BARSHA

BARSHA
Kabar Gembira



Hingga waktu jam pulang sekolah sudah tiba aku seperti biasa akan pulang jalan kaki karena sudah tidak memiliki sisa uang lagi untuk menaiki bus, aku benar-benar merasa kesepian dan tidak merasa hidup ketika aku tengah seorang diri seperti saat ini, aku berjalan seorang diri menyusuri jalanan sambil memegangi tas punggungku dan terus menendang batu krikil yang ada di depanku terus menerus membawanya dan menendang batu itu tanpa arah yang jelas, rasanya hidupku terasa begitu hampa sekali saat ini, tidak tahu arah dan tidak ada tujuan.


Aku tidak punya mimpi seperti Lea atau pun seperti Wili yang punya wajah tampan dan bisa dengan mudah di tawari bekerja dimana saja, bahkan disaat sekarang ini dia masih duduk di bangku SMP tetap saja sudah banyak orang yang begitu menyanjung dia meski dia tidak terlalu pintar di sekolahnya bahkan dia menjadi wajah di sekolah dan orang yang menjadi model iklan sekolahnya sendiri, dia memiliki banyak teman yang mau bergaul dengannya, berbeda sekali denganku yang hanya berteman dengan satu teman wanita saja sebab yang lainnya pasti menghindar ketika aku mendekati mereka, apalagi jika aku bergabung dalam circle mereka, sudah bisa di pastikan mereka akan langsung menjadi bubar tepat ketika aku datang nantinya, jadi sejak awal aku memang hanya berteman dengan satu teman wanita saja itu pun aku tidak terlalu dekat sebab dia juga lebih memiliki banyak waktu dengan teman lainnya sebab dia anak yang sangat friendly dan disukai banyak orang, dia juga terlahir dari keluarga yang cukup berada, berbeda dengan aku yang benar-benar tidak memiliki apapun untuk menunjang diriku sendiri agar bisa di terima di kalangan masyarakat yang hanya mementingkan uang, tampang dan semua hal yang di luar nalar kemanusiaan di dunia ini.


Tapi aku di paksa untuk tetap bertahan hidup pada dunia yang sangat menyedihkan ini, aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar dan lesu, sampai tidak lama tiba-tiba saja ada Ciko dan Niko yang tiba-tiba muncul dari belakang dan mereka berdua langsung menggandeng tanganku dengan penuh kegembiraannya saat itu, Niko di sisi kananku dan Ciko di sisi kiriku.


"Hei..kenapa kau terlihat kesal begitu apa kau belum tahu kabar menggembirakan yang di bawa oleh Varel?" Ucap Niko kepadaku.


Aku sedikit kaget dan merasa kebingungan sampai mengerutkan kedua alisku padanya saat itu dan langsung saja menanyakan kabar apa yang sebenarnya dia maksudkan saat itu padaku.


"Kabar apa itu?" Tanyaku kepadaku dengan penuh kepenasaranan.


"Aishhh...kau ternyata benar-benar tidak mengetahuinya ya?" Balas Niko lagi yang terlihat kesal denganku, aku hanya bisa menanggapinya dengan gelengan kepala saja, karena memang saat itu aku tidak mengetahui apapun.


"Periksa ponselmu, Varel sudah mengirimkan kabar gembiranya di gruf kita," ucap Niko padaku. Aku pun langsung saja tersenyum kecil padanya.


Aku hanya bisa tersenyum seperti itu karena memang aku tidak bisa menerima pesan dari siapapun saat ini karena paketan di ponselku sudah habis sejak beberapa hari yang lalu dan masih belum bisa mengisinya sampai sekarang.


"Kenapa kau tersenyum begitu, ayo cepat buka ponselmu jika kau ingin tahu." Tambah Niko lagi yang benar-benar tidak peka dalam kondisiku saat ini.


"Aishh...aku tidak memiliki paketan mana bisa aku menerima pesan darinya, kau bodoh atau pura-pura tidak tahu sih, aku kan tidak sama denganmu yang paketannya di tanggung oleh keluargamu, kau memiliki kakak yang baik aku sama sekali tidak memiliki siapapun jadi tidak ada yang bisa mengisi paket dataku sama sekali, tentu aku tidak akan tahu kabar apapun yang masuk ke ponselku." Balasku kepada dia sambil cemberut kesal sekali saat itu.


"O..ohh..begitu ya maaf, aku kan tidak tahu, sudah ini baca sendiri di ponselku jika kau tidak bisa melihatnya di ponselmu sendiri." Ucap Niko sambil menunjukkan pesan di dalam gruf yang ada di ponselnya saat itu.


Aku pun segera membacanya dan langsung membelalakkan mata kepada Niko dan Ciko sambil terperangah sangat senang sekali saat melihatnya, aku begitu senang sekali ketika baru mengetahui bahwa Varel sudah memenangkan perlombaan yang sangat besar seperti ini, rasanya aku sangat senang sekali dan tidak tahu lagi bagaimana caraku menampakkan rasa bahagiaku itu sampai langsung berpelukan dengan Niko dan berjingkrak kegirangan di pinggir jalan saat itu sampai membuat Ciko menarik ujung bagian leher pakaianku dari belakang bak tengah menjewer seekor kucing saat itu, untuk menjauhkan aku dari Niko.


"Aaaaahhh...huhu, dia hebat sekali kita harus merayakannya huaaa..aku senang sekali hahaha...Varel si bocah pendiam itu menang huhuyy," teriakku terus saja merasa sangat senang sekali.


Begitu juga dengan Niko yang ikut sangat bersemangat ketika melihat aku begitu antusias mendengar kabar yang sangat bahagia ini.


"Ahaha..benar kita harus merayakannya malam ini dan tidak akan tidur karena besok akhir pekan, horee!" Teriak Niko padaku juga.


"Hei..hei...hei... kalian tidak perlu berjingkrak sambil berpelukan seperti orang bodoh begitu, apa kalian tidak punya rasa malu apa, ayo jalan yang benar!" Ucap Ciko padaku saat itu sambil terus menjewer bagian belakang pakaianku.


Yang membuat aku langsung menoleh ke arahnya dan memberikan tatapan tajam padanya saat itu juga, dia memang selalu seenaknya menjewer aku seperti itu padahal aku sering sekali merasa kesal jika dia melakukan hal seperti itu padaku, tetapi dia terus saja melakukannya tanpa rasa takut sedikitpun meski sudah aku berikan ancaman berkali-kali. Dia memang sangat menyebalkan sekali.


"Aishh..lepaskan aku hei... Ciko lepaskan tanganmu dari pakaianku, kenapa kau terus menjewer aku begitu sih, hei...aku bukan kucing!" Bentakku sangat kesal dan mencoba berontak padanya saat itu.


Sialnya dia terlalu tinggi dan aku sama sekali tidak bisa menggapai tangannya yang dia naikkan keatas dan membuat aku juga harus menjinjit karena aku hampir tercekik oleh pakaianku sendiri akibat di jewer olehnya.


"Ohok...ohok..hei apa kau mau membunuh aku ayo lepaskan bodoh!" Bentakku lagi sampai terbatuk karenanya.


Barulah saat itu dia mau melepaskan aku dan aku bisa bernafas juga berjalan dengan lebih mudah daripadanya sebelumnya yang benar-benar sangat tidak nyaman, dengan cepat aku menarik pakaianku dan merapihkannya karena sudah terlanjur berantakan karena ulah manusia jahil dan seenaknya seperti Ciko itu.


"Aaahh.....pakaianku lama-lama bisa benar-benar rusak karena kau yang terus menjewernya terus menerus setiap kali berbicara denganku, kau ini kenapa tidak memelihara kucing saja sih, kau sudah cocok jadi ayah kucing karena selalu menjewer pakaian orang lain seperti ini!" Bentakku sambil mengatainya dengan kesal untuk melampiaskan emosi di dalam diriku yang baru saja bisa tersalurkan sekarang.


"Untuk apa aku memelihara kucing di saat aku sudah punya satu kucing dewasa yang sangat menjengkelkan di sampingku," balas dia yang seenaknya menatap ke arahku seakan dia benar-benar menunjuk aku atas ucapan yang dia katakan saat itu.


Langsung saja aku membelalakkan mata kepadanya dan semakin di buat emosi olehnya, sampai kesabaranku benar-benar sudah habis kali ini aku melepaskan tas punggungku dan memberikannya kepada Niko agar dia mau memeganginya untukku sebab saat itu aku sudah memasang ancang-ancang untuk menghajar si Ciko sialan itu yang malah mengatai aku sebagai seekor hewan yang sangat menjengkelkan.


"Hah? Apa kau bilang aishh...awas kau Ciko kemari aku tidak akan melepaskanmu!" Teriakku sangat kencang saat itu.


"E..eee..eeehh..hei kalian berdua tunggu kalian mau kemana kita masih harus membeli hadiah dulu untuk Varel....hei...tunggu aku!" Teriak Niko yang justru malah tertinggal saat itu.


"Aishh..kenapa aku malah di tinggalkan begini sih," gerutu Niko dengan menggaruk kepalanya sendiri saa itu.


Dia juga terpaksa harus ikut berlari mengejar aku dan Ciko padahal saat itu Niko malah sekali jika harus berlari sebab dia adalah orang yang paling mudah lelah diantara kami semua, juga larian nya yang tidak sekencang aku juga Ciko.


Bahkan sejak kecil Niko selalu kalah jika mereka melakukan permainan lomba lari atau hal lain yang memiliki kemampuan lari yang harus bagus, seperti saat ini disaat aku berhasil mengnangkap Ciko dan mulai menimpuki dia dengan kedua tanganku sepuasnya dia baru saja datang setelah aku dan Ciko sudah duduk dan kembali berdamai sbil menikmati minuman dingin yang baru saja kami beli dari salah satu penjual pinggir jalan yang ada disana saat itu.


"Hei...Ciko rasakan ini eugh..buk..buk..buk, kau tidak akan bisa kabur lagi dariku, aishh sialan beraninya kau mengatai aku dengan seekor kucing, aku ini manusia kau tahu hah, rasaka ini!" Ucapku sambil terus menimpuki tubuhnya meski dia cukup tinggi dan agak sulit untuk bisa mengenali kepalanya itu.


Tapi tidak masalah bagiku selama aku sudah bisa melampiaskan emosi di dalam hatiku kepadanya itu sudah jauh dari cukup bagiku, yang terpenting aku sudah bisa merasa lega setelah bisa menimpuki dia sepuasnya.


"Aahh..berhenti..berhenti sampai kapan kau akan terus menumpuk aku seperti ini, hei hentikan aku minta maaf, aku salah hentikan aku akan mentraktirmu es jika kau mau berhenti!" Ucap Ciko yang langsung saja membuat aku berhenti menumpuk dia dengan seketika.


Mendengar teraktiran gratis darinya tentu saja aku akan luluh, lagi pula energiku sudah hampir habis karena harus mengejar dia sebelumnya jadi aku pikir dia harus bertanggung jawab mengembalikan energi dalam diriku setidaknya dengan mentraktir aku minuman agar rasa lelah dan haus di tenggorokanku ini bisa terobati.


"Baiklah tapi aku ingin sirup dingin disana, ayo cepat kita beli," ucapku sambil langsung menarik tangan Ciko sambil membawanya mendekati satu penjual sirup dingin di sekitarnya sana tidak jauh dari tempatku bertengkar dengan Ciko saat itu.


Tidak tanggung-tanggung aku langsung membeli dua minuman yang satu sirup rasa jeruk dan yang satu rasa vanilla, aku sangat menyukainya dan langsung saja menyuruh Ciko untuk membayarnya dengan segera saat itu juga.


"Eumm.....ayo bayar, apa lagi yang sedang kau tunggu, kau tidak mungkin tidak memiliki uang kan?" Ucapku sambil langsung pergi meninggalkan dia yang masih harus membayar penjual itu.


Aku pergi ke tempat yang memiliki bangkit di pinggiran taman kecil yang ada disana dan langsung saja menyelonjorkan kakiku dengan santai menikmati dia minuman yang sangat menyegarkan itu di tanganku sampai tidak lama tiba-tiba saja Niko datang dengan nafas menderu tepat di saat Ciko baru saja duduk di sampingku saat itu.


Dan sialnya dia malah langsung merampas satu minuman di tanganku lalu langsung menyedot nya hingga habis begitu cepat.


"Aahh..hah...hah..hah..aku haus berikan itu padaku," ucap Niko begitu saja sambil langsung merampasnya sehingga aku tida sempat untuk menghindar darinya.


Aku terperangah melihat dia yang meminum minuman dingin milikku itu terus menerus tanpa henti, dan sudah menatap tajam kepada di sedari tadi.


"Syuurtttt....aaaahh...segar sekali, terimakasih Barsha." Ucap dia yang malah mengembalikan cap yang sudah kosong itu kembali ke tanganku.


Aku benar-benar sangat emosi sekali saat itu dan aku sudah mengeratkan gigiku dengan kuat sambil bersiap untuk berteriak memarahi di sialan Niko tersentak.


"HEI! Beraninya kau malah menghabiskan minuman kesukaanku begitu saja tanpa izin, hah..hah..hah...sialan kembalikan minumanku aku tidak mau tahu kau harus mengembalikannya!" Teriakku sangat kencang sampai membuat Niko menutup telinganya saat itu dan dia langsung tersentak ke belakang saat itu.


Dia langsung bersembunyi di balik tubuh Ciko karena takut dengan emosiku saat itu, sedangkan aku tidak bisa melepaskan dia begitu saja setelah dia menghabiskan minumanku begitu saja, padahal saat itu aku sendiri bahkan belum sempat mencoba yang satu itu sedikit pun.


"Aaahh....Ciko selamatkan aku darinya, tolong selamatkan aku," ucap Niko yang bersembunyi di balik tubuh Ciko.


"Ciko minggir kau jangan berani ikut campur atau aku juga akan menumpuk dirimu sama seperti sebelumnya!" Ancam ku kepadanya saat itu.


Tapi bukannya menyingkir Ciko justru malah memberikan minuman yang ada di tangannya kepadaku, untuk menggantikan minuman yang di rampas oleh Niko sebelumnya.


"Sudah jangan bertengkar lagi ambil saja miliku, ini aku sama sekali belum menyentuhnya, cepat habiskan kita akan pergi membeli hadiah untuk Varel ini sudah sore nanti tokonya akan tutup," ucap Ciko padaku.


Aku pun mengambil minumannya sambil memberikan tatapan tajam kepada Niko saat itu karena tetap saja aku masih merasa kesal dengannya sebab dia merampas minuman itu dalam sekejap mata dari tanganku tanpa meminta izin terlebih dahulu di tambah dia juga malah mengembalikan cup kosongnya lagi padaku dan langsung saja aku meminum dua minuman itu sekaligus di hadapannya dengan tatapan sinis, karena tidak mau si sialan Niko itu merampasnya lagi dariku.