BARSHA

BARSHA
Ke Bandara



"Hei ..berhenti cemberut begitu, aku akan membawakan kau oleh-oleh paling bagus saa kembali nanti." Ucapku kepadanya yang berhasil membuat Wili langsung berubah drastis, dia langsung terlihat bersemangat dan sangat senang ketika mendengar oleh-oleh yang aku bicarakan dengannya.


"Benarkah? Aku pegang ucapanmu, awas saja jika kau bohong!" Ucap dia kepadaku dan segera aku anggukan dengan yakin.


Aku masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Varel, kamu melambaikan tangan seiring melajunya mobil yang kami tumpangi hingga melewati gang tersebut dan mulai masuk ke jalan raya, aku duduk di samping Varel tepat di jok belakang sedangkan profesor duduk di depan bersama satu supir, dan panitia yang lain sudah menunggu di bandara sebelumnya.


Sejujurnya sepanjang perjalanan aku sangat gugup selain ini pertama kalinya aku akan naik pesawat, aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika nanti bertemu orang asing dan aku sama sekali tidak mengerti dengan bahasa mereka sedikit pun, sekarang barulah aku menyesal karena tidak pernah bersungguh-sungguh ketika belajar bahasa Inggris di sekolah, tidak ku duga ternyata aku juga bisa pergi ke luar negeri jalur teman seperti ini, sangat beruntung tapi juga sangat menegangkan bagiku.


Hingga sesampainya di bandara rupanya ada Ciko dan Niko yang sudah menunggui kami disana, aku pikir mereka tidak akan mengantarkan kamu hingga ke bandara tapi ternyata mereka diam-diam mengikuti mobil kami.


"Ciko, Niko, kalian?" Ucapku kepadanya dengan wajah yang sangat kaget.


"Iya kamu tidak mungkin tidak mengantarkan sahabat sendiri." Ucap Niko menjawabnya lebih dulu saat itu.


Aku tersenyum sangat senang dan langsung berpelukan dengan Niko dan terharu bersama, Ciko juga berpelukan dengan Varel saat itu, sebagai bentuk berpamitan yang selalu kami lakukan, meski aku hanya akan tinggal lima hari saja disana, tapi ini jarak yang sangat jauh dan tidak bisa di gapai dalam hitungan menit saja, jadi ini tetap mengharukan bagiku dan Niko yang terkenal dengan ke cengeng-ngan nya.


"Huaaa... Barsha aku akan merindukanmu," ucap Niko memelukku sangat erat.


"Iya... Hiks... Aku juga akan sangat merindukanmu, nanti siapa yang bisa aku jahili jika kau tidak ada di sampingku." Balasku membuat Niko langsung melepaskan pelukannya dariku dan dia malah mencentang keningku cukup keras.


"Aduh... Kenapa kau menyakitiku, aku kan mau berpamitan denganmu?" Bentakku sambil mengusap kening yang terasa sangat sakit.


"Bodoh, kau hanya merindukan aku karena tidak bisa bertengkar denganku, sahabat apa-apaan kau ini, dasar kau keterlaluan!" Balas dia menatapku dengan tajam dengan berkacak pinggang.


Aku hanya tersenyum lebar menanggapinya, karena apa yang dia katakan memang benar, hanya itu yang bisa aku rindukan dari sosok Niko, selain itu memang tidak ada lagi, selebihnya dia sangat menjengkelkan dan aku selalu Inging m*nghajarnya berkali-kali.


Ciko dan Varel juga ikut tertawa menanggapi obrolan antara aku dan Niko saat itu, hingga Ciko juga berpelukan denganku dan dia menepuk punggungku dengan pelan.


"Sudah....jangan bertengkar, jaga dirimu baik-baik disana, jangan lupa kau juga harus mendampingi Varel jangan merepotkan dia." Ucap Ciko yang jauh lebih dewasa di bandingkan si Niko konyol itu.


Aku mengangguk dan profesor juga ketua dari laboratorium Varel sudah mengajak kami untuk pergi ke bagian pemeriksaan karena pesawat yang akan kami naik ki sudah waktunya lepas landas.


Aku melambaikan tangan pada mereka dan segera pergi bersama Varel, kini kami sudah berada di dalam pesawat, aku berusaha untuk menenangkan diriku dan menarik nafas berkali-kali setelah memasang sabuk pengaman dengan kuat di tubuhku, begitu pula dengan Varel, dia duduk di sampingku sedangkan aku duduk di samping jendela, dimana aku bisa melihat pemandangan yang sangat jelas dan begitu cantik di luar sana, bahkan ketika pesawat baru saja terbang saat itu.


Karena ini pertama kalinya bagiku, jadi sangat berkesan sekali, dan aku benar-benar tidak bisa berpaling pada pemandangan di luar sana yang sangat cantik sekali, melintasi awan yang terlihat seperti segumpal kabut dan aku bisa menyaksikan keindahan dari atas sini, tapi lama kelamaan aku mulai mengantuk dan tidak bisa mengendalikan diri, hingga akhirnya langsung saja tertidur dengan lelap dalam posisi kepala yang menghantam dinding jendela pesawat saat itu.


Namun untungnya Varel mengetahui hal itu dengan cepat, sehingga dia langsung menahan kepala Barsha dan segera memindahkan kepalanya ke pundak dia, sambil terus memandangi Barsha yang tidur dengan begitu lelap, sampai dia juga ikut tertidur saat itu, dengan, selang beberapa jam kemudian sampailah mereka di negara yang dituju, semuanya sudah di sediakan oleh pihak panitia penyelenggara yang ada disana.


Sehingga saat aku baru turun dari pesawat hingga keluar dari bandara kami sudah di dampingi oleh dua orang untuk mengantarkan menuju hotel yang sudah di sediakan sebelumnya, dimana hotel itu berada tidak jauh dari gedung salah satu universitas terbaik yang ada di negara itu, yang nantinya akan menjadi tempat penyelenggaraan kontes robot final, aku sangat kaget ketika pertama kali keluar dari bandara sudah banyak orang yang menjaga Varel, dia sudah seperti selebritis dan presiden yang di jaga oleh para penjaga berpakaian hitam juga berbadan tegap dan kekar, sejak itu aku tahu bahwa Varel adalah aset negara yang sangat luar biasa, bahkan penjagaannya seketat ini dan dia di lindungi dengan amat sangat oleh semua orang yang ada disana.


Hingga sesampainya di hotel aku diantar ke kamar Varel dimana kamar kami bersebelahan jadi jika ada apapun aku bisa menemukan Varel dengan mudah.


"Wahh .... Varel kota ini sangat luar biasa, ini keren sekali, aku beruntung bisa menginjakkan kaki ke tempat ini, hotelnya juga sangat keren." Ucapku terus banyak bicara kepada Varel.


Saat ini aku sudah selesai merapihkan pakaianku dan tengah membantu Varel untuk membongkar isi dari kopernya tersebut, sedangkan dia hanya terus saja duduk mendengarkan aku sambil mengotak ngatik robot miliknya untuk mengecek keadaan robotnya kembali setelah di bawa dalam penebangan sebelumnya.


"Varel kenapa kau bisa memiliki otak yang sangat cerdas, bagaimana bisa kau menciptakan robot pembersih dengan bentuk sekecil itu dan bisa di bawa kemana-mana, tapi mampu membersihkan debu yang bahkan ketika kita yang membersihkannya itu terlihat cukup banyak?" Tanyaku benar-benar merasa kagum dengan kemampuannya tersebut.


"Aku tidak hebat, hanya tuhan yang memberikan aku karunia ini, jadi aku harus menggunakannya dengan baik, memberikan manfaat bagi banyak orang." Balas dia kepadaku saat itu.


Mendengar jawaban darinya, aku malah semakin kagum dengan kebaikan yang dia lakukan, baru kali ini aku menemukan ada orang yang sebaik dia dan dia sama sekali tidak sombong, masih saja rendah hati meskipun sudah menjadi seorang profesor dan ahli dalam bidang seperti ini, dia sangat luar biasa.


"Wahh..Varel kau ini keren sekali, sudahlah jangan membahas robot lagi, aku sudah sangat lapar, ayo kita pergi makan." Ucapku kepadanya.


Dia pun membereskan robotnya dahulu lalu segera menyimpannya di tempat yang aman, sambil segera pergi denganku menuju ke restoran yang ada di lantai bawah, disana juga sudah ada rekannya yang lain yang sudah menunggu kedatangan sang master untuk makan bersama disana sedari tadi.


Untuk kesekian kalinya aku di buat kaget dan kagum sekaligus dalam satu waktu, melihat meja bulat yang besar dengan banyak hidangan makanan tersedia di atasnya, semuanya terlihat mengunggah selera dan berbagai hidangan daging, ikat juga sayur tersedia sangat lengkap, bahkan ada win dengan harga paling tinggi di atas meja sana, aku benar-benar di buat kagum dan degan cepat duduk di depan meja bahkan sebelum profesor pimpinan Varel mempersilahkan aku untuk duduk.


"Wah... Varel boleh aku makan ini?" Tanyaku meminta izinnya dahulu.


Dia langsung mengangguk dan profesor disana juga mempersilahkan aku dengan segera, bahkan dia dengan baiknya malah memberikan aku minuman sampai menuangkannya pada gelas milikku dengan hati-hati.


"Barsha kamu bisa makan apapun yang kamu mau, sepuasnya. Silahkan kamu bisa mulai makan." Ucap dia kepadaku saat itu.


Setelah di persilahkan begitu, tentu saja aku semakin senang, dan tidak ada lagi kata malu di dalam kamusku, aku harus menghabiskan semua makanan yang ada disini hingga perutku penuh dan aku bisa menikmati semua makanan yang ada disana, makanan yang mungkin tidak akan pernah bisa aku nikmati lagi.


"Tentu saja profesor, aku akan menikmati semuanya, hehe." Balasku tersenyum lebar dan langsung mengambil salah satu paha ayam yang cukup besar, mengambil satu ikat dan menaruhnya di dalam piringku, rasa ayam disini benar-benar sangat berbeda dengan ayam yang aku makan saat di rumah sebelumnya.


Rasanya sangat nikmat terlebih dengan ikan yang tak kalah nikmat disana, ada juga steak yang sudah aku habiskan sejak awal, bahkan aku menikmati semua makanan tersebut, profesor yang ada disana menatap terperangah dengan beberapa rekannya yang lain, mereka malah terus menatapku dengan lekat, sedangkan aku hanya bisa tersenyum kepada mereka dan terus saja melanjutkan makanku sampai aku merasa kenyang.


Setelah aku rasa cukup dan perutku sudah mengembang barulah aku berhenti makan dan segera kembali ke kamar hotel sebelumnya untuk segera beristirahat secepatnya, begitu juga dengan Varel saat itu.


"Barsha apa kau sudah kenyang sekarang?" Tanya dia kepadaku saat itu.


"Sudah, tentu saja aku sangat kenyang, bahkan aku mungkin tidak akan makan lagi besok pagi, lihat. Perutku sudah sangat mengembang, iya kan?" Balasku kepadanya dengan cepat sambil menunjuk perutku yang benar-benar sudah besar saat itu.


Dia juga langsung membalas aku dengan senyuman yang lebar dan kami segera melanjutkan jalan menyusuri jalanan disana untuk masuk ke dalam kamar masing-masing.


"Kevin jangan lupa tidur tepat waktu, dan kau harus bersiap-siap untuk besok, aku sudah menyiapkan pakaianmu, besok pagi aku akan ke kamarmu lagi jadi kunci cadangan ini aku yang pegang oke?" Ucapku kepadanya.


Dia terus saja menurut dengan begitu mudahnya kepadaku, menganggukkan kepalanya dan tersenyum sangat lebar sambil segera masuk ke dalam kamarnya dengan cepat.