko.


"Hei...Niko tunggu!" Teriakku kepadanya sangat keras.


"Ada apa kau, bukannya tadi sudah mau masuk ke rumahmu ya?" Tanya dia padaku saat itu.


"Tidak jadi aku belum mau pulang, aku ikut denganmu saja ya, lagian di rumahmu pasti tidak ada siapa-siapa aku mau numpang menonton televisi saja disana," ucapku sambil berjalan mendahului Niko saat itu.


Niko menatap heran kepadaku dan dengan cepat dia menyusul langkah kakiku, Ciko sudah pulang ke rumahnya dan dia bilang dia sudah ada janji dengan Niko dan teman-teman pria di kelasnya untuk pergi menonton bola sore itu.


Sedangkan aku tentu saja tidak mereka ijinkan untuk ikut padahal aku sangat ingin sekali mengikuti mereka ke sana walau tidak suka bola tetapi setidaknya aku bisa menghibur diriku sendiri jika pergi menonton bola nantinya.


Saat aku tengah menonton televisi di rumah Niko seorang diri, dan Niko tengah di kamarnya tidak lama Niko ke luar dan sudah mengganti pakaiannya saat itu, dia juga terlihat sudah berpakaian rapih dan wangi aku langsung saja bangkit berdiri dan berjalan memperhatikan gayanya saat itu.


"Hei..berhenti mengendusku, apa kau ini anjing hah?" Bentak Niko kepadaku saat itu.


"Kau memakai parfum ya?" Tanyaku kepadanya dengan menatap penuh kecurigaan.


Niko langsung saja terlihat gugup dan bicara dengan terbata-bata dalam menjawab pertanyaan dariku.


Sampai akhirnya terdengar suara Ciko yang berteriak dari luar memanggilnya, aku pun mengetahui bahwa mereka diam-diam akan pergi menonton pertandingan bola tanpa diriku saat itu.


"A....a...apa memangnya kenapa kalau aku memakai parfum, masalah buatmu?" Balas Niko padaku.


"Tidak masalah tapi ini sangat aneh kau tidak pernah memakai parfum sampai sebanyak ini ketika ke sekolah atau pun pergi denganku, apa kau mau pergi kencan dengan wanita ya?" Tanyaku mencurigainya saat itu.


Dia justru malah langsung tertawa dengan lebar dan terus saja seperti itu hingga Ciko datang memanggil namanya dengan keras.


"Apa? Ahahah...konyol siapa juga yang mau kencang, aku sedang ingin saja memakai parfum ini namanya percobaan aku baru membelinya jadi aku sengaja mencobanya sekarang," balas Niko padaku saat itu tapi aku tetap tidak bisa percaya dengan mudah pada manusia sepertinya.


"Niko.....Niko keluar kau, cepat keluar anak-anak sudah menunggumu!" Teriak Ciko dari luar sana.


"Eee....mau kemana kau, bukannya kau bilang hanya ingin menumpang nonton tv, sana pergi lihat lagi tv nya untuk apa kau pergi ke luar." Ucap Niko yang semakin mencurigai untukku saat itu.


"Heh...ada apa denganmu kenapa kau bersikap aneh seperti ini, kau semakin membuat aku curiga tahu, minggir!" Ucapku padanya sambil langsung saja mendorong tubuhnya ke samping dan langsung membukakan pintu melihat ke luar sudah ada Ciko dan beberapa orang pria lainnya yang ada di depan rumah Niko saat itu.


Aku kaget dan refleks langsung menatap tajam kepada Ciko yang terlihat kaget melihat akulah yang membukakan pintu untuknya bukan Niko sebagai tuan rumahnya.


Di tambah teman-teman prianya yang lain juga nampak membulatkan mata mereka menatap ke arahku dengan lekat saat itu.


"Aaahh.... Barsha aku kan sudah bilang kau diam saja di dalam kenapa kau malah pergi membuka pintunya?" Ucap Niko yang tiba-tiba datang dan mengomeli aku seperti itu di depan mereka semua.


"Ekmm.....Niko apa dia pacarmu, apa yang sedang kalian lakukan di dalam rumah hanya berdua saja?" Ucap salah satu temannya yang ada disana.


Dan yang membuat aku kaget rupanya diantara pria yang ada disana itu juga ada Jepri kembarannya Tisa dia juga tinggal di kelas yang sama denganku namun entah bagaimana bisa berteman dengan Ciko dan Niko saat itu juga bermain dengan anak-anak tim basket lainnya.


Selain itu aku juga sangat kesal karena ada salah satu pria yang bicara tidak sopan memikirkan hal di luar nalar dan malah mengira aku sebagai pacarnya Niko, sontak hal itu langsung membuat Niko tertawa dengan lebar dan aku langsung harus menginjak kakinya dengan kencang agar dia berhenti tertawa seperti itu.


"Apa? Ahahaha...aku pacarnya dia? Ahahah...konyol....," Ucap Niko yang membuat aku semakin emosi.


"Awww....heh..kenapa kau menginjak kakiku dengan kuat, apa salahku padamu?" Bentak Niko padaku dan aku hanya memberikan dia tatapan yang tajam saat itu.


"Kau pantas menerima itu dariku, lagian kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau akan pergi tanpaku, apa kalian sudah lupa denganku dan Varel ya, mau kemana kalian pergi beramai-ramai seperti ini, apa kalian mau demo hah?" Bentakku bertanya kepada Niko juga semua orang yang ada disana.


"Kita mau menonton bola, dan kau tidak boleh ikut!" Ucap Ciko memberitahuku sekaligus langsung saja melarangku.


Aku kesal sekali bahkan disaat aku belum bicara apapun dia sudah berani melarang aku seperti itu jadi langsung saja aku berjalan menghampiri dia sambil berkacak pinggang hingga berdiri di hadapan dia dan terus memberikan tatapan tajam dengannya.


"Apa? Kau tetap tidak bisa ikut meski kau memberiku tatapan setajam apapun, bahkan jika kau mengamuk dan terus mengikutiku kau tetap tidak akan bisa masuk ke gedung tempat kami menonton bola." Balas Ciko kepadaku.


"Iya Barsha kau tinggal saja di rumahku, aku akan memperbolehkan mu untuk menggunakan ps milikku kau bebas bermain sesukamu, ayo cepat kau masuk saja," ucap Niko sambil menarik tanganku.


Aku tidak mau karena mereka hanya baik padaku disaat seperti ini saja, jelas aku ingin ikut dengannya karena tidak mau tinggal di rumah itu seorang diri rasanya sangat menyebalkan jika aku hanya di tinggal sendiri saja.


Makanya saat itu aku tetap keras kepala dan langsung saja menghempaskan tangan Niko dengan kuat.


"Eughh...tidak mau, kenapa kau menarik tanganku seperti ini apa kau sudah berani padaku, aku tidak mau masuk ke dalam aku akan tetap ikut dengan kalian!" Bentakku dan terus menatap kesal pada Ciko saat itu.


"Ya sudah kau ikut saja nanti juga tidak akan bisa masuk, ayo teman-teman kita pergi saja, ini khusus untuk para pria bukan wanita kau sebaiknya diam di rumah," ucap Ciko sambil langsung pergi dengan teman-temannya begitu juga dengan Niko yang terus saja menyuruh aku untuk masuk ke dalam rumahnya dan memberikan kunci rumahnya itu kepadaku tapi aku tidak mau aku langsung saja berlari menyusul dia dengan cepat.


"Sudah...sudah...jangan marah seperti itu Ciko hanya tidak ingin di ganggu kita mau pergi menonton permainan sepak bola kesukaannya yang sudah dia tunggu cukup lama dia tidak mau di repotkan olehmu makanya dia tidak mengijinkan kau untuk ikut, sebaiknya kau memang tetap tinggal disini saja, ini pegang kunci rumahku, sana masuk ayo cepat," ucap Niko padaku.


"Tidak aku tidak mau, aku mau ikut, biarkan aku tetap ikut aku akan membeli tiketnya sendiri," balasku kepada Niko dan tidak mau menerima bujuk kan darinya.


Aku berjalan dan memegangi pundak Ciko dari belakang saat itu sampai membuatnya berbalik dengan cepat.


"Ciko aku tidak meminta kau untuk membelikan tiketnya, aku bisa membeli tiketnya sendiri bahkan jika aku tidak bisa aku akan tetap pergi ke sana dengan kau dan Niko aku ingin pergi jadi tidak ada siapapun yang bisa menghalangiku termasuk kau atau teman-temanmu ini!" Ujarku padanya.


Hingga tiba-tiba saja entah datang dari mana Jepri menghampiri aku dan dia menarik tanganku saat itu sambil mengatakan bahwa dia yang akan mengijinkan aku untuk ikut dan bertanggung jawab atasku nantinya.


"Barsha kau tetap tidak bisa ikut disana terlalu berbahaya untukmu, apa kau tidak tahu bahwa menonton sepakbola bola secara langsung sering memicu tauran dan sebagainya, aku hanya tidak suka kau ikut kesana demi keselamatanmu, kenapa kau sangat keras kepala," balas Ciko kepadaku.


"Aku tidak lemah bahkan aku bisa mengalahkan preman-preman sebelumnya, kau tidak perlu mencemaskan aku seperti ini," balasku lagi padanya.


"Sudah...biar Barsha aku yang tanggung jawab, dia akan pergi dan ikut denganku kebetulan temanku tidak bisa hadir dan tiketnya masih ada padaku, satu kursi di sampingku kosong Barhsa bisa menempatinya, ayo kau ikut denganku saja jika mau tetap pergi." Ucap Jepri yang menggenggam tanganku dan membawa aku pergi dengan cepat saat itu.


Aku menatap sinis pada Ciko karena dia juga memberikan tatapan yang tajam kepadaku saat itu, terpaksa aku juga ikut dengan Jepri karena Ciko dan Niko tidak mengijinkan aku untuk pergi, daripada aku benar-benar tidak bisa masuk ke dalam gedung nantinya, maka lebih baik aku pergi dengan Jepri saja.


Sebenarnya saat itu Ciko terlihat sangat kesal sampai mengepalkan kedua lengannya dengan kuat, begitu juga dengan Niko yang sangat syok melihat Jepri mau menggenggam tangan Barsha karena yang dia tahu Jepri sebelumnya adalah anak yang sombong dan sangat tidak mungkin mau pergi bersama dengan Barsha yang bar-bar dan urakan seperti itu.