BARSHA

BARSHA
Pergi Dengan Varel



Hingga setelah aku selesai bicara dan menceritakan semuanya dia pun hanya menanggapi ucapanku dengan sebuah senyuman kecil saja saat itu, dia terlihat terus menatap ke arahku dengan wajahnya yang menyejukkan tapi aku tetap merasa sedikit kesal dengannya karena dia malah tersenyum terus seperti itu kepadaku seakan bak tengah menertawakan aku saat itu.


"Aishh.... Kenapa kau diam saja dan malah terus tersenyum begitu, aku kan bilang padamu, kalau aku sangat kesal dengan Ciko beraninya dia berpura-pura mengaku menjadi pacarku, sekarang semua para wanita centil yang mengidolakan dia malah menyerang aku seperti tadi, kalau terus seperti ini apa yang bisa aku lakukan?" Ucapku sangat kesal saat itu.


Bukannya menjawab ucapanku Varel justru malah langsung menarik tanganku dan membawa aku turun dari bus secara tiba-tiba, padahal untuk sampai ke rumah ini masih cukup jauh dan seharusnya aku dan Varel tidak berhenti di pemberhentian saat ini.


"Ayo ikut denganku." Ucap dia kepadaku sambil menarik tanganku dan terus saja membawa aku keluar dari bus saat itu.


"Eeh....eh...Varel apa yang kamu lakukan, Varel kau mau membawaku kemana hei..." Ucapku kepada dia.


Dan pada akhirnya bus juga sudah kembali melaju meninggalkan aku saat itu, aku hanya bisa menggerutu kesal karena gagal menghentikannya saat itu, sedangkan Varel malah berdiri diam saja.


"Ya ampun bus nya, hei...pak tunggu pak kami belum naik pak.." teriakku pada supir bus itu yang dibagikan begitu saja.


"Aishh...sial, kita malah ketinggalan bus, sekarang masih harus menunggu bus lainnya lagi, aahhh pasti akan sangat lama, semua ini salahmu, kenapa kau malah membawa aku turun dari bus, apa kau gila ya?" Ucapku menggerutu kesal dan menyalahkan Varel saat itu.


Dia malah terus saja terlihat tenang dan tersenyum kecil kepadaku, aku tidak bisa marah lagi untuk melawannya karena Varel memang selalu seperti itu, hingga tidak lama dia malah menghentikan taxi dan aku terbelalak menatapnya karena merasa sangat kaget dengan apa yang dia lakukan sebenarnya.


"Hei....Varel apa kamu benar-benar sudah gila ya? Kenapa malah menghentikan taxi?" Tanyaku sambil menarik tangannya disaat Varel hendak masuk ke dalam taxi tersebut.


Aku mengerutkan kedua alisku menatap dengan penuh keheranan kepadanya, tapi karena dia bilang akan membawaku ke tempat yang bagus aku tidak bisa menolaknya itu juga hal yang baik dari pada kembali ke rumah dan bertemu Wili nantinya, aku pun menghembuskan nafas dengan sedikit kasar lalu segera masuk dengan cepat, dia juga mengikutiku dan duduk di sampingku saat itu, tapi disaat aku bertanya kemana sebenarnya Varel akan membawaku dia malah tetap saja tidak mau memberitahu aku.


"Varel sebenarnya kita ini mau kemana ini sudah setengah jam, kenapa belum sampai juga?" Tanyaku pada dia saat itu.


"Tunggu saja nanti kau juga akan tahu." Balas dia kepadaku saat itu.


Memang sangat menyebalkan jika bertanya pada orang seperti Varel yang lebih banyak diam dibandingkan mengeluarkan suara, dia memang selalu tidak banyak bicara bahkan sekarang malah merahasiakan tempat yang akan kami kunjungi.


Padahal aku sangat penasaran sekali, dan tidak sabar rasanya untuk bisa mengetahui tempat semacam apa yang dia katakan sebagai tepat yang indah dan aku akan sangat menyukainya.


"Huuh....dasar kau ini, awas saja ya jika nanti tempatnya tidak bagus aku akan meminta ganti rugi atas waktuku yang sudah kau sia-siakan." Ucapku kepadanya sambil memberikan tatapan yang lekat dengannya.


"Eum...aku sangat yakin kami pasti akan menyukainya, tenang saja." Balas dia sambil terus tersenyum dan terlihat sangat percaya diri saat itu.


Aku hanya bisa menanggapinya dengan menggelengkan kepala dan tidak mengerti bagaimana pola pikir orang jenius sepertinya yang sangat di luar nalar, biasanya apa yang menurutnya bagus tidak sama dengan apa yang bagus menurutku, dan aku sudah merasa tidak enak hati saat ini.