BARSHA

BARSHA
Tempat yang Indah



Hingga tidak lama kemudian setelah satu jam di perjalanan dia malah membawa aku ke sebuah pameran robot dan laboratorium fisika terbesarnya di kota ini, aku hanya bisa menatap dengan wajah yang sendu dan langsung menghembuskan nafas cukup kasar ketika melihat bangunan dengan bertuliskan laboratorium umum fisika.


"Huuhh....Varel apa ini yang kau sebut tempat yang sangat indah dan aku pasti akan sangat menyukainya?" Tanyaku kepada Varel dengan menatap sinis.


"Iya...ini laboratorium yang bisa dimasuki oleh semua orang, di dalamnya banyak hal dan ada pameran robot yang dilakukan hanya satu kali setiap tahunnya, kebetulan hari ini adalah waktunya, ayo kita masuk pasti akan ada banyak robot menarik di dalam sana." Ucap dia sambil langsung menarik tanganku dan membawa aku masuk ke dalam tempat itu dengan segera.


Sejak awal aku memang sudah curiga dan sudah merasa tidak enak hati, setiap yang dia suka dengan apa yang sebenarnya aku suka selalu bertolak belakang sejak dulu, itulah kenapa aku sudah menduga hal mengecewakan seperti ini akan terjadi lagi padaku.


"Dasar Varel ini, aaahhh menyenangkan dan indah apanya ini hanya pameran robot, dan aku bahkan sama sekali tidak mengerti dengan apa yang mereka tunjukkan saat ini." Gerutuku sambil menggelengkan kepala kepadanya.


Dia malah terus saja terlihat asik sendiri dengan menonton banyak pertunjukan robot yang dilakukan oleh banyak orang disana, memang banyak sekali jenis robot yang ada disana saat itu, dengan semua keahlian yang mereka bisa lakukan, termasuk robot-robot canggih yang hampir memiliki kecerdasan menyemai manusia bahkan bisa saja melampaui manusia yang membuatnya, itu benar-benar sangat menakjubkan untuk di lihat bagi orang-orang yang memang menyukai fashion ini.


Tetapi berbeda denganku, karena aku sama sekali tidak menyukai robot dan semua hal mengenai robot, aku tidak menikmati semua ini, aku hanya berjalan mengikuti Varel kemanapun dia pergi hingga salah satu robot bisa membuat aku tertarik karena bentuknya yang sangat lucu dan minimalis.


"Wahhhh...hebat sekali, Varel robot apa itu kenapa bentuknya sangat lucu, apa itu bentuk kelelawar?" Tanyaku kepadanya.


"Ahahaha....tidak Barsha itu bentuk kupu-kupu, yang itu adalah robot pengintai yang biasanya digunakan oleh beberapa stasiun televisi untuk menayangkan berita siaran langsung ataupun berita yang memerlukan rekaman dari atas, atau terkadang para detektif juga sering menggunakannya sebab robot itu tidak memiliki suara sehingga jika dia terbang di atasmu mungkin kau tidak akan menyadarinya, dia juga bisa berubah warna mengikuti lingkungan di sekitarnya, hampir sama seperti bunglon." Balas Varel menjelaskannya kepadaku.


Aku hanya bisa mengangguk dan merasa kagum sendiri dengan hal itu, sebab sebelumnya aku sama sekali tidak pernah menemukan robot sejenis itu yang sangat hebat sekali.


"Ohhh...begitu ya, hebat sekali, tapi Varel kenapa kau membawa aku kemari, semua robot disini sama sekali tidak menarik minatku, aku tidak merasa senang dengan berada di tempat seperti ini." Balasku kepada dia dengan kembali memasang wajah yang datar tanpa ekspresi lagi.


"Aaaahh....maaf, maaf aku sebenarnya belum memperlihatkan sesuatu itu, aku terlalu asik melihat pameran robotnya, ayo ikut aku, ada satu tempat disini yang bisa dikunjungi semua wisatawan." Ujar dia lagi sambil menarik tanganku dan membawa aku masuk ke dalam lift.


Aku tidak tahu dia mau membawaku kemana tapi aku hanya bisa menunggu dia saja sampai sesuatu yang dia maksudkan itu bisa aku lihat secara nyata.


Hingga sampailah kami di lantai paling atas gedung tersebut dan Varel langsung membawa aku ke sebuah ruangan yang cukup besar namun lampunya terlihat padam, juga sangat sepi sekali.


"Varel apa kau yakin kita akan masuk ke dalam, kenapa di dalam sini gelap sekali, bagaimana kita akan melihat jalanan?" Tanyaku kepada dia saat itu.


Dan aku menahan tangannya terlebih dahulu sebab merasa ragu dan takut untuk masuk ke dalam ruangan yang gelap itu, tapi Varel kembali menggenggam tanganku dan meyakinkan aku bahwa di dalam sana akan aman.


"Barsha, ayolah di dalam sini tidak akan ada apapun, aku yang menjaminnya kepadamu, dan kau terus saja pegang tanganku jangan melepaskan genggamannya jika kau takut, aku kan ada disini, tidak ada yang perlu kau takutkan." Balas dia kepadaku.


"CK... siapa yang takut, memangnya aku mengatakan kalau aku takut, aku bukan penakut seperti si Niko." Balasku kepadanya.


Padahal sebenarnya aku memang sangat takut dan merasa cemas sampai kakiku gemetaran terus menerus dan sulit untuk aku kendalikan saat itu.


Namun karena aku tidak mau dianggap penakut oleh Varel aku tidak memiliki alasan lain lagi untuk menolaknya dan hanya bisa menyetujui untuk ikut masuk ke dalam dan tetap berpura-pura seakan aku tidak takut dengan apapun yang akan muncul di dalam sana.


"Ya sudah kalau kau memang tidak takut, ayo kita masuk." Ajaknya lagi padaku.


"Ah...iya...iya kau ini bawel sekali sih, ini juga sudah mau masuk kok." Balasku lagi padanya sambil segera melangkahkan kaki masuk dengan cepat ke dalam ruangan gelap gulita tanpa pencahayaan sedikit pun, bahkan saat pintunya di tutup aku benar-benar merasa seperti orang yang buta, sama sekali tidak bisa membedakan apakah aku mengedit atau tidak atau apakah mataku tertutup atau terjaga.


"Astaga....Varel kenapa disini gelap sekali sih, apa pemilik gedung ini lupa memberinya lampu." Ucapku kepadanya saat itu.


"Tepuk tanganku sekali jika ingin menemukan cahaya." Ucap dia kepadaku.


"Eehh...untuk apa melakukan itu, kita harus mencari saklar nya jika mau menyalakan lampu, itupun jika memang ada lampu di ruangan ini, jika tidak bagaimana?" Balasku kepadanya.


Dia menghentikan langkahnya dan kembali menyuruhku untuk menepuk tangan satu kali.


"Cepat tepuk tanganmu Barsha." Balas dia lagi kepadaku.


Aku melakukannya walau dengan perasaan kesal dan sangat malas sekali saat itu, aku juga menepuk tanganku dengan pelan saja sembari mengalengkan tanganku pada tangan Varel sebab aku tidak ingin berpisah dengannya dalam keadaan gelap gulita seperti itu, nanti yang ada jika aku melepaskannya aku akan kebingungan mencari keberadaan dia.


"Aishh...iya iya, kenapa kau sangat memasa sekali sih, biasanya kau sangat menurut denganku kenapa sekarang malah berani memerintah aku." Gerutuku cukup kesal saat itu.


"Prok." Suaraku yang menepuk tangan sekali.


Dan seketika cahaya remang-remang muncul di bagian tengah-tengah ruangan itu, sebuah cahaya merah memancar dari lantai menuju satu titik di atap ruangan tersebut lalu tiba-tiba saja memancarkan rasi bintang yang sangat cantik dengan banyak planet diatasnya dan semua pengaturan bak tengah berada di luar angkasa sungguhan, bahkan di sekelilingku juga terdapat bintang-bintang kecil yang melingkar dan terus bergerak dengan pelan, semuanya terlalu terlihat nyata aku sampai merasa bahwa aku sungguh-sungguh tengah melayang di luar angkasa saat itu.


"Waaahh....Varel ini cantik sekali." Ucapku kepadanya sambil mulai melepaskan pegangan tanganku kepada dia saat itu.


"Aku kan sudah bilang kamu pasti akan menyukainya." Balas Varel lagi yang membuat aku tersenyum sambil mengangguk padanya.


"Eheh...iya aku sangat menyukainya ini sangat luar biasa, bagaimana ada orang yang bisa membuat hal semenakjubkan ini, dia pasti sangat cerdas, mungkin dia sama sepertimu Varel." Balasku kepada dia saat itu.


"Dia memang aku." Balas Varel lagi menuju aku sangat kaget mendengar pengakuan darinya saat itu.


Aku langsung menoleh ke arahnya disaat sebelumnya sangat asik dan terus menatap takjub pada semua pemandangan indah tersebut.


"Hah? Yang benar? Apa sungguh ini buatanmu?" Tanyaku kepadanya lagi saat itu.


"Kenapa kau sekaget itu, apa kau tidak mempercayai aku ya, aku sungguh membuat semua ini, tapi tidak sendiri aku dibantu dengan salah satu professor yang mengajari aku sebelumnya dan dia membuat tempat ini sebagai tempat wisata seperti saat ini, agar semua orang bisa menikmati keindahannya." Balas Varel kepadaku saat itu.


Aku langsung tersenyum lebar karena aku tahu tidak ada yang tidak mungkin untuk si jenius Varel untuk melakukan semua yang dia inginkan di dunia ini.


"Aaahh....tidak tidak aku percaya padamu, aku hanya merasa kau sangat luar biasa sekali karena bisa membuat sesuatu yang sangat indah dan begitu menakjubkan seperti ini." Balasku kepada dia saat itu.


"Kau bisa datang kemari kapanpun kau mau, aku akan memberikan akses gratis untukmu." Balas dia kepadaku tiba-tiba.


Aku langsung membelalakkan mataku kepadanya dan langsung tertawa menanggapi apa yang dia ucapkan kepadaku saat itu.


"Apa? Akses gratis? Memangnya bisa ya seperti itu?" Tanyaku kepada dia.


Lalu dia menyuruh aku untuk mendekat padanya, hingga aku pun segera mendekati dia sampai Varel langsung membisikkan sesuatu kepadaku yang membuat aku semakin terbelalak lebar mendengar ucapan darinya.