BARSHA

BARSHA
Salah Menduga



Aku benar-benar merasakan sesuatu yang berbeda dengan diriku, aku mulai merasakan debaran jantungku yang semakin kencang dan aku terus saja memegangi dadaku dengan cukup erat saat itu, beberapa kali aku terus saja berusaha untuk menghilangkan emosi yang sangat membingungkan di dalam hatiku saat itu.


"Aaaahh ... tidak-tidak ini tidak boleh terjadi, aku tidak mungkin menyukai Varel, dan dia juga tidak mungkin menyukai aku bukan? Aahhh tidak boleh, ini sangat konyol, aku dan dia sudah berteman sangat lama bahkan sejak dia kami kecil, ini akan menjadi canggung jika aku dan Varel benar-benar memiliki perasaan satu sama lain, ini tidak boleh, ini salah. Aaaahhh .. sadarlah Barsha ayo sadar!" Ucapku terus saja menyadarkan diriku sendiri sambil terus menggelengkan kepala dengan keras dan terus saja menarik nafasku berkali-kali saat itu untuk mengatur deru nafasku sendiri saat itu.


Memang sangat sulit untuk meredakan perasaan seperti ini, tapi aku terus berusaha untuk melupakannya dan terus saja memejamkan mataku dengan paksa saat itu, walaupun sulit tapi tidak masalah untukku, hingga tidak lama kemudian, akhirnya aku bisa tertidur juga dan terus saja aku tidur dengan lelap sangat cepat saat itu juga.


Hingga ke esokan paginya, ini adalah hari ujian terakhir dan aku sudah mempersiapkan diri untuk ujian terakhirku ini, aku keluar dari rumah dan ku lihat di depan pagarnya dia sudah terlihat berdiri di depan rumahnya menatap lurus ke arahku saat itu, aku benar-benar sangat kaget di buatnya karena dia berdiri sambil tersenyum kepadaku dan tengah meminum minuman dingin sambil berdiri dan sebelah tangannya bersandar di dinding saat itu.


"Astaga ...ahh....ya ampun Varel, aku pikir kau setan, kenapa kau berdiri disana, aishh... mengagetkan aku saja," ucapku kepadanya saat itu.


"Aku menunggumu." Balas dia kepadaku.


Aku langsung semakin membelalak mata dengan sangat lebar saat itu, dan aku sama sekali tidak mengerti kenapa dia bisa bicara seperti itu kepadaku.


"Ehhh? Tumben sekali, mau apa kau menunggu aku?" Tanyaku kepadanya dengan menatap tajam penuh kecurigaan kepadanya saat itu.


"Kenapa kamu tidak membuka pesan dariku, aku sudah menunggu jawaban darimu sejak aku di pesawat sebelumnya." Balas Varel kepadaku saat itu.


Mendapatkan ucapan seperti itu darinya aku semakin curiga dan takut dengan apa yang sebenarnya dia maksudkan, dan pesan apa yang sudah dia kirimkan kepadaku sebelumnya karena aku sama sekali belum memeriksa ponselku sampai hari ini, sebab masih belum sanggup untuk mengisi kuota dan pulsa di dalamnya, aku terlalu miskin untuk membeli kuota dan aku lebih mengutamakan ongkos untuk bus juga jajan di sekolah saat istirahat saja, dibandingkan harus di belikan pada pulsa yang tidak bisa aku rasakan kenikmatannya itu.


"AA...AA..apa yang kau maksud, pesan apa? Aku sama sekali belum menerima pesan darimu," balasku kepadanya saat itu.


"Jadi kau belum membacanya sama sekali?" Tanya Varel dengan wajah terperangah kepadaku lalu wajahnya langsung saja terlihat lesu.


Aku pun menjelaskan kepadanya alasan aku belum melihat pesannya tersebut.


"Maaf, tapi aku sama sekali tidak menerima pesan darimu, karena ponselku sudah kehabisan pulsa sejak beberapa hari yang lalu, jadi aku tentu saja tidak bisa menerima pesan darimu, apalagi membacanya, ponselku saja jarang aku bawa kemana-mana karena memang tidak ada pulsa atau kuota sama sekali di dalamnya." Balasku menjelaskan kepadanya.


Langsung saja wajah Varel tertunduk semakin lesu dan bisa aku dengar dengan jelas bagaimana dia menghembuskan nafas dengan berat dan dia mengeluarkan semuanya dengan begitu berat di hadapan aku saat itu.


"VA.. VA.....Varel apa kau baik-baik saja? Kenapa kau harus murung begitu?" Tanyaku kepada dia dengan merasa heran.


"HM...tidak papa, aku katakan padamu secara langsung saja sekarang dan kamu harus mendengarnya baik-baik Barsha." Ucap dia kepadaku.


Aku hanya bisa mengangguk menjawab ucapannya, aku juga sudah merasa tegang tidak menentu dan sejujurnya saat itu aku berpikir bahwa Varel akan menyatakan perasaannya kepadaku sehingga aku sulit menelan salivaku sendiri dengan mata yang terbuka dan membulat sempurna, aku sudah berusaha menenangkan diriku dan mempersiapkan jawaban yang akan aku katakan kepadanya, tetapi saat dia bicara aku langsung saja kecewa dengan apa yang aku dengar darinya, karena ternyata dia bukan mengungkapkan perasaannya kepadaku, tetapi hanya mengajak aku untuk pergi berlibur dan ngecamp seperti janji yang pernah aku katakan kepada dia sebelumnya.


"Barsha sebenarnya aku mau.....aku.... bagaimana jika kita ngecamp di pantai saat ujianmu berakhir." Ucap Varel membuat aku merasa takut pada awalnya.


"Ah? Apa? Ngecamp?" Tanyaku memastikan kepada dia.


Hingga tidak lama tiba-tiba saja Niko dan Ciko yang menyetujui ajakan dari Varel dan mereka terlihat begitu antusias untuk melakukan hal itu.


"Hei...hei....itu ide yang bagus, bagaimana jika kita ngecamp di pantai, pasti suasananya akan sangat menyenangkan dan bisa menyatu dengan alam, iya kan?" Ucap Niko yang langsung saja masuk dalam obrolan dan tidak tahu dia datang dari mana saat itu.


"CK.... apa-apaan sih kau ini datang-datang langsung sibuk seperti ini, sana minggir aku belum mendapatkan jawaban dari Varel." Ucapku sambil mendorong tubuh Niko agar menjauh dari hadapanku saat itu.


"Iya Barsha kita ngecamp bersama-sama bagaimana? Sepertinya akan seru jika kita pergi ngecamp, sekaligus mengisi liburan kalian setelah ujian akhir ini." Balas Varel kepadaku.


Aku langsung murung dan menunduk dengan lesu, karena pada awalnya aku sudah berharap terlalu banyak kepadanya, aku juga malah berpikir yang tidak-tidak sebelumnya, padahal jika aku ingat-ingat lagi, memang semua itu sangat mustahil untuk dilakukan seorang Varel padaku.


"Aishh... terserah kalian saja, aku tidak perduli, aku mau ke sekolah saja." Balasku kepada mereka dan pergi lebih dulu meninggalkan tempat itu.


Ciko langsung mengikuti aku dari belakang dan dia menawarkan tumpangan padaku saat itu sambil melajukan sepeda listriknya dengan pelan di sampingku.


"Hei apa kau mau naik atau tidak, jika kau tidak naik juga Niko akan berlari dengan kencang dan merebut jok di belakangku ini." Ucap Ciko kepadaku.


Karena aku kesal pada Niko, akibat kelakuan dia sebelumnya, aku pun langsung menerima tawaran dari Ciko dan langsung saja naik ke belakang boncengan Ciko saat itu.


"Kemarikan helmnya." Balasku sambil merebut helm dari tangan Ciko dengan kasar saat itu.


Aku segera naik ke atas boncengan Ciko dan memeluk Ciko dengan erat saat itu, sengaja aku melakukannya untuk membuat Varel kesal, aku ingin lihat apakah Varel itu menyukai aku atau tidak sebenarnya, maka dari itu aku memeluk Ciko saat di bonceng olehnya.


Walaupun aku harus menerima bentakkan darinya dan terus saja tanganku di tarik dan dia berontak agar aku melepaskan pelukan pada pinggangnya saat itu.


Aku tetap saja tidak mau mendengarkan ucapannya dan terus memeluk dia lagi dan lagi, meski dia terus melepaskan tanganku saat itu, sembari memintanya agar cepat melajukan sepeda motor listrik nya tersebut dengan cepat, agar Niko bisa tertinggal disana saat itu.


"Tidak mau! Ayo cepat kau nyalakan saja motornya dan pergi dari sini secepat yang kau bisa, agar Niko tidak bisa mengejar kita!" Balasku kepadanya.


Yang akhirnya Ciko mau juga menuruti perintahku, dia mulai menyalakan motornya meski terus menggerutu kesal kepadaku saat itu, sedangkan aku sendiri terus saja meledeki Niko dan sengaja memanggil dia dengan keras sampai dia melihat aku yang pergi dengan Niko meninggalnya seorang diri saat itu.


"Aishh...ya sudah, kau ini benar-benar menjengkelkan!" Ucap Ciko padaku saat itu.


"Hei....Niko bodoh, lihatlah kemari aku akan pergi dengan Ciko, kau pergilah ke sekolah naik bus sendiri huh!" Teriakku kepadanya dengan kencang.


Dalam kondisi motor Ciko sudah melaju dengan kencang meninggalkan tempat itu, Niko yang melihat aku pergi dengan Ciko dia langsung membelalakkan matanya sangat lebar dan berteriak memanggil aku dan Ciko untuk berhenti saat itu, tapi dia sudah terlambat karena meski dia sempat berlari mengejar kami tetap lebih cepat daripada kakinya itu.


"Ee .....e..ehh, jangan tinggalkan aku, hei...kalian berdua beraninya meninggalkan aku, jangan tinggalkan aku disini hei..." Teriak Niko yang sudah terlambat saat itu.


Aku hanya menjulurkan lidahku ke luar padanya dan terus saja meledeki Niko dengan sepuasnya.


"Wleee...... rasakan itu, siapa suruh kau malah menerobos saat aku bicara dengan Varel kau juga mengacaukan semuanya, aishh...dasar menjengkelkan kau Niko sialan!" Teriakku kepadanya dengan penuh Kekesalan kepadanya.


Sedangkan disisi lain sebenarnya saat itu Ciko tersenyum cukup lebar, dia begitu senang karena Barsha memeluk dia seerat itu, dia merasa beruntung karena dia pikir hanya dirinyalah yang di peluk seperti itu oleh Barsha dalam waktu yang cukup lama dan mereka sangat dekat seperti saat ini, ditambah Ciko juga mendengar apa yang di teriaki oleh Barsha kepada Niko, sehingga dia pikir Barhsa tidak akan mungkin menerima Niko meski Niko menyukainya.


"Haha....untung saja mereka selalu bertengkar, itu setidaknya bisa mengurangi sainganku, aku hanya perlu bersaing dengan Varel saja kan? Dia tidak akan berani mengungkapkan perasaannya kepada Barsha, aku yakin itu!" Batin Ciko memikirkannya.


Hingga sesampainya di sekolah, aku segera pergi setelah memberikan helm kepada Ciko dan berterimakasih kepadanya dengan cepat.


"Aahh.... akhirnya sampai juga, ini helm mu terimakasih atas tumpangannya, aku ke kelas duluan ya, jika fans wanitamu melihat kau membonceng aku, yang ada nanti aku kena bully." Ucapku kepadanya saat itu.


"Pergi sana kau, dasar konyol." Balas Ciko yang terus saja bersikap jutek kepadaku.


"Iya...iya ini juga sudah mau pergi," balasku dengan tatapan yang sinis padanya.


Saat aku baru berjalan beberapa langkah dari tempat dimana aku berhenti dengan Ciko sebelumnya, ternyata ada Jepri yang baru masuk ke sekolah dan anehnya dia dia memakai mobil yang biasa dia kenakan tetapi malah memakai sepeda listri yang hampir sama dengan apa yang di pakai oleh Ciko.


Dan dia malah menghadang jalanku dengan membunyikan klaksonnya yang sangat berdenging ke telingaku, karena terlalu dekat saat itu.


"Tiiddd...." Suara klakson motor listrik yang dikemudikan oleh Jepri saat itu.


Aku sempat kaget melihat ada Jepri dengan motor barunya yang menghadang jalanku dan hampir saja akan mengenai kakiku saat itu, namun untungnya dia bisa mengemudikan motornya lebih baik dibandingkan dengan mobil yang sebelumnya dia kemudikan, sehingga rem nya tepat sekali.


"Astaga.....aahh...kau, kenapa kau malah mau menyerempet aku apa kau gila ya, kau sengaja mau mencelakai aku?" Bentakku kepadanya karena sudah terlanjur kesal sebelumnya.


"Tidak, yang benar saja mana mungkin aku berniat mencelakai kamu Barhsa, aku melakukan semuanya dengan perhitungan, dan kamu lihatlah kemari apa motor listrik ini bagus, aku baru membelinya kemari dan aku akan mengenakan sepeda listri ini untuk berpergian ke sekolah mulai sekarang." Ucap dia kepadaku saat itu.


"Wahh....memang sangat bagus sih, tapi...." Ucapku kepadanya sambil berpikir dan melirik sedikit pada sepeda motor milik Ciko saat itu.


Dimana pemiliknya tengah memarkirkan motornya di dekat sana.


"Tapi apa Barsha?" Tanya dia kepadaku lagi.


"Tapi itu, kenapa motor listrik sama persis dengan milik Ciko? Apa kau sengaja mengikutinya?" Tanya ku mencurigai dia saat itu.


Dengan cepat Jepri langsung menoleh ke samping dan melihat pada sepeda motor yang aku tunjukkan saat itu, dimana disana juga masih ada Ciko yang tengah menaruh motor listriknya dengan benar, lalu segera saja pergi dari sana dengan cepat.


"Eehhh....apa yang kamu bilang benar, kenapa mirip sekali, aku juga tidak menyadari hal ini, kalau begitu aku tukarkan saja deh." Balas Jepri saat itu.


"Ya kau tukarkan saja, karena sangat mudah untukmu melakukan hal seperti itu, sedangkan untuk Ciko mungkin dia tetap tidak akan melakukannya meski dia ingin, sebab dia punya etika, tidak seperti kau, yang tiba-tiba saja memakai sepeda listri ke sekolah, lalu modelnya begitu sama dengan milik temanku, kau sengaja melakukan ini tapi masih saja berpura-pura seakan kamu tidak tahu apapun, sudahlah aku ke kelas saja, kau juga cepatlah ke kelas sebentar lagi akan masuk dan kita harus ujian." Balasku kepada dia dan segera pergi dari sana secepatnya.


Hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu dan menggelengkan kepala sedikit dalam menanggapi kelakuan Jepri yang sudah terlihat dengan jelas.


"CK..CK...CK...mana mungkin dia kebetulan membeli motor listrik yang begitu sama persis dengan Ciko dan malah meninggalkan mobilnya yang sangat di gila'i oleh para wanita itu, pasti dia sedang berulah menjadi buaya datar sekarang ini." Gerutuku sambil berjalan pergi meninggalkan tempat itu secepatnya.


Sedangkan Jepri sendiri terus saja segera menaruh motornya tepat di dekat motor listrik milik Ciko hanya terhalang dengan beberapa sepeda biasa saja saat itu dan seorang tuan muda Jepri seperti dia tentu saja bisa meninggalkan sepeda motornya dengan santai dan memarkirkannya seenaknya karena dia bisa membeli lagi kapanpun dia mau, meski sepeda motornya itu hilang.