
"Eehhh...apa kau bilang, dia mengungkapkan perasaannya kepadamu? Aishh...anak itu harus aku beri pelajaran!" Ucap Niko sambil langsung saja menggulung lengan bajunya dan dia terus mengepalkan tangan hingga berlagak hendak pergi dari sana.
Aku dengan cepat menarik tangannya dan menahan dia dengan cepat karena jika tidak begitu, aku takut dia akan jadi orang gila yang m*ngajar orang seenaknya nanti, maka dari itu aku harus menahan dia agar dia tidak jadi seenaknya saja.
"Hei ..kau mau kemana astaga...bikin repot orang saja." Ucapku kepadanya saat itu.
Bukannya diam dan menurut Niko malah semakin menjadi-jadi dan dia terus saja berontak padaku, berusaha untuk melepaskan diri dari genggaman tanganku dan terus saja di penuhi emosi untuk pergi mencari keberadaan Jepri saat itu, terpaksa aku harus kembali menahannya lagi hingga aku kehabisan kesabaran karena dia yang terus berontak dan terpaksa harus mengetuk kepalanya cukup keras untuk membuat dia berhenti terus berontak seperti itu.
"Tidak bisa. Aku ini bukan merepotkan dirimu, tapi aku perduli denganmu, dia tidak bisa seenaknya mengungkapkan perasaannya kepadamu, dia sudah berani macam-macam padamu biar aku yang akan menghadapinya!" Ucap Niko yang masih saja keras kepala saat itu.
"Aishh...sudah berhenti, pletak." Ucapku padanya sambil terpaksa harus mengetuk kepalanya saat itu.
Dia pun terus saja meringis kesakitan dan balik marah denganku, tetapi aku tidak masalah dengan hal itu, karena bagiku tidak masalah dia marah padaku, daripada dia harus pergi untuk memberikan pelajaran kepada Jepri yang sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun sebenarnya.
"Aaaww .... Loh, Barsha kau gila ya? Kenapa kau malah mengetuk kepalaku begitu, ini sakit tahu!" Balas dia sambil mengusap kepalanya pelan terus menerus.
"Heh, Bagaimana aku tidak mengetuk kepalamu, kau terus berontak dan tidak mau berhenti untuk diam, dia itu tidak salah, kau ini apa-apaan sih, marah seperti itu tidak jelas. Aku kan bilang dia hanya mengungkapkan perasaannya, aku juga tidak menjawab apapun padanya, memangnya kau pikir apa yang sudah dia lakukan padaku sampai mau memberikan dia pelajaran begitu, dia tidak melakukan kekerasan atau menghinaku, dan mengungkapkan rasa suka pada siapapun itu adalah hak mereka, kau tidak bisa menganggap semua itu sebagai hal atau perbuatan yang buruk, sehingga kau harus memberikannya pelajaran." Balasku memberikan pengertian kepada Niko masih dengan nada yang tinggi.
Niko tetap saja terlihat kesal dan dia berdecak sambil menghempaskan tanganku saat itu, untungnya Ciko membantu aku untuk ikut menjelaskan kepada Niko tentang apa yang aku maksud saat itu.
"Sudahlah Niko, apa yang dikatakan oleh Barsha memang benar, aku sendiri juga tidak terima dia berani melakukan hal itu, tetapi memang tidak ada yang salah saat seseorang mengungkapkan perasaannya pada orang lain, kau juga pasti akan melakukan hal yang sama saat kau menemukan seseorang yang kau cintai nantinya." Ucap Ciko sambil menepuk pundak Niko yang pada akhirnya berhasil untuk membuat Niko mengerti dengan ucapannya.
"CK...memangnya kau ini siapa berani-beraninya mengatur aku, ibuku saja tidak pernah melakukan itu, sudahlah aku mau ke kantin saja. Pasti Kesi sudah ada disana sekarang." Balasku kepada Niko dan langsung pergi ke kantin duluan.
Sedangkan Niko yang hendak marah lagi kepadaku dia ditahan oleh Ciko dan terus berjalan mengikuti aku dari belakang dengan menggerutu dan menahan emosinya saat itu, aku juga hanya bisa menahan tawa dengan kelakuan yang sejak dulu selalu saja posesif terhadap aku, dia mirip seperti ayahku yang sangat ketat jika berbicara mengenai pria atau teman baru yang akan bergaul denganku.
Jadi karena itulah aku sudah terbiasa dengan kelakuan dan sifat Niko yang seperti ini.
"Aish...dasar manusia menjengkelkan itu, aaahh awas saja kau. Pokoknya kalau kau tidak mendengarkan aku dan jika aku melihat kau dekat dengan si Jepri itu, aku akan pindah ke kelasmu untuk memantau, aku tidak akan tinggal diam!" Ucap Niko dari belakang kepadaku.
Padahal saat itu kami sudah berada di kantin dan tengah mengantri untuk mengambil jatah makan siang kami masing-masing tapi Niko masih saja berani bicara seperti itu kepadaku, padahal Ciko sudah berusaha untuk menenangkan dia dan menghentikan dia untuk tidak bicara seperti itu ataupun terus memperpanjang permasalahannya karena itu cukup memalukan jika terus dia lakukan di depan banyak orang yang ada disana.
"Ehhh...sudah sudah apa yang kau lakukan sih, jangan terus bicara seperti itu, kau bikin malu saja, sudah diam atau aku akan menutup mulutmu dengan kaus kakiku!" Ancam Ciko kepada Niko yang berhasil membuat Niko akhirnya terdiam.
Aku juga terus saja berpura-pura untuk tidak mendengarkan dia, dan tidak menanggapi semua ucapan yang dia katakan saat itu, karena hanya dengan begitu baru bisa membuat Niko terdiam setelah dia mendapatkan ancaman dari Ciko, dan aku tidak perlu susah payah untuk menyimpan mulutnya yang sangat bawel dan cerewet melebihi ibu-ibu sosialita itu.
Saat aku selesai megambil makananku aku pergi ke salah satu meja yang dimana disana sudah ada Kesi yang melambaikannya tangannya kepadaku dan mengajak aku untuk duduk bersama dengannya disana, aku segera pergi untuk duduk bersampingan dengan Kesi saat itu, namun yang tidak aku sangka ketika aku baru saja duduk tiba-tiba di hadapanku ada Jepri yang sudah berdiri dan dia bertanya mengenai kursi yang ada di hadapanku saat itu, lalu meminta ijin untuk duduk disana.
Sedangkan aku tahu disana juga ada Niko dan Ciko yang masih mengambil makanan mereka dan jika sampai dia anak itu tahu Jepri datang menghampiri aku apalagi sampai mau duduk di hadapanku, mereka sudah pasti tidak akan bisa aku hentikan lagi, terlebih dengan Niko yang sejak awal sudah keras kepala dan sulit sekali untuk menyuruh dia sabar dan tenang, karena dia adalah orang urakan yang selalu mengutamakan emosi daripada otaknya sendiri.
"Hai Barsha, boleh aku duduk di depanmu, kursi ini tidak ada yang punya kan?" Tanya dia meminta izin kepadaku saat itu.