
Setelah selesai makan, mereka tidak langsung pergi masuk ke dalam rumah sakit, Alex berencana mengutarakan cintanya di sana. Ya walaupun situasinya sangat tidak memungkinkan kala itu, tapi Alex pikir jika dia mengutarakan cintanya dan Arsha menerimanya mungkin itu bisa sedikit mengubah suasana hatinya.
" Arsha " panggil Alex kembali. Tak ada jawaban dari Arsha, dia masih asik dengan permen kapas yang Alex berikan padanya. " Arsha " panggil Alex lagi.
" Alex kenapa gangguin Arsha si " ucapnya yang seperti anak kecil.
Karna merasa gemas dengan tingkah Arsha, tanpa sengaja dia mencubit pipi Arsha. Dia rasanya gemas sekali, ini adalah kali pertamanya dia berbicara seolah olah dia adalah anak kecil yang marah karna di ganggu. Sangat menggemaskan.
" aauuuu.... " keluh Arsha karna pipinya di cubit.
" gue mau ngomong sesuatu sama lho " kali ini Alex tidak lagi mencubit pipi Arsha, dia kini menangkup kedua pipinya, di dekatkannya dahi Alex agar dahi mereka bersentuhan.
Terdengar suara detak jantung Arsha begitu keras sampai sampai Alex bisa mendengarnya.
" ke, kenapa Alex " ucap Arsha gugup.
" gue sayang sama lo, gue mau lo jadi milik gue seutuhnya " jawab Alex To The Poin.
Kini dada Arsha berdegup dengan sangat kencang hingga rasanya dadanya itu ingin keluar dengan paksa dari dalam tubuhnya.
" gue mau lho jadi pacar gue, gue mau lho jadi pendamping hidup gue, gue nggak mau kehilangan lho Arsha, gue sayang banget sama lho. Lho mau kan jadi pacar gue? Gue janji sama lho akan selalu sayang, selalu cinta dan gue akan selalu ada buat lho, buat jagain lho. Gue berani bersumpah jika suatu saat nanti gue mengingkari janji gue " jelas Alex.
Arsha merasa terharu akan cinta yang Alex miliki. Tanpa pikir panjang Arsha mengiyakan keinginan Alex karna pada dasarnya Arsha juga mempunyai rasa terhadap Alex.
Setelah menghabiskan waktu berdua di taman cukup lama, akhirnya mereka kembali ke dalam rumah sakit. Kini gembiraan nampak jelas di wajah Arsha, rasanya seperti baru saja menang lotre, bahagia sekali.
Vernon, Berryl, Shail dan juga Ardian yang melihat itu juga ikut senang karna akhirnya Arsha bisa tersenyum dan nampak sangat bahagia.. Kini tidak ada lagi kesedihan yang akan dia pancarkan. Alex melayangkan satu kedipan kepada Ardian, Ardian juga membalas satu kedipan kepada Alex kemudian keduanya tertawa bersama.
Sangat indah bukan pemandangan yang kini sedang tergambar di sana.
" gimana kondisi opa ma " tanya Arsha sembari berjalan menuju ranjang Hartomo diikuti oleh semua.
" dokter bilang perkembangan opa untuk sembuh sangat dekat, opa sudah bisa merespon pergerakan sekitar namun dia belum tersadar dari komanya " jelas Berryl.
Tidak ada raut wajah kesedihan dari Arsha, dia hanya terdiam dan berdoa di dalam hatinya agar kakeknya itu cepat terbangun dan beraktifitas seperti biasanya. Dia tidak mau bersedih, dia tidak mau menangis karna dia tahu hati semua orang pasti akan sakit jika melihatnya menderita.
" opa cepat sadar ya, Arsha mau memperkenalkan seseorang sama opa, opa pasti suka sama dia. Dia itu tampan, dia juga sayang sama Arsha seperti opa sayang Arsha, dia juga sudah berjanji sama Arsha untuk selalu sayang sama Arsha, selalu menjaga Arsha. Pokoknya opa harus cepet bangun biar opa Arsha kenalin sama orang itu " ucap Arsha yang seolah olah sedang bercerita kepada Hartomo dengan suara yang di buat buat seperti anak kecil, sesekali juga dia melirik Alex.
" opa pasti akan segera bangun, opa hanya ingin beristirahat sedikit lebih lama " balas Vernon seolah olah kakek yang berbicara.
Arsha tersenyum mendengar ucapan Vernon, di peluknya Vernon sekilas oleh Arsha.
Hari sudah mulai gelap, Akhirnya Alex memutuskan untuk pulang, dia tidak enak jika berada terlalu lama disana, karna untuk sekarang ini dia bukanlah siapa siapa dikeluarga tersebut. Sekarang belum jadi kita tunggu besok😅
" om, tante, bang, Arsha. Alex pamit pulang dulu ya, udah malem nggak enak kalo lama lama disini " pamit Alex.