
Aku berdiri di depan halte bus dengan memegangi pergelangan tangan yang sedikit memerah karena ditarik oleh Niko dengan kuat sebelumnya, wajahku sudah mengkerut karena kesal dan menahan emosi kepadanya.
Aku sungguh tidak bisa diam saja, jadi saat itu juga langsung aku membentak dia sekencang-kencangnya.
"Niko! Kau ini kenapa sih, kenapa kau menarik tanganku?" Bentakku bertanya padanya dengan keras.
"Hei, apa kau lupa janji yang sudah kita sepakati?" Balasnya yang malah balik bertanya kepadaku.
Aku langsung menatap ke arah Ciko dengan heran, hingga kembali menatap lagi pada Niko dan mulai berbicara kembali dengannya saat itu.
"Memangnya apa? Aku sama sekali tidak merasa menyepakati janji apapun denganmu." Balasku kecut padanya.
"Aku kan sudah bilang kau tidak boleh dekat-dekat dengan si Jepri sialan itu, kau akan kesulitan jika membiarkan dia terus mendekatimu Barsha, dia bukan lawan seimbang untukmu." Balas Niko lagi padaku.
Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang di pikirkan oleh Niko tentang Jepri sebenarnya, karena aku dan dia sama sekali tidak bermusuhan, terlebih dia juga sangat baik padaku, sejak awal mungkin dia terlihat agak kasar karena terus memaksa untuk mencontek rumus pelajaran dariku yang tidak bisa dia jawab sendiri, namun semakin kesini dan seiring berjalannya waktu dia juga tidak pernah mempermasalahkan hal itu bahkan disaat aku sudah membaginya kepada kembaran dia Tisa.
"Apa yang kau pikirkan tentang aku dan Jepri, aku dan dia tidak bermusuhan juga tidak berteman, dia hanya mengatakan kalau dia mau mengejarku, memangnya menurutmu aku harus bagaimana menanggapi itu? Apa aku harus langsung menolak dia, mengusirnya, atau melarang dia agar tidak menyukai aku, hah? Aku kan tidak bisa begitu, perasaan suka itu hal mereka, tapi aku punya hak juga untuk menolak atau membiarkannya dan aku memilih untuk membiarkannya, karena dia juga sudah pernah aku tolak dengan jelas tapi tetap mengejarku." Balasku kepada Niko dengan tegas.
Dia menatap tidak senang padaku lalu tiba-tiba saja langsung merajuk masuk ke dalam bus yang baru sampai saat itu, aku tidak bisa naik bus karena tidak ada uang, dan tidak mungkin harus memakai uang Niko ataupun Ciko disaat situasinya canggung seperti ini.
"Ya sudahlah terserah kau saja, yang penting aku sudah memberitahumu kau jangan sampai terperangkap olehnya dia beda kasta dengan kita." Ucap Niko sambil langsung pergi ke dalam bus.
"Eehh....Ciko ada apa sih dengan bocah itu? Apa dia salah makan tadi siang, marah-marah terus kepadaku." Ucapku kepada Ciko yang hanya mendapatkan balasan tidak karuan.
"Ayo naik." Ajak Ciko padaku.
"Tidak. Aku mau jalan saja, mana mungkin aku pulang bersama kalian disaat Niko seperti itu, sebaiknya kau temani dia, aku bisa pulang sendiri." Balasku kepada Ciko dan segera pergi meninggalkannya dengan cepat.
"Ciko ayo cepat masuk untuk apa kau menunggunya biarkan saja dia pergi sendiri, sudah besar ini." Teriak Niko yang sudah ada di dalam bus.
Sebenarnya saat itu Ciko tidak tega melihat Barsha harus pulang sendiri dengan berjalan kaki, namun dia tidak bisa mengikutinya karena Niko sudah menyuruh dia untuk segera masuk, dia pikir membiarkan Barsha memiliki waktu sendiri itu juga cukup bagus, agar dia bisa memikirkan semuanya matang-matang.
Ciko pun naik ke atas bus dan bus itu melaju melewatiku dengan segera, aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu dan tidak tahu harus berbuat apa lagi, kedua temanku sudah merajuk kesal denganku, aku tidak bisa membujuk mereka apalagi meminta maaf lebih dulu seperti yang biasanya aku lakukan.
Karena kali ini aku sama sekali tidak merasa salah, aku enggan untuk memulainya, sesampainya di rumah aku sudah di hadapkan dengan ibu, Wili dan juga Lea yang ternyata sudah ada di rumah saat itu, hanya ayah yang tidak ada disana.
Mereka ternyata sudah menungguku untuk memeriksa hasil dari kelulusanku.
"Eehh...sedang apa kalian semua berkumpul di ruang tengah begini?" Tanyaku dengan heran dan kedua alis yang aku naikkan tinggi saat itu.
Dan tentu Wili langsung melakukannya dia segera merampas paksa tas yang masih ada di punggungku saat itu, sampai membuat aku sedikit kesal dengan caranya yang memaksa begitu.
"Hei...hei..apa yang kau lakukan? Lepaskan tasku, aku bisa menunjukkannya sendiri, heii...jangan acak-acak tas milikku!" Bentakku berusaha untuk menghentikan Wili saat itu..tapi sayangnya kedua tanganku ditahan oleh ibu dan Lea, aku merasa seperti tengah di hadang penjahat saat itu, padahal aku berada di rumahku dengan keluargaku sendiri.
"Bu, Lea. Kalian ini kenapa sih, ayo lepaskan tanganku, aku tidak akan menipu kalian dengan nilai ujian itu, ayolah jangan seperti ini." Ucapku kepada mereka dengan wajah yang sudah sangat kesal.
Hingga Wili akhirnya menemukan kertas hasil ujianku juga, dia mulai memberikannya kepada ibu dengan segera dan aku juga bisa terbebas dengan cepat, hingga ketika mereka bertiga melihat hasilnya, langsung saja ketiga orang itu menatap dengan wajah terperangah dan mata mereka yang membuka sempurna kepadaku, seakan tidak mempercayai hasil yang aku dapatkan saat itu.
Sebelumnya aku sudah tahu mereka pasti akan bereaksi seperti itu, karena ini pertama kalinya aku mendapatkan nilai tinggi, mungkin di mata orang lain tidak begitu tinggi, tapi untuk yang biasanya hanya mendapatkan nilai 50, 60, dan 30. Nilai 80 adalah nilai yang sangat tinggi dan begitu luar biasa.
"Kenapa? Kagetkan melihat nilaiku?" Ucapku kepada mereka sambil berkacak pinggang penuh kebanggaan saat itu.
Ibu dan Lea langsung berjalan menghampiriku dengan mata mereka yang masih saja menatap lebar, aku seperti mendapatkan hukuman dan terus di interogasi oleh mereka berdua saat itu.
"Barsha, apa ini sungguh hasil ujianmu, apa kau benar-benar lulus dan bisa masuk universitas terbaik?" Ucap ibu kepadaku.
"Emm..lihat saja namanya disana tertulis siapa, ibu tidak pantas meragukan hasilnya bukan ini sangat resmi dan tidak bisa di palsukan." Balasku kepada ibu dengan santai.
Segera saja aku menjauh darinya dan pergi ke meja makan, bersiap untuk mencari makanan dan ingin memberikan asupan makanan pada cacing di dalam perutku.
"Barsha apa kamu yakin? Bagaimana kamu bisa mendapatkan nilai seperti ini, apa kau mencontek?" Tanya Lea kepadaku sambil terus mengikuti aku dan duduk di sampingku saat itu.
"Tidak." Balasku singkat dan jelas.
"Apa kau menyewa orang untuk mengubah nilainya?," Tanya Lea lagi yang terus saja mencurigai aku.
"Tidak juga, darimana aku bisa punya uang untuk melakukan hal seperti itu, membayar tukang edit begitu mahal kan." Balasku sambil mengambil nasi dan mulai menikmati makan siangku sendiri saat itu.
"Wahh.. Barhsa apa kutukan mu sudah hilang ya?" Tanya Wili yang duduk di depanku dan dia juga sama kagetnya seperti ibundan Lea, saat pertama kali melihat surat kelulusanku dengan deretan nilai yang bagus dan semuanya dinyatakan lulus tanpa syarat.
"Iya, dan aku tidak pernah punya kutukan itu, aku kan sudah bilang pada kalian berdua, aku bisa seperti kalian jika aku mau, aku bisa jadi pintar bak Lea yang dibanggakan aku juga bisa menjadi cantik agar jadi kesayangan, tapi aku tidak mau, aku tidak ingin tertekan dengan semua itu." Balasku kepada mereka.
Ibu sudah langsung pergi ke pasar untuk memamerkan hasil kerja kerasku, dan dia terlihat begitu semangat, sampai mencium kepalaku dengan lembut dan memuji aku di hadapan Lea dan Wili.
"Aaahh sudahlah, tidak perduli Barsha mendapatkan semua nilai ini dari mana, yang pasti ibu sangat senang, sekarang tidak ada lagi yang bisa meremehkan ibu, Barsha akan di anjing oleh teman-teman ibu dan mereka tidak perlu membandingkan kamu dengan anak mereka lagi, ibu harus ke pasar dan memajang nilai ini di dinding jongko, agar semua orang tahu bahwa Barsha sudah berubah, dia bukan Barsha yang dulu lagi, ahaha...senang sekali. Much... terimakasih Barhsa, mulai sekarang kamu bisa makan sepuasnya dan mendapatkan paha ayam yang sama dengan Lea juga Wili." Ucap ibu kepadaku.