
Hari ini Caira berencana untuk kembali membuat ulah dengan meng atas namakan Arsha di dalamnya agar dia segera di keluarkan dari sekolah. Setelah hal itu terjadi maka Alex akan menjadi milik Caira seutuhnya.
" enaknya ngapain ya " ucap Caira membayangkan hal apa ayang akan dia lakukan.
Caera, Arsha, Faizah dan Inggrid sedang berada di kelas dan tiba tiba saja semua siswa berlarian menuju LAB IPA, bagaimana mereka bisa tahu ya karna ruang itu tak jauh dari ruang kelas mereka.
" gilak ada rame rame apa tuh "
" samperin sono "
Faizah kemudian keluar dan mengecek situasi yang ada di ruang LAB tersebut. Setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dia bergegas balik ke dalam kelas dan melapor.
" lho tau nggak " ucap Faizah setengah berlari menghampiri ketiga sahabatnya.
" kenapa "
" Caira berulah lagi, dia ngebuat seisi LAB IPA penuh dengan bangkai tikus " jelas Faizah. " bukan cuma itu aja, dia juga ngebuat tulisan dari darah tikus itu di jendela " sambungnya
" tulisan apa Zah " ucap ketiganya penasaran
" MATI!! ya kayak biasanya aja " jawab Faizah dengan sedikit menekan nada bicaranya ketika mengatakan kata mati.
" hati hati Sha, habis ini pasti lho bakal di panggil ke ruang BK "
Arsha acuh tak acuh. Jika memang benar hal itu akan terjadi dia akan segera melapor pada ayahnya.
Bel masuk berbunyi, hari ini tidak ada pembelajaran seperti biasa mereka di bebaskan untuk melakukan apapun kecuali kelas XII. Mereka memang tidak mengikuti pembelajaran tapi mereka mengikuti kegiatan bimbel untuk ujian.
Mungkin karna itu juga guru tidak mempermasalahkan kejadian di LAB IPA tadi.
Karna Arsha mendapat jam yang lebih awal dari ketiga sahabatnya jadi dia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu dan tidak menunggu mereka, dia juga tidak menunggu Alex.
Hari ini dia sedang tidak enak badan sebenarnya tapi dia memaksakan diri untuk masuk sekolah karna bimbel, dia tidak mau ketinggalan bimbel.
Setelah sampai rumah Arsha segera merebahkan tubuhnya di kasur tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu, rasanya dia benar benar pusing tujuh keliling. Badannya juga terasa pegal semua seperti orang habis di keroyok masa.
Hal seperti paling pas adalah meminum segelas coklat panas sambil di pijit.
" turun kali ya buat coklat panas sama nyamperin bang Ardian suruh mijitin " gumam Arsha sembari berjalan menuju dapur.
Selesai membuat coklat panas, Arsha segera menuju perpustakaan dimana Ardian biasa mengurung diri disana. Memang Ardian hobi sekali membaca buku makanya dia di buatkan tempat khusus di dalam rumah.
Arsha kemudian masuk dan mencari keberadaan Ardian, dia berjalan mengelilingi ruangan dan ketemu. Rupanya Ardian sedang membereskan buku buku.
" bang " panggil Arsha yang mengejutkan Ardian
" astaga dek bikin kaget aja " kaget Ardian sambil memegangi dadanya yang berasa ingin keluar.
" hehe " tanpa dosanya Arsha malah tertawa. " bang temenin Arsha di atas yuk, pijitin. Arsha lagi sedikit nggak enak badan nih " sambungnya.
" kenapa nggak suruh mama buat nganterin kamu periksa aja si dek, abang lagi sibuk nata buku buku yang abang baru beli "
" nggak usah kerumah sakit bang, di pijitin bang Ardian juga pasti sembuh kok. " bujuk Arsha yang akhirnya dituruti juga oleh Ardian.
Sesibuk apa Ardian, dia pasti akan meluangkan waktunya jika menyangkut tentang Arsha entah itu penting atau tidak baginya kebahagiaan Arsha lah yang paling utama.