BARSHA

BARSHA
Menginap Di Rumah Ciko



Tapi sayangnya apapun yang aku lakukan nyatanya tetap saja tidak bisa berjalan dengan lancar pintu rumahku juga tetap tidak terbuka dan tidak ada yang membukakan pintu itu meski aku sudah mengetuknya dengan sangat keras terus menerus dengan sekuat tenagaku saat itu, padahal aku sudah berteriak sekencang-kencangnya sambil terus memanggil Wili dan ibu saat itu, namun hasilnya benar-benar sangat nihil tetap saja tidak ada yang mau membukakan pintu untukku saat itu.


"Tok ..tok....tok....Ibu....Wili hei..buka pintunya, ibu! Kenapa kau mengunciku di luar hei apa kalian melupakan aku hah? Ibu ...." Teriakku sangat kencang saat itu.


Bahkan aku sudah berteriak terlalu lama sampai membuat suaraku hampir habis dan tenggorokanku terasa sangat kering saat itu.


Meski begitu tetap tidak ada sahutan apapun dari dalam sana hingga aku terpaksa harus menyerah dan pergi ke rumah Varel tapi aku lupa kalau Varel juga tengah tidak berada di rumah dan aku tidak bisa jika harus kembali ke rumah Niko karena jaraknya cukup jauh dan aku tidak berani berjalan di tengah malam begini menuju rumah Niko yang ada di ujung sana, sehingga aku pun tidak memiliki pilihan lain lagi selain tinggal di rumah Ciko saat itu, meski sebenarnya aku merasa sangat malu untuk pergi ke sana dan mengganggu bibi yang mungkin sudah tidur di jam semalam ini.


Tapi jika aku tidak pergi kesana aku tidak memiliki tempat lain lagi untuk aku tidur sehingga mau tidak mau aku tetap harus pergi ke sana dengan melangkahkan kakiku lesu juga terus menunduk.


Aku mulai menekan bel disana dan mengetuk pintu bibi dengan keras sambil memanggil nama Ciko juga bibi saat itu, agar mereka bisa membuka pintunya dengan cepat.


"Bi....bibi....tok...tok...tok... Ciko ini aku Barsha...bi buka pintunya bi...." Teriakku sangat kencang saat itu sambil mengintip dari kaca yang ada di samping pintu kala itu.


Hingga tidak lama akhirnya bibi datangi membukakan pintu untukku saat itu dan aku merasa sangat senang karena dia mau membukakan pintunya untukku dan aku tidak akan tidur di luar sekarang.


"Barsha sedang apa kamu malam-malam kemari?" Tanya bibi kepadaku dengan menatap kebingungan.


"AA...AA..ahh..itu bi seperti biasa ibu melupakan aku dia mengunci pintunya dari dalam jadi aku tidak bisa masuk dan Tante Nina sepertinya tidak ada di rumah, jadi aku datang kemari untuk menumpang di rumahmu, apakah boleh bi?" Ucapku langsung saja bicara dengan jujur kepadanya saat itu.


Aku sangat merasa cemas dan gugup saat itu tapi untungnya ternyata bibi mau mengijinkan aku untuk masuk dan tidur di rumahnya saja saat itu, bahkan dia bersikap begitu ramah kepadaku dan langsung mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam dengan segera saat itu.


"Ohh...begitu ya sudah ayo cepat masuk di luar ini sangat dingin, aaahh kamu malah mengenakan pakaian tipis seperti ini lagi, apa kamu tidak merasa kedinginan." Ucap bibi kepadaku sambil segera membawaku masuk dengan cepat.


Aku tersenyum sangat senang karena bibi sangat baik sekali kepadaku dan aku merasa sangat senang bisa mengenal orang sebaik dia yang mau menerima aku masuk ke dalam rumahnya semalam ini dengan sangat baik dan membukakan pintu dengan ramah bahkan saat itu bibi menawarkan aku untuk makan.


Karena rupanya disana juga ada Ciko yang tengah menikmati mie instan dengan telur rebus di dalamnya yang jarang sekali bisa aku makan karena harga mie instan di tempat kami jauh lebih mahal di bandingkan telur yang bisa mendapatkan beberapa biji hanya dengan uang untuk satu mie instan saja.


"Ayo Barsha masuk, apa kamu sudah makan?" Tanya bibi kepadaku dan aku langsung menggelengkan kepala kepadanya dengan pelan.


"Aahh...bagaimana bisa ibumu itu selalu saja melupakanmu dan tidak memberikanmu makan yang sama dengan kakak dan adikmu, astaga..sudah ayo cepat kamu pergi makan ada Ciko juga disana cepat duduk bibi akan masakkan kamu mie instan, apa kamu mau?" Ucap bibi menawarkannya lebih dulu kepadaku.


Tentu saja aku tidak akan menolak tawaran yang sangat menguntungkan ini dan langsung saja mengangguk kepadanya dengan memasang wajah sebaik mungkin agar bibi mau memasakkannya untukku dan memberikan telur rebus juga di dalamnya nanti.


"Eumm iya aku mau bi, jika saja itu tidak merepotkanmu," ucapku sambil berdiri di samping Ciko yang tengah bersiap untuk memakan mie instan miliknya diatas meja.


Dan tentu saja Ciko menatap sinis dan dia berdecak pelan kepadaku sebab hal itu memang selalu saja dia lakukan setiap kali aku datang ke rumahnya karena yang dia pikirkan aku hanya akan datang untuk meminta makanan saja, tapi walau begitu apa yang dia katakan memang benar tiap kali lapar aku selalu datang menemui bibi dengan berbagai alasan agar bibi mau menawarkan aku makan lebih dulu dan untungnya bibi ini adalah orang yang sangat peka dan memahamiku jadi tanpa aku memberikan kode yang terlalu mencolok bibi sudah mengetahuinya dan dia sudah langsung menawarkan apapun kepadaku yang ada di rumahnya.


"Aishh..sudah cepat duduk, kau ini seperti dengan siapa saja, bibi kan sudah bilang apapun yang kamu inginkan bicara saja pada bibi kamu sudah bibi anggap seperti putri bibi sendiri, bibi sangat menyayangimu, ayo duduk dan tunggu bibi memasak mie nya ya, ini tidak akan lama." Balas bibi sambil segera pergi dari sana dan aku hanya membalasnya dengan anggukkan saja saat itu.


Aku langsung duduk di samping Ciko yang langsung saja dia menggesek kursinya dengan cepat untuk menjauh dariku saat itu.


"Ehh..kenapa kau menjauh apa kau takut aku akan mengambil makananmu ya?" Ucapku kepadanya saat itu.


Karena jelas sekali Ciko saat itu menghindari aku dia, bergeser dengan cepat dan langsung menjauh dariku saat itu juga, bahkan dia juga menggeser makanannya seakan dia takut aku akan mengambil mie miliknya saat itu.


"Tentu saja aku takut kau ini kan manusia rakus yang akan selalu mengambil makanan semua orang, jadi tentu saja aku akan ketakutan denganmu, sana pergi jauh-jauh dariku!" Ucap Ciko sambil mendorong samping pundakku saat itu.


Aku hanya bisa menatap dia dengan mengerutkan kedua alisku dan berusaha menahan emosi di dalam diriku sebab aku tahu bahwa saat ini aku tengah menumpang di rumahnya jadi tentu saja aku harus sadar diri dengannya.


"Aishh...awas kau jika saja ini bukan di rumahmu aku pasti sudah menjambak rambutmu itu, beraninya kau mendorongku begitu!" Bentakku kepada dia dan memberikan ancaman.


Tapi bukannya takut atau meminta maaf kepadaku Ciko justru malah terus saja menjulurkan lidahnya dan dia mengikuti ucapan yang aku katakan kepada dia saat itu.


Aku benar-benar sangat kesal kepadanya tapi aku harus bisa menahan diri dengan sekuat tenagaku dan untungnya bibi cepat datang dan menyajikan mie yang sudah dia masak saat itu.


"Barsha ini sudah matang kamu tunggu sampai sedikit dingin ya, bibi akan tidur lebih dulu kalau kamu mau apapun semuanya ambil saja sendiri ada di dalam lemari es," ucap bibi kepadaku sambil mengusap lembut pucuk kepalaku saat itu.


Aku bisa merasakan ketulusan dan kasih sayang bibi yang sangat luar biasa kepadaku selama ini, aku juga hanya menanggapinya dengan senyum lebar dan kembali mengangguk kepadanya, bahkan entah kenapa aku merasa tinggal di rumahnya Ciko lebih menyenangkan dan lebih membuat aku leluasa untuk melakukan apapun karena bibi dan paman tidak pernah memarahi aku dan selalu memperbolehkan apapun yang aku lakukan, tetapi di rumah sendiri aku sering kehabisan lauk untuk makan, tidak kebagian air di kamar mandi juga selalu mendapatkan potongan uang jajan dan harus bekerja lebih banyak di bandingkan adik laki-laki ku juga harus menjadi sepintar kakakku Lea, padahal sudah jelas aku adalah aku, tidak bisa menjadi seperti siapapun di dunia ini sekalipun itu adik dan kakakku sendiri.


Meski kita memiliki jenis darah yang berbeda tetapi tetap saja aku dan dia memiliki otak dan pemikiran yang berbeda satu sama lain.


Jika Wili memiliki paras yang tampan bukan berarti aku harus menjadi sangat cantik bak sinderela untuk mendapatkan kasih sayang penuh dari ibu dan ayahku, jika Lea sangat cerdas dan bisa mendapatkan beasiswa penuh di universitas favorit, bukan berarti aku juga harus seperti Einstein yang sangat jenius dalam hitungan dan selalu bisa menemukan temuan baru dan rumus-rumus yang rumit. Jika banyak orang ingin menaiki pesawat bukan berarti aku tidak boleh naik kapal air, aku akan berlayar dengan caraku sendiri tidak ingin menjadi seperti apa yang orangtuaku mau atau seperti selera orang pada umumnya. Aku sudah memutuskan untuk hidup sesuai dengan apa yang aku inginkan bukan apa yang bagus di mata orang lain. Karena akulah yang akan menjalani hidupku sendiri senang dan sedih aku yang merasakan, jadi orang lain tidak perlu terlibat dalam tujuan hidup dan mimpiku.


Kembali lagi bagaimana rupaku dan seberapa besarpun kepintaran yang ada di dalam kepalaku ini, aku tetaplah aku, sampai kapanpun aku tidak pernah ingin menjadi sosok lain ataupun menjadi siapapun, aku hanya bangga dan menyayangi diriku sendiri, itulah mengapa terkadang aku ingin terus tetap seperti ini, aku hanya tidak ingin diriku di bandingkan dengan siapapun dan aku tidak ingin mencoba untuk meru ah diriku lagi untuk apapun dan siapapun di dunia ini.


Sebab sekarang aku sudah mengerti semuanya bahwa aku tidak perlu menjadi siapapun untuk disukai orang lain maupun kedua orang tuaku, sebab orang yang mencintai aku akan tetap menyayangi aku bagaimanapun penampilan dan kepintaranku, sedangkan orang yang memang seja awal tidak suka denganku, meski aku akan jadi secantik apapun dan sepandai apapun, mereka akan tetap saja mencari-cari kesalahan dan kekurangan yang aku milik, karena kebanyakan manusia hanya fokus dengan tampilan luarnya saja, sedangkan mereka sama sekali tidak pernah tahu apa yang ada di dalamnya dan bagaimana sebenarnya orang yang sering mereka bilang sombong dan cuek, judes tersebut.


Aku langsung saja menikmati mie instan buatan bibi saat itu dan rasanya benar-benar paling juara diantara buatan siapapun di dunia ini meski aku tahu apa yang aku ucapan saat itu tetaplah terdengar lebay juga berlebihan, tetapi itu tidak masalah selama niatnya untuk memberikan semangat kepada diri sendiri bukan untuk memamerkan apapun yang kita punya entah itu tampang ataupun kepandaian dan uang sekalipun.


Setiap kali sarapan ataupun makan siang, aku hanya makan terkadang sekali dua kali saja, itupun terjadi karena aku makan di sekolah saat jam istirahat dan aku sering sekali bahkan hampir setiap hari tidak makan di rumah saat sarapan karena Wili yang selalu saja memberikan aku makan dengan garam ataupun kacau kering yang sudah di masak oleh ibu, sedangkan dia sendiri justru malah tidak terlihat menikmati makanan yang seharusnya dia bagi dia untuk denganku ataupun ketika ibu mau membuatkan lebih untukku justru Wili masih bisa mengetahui itu dan dia yang memang lebih sering membuka lemar es yang ada di rumah saat itu.


Aku sendiri selalu tidak berada di rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah tetangga atau ke luar jalan-jalan tidak jelas dan tidak memiliki tujuan seorang diri, apalagi besok adalah akhir pekan aku tidak perlu kerja lagi karena ini adalah waktunya aku libu untuk tidak menunggu jongko ibu di pasar lagi karena aku sudah melakukannya hari ini.


Aku terus saja menikmati mie yang sangat enak itu sedangkan seperti yang biasa aku lihat kali ini Ciko tengah menatap tajam dan sinis kepadaku, aku tahu dia sangat membenci aku ketika aku datang ke rumahnya secara tiba-tiba seperti ini saat itu.


"CK....kenapa kau harus datang ke sini sih, memangnya tempat yang bisa kau tuli jangan rumahku saja apa?" Bentak Ciko terlihat sangat kesal padaku saat itu.


"Eehhh..tentu saja aku hanya datang ke rumahmu karena hanya rumahmu saja yang bersampingan dengan rumahku sedangkan rumah Niko terlalu jauh untuk aku pergi ke sana semalam ini, sedangkan aku yang tadinya hendak pergi ke rumah tante Nina aku tidak bisa berurusan apapun, karena sudah bisa di pastikan bahwa Tante Nina sudah harus lembur malam ini dan dia tidak akan pulang ke rumahnya, jadi tentu saja karena tidak ada pilihan lain aku pergi ke rumahmu, hanya rumah mu yang dekat dengan rumahku, dan plus ibumu sangat baik di bandingkan siapapun yang aku ketahui selama ini. Jadi pergi ke rumahmu adalah pilihan terbaik untukku saat ini," balasku dengan santai sambil terus meniupi mie yang hendak aku makan saat itu.


Ciko hanya bisa menatap dengan tajam setelah aku mengatakan hal tersebut kepadanya dan aku tahu bahwa dia sangat kesal juga begitu emosi dengan apa yang aku katakan tetapi aku juga sama sekali tidak perduli jadi aku terus saja menikmati makanan yang sudah di buatkan oleh bibi saat itu, namun sialnya di saat aku tengah fokus menikmati mie di piring si Ciko sialan itu justru malah menusuk satu satunya telur rebus yang ada di dalam mie milikku saat itu dan dia memakan telur itu dengan satu suapan saja membuat aku sangat kesal ketika melihatnya, dan aku sangat tidak terima dengan apa yang dia lakukan sebab tadinya aku sengaja membiarkan telur itu agar bisa aku makan terakhir karena telur itu sudah bisa di pastikan akan sangat nikmat jika aku menikmatinya di akhir dengan sedikit nasi yang di satukan pada kuah mienya nanti.


Tapi karena kelakuan Ciko sialan itu semua bayangan yang aku harapkan seketika sirna dengan cepat begitu saja dan aku sudah tidak bisa melakukannya lagi, semua hal yang aku harapkan hanya tinggal sebuah kenangan semata saja.


"Ee ...eee..ehh, Ciko jangan maka..." ucapku yang tidak sampai karena telur itu sudah terlanjur masuk seluruhnya ke dalam mulut Ciko saat itu.


"Aishh sialan kau! Beraninya kau malah memakan telurku, Ciko kembalikan telurku, Ciko! Bentakku dengan sangat kencang kepadanya sambil menepuk pundaknya sekuat tenaga saat itu.


Namun bagaimana pun aku mengamuk dan memukulinya tetap saja tidak akan bisa mengembalikan telur tersebut lagi sebab telur tersebut sudah terlanjur di makan oleh Ciko dan sudah hancur di kunyah dalam mulutnya yang sangat menyebalkan itu.


"Ahaha..nih..ini ambil saja di dalam mulutku jika kau bisa..eumm..ini enak sekali, makanan buatan bibi memang selalu enak dan tidak pernah gagal." Ucap Ciko yang malah meledeki aku terus menerus.


Dan lebih parahnya dia mengikuti apa yang aku lakukan kepada dia dengan cara bicara dan wajahnya yang mengikuti gayaku, itu sangat menjengkelkan sekali membuatku tidak bisa menahan kesabaran lagi kepadanya karena kali ini aku rasa dia benar-benar sudah di luar batas dan aku tidak bisa memaafkan dia lagi kali ini.


"Huaaa...Ciko sialan kemari kau jangan kabur hei..Ciko..." Teriakku lebih kencang lagi sambil berlari mengelilingi meja untuk menangkap Ciko agar bisa memberikan pelajaran kepadanya karena dia sudah berani membuat aku jengkel dan marah besar saat itu.


Sayangnya dia terus saja berlari kesana kemari dan aku sudah lebih dulu lelah sehingga hanya bisa mengatur nafasku sambil menunduk memegangi lututku terus saja mengatur nafas yang terengah-engah karena tidak bisa mengejar Ciko saat itu.


"Hah...hah..hah..Sialan kau Ciko awas kau aaahh..aku sangat lelah sekali," gerutuku sambil menjatuhkan diri di sofa saat itu karena sudah tidak tahan lagi dengan kelelahan saat itu.


Begitu juga dengan Ciko yang ikut merebahkan tubuhnya di sofa tepat di sampingku saat itu, dan hal tersebut membuat aku memiliki kesempatan untuk menekan dia dan aku perlahan diam saja dan terus mengatakan sangat panas dan lelah hingga setengah aku rasa sudah sangat dekat dengan Ciko langsung saja aku merangkul pundaknya dan mencekik lehernya itu dengan tanganku yang aku lingkarkan padanya sebelah untuk mengunci dia dan terus mengacak rambutnya saat itu dengan sekuat tenagaku dan sepuas yang aku bisa.


Meski saat itu Ciko terlihat berontak dengan keras dan dia terus menyuruh aku untuk menghentikan semua ini namun aku tetap tidak bisa menghentikannya karena sudah terlanjur kesal dan emosi kepada dia saat itu, dan emosional di dalam hatiku tidak bisa di padamkan dengan begitu mudahnya.


"Ahahah..rasakan ini euh..aku akan terus mengacak rambutmu sampai rontok dan kau tidak akan memiliki rambut lagi, eughhhh," ucapku terus mengacak rambutnya dan mencambak rambutnya itu dengan sekuat tenagaku hingga terdengar ringisan dari Ciko dan dia yang terus membentak aku untuk menghentikan hal tersebut.


"Hei...hei..hentika..aaaa...rambutku, sialan kau Barsha hentikan sekarang juga atau aku tidak akan mengijinkan kau tidur di kamarku!" Teriak Ciko yang mengancam aku.


Aku tentu saja sangat takut dengan ancamannya karena tidak mungkin aku akan tidur di ruang tengah yang sudah pasti banyak nyamuk nantinya, aku pun segera melepaskan dia sambil merapihkan rambutnya kembali karena aku baru sadar jika hanya ada dua kamar di rumah Ciko, satu kamar bibi dan paman dan satunya adalah kamar Ciko yang selalu aku tempati untuk tidur karena di dalam sana cukup luas dan ada kasur lipat yang ada di bawah ranjang milik Ciko dan aku selalu tidur disana setiap kali menginap di rumahnya sejak kecil hingga sebesar sekarang.


"AA...AA..aahh...hahah..kau jangan bilang begitu dong, masa iya cuman masalah begini saja kau sampai mengancam aku begitu, apa kau tega aku kan seorang wanita yang muda dan manis, bagaimana jika aku diangkat oleh nyamuk-nyamuk sialan yang menyukai kulit manisku ini natinya, kau tidak mau itu terjadi padaku kan eumm..eumm," ucapku sambil langsung membujuk Ciko dan memberikan tatapan yang semanis mungkin agar dia tidak benar-benar meninggalkan aku di luar seorang diri.


Ciko sendiri yang mendapatkan tatapan seperti itu dan perlakuan manis seketika dari Barsha yang terus memperbaiki rambutnya dan menatap rambutnya dengan benar dia sebenarnya merasa sangat tidak nyaman dia merasakan aliran darah di dalam tubuhnya semakin panas dan terlalu cepat hingga jantungnya berdebar sangat kencang ketika melihat wajah dan ekspresi manis yang di buat oleh Barsha di hadapannya seperti itu.


Hingga Ciko dengan cepat memalingkan pandangan darinya karena dia tidak ingin di taklukkan oleh perasaan yang tidak jelas itu.


"Aishh...minggir kau, bersihkan sisa makanmu itu baru kau boleh masuk ke kamarku!" Bentak dia kepadaku sambil menepis tanganku yang tengah merapihkan rambutnya saat itu.


"Aishh..iya..aku akan membersihkannya sekarang," balasku yang keceplosan malah marah dan membentak dia lagi saat itu.


"Apa kau bilang, kau mau aku benar-benar mengunci pintunya ya?" Ancam Ciko Lang membuat aku sangat takut dengannya dan saat itu juga aku segera kembali memasang wajah terbaik aku kepadanya.


"Ohhh..hohho...tidak tidak, aku hanya sedang berakting saja iya..haha..aku hanya akting jadi wanita jahat....hohohoh.... Akulah Barsha si jahat Aishh..hehe, ayo masuk saja lebih dulu, aku akan membersihkan mejanya dan bekas makanmu juga," balasku segera memalingkan pembicaraan dan harus berpura bersikap seperti orang gila saat itu.


Semuanya aku lakukan agar dia tidak kembali marah dan berusaha pikiran denganku, jadi tentua saja aku harus bersikap baik kepadanya jika aku ingin tidur di kamarnya dengan ranjang dan selimut nantinya.


Atau jika tidak, aku benar-benar akan di kunci dan hanya bisa tidur di sofa depan sendirian dengan ditemani banyak nyamuk juga tanpa bantal dan selimut yang bisa menghangatkan tubuhku saat itu.


Ciko sendiri hanya membalasku dengan decakkan kecil lalu dia segera berbalik dan masuk segera ke dalam kamarnya.


"CK...awas saja kau jika berani merutuki aku!" Ucap dia kepadaku saat itu.


"Tidak akan.....kau kan orang baik aku tidak mungkin merutuki manusia baik sepertimu, ayo masuk saja, tidur dengan nyaman oke," ucapku sambil terus saja mempertahankan senyuman di wajahku sampai dia benar-benar masuk dan menutup pintu kamarnya saat itu.


Padahal saat itu aku sudah sangat kesal dan emosi sekali kepadanya tetapi harus tetap kuat berpura-pura memasang senyum di kala aku sangat kesal dan emosi padanya.