
Ayah dan ibu seketika menatap ke arahku dan tentu saja saat itu juga ibu menyuruh aku untuk pergi naik bus saja dan dia langsung memberikan aku uang saku saat itu, tapi tetap saja dia sama sekali tidak menambahkan uang sakunya untukku meski masih ada ayah di depan sana.
"Nah kan, kau bisa dengar sendiri bukan, Barsha ini sudah dewasa berbeda dengan Wili yang jarak sekolahnya cukup jauh dari sini dia juga masih anak SMP bagaimana jika sesuatu terjadi dengannya di perjalanan nanti, sudah Barsha cepat kau pergi sekolah ini bekal untukmu dan jangan nebeng-nebeng ke temanmu itu, kau menyusahkan orang lain saja jika tiap hari seperti itu, sudah sana berangkat," ucap ibu sambil mendorong tubuhku untuk keluar dari rumah saat itu.
Meski ayah menahan ibu dan dia terus saja berbicara kepadaku tetapi aku lebih memahami posisi ayah saat itu bahwa dia juga tidak bisa membantah ibu atau bekal dia untuk pergi kerja juga bisa saja ibu kurangi, aku hanya tidak ingin membuat ayahku kesulitan sebab hanya dia tinggal satu satunya orang yang mau membela aku dan memperdulikan aku saat ini jadi tidak mungkin aku membiarkan dia menderita karena aku, apalagi ini hanya karena hal sepele saja, jadi aku lebih memilih untuk mengalah, lagi pula aku sudah terbiasa dengan semua hal yang tidak ada di dalam rumah ini untuk hidupku selama ini, aku hanya perlu sedikit bersabar saja dalam menghadapi ibuku dan adik sialan itu, sampai aku bisa menjadi dewasa dan menghasilkan uang sendiri baru aku akan bisa kabur sungguhan dari rumah ini dan tetap akan minggat meski siapapun menghalangi aku bahkan juga hujan badai sekalipun.
"Barsha...tunggu Barsha..apa kau yakin bisa pergi ke sekolah sendiri?" Ucap ayah yang masih saja terlihat mencemaskan aku.
"Ayah lihatlah aku ini Barsha aku anak gadis yang pemberani dan hebat aku tidak akan masalah, siapapun bisa aku lawan, jangan mencemaskanku oke," ucapku kepada ayah dan segera menyalami dia lalu pergi dengan cepat.
Walau sebenarnya saat itu aku menahan air mata yang sudah mulai menaiki mataku dan terus saja mengumpul di dalam kelopak mataku dan memenuhi kantung mataku ini, hingga mataku mulai berkaca-kaca dan pandanganku pun terasa tidak jelas karena terhalang oleh air mata sialan itu, aku terus berusaha untuk menghilangkan semua air mata di dalam bola mataku yang sangat menggangu pandanganku.
Tapi aku tidak bisa menghentikannya meski berkali-kali aku terus saja mengusap air mata tersebut dan aku terus saja menangis di halte bus sambil terus menggerutu kesal menyalahkan diriku sendiri yang malah menangis seperti ini di tengah banyak orang yang juga tengah menunggu bus di sana.
"Aish ..hiks...hiks..bodoh sekali kenapa air mata ini tidak bisa berhenti sih, aku kan tidak sedih kenapa malah terus menangis terisak begini, aishh..sialan aaahh bagaimana aku menghentikannya sekarang," gerutuku terus saja merasa tidak menentu saat itu.
Hingga tidak lama muncul Niko dan Ciko saat itu, aku tidak tahu kenapa mereka masih datang ke halte bus karena aku pikir sebelumnya Ciko akan memakai sekuter listrik miliknya itu yang selalu dia pamerkan kepadaku, dan aku pikir mereka sudah pergi ke sekolah lebih dulu lagi ini, namun ternyata tidak justru malah akulah yang meninggalkan kedua temanku itu.
"Hei... Barsha kenapa kau meninggalkan kami akuenunggumu di depan rumah beberapa menit karena aku pikir kau belum keluar, ternyata paman bilang kau sudah pergi sejak pagi, aishh kau ini memang sangat tidak setia kawan," ucap Niko padaku.
Aku yang mendengar suara mereka dengan cepat langsung saja memalingkan pandangan dan dengan cepat mengusap air mata di wajahku aku tida ingin mereka berdua melihat aku habis menangis karena aku takut nantinya yang ada mereka hanya akan meledeki aku cengeng dan sebagainya.
Tapi sialnya sekuat apapun aku menyembunyikannya, si sialan Ciko itu tetap saja bisa mengetahuinya dan dia malah memberikan tisyu kepadaku sampai membuat Niko ikut curiga juga dan dia semakin memperhatikan wajahku saat itu, sampai dia juga ikutan tahu kalau aku baru saja habis menangis saat itu.
"Hei ada apa denganmu, ini ambil tisyunya dan halus sisa air mata di pipiku itu," ucap Ciko sambil memberikan tisyu kepadaku.
"Apa...aku tidak menangis aku hanya kelilipan saja barusan makanya ada sisa air mata di pipiku, kau ini kalau ngomong sembarangan aja!" Balasku kepadanya masih berusaha untuk menyembunyikan kebenarannya saat itu.
Tapi sayangnya mereka berdua memang bukan orang yang bisa aku bohongi sedikit pun jadi tetap saja mereka mengetahui kebenarannya saat itu, terlebih Niko yang sampai menyangkut wajahku dengan kedua tangannya saat itu dan dia terus saja berbicara kepadaku saat itu dengan sangat aneh sambil terus memeriksa wajahku terus menerus saat itu.
"Hei...hei...apa kau sungguh habis menangis ya? Wahh Barsha siapa yang berani membuai menangis ayo cepat beri tahu aku, akan aku ratakan orang tundengan tanah!" Ucap Niko seperti yang benar-benar berani saja saat itu.
Dia memang selalu berlagak seperti itu padahal aku sendiri tau dia adalah orang yang paling penakut diantara kami berempat jika terjadi sesuatu atau ada apapun di sekitar kami, bahkan dia tidak bisa melawan preman yang akan memeras dirinya dan malah membawa Ciko untuk ikut di peras juga saat itu.
"Aishh...lepaskan tanganmu itu pasti sudah memegangi hal hal aneh kan? Aishh malah memegangi wajahku dasar jorok kau!" Bentakku kepadanya sambil menghempaskan tangan dia dengan kuat karena aku tahu dia malas sekali untuk mencuci tangannya itu entah tidak tahu kenapa dia bisa menjadi manusia se jorok itu.
Masih untung dia tidak pernah sakit karena kebiasaan buruknya malas mencuci tangan seperti itu, makanya saat itu aku langsung membentak dia dan menghempaskan tangannya dengan cepat.
"Ehehe..tidak kok pagi ini aku tidak sarapan dan aku hanya menggaruk kepalaku saja beberapa detik yang lalu ehehe," ucap dia membuat aku sangat kenal dan langsung saja merampas tisyu lagi dari tangan Ciko untuk membersihkan kedua pipiku yang sudah terlanjur dia pegang dengan kedua tangannya yang kotor itu.
"Aaahh..sialan kau kenapa kau harus memegangi kedua pipiku begitu sih? Ciko kemari beri aku tisyunya lebih banyak lagi, aahhh nanti yang ada pipiku bisa jerawat karena kotoran dari tangan sialanmu yang tidak di sekolahkan itu!" Bentakku kepadanya.
Niko terlihat semakin kesal karena aku membentak dia seperti itu dan dia langsung saja berdecak kesal lalu segera saja masuk ke dalam bus karena kebetulan sekali saat itu bus baru tiba dan berhenti di hadapan kami.
Aku benar-benar sangat kesal dan langysaja menendang b*kongnya itu dengan keras hingga dia hampir tersungkur ke depan antrian untuk masuk ke dalam bus saat itu, tapi si sialan Niko itu dia tetap saja tidak kapok sama sekali meski sudah berkali-kali aku hajar dia dengan kedua tanganku sendiri atau menendang b*kongnya itu yang sudah tidak terhitung lagi selama ini yang aku lakukan kepadanya setiap kali dia menjengkelkan atau membelakangi aku sambil menggoyangkan bagian belakang tubuhnya yang sangat membuat aku muak dan jengkel di buatnya sehingga aku refleks selalu menendang b*kongnya saat dia melakukan hal itu kepadaku.
Dia memang harus di berikan pelajaran seperti itu agar dia tidak berani mengganggu aku lagi, bahkan saat sudah di perlakukan begitu kasar saja dia tetap berani mengganggu aku apalagi jika aku bersabar dengannya seperti apa yang selalu di lakukan oleh Varel dan Ciko sebelumnya yang tidak bisa memberikan hal kasar kepada manusia sepertinya ini yang sangat wajar iya wajib sekali untuk dihajar.
Saat sudah berada di dalam bus saja kami duduk bertiga berdampingan dan aku mendapatkan tempat duduk di tengah-tengah antara Ciko dan Niko saat itu, kami bertiga mendapatkan tempat duduk di jok paling belakang saat itu jadi kami bisa duduk dengan leluasa dan Ciko mulai bertanya dengan serius kepadaku saat itu.
"Hei..kenapa kau menangis tadi, aku bertanya dengan serius kepadamu jadi jawablah dengan benar, Niko juga mencemaskanmu sebenarnya," ucap Ciko kepadaku saat itu.
"Aku tidak papa aku kan sudah bilang aku itu kelilipan karena debu jalanan saja, memangnya apa lagi yang bisa membuat aku menangis aku tidak pernah menangis memangnya si Niko yang cengeng ini," balasku kepadanya saat itu.
Aku berusaha keras untuk tidak menangis dan tidak menampakkan kesedihan di dalam diriku saat itu, namun sayang Ciko tetap saja bisa menebaknya sendiri apa yang terjadi kepadaku tanpa aku membiarkan kepada dia apa yang terjadi kepadaku saat itu sebenarnya.
"Heh...aku tahu kau pasti kena semprot ibumu lagi bukan? Hanya dia yang bisa membuatmu seperti ini, kalau tidak pasti kau akan sangat jengkel karena adikmu Wili atau kau akan merasa sangat marah karena kelakuan kakakmu Lea, aku sudah tahu semuanya tentangmu kenapa kau masih mau menyembunyikannya dari kami?" Ucap Ciko yang langsung saja di timpal oleh Niko yang selalu ikut-ikutan menyambar tidak jelas, padahal dia sendiri juga tidak tahu apapun jika Ciko tidak mengatakannya.
"Iya benar tuh yang dikatakan oleh Ciko kita ini kan sahabat, teman sejak kecil dan selalu bersama dalam waktu yang cukup lama jadi seharusnya kau bersikap terbuka kepada kami semua jangan hanya kau saja yang mengetahui semua tentang kami, itu tidak adil tahu," tambah Niko saat itu kepadaku.
"Aish kalian ini kenapa sih, sudahlah aku tidak ingin membahasnya lagi pula aku tidak apa-apa kok, tidak ada yang perlu di bicarakan pada kalian orang kalian sendiri juga sudah tahu bagaimana keluarga aku, jadi untuk apa menjelaskannya lagi membuat aku semakin kesal saja karena harus mengingatnya lagi," balasku kepada mereka sampai akhirnya mereka berhenti untuk mendesak aku lagi.
Dan kai sudah sampai di sekolah saat itu, aku juga segera saja pergi menghindari Ciko dan Iko dengan cepat agar mereka tidak kembali bertanya banyak hal lainnya kepadaku karena aku sangat malas sekali untuk membicarakan semuanya kepada mereka berdua saat itu, sebab rasanya hal ini bukan hal yang pantas aku bicarakan ada mereka berdua.
Sekalipun mereka adalah temanku sejak kecil, namun masalah keluarga tidak seharusmya untuk aku beritahukan kepada orang lain yang tida tinggal serumah denganku.
Jadi aku lebih memilih untuk diam saja dan memendam semuanya sendirian saja sampai nantinya aku mungkin bisa melupakan semuanya ataupun berpura-pura sudah melupakan kejadian-kejadian yang menyakitkan hatiku saat ini.
Bahkan sekarang saja setelah aku sampai di sekolah dan bertemu dengan teman-temanku yang lain aku sudah bisa mengubah mood di dalam diriku dan sudah bisa menjadi lebih ceria lagi dan menjalani kegiatan di sekolah dengan sangat ceria sama seperti anak-anak yang ada disana dan bersikap seakan aku tidak memiliki kesedihan apapun di dalam dalam diriku saat ini karena aku masih bisa terus bercanda ria dengan mereka dan tertawa dengan lepas saat itu.
Sedangkan disisi lain Kevin yang tengah di perjalanan dia mulai menunggu pengumuman dari sang profesor yang masih berada di lokasi pertama untuk menunggu hasilmdati perlombaan tersebut, sampai tidak lama dia mulai mendapatkan kabar dari sang profesor bahwa dia telah terpilih sebagai pemenang pertama dan akan benar-benar mewakili universitasnya termasuk mewakili negara kita untuk melanjutkan lombanya sampai ke tingkat dunia saat itu.
Dia sangat senang sekali dan Varel sudah tidak sabar untuk memberitahu teman-temannya nanti tentang kabar gembira ini.
Dia juga menghubungi Barsha lebih dulu di bandingkan dengan temannya yang lain, Varel mengirimkan sebuah pesan chat kepada Barsha dan mengatakan bahwa dia memiliki kabar gembira juga kejutan untuknya.
Barulah setelah menghubungi Barsha Varel mengubungi ibunya dan mengirimkan chat pada gruf yang berisi teman-teman dia yang lainnya.
Sampai di dalam gruf itu barulah Varel mengatakan mengenai kemenangannya sampai Ciko menjadi orang pertama yang membalas ucapan dan mengetahui kabar gembira itu dari Varel saat itu.
Sedangkan aku yang saat itu tidak memiliki paketan di ponselku tentu saja aku belum bisa menerima pesan chat dari siapapun kepada ponselku karena tidak ada kuota di dalamnya dan aku tidak sanggup untuk mengisinya saat ini, jadi aku hanya menaruh ponselku di dalam tas dengan tidak berguna sama sekali.
Memang ponselku itu sudah sejak beberapa hari yang lalu habis paketan di dalamnya dan aku yang tidak memiliki uang tambahan dari manapun tidak bisa mengisinya sampai sekarang, bahkan baterai di dalamnya masih penuh karena aku tidak menggunakan ponsel itu, sebab apa yang bisa di gunakan jika sebuah ponsel sudah tidak ada kuota di dalamnya, sedangkan di jaman sekarang yang super canggih seperti ini semuanya membutuhkan kuota untuk menghidupkan atau menggunakan ponselnya.