
Mendengar balasan sinis dariku, langsung saja Lea malah tertawa dengan keras kepadaku dan Wili justru malah terlihat kecut lalu tetap saja menyuruh aku untuk menerima sepatu miliknya tersebut.
"Aishh...sudahlah, kau terima saja sepatumu ini!" Ucap dia terus mendesak aku.
"Apa kau yakin? Awas saja jangan salahkan aku kalau aku mengotori sepatumu, nanti kau marah lagi karena aku mengotorinya di luar negeri nanti." Balasku menatap dia dengan ujung mataku saat itu.
"Ahahaha...sudah sudah, kalian ini, hei Barhsa harusnya kau berterima kasih, setidaknya adikmu yang tampan ini memiliki niat baik." Balas Lea sambil mengalengkan kedua lengannya, sebelah pada leherku dan sebelah lagi pada leher Wili.
Aku pun mengangguk dan segera menaruh sepatu itu di samping rak yang ada di dekat pintu keluar, namun yang membuat aku kaget tiba-tiba saja Wili membentakku dia mungkin merasa heran dan salah paham karena aku tidak memasukkan sepatu darinya ke dalam koper bersama dengan barang lainnya yang di berikan oleh Lea dan ibu.
"Eeehh... Kenapa kau menaruhnya disana, apa kau tidak mau menerima kebaikan dariku?" Ucap dia bertanya dengan wajahnya yang terlihat kesal.
"Kata siapa, apapun kebaikannya meski kau tidak ikhlas sekalipun aku akan tetap menerimanya, kapan lagi aku bisa memakai sepatu milikmu, ini kesempatan bagus untukku." Balasku kepada dia saat itu.
"Lalu kenapa kau malah menaruhnya disana, ayo bawa kemari aku akan mengemasnya ke dalam koper." Ucap dia kepadaku.
"Hei, aku tidak punya sepatu, lihatlah sepatu yang biasa aku gunakan sudah sangat buruk, tidak mungkin ke bandara aku memakai sepatu sejelek itu bukan?" Balasku kepadanya sambil menunjukkan sepatuku yang sudah hampir terpisah antara bagian bawah dan atasnya.
"Jadi?" Tanya Lea dan Wili bersamaan.
"Aku akan memakainya dari sini hahaha," balasku tertawa dengan sangat puas sekali.
Mereka pun langsung terperangah, Lea dan ibu turut tertawa sedangkan Wili menghela nafas dan dia terlihat sangat tidak terima, sambil terus saja berusaha untuk mengambil kembali sepatu miliknya tersebut dari tanganku, padahal dia sudah mengatakan untuk memberikan aku pinjam sebelumnya bahkan mendesak aku agar menerima kebaikan darinya.
"Hah? Tidak...kau tidak boleh memakainya sejak dari rumah, aishh.. apa kau gila ya? Jalanan disini kotor kau akan merusak sepatuku, jangan pakai dari sini, aku tidak akan sanggup melihatnya." Ucap dia berteriak sangat kencang.
"Hei. Terserah padaku dong, kenapa kau ribut, kan kau sudah memberikannya padaku jadi semua keputusan ada di tanganku, mau memakainya sejak dari rumah atau tidak itu kan sama saja aku memakai sepatumu, apa yang salah denganmu!" Ucapku kepadanya dengan wajah yang kesal.
"Tidak bisa, pokoknya sekali aku bilang tidak bisa ya tidak bisa, Barsha!" Teriak dia semakin kencang lalu berjalan mendekati aku terus menerus.
Pertengkaran diantara kami berdua pun terjadi dan tidak dapat di elakkan, ibu terus saja mengabaikan aku, padahal saat itu aku harus berjuang mati-matian untuk menghindari manusia seperti Wili yang sangat plin-plan dengan keputusan yang dia buat sendiri, dia terus berusaha mengambil kembali sepatunya dari tanganku namun dengan cepat aku segera memasukkan sepatu itu ke dalam pakaianku agar dia tidak berani merebutnya kembali, setelah itu aku langsung berlari masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu dengan kuat sambil menahannya dengan tubuhku.
Wili terus mengetuk pintu dengan kuat dan menggedornya tanpa henti berkali-kali tapi aku sama sekali tidak memperdulikan hal itu.
"Duk...Duk...Duk! Hei Barsha sialan, buka pintunya! Apa kau gila jangan pakai sepatuku, jika kau memakainya dari sini lebih baik aku tidak meminjamkannya saja! Hei..... Barsha!" Teriak dia yang tidak pernah mau menyerah.
Untunglah tidak lama kemudian ayah datang dan membantu aku untuk terlepas dari Wili, ibu juga membantu aku untuk menenangkannya sampai dia mau berhenti untuk menggedor pintu kamarku dan aku bisa sedikit lebih tenang.
"Wili...sudahlah, kasian kakakmu, dia itu tidak pernah di belikan sepatu baru semenjak masuk ke sekolah menengah atas, sedangkan kamu sudah membeli dua kali sepatu baru, jangan mempermasalahkannya lagi, kan kau sendiri yang sudah memberikannya lebih dulu, jangan mengambil kembali barang yang sudah kamu pinjamkan, dia kan belum sempat memakainya lagi." Ucap ayah sambil memegangi pundak Wili.
"Tapi ayah, itu sepatu kesayanganku, dan dia..." Ucap Wili tertahan.
"Wili, kalau kau tidak berniat meminjamkannya, seharusnya sejak awal jangan memberikan itu padanya, sudah kakakmu mau pergi ke luar negeri, setidaknya dia akan menjadi kebanggaan sekarang, itu tidak perlu cemas lagi, dia akan benar-benar menginjakkan kakinya ke negara orang lain, kamu tidak mungkin tega melihat kakakmu nanti di ejek orang asing karena penampilannya yang buruk kan?" Tambah ibu memberikan nasihat lagi padanya.
Akhirnya Wili mau berhenti, dia pun menghembuskan nafas dengan lesu, walau wajahnya masih terlihat sangat kesal dan tidak terima tapi dia memilih untuk pergi ke kamarnya dengan cepat, dan membanting pintunya keras, setelah mendengar suara pintu kamarnya barulah aku bisa kembali memeriksa suasana dan keadaan di luar, lalu segera tersenyum senang dan memberikan dua jempol yang tegak kepada ayah dan ibu sebab mereka sudah mau membantu aku untuk pertama kalinya seperti ini.
Ibu hanya membalas dengan menggelengkan kepala pelan dan dia kembali menyuruh aku untuk membantunya mengemasi barang milikku, yang membuat aku kaget adalah ibu dan kak Lea terlalu banyak membekali aku banyak barang yang tidak berguna, seperti mangkuk, sendok, piring, ada handuk besar dan kecil, ada cemilan dan hal lainnya yang sangat tidak berguna.
"Hah? Bu, apa-apaan ini semua, kenapa ibu memasukan barang seperti ini, memangnya ibu pikir disana tidak ada alat makan apa?" Ucapku merasa heran sambil segera mengambil keluar semua alat makan dari dalam koper tersebut.
"Hei... Siapa tahu disana kamu tidak memiliki piring kan, kalau tidak ada piring kau mau makan dengan apa?" Balas kak Lea yang membuat aku kembali menepuk jidatku dengan keras, aku benar-benar tidak habis pikir dengan otak keduanya.
"Ya ampun kak, disana itu aku menginap di hotel bintang lima, aku akan makan di restoran mewah dimana mereka sudah menyediakan piring beserta makanan kelas atas yang sangat mewah dan banyak, bahkan mejanya bisa di putar, aku akan makan steak sapi yang sangat empuk dengan pisau dan garpu yang mengkilap, kalian tidak perlu mencemaskan hal seperti ini, semuanya sudah di sediakan oleh pihak panitia disana, jadi aku hanya perlu membawa sedikit pakaianku saja, itu tidak akan memenuhi semua isi koper." Ucapku kepada mereka semua.
Setelah aku memberikan penjelasan yang panjang dan lebar juga terus memberikan gambaran kepada mereka semua bagaimana aku disana dan cara mejalani hari-hariku, akhirnya ibu dan kak Lea mau mengerti aku dan mereka pun bisa menuruti aku agar tidak memasukkan barang aneh lainnya ke dalam koperku, aku merasa sangat lega dan akhirnya saat itu aku memilih untuk mengemas barangku sendiri, walaupun itu berarti aku akan kurang tidur malam ini.
Yang terpenting aku tidak akan menanggung malu saat di bandara dan dalam proses pemeriksaan barang bawaan, aku masih harus memastikan dia kali bahwa tidak ada logam atau benda lainnya yang ada di dalam koperku saat itu.
Hingga akhirnya aku selesai tepat jam satu malam, dan bisa langsung tidur dengan lelap, bahkan aku tidur di samping koper yang masih terbuka malam itu, hingga ke esokan paginya aku berangkat terburu-buru karena bangun kesiangan dan ibu meyiapkan sarapan yang banyak di atas meja, aku harus memakan semua makanan yang dibuatkan olehnya sebagai bentu menghargai ibu, tapi aku sudah semakin terlambat, untungnya Tante Nina dan Varel orang yang sangat baik dan pengertian dia masih saja memahami aku dan sama sekali tida marah, hingga mobil jemputannya tiba dan ada seorang supir juga profesor yang sebelumnya pernah bertemu denganku.
"Ehh...Varel apa kamu yakin akan membawa gadis ini untuk mendampingi kamu?" Bisi profesor itu kepada Varel dengan pelan.
Aku tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, hanya saja aku melihat Varel yang terus mengangguk sambil tersenyum lebar, lalu dia menarik koper kecil di tanganku dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil dan dia juga membukakan pintu untukku.
"Ayo masuk." Ucapnya kepadaku.
Aku mengangguk dan segera berpamitan kepada semua keluargaku, termasuk Wili yang masih saja menatap sinis sebab sepatunya aku pakai saat itu.