BARSHA

BARSHA
Ciko dengan Jepri



Aku dan Kesi saling tatapan satu sama lain, dia mungkin bingung karena Jepri yang tidak biasanya datang menghampiri aku seperti ini, sedangkan aku kebingungan dengan apa yang harus aku jawab kepadanya saat itu, hingga tidak lama hal yang aku takutkan benar-benar terjadi, Niko berteriak dengan kencang dari belakangku dan aku langsung saja membuka kedua mataku dengan lebar saking kagetnya melihat reaksi yang diberikan oleh Niko saat itu.


"Barsha!" Teriak dia sangat kencang dan berjalan menghampiri aku dengan sorot mata yang sangat serius dan sini.


Begitu juga dengan Ciko yang berjalan disampingnya, Niko langsung duduk di hadapanku dan Ciko malah mengusir Kesi dari sana karena Jepri malah duduk di kursi yang ada di samping Niko dan berhadapan dengan Ciko, hal itu membuat aku sangat bingung tidak karuan dan aku tidak berhasil untuk menahan Kesi.


"Kesi...hei....kau mau kemana... Kesi?" Teriakku bertanya dan berusaha menahan Kesi saat itu, namun tetap saja aku gagal karena Kesi juga takut pada Ciko yang sudah menyuruhnya untuk bertukar kursi saat itu.


"Maafkan aku Barhsa, tapi sebaiknya memang Ciko saja yang duduk di sampingmu, aku akan mencari kursi lain yang lebih menenangkan untuk menikmati makan siangku, semoga kau baik-baik saja ya." Ucap Kesi sambil mengangguk dan memberikan aku semangat saat itu.


Aku tidak membutuhkan semua itu darinya, aku hanya butuh dia membantu aku dan tetap disini denganku, karena hanya dengan keberadaan dia satu-satunya harapan untuk aku agar Niko dan Ciko tidak berbuat seenaknya saat ini, namun satu satunya harapan itu justru malah musnah begitu saja tanpa sempat aku menggunakannya, tentu saja aku merasa sangat kesal dan tidak tahu harus berbuat apa sekarang.


"Heh....Jepri kenapa kau duduk di sini? Bukannya biasanya kau duduk di samping adikmu Tisa? Sana pergi." Ucap Niko kepadanya saat itu.


"Oh, tidak aku mau disini saja, dan tadi seharusnya aku yang duduk di kursi yang sekarang kau duduki itu, tapi kau malah menyenggol aku dan menyingkirkan ku, kalau aku boleh tahu kenapa kau melakukan itu barusan?" Tanya Jepri dengan beraninya kepada Niko.


Aku tahu Niko sangat kesal mendapatkan jawaban seperti itu dan malah mendapatkan pertanyaan balik dari Jepri, aku sungguh tidak tahu lagi harus berbuat apa sehingga aku hanya bisa menahan Niko dengan memegangi tangannya dengan cepat dan terus saja berakting dengannya.


"Wahh....apa yang kalian bicarakan Niko ini kan sahabat terbaikku, dia tentu lebih pantas duduk di hadapanku dan memang kami sudah terbiasa seperti ini sejak kecil kok, iya kan Niko." Ucapku kepadanya saat itu.


Aku terus saja menepuk tangan Niko pelan agar dia bisa mengerti kode yang aku berikan kepadanya namun sayangnya meski dia mengerti kode dariku, dia tetap saja tidak melakukannya dan malah menghempaskan tanganku dengan kasar sambil langsung menghadap ke arah Jepri yang tengah mulai makan di sampingnya saat itu.


Niko dan Ciko keduanya terus saja menatap Jepri dengan begitu lekat dan mereka terus saja memandang dengan tatapan yang tajam kepadanya sehingga aku hanya bisa menundukkan kepala dan menggerutu seorang diri dengan pelan.


"Astaga...apa yang mau mereka berdua lakukan sebenarnya, benar-benar manusia konyol." Gerutuku saat itu.


Hal itu tentu saja dirasakan oleh Jepri dan terlihat dengan jelas bahwa saat itu Jepri nampak tertekan karena terus mendapatkan tatapan seperti itu dari kedua orang yang ada di depan dan di sampingnya sehingga dia mulai angkat bicara dan bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan dua bocah konyol itu.


"Ekm....kenapa kalian tidak makan? Dan kenapa malah menatapku terus seperti itu? Apa ada yang mau kalian bicarakan denganku?" Tanya Jepri bertubi-tubi dengan wajahnya yang penuh dengan keheranan saat itu.


"Sudahlah Niko, Ciko kalian ini jangan seperti anak-anak, dia hanya makan di satu meja yang sama denganku, itu tidak masalah, kalian jangan berlebihan seperti itu." Ucapku kepada mereka berdua dengan nada suara yang sudah lelah bicara dengan mereka namun tidak pernah di dengarkan dengan baik sedari tadi.


"Diam kau, ini urusan antara pria dengan pria dan sebaiknya kau diam saja!" Balas Niko kepadaku yang malah dianggukkan oleh Ciko.


Aku hanya bisa terperangah mendengar jawaban dari Niko kepadaku, aku benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dia maksudkan kepadaku saat itu, bagaimana bisa dia malah menyuruh aku diam dan mengatakan semua itu adalah urusan para pria, aku benar-benar ingin menepuk kepala mereka berdua saat itu, ditambah Ciko sendiri bukannya membantuku untuk menghentikan Niko, kini dia juga malah ikut-ikutan berlagak sama dengan Niko, yang membuat aku benar-benar tidak bisa menghentikan mereka berdua.


"Astaga....aaahh...dasar kalian berdua ini." Gerutuku sambil menggelengkan kepala dalam menghadapinya.


"Hei, jawab pertanyaan dariku dengan baik, apa kau benar-benar menyukai Barhsa?" Tanya Niko kepada Jepri saat itu.


Sampai membuat Jepri langsung menghentikan makannya dan dia menaruh sendok makannya cukup keras saat itu, lalu berbicara menjawab pertanyaan dari Niko dengan menatap Niko lekat dan tidak kalah serius dengan Niko saat itu.


"Ya...aku menyukainya dan aku beritahu pada kalian berdua saat ini, bahwa aku sedang mengejarnya, kalian tidak bisa menghentikan aku." Ucap dia begitu saja.


Ciko yang tiba-tiba saja menjadi lebih marah dibandingkan Niko yang sudah menggebu sejak awal, bahkan Ciko sambil menarik keras seragam milik Jepri saat itu dan memberikan ancaman kepadanya untuk tidak mencoba mempermainkan aku.


"Kau....beraninya kau bicara seperti itu di hadapanku. Aku peringatkan kepadamu, aku tidak masalah jika kau mengejar sahabatku, tapi jika kau berani menyakiti dia apalagi mempermainkan dia, kau akan berurusan denganku dan semua temanku, apa kau mengerti hah!" Bentak Ciko sambil menggebrak meja membuat semua orang tersentak kaget dan menatap ke arah kami saat itu.


Aku langsung saja menahan Ciko dan menyuruhnya untuk melepaskan cengkeraman tangannya dari Jepri sedangkan Niko juga segera menarik Jepri agar menjauh dari Ciko saat itu.


Aku benar-benar dibuat sangat panik saat itu, bahkan Niko sendiri juga kaget, karena ini adalah pertama kalinya kami melihat sosok Ciko yang tidak pernah marah dan bersikap selalu cuek justru malah menjadi orang yang sangat menakutkan seperti ini, bahkan lebih menakutkan dibandingkan dirinya sendiri.


"Ya ampun Ciko sudah Ciko, kau ini apa-apaan sih, lepaskan dia Ciko..." Ucapku kepadanya namun dia tetap tidak mendengarkan aku saat itu.


"Aku tahu kau juga menyukainya bukan, tapi sayangnya kau tidak memiliki keberanian sepertiku, dan pecundang sepertimu tidak pantas untuk wanita seperti dia." Bisikan dari Jepri kepada Ciko yang membuat Ciko semakin marah, sehingga dia tidak bisa melepaskan cengkeraman tangannya pada kerah pakaian Jepri saat itu.


Padahal aku sudah memegangi tangannya dan menatap lekat pada Ciko saat itu, aku berusaha keras untuk membuat Ciko melepaskan tangannya pada Jepri, namun rupanya Jepri malah berbisik seperti itu kepada Ciko tanpa sepengetahuan Barsha dan Niko yang berusaha memisahkan mereka berdua saat itu.


"Ciko ayolah jangan seperti ini, ini tidak seperti dirimu, jangan terpancing emosi." Ucapku kepadanya.


Dan akhirnya setelah aku memegangi wajah Ciko akhirnya Ciko mau menoleh ke arahku dan menatapku dengan tatapan yang lebih tenang dibandingkan sebelumnya.


"Eum...ayo kita pergi dari sini, jangan mengotori tanganmu, aku juga tidak menyukainya." Ucapku kepadanya dengan terus memegangi wajahnya saat itu.


Akhirnya Ciko mau melepaskan cengkeraman tangannya dari Jepri dan dia langsung menggandeng tanganku, membawa aku pergi dari sana secepatnya, begitu juga dengan Niko yang segera mengikuti kami dari belakang, tapi selain itu Niko juga memberikan ancaman sekaligus peringatan kepada Jepri saat Ciko membawa aku pergi.


"Aishh....awas saja jika kau berani macam-macam pada Barsha, kau berurusan denganku bahkan dengan si jenius Varel, jangan mentang-mentang kau kaya dan berkuasa, lalu kau bisa mendapatkan segalanya, kau tidak akan bisa mendapatkan Barsha!" Ucap Niko sambil segera berjalan dengan menyenggol sebelah pundak Niko dengan cukup keras saat itu.


Lalu Niko pergi mengejar aku dan Ciko yang sudah pergi lebih dulu dari kantin saat itu, sedangkan Jepri sendiri dia justru malah tersenyum sinis menatap kepergian Niko dan Ciko yang baru saja memperingati dia dan memberikan ancaman kepadanya, sebab dia sama sekali tidak takut dengan apapun yang diucapkan oleh Niko maupun Ciko.


"Apa mereka pikir aku ini bocah yang akan takut jika diancam? Haha...dasar manusia-manusia menjengkelkan, aku akan tetap mengejar Barsha dan kita lihat saja nanti, siapa yang berhasil mendapatkan dia pada akhirnya." Ucap Jepri saat itu.


Dia langsung dihampiri oleh kembarannya Tisa, dan langsung saja dimarahi oleh adiknya sendiri saat itu.


"Heh...apa kau bodoh, kenapa kau malah bertengkar dengan mereka, apa yang sebenarnya kau pertengkaran, kau berani macam-macam dengan kesayanganku ya?" Ucap Tisa memarahi Jepri sambil menepuk kepalanya cukup keras.


"Aaaaaww...apa kau gila? Berani sekali kau tidak sopan pada kakakmu sendiri!" Bentak Jepri kepada Tisa saat itu.


"Siapa suruh kau bertengkar dengan Ciko, kau kan tahu aku menyukai dia sejak lama jika kalian berdua bertengkar begini bagaimana aku harus menghadapi dia dan mengejar dia nantinya." Ucap Tisa kepada Jepri.


Jepri baru ingat jika saudari kembarnya ini, menyukai sosok Ciko sejak dia pindah ke sekolah ini, bahkan sampai sekarang masih saja menyukai sosok Ciko dalam diam, meskipun ada banyak wanita di sekolah ini yang menyukai Ciko tetapi tidak ada yang pernah di tanggapi oleh Ciko kecuali sahabatnya Barsha, namun sebagai sesama pria tentu Jepri bisa tahu walau hanya dari tatapannya saja, bahwa Ciko juga menyukai Barhsa, sehingga saat adiknya bicara seperti itu, dia juga tidak terima jika adiknya akan menyukai pria seperti Ciko yang sudah menyukai wanita lain.


"Kau jangan menyukainya lagi, karena dia tidak akan menyukai siapapun." Ucap Jepri sambil menepuk pundak Tisa dan langsung pergi meninggalkannya saat itu juga.