
Mereka bertiga akhirnya sampai di toko bakpia milik Arsha, tapi hanya Arsha yang masuk ke dalam toko sedangkan Ardian dan Shail hanya mengintai dari dalam mobil.
Sementara di dalam Arsha berpura pura datang hanya untuk mengecek bisnisnya yang sudah lama tidak dia kunjungi.
" bagaimana keadaan disini Vi, sepertinya kalian sedikit bersantai "
" iya bos, karyawan sekarang memang diperintahkan oleh manajer baru untuk tidak terlalu bersemangat dalam melakukan pekerjaan. Karna dia. Tidak mau jika harus menanggung biaya rumah sakit jika ada karyawan yang sakit " jelas Via kaki tangan Arsha.
" bukankah manager disini masih haris ? "
" tidak bos, dia sudah di pindahkan ke salah satu restoran yang berada tidak jauh dari sini "
" siapa yang berani memindahkan orang kepercayaan saya Via!! "
" saya kurang faham untuk masalah itu bos " jelas Via kembali.
" panggil manajer baru itu " perintah Arsha yang langsung di laksanakan oleh Via.
Selagi menunggu manajer baru itu, Arsha menghubungi abangnya dari balik earphone.
" kita ubah rencana awal bang, kayaknya masih ada yang belum kita ketahui disini " ucap Arsha dari balik aerphone-nya
" kamu serahin aja sama kita Ar, kamu fokus aja sama rencana kamu " balas Ardian dari balik aerphone-nya juga.
Setelah mengatakan hal tersebut, Arsha mematikan aerphone-nya. Dia kemudian fokus melanjutkan rencananya. Tak lama kemudian Via datang dengan di susul oleh sang manajer baru di belakangnya.
Arsha terus mengamati gerak gerik dari sang manajer, dia terlihat sedikit gugup dia juga tidak mau memperlihatkan wajahnya.
" kau! ". Pekik Arsha sembari menunjuk wajah sang manajer. " kemari kau. ". Sambung Arsha
Sang manajer itupun berjalan menghampiri Arsha, dia berdiri tepat dihadapannya, tapi sayangnya dia masih tetap menunduk dan tidak mau memperlihatkan wajahnya.
Geram dengan hal itu Arsha sontak mencengkeram dahi sang manajer tersebut dan mendongakkan wajahnya sampai Arsha lihat dengan jelas seperti apa wajah sang manajer baru tersebut.
" kau perkenalkan namamu " ucap Arsha kepada sang manajer dengan posisi yang sama.
" na, nama ku De,Dena bos " jawab sang manajer yang mengaku bernama Dena tersebut dengan terbata-bata.
Dena diam tak menjawab, di dalam hatinya dia sedang mengumpati perempuan yang kini sedang berdiri di depannya.
" kenapa diam " sambung Arsha ketika dirinya tak segera mendapati jawaban dari Dena.
" Via ambilkan saya berkas keuangan, saja curiga ada yang tidak beres disini "
Mendengar hal itu, wajah Dena berubah menjadi pucat pasi. Dia sangat gugup harus menjawab apa jika dia di tanyai tentang keuangan. Rasanya jantung Dena seperti akan keluar dari dalam tubuhnya, dia terus berdoa agar dia di beri kesempatan untuk hidup sekali lagi.
Tak berselang lama akhirnya Via kembali dengan setumpuk berkas yang ada di dalam genggamannya. Dia kemudian menyodorkan berkas itu pada Arsha.
" bagus, jika ada yang tidak beres di dalam berkas ini siapa yang akan bertanggung jawab " ucap Arsha sembari menerima berkas yang disodorkan oleh Via.
Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Arsha, hingga akhirnya Via berkata. " kalau bukan manajer kita, siapa lagi yang harus bertanggung jawab menurut bos "
Sontak dada Dena kembali bedetak kencang, hawa dingin seketika menjalar di seluruh tubuhnya. Dalam hatinya kembali berkata. 'selamatkan aku ya tuhan, aku belum siap mati '
Arsha masih sibuk dengan berkas berkas tadi, sedangkan Via hanya bisa berdiri dan terdiam. Jangan tanya bagaimana dengan Dena, dia sedah benar benar sangat panik, tubuhnya tidak berhenti mengeluarkan keringat dingin.
Sambil terus membolak balikkan berkas, dari seberang sana terdengar suara Shail memanggil Arsha.
" Sha....". Panggil Shail, sedetik kemudian dia melanjutkan bicara. " kita selesain rencana kita sampe sini dulu, kita harus balik ke Jakarta sekarang. papa nyuruh kita dateng kerumah sakit sekarang "
Mendengar hal itu Arsha cepat cepat menyelesaikan rencananya. Hatinya di selimuti rasa takut akan terjadi hal hal buruk yang menimpa keluarganya di sana.
" saya nggak mau tahu, kinerja kalian harus kembali. Bulan depan saya akan datang kesini untuk mengecek data keuangan, jika sampai ada sedikit penurunana maka kamu......". Ucap Arha sembari menunjuk muka Dena. " ....... yang akan bertanggung jawab " sambungnya.
Setelah berbicara seperti itu, Arsha memutuskan untuk pergi. Dia menitip pesan kepada Via agar dia terus mengawasi gerak gerik Dena.
" awasi selalu gerak gerik wanita itu, saya rasa dia ada hubungannya dengan merosotnya pemasukan di toko saya "
" baik bos "
" Kalau begitu saya pergi dulu, ingat baik baik pesan saya "