Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 2 : Malam Darah IV



Panah Zeel mengenai leher monster misterius itu.


Namun seolah tidak terjadi apa-apa pada bagian leher monster itu.


Tidak ada luka bahkan goresan.


Namun bukan berarti monster tersebut tidak merasakan ada sesuatu yang diarahkan kepadanya.


Seketika setelah menerima pisau dapur dari Zeel.


Monster itu menoleh ke arah kedatangan pisau dapur tersebut.


Pandangan monster misterius tersebut tertuju pada salah satu bangunan, yaitu bar sederhana tempat Zeel berada.


Beberapa saat kemudian Zeel yang berada di lantai dua bar itu mendengar suara langkah kaki dari lantai satu.


Swing ….


Dengan tangan yang gemetar Zeel menarik pedang dari balik punggunya, secara perlahan Zeel medekati pagar kayu.


Terpandang oleh Zeel sosok monster misterius tersebut sedang berdiri di lantai satu.


Tampak monster misterius itu sedang menoleh kesana kemari sekan-akan sedang mencari sesuatu.


Monster misterius tersebut belum sadar akan


kehadiran Zeel.


Kemudian Zeel memanfaatkan situasi itu.


Zeel memutuskan untuk terjun ke lantai satu.


Zeel berdiri atas pagar pembatas lalu melompati


pagar pembatas kemudian mendarat dengan tepat di tubuh monster misterius itu.


Zeel menjepit leher monster misterius itu dari


bagian belakang leher dengan kedua pahanya.


Seketika monster misterius tersebut sadar akan


kehadiran Zeel.


Monster itu menggoyang goyangkan tubuhnya berusaha untuk membuat Zeel terjatuh dari tubuhnya.


Namun upaya monster misterius itu tidak membuahkan hasil.


Jepitan paha Zeel cukup kuat.


karena upayanya gagal monster misterius itu berusaha untuk menusuk Zeel dengan kedua tangan runcingnya.


Zeel yang sadar dengan gerakan kedua tangan dari monster misterius tersebut.


Jleb ....


Dengan segera menusuk mata monster itu dengan pedang yang berada di genggaman tangan kanannya.


Tusukan pedang Zeel lebih cepat di bandingkan


tangan runcing monster misterius itu.


Seketika setelah Zeel menusuk bagian mata monster tersebut berubah menjadi partikel-partikel kecil berwarna putih bersinar di


udara.


Partikel-partikel itu kemudian secara perlahan


menghilang di udara.


Sementara itu Clare masih berada di salah satu


rumah penduduk tempat Zeel meninggalkannya.


Ia sedang duduk mengelus bulu Shiro yang sedang tidur di pangkuannya.


Semenjak Zeel menyuruhnya untuk menutup mata, Clare masih belum membuka matanya sama sekali.


Clare berusaha untuk menenangkan dirinya


Clare sedang menunggu Zeel datang menjemputnya.


Clare yang terus menunggu kedatangan Zeel tidak dapat membendung rasa penasarannya.


Kemudian secara perlahan Clare membuka matanya sedikit demi sedikit.


Lalu Clare melihat sejumlah mayat tergeletak di


meja makan yang tidak jauh dari hadapannya.


Mayat-mayat itu terdiri dari satu orang pria


dewasa, satu orang wanita dewasa serta dua orang anak-anak.


Cairan darah berada pada setiap mayat-mayat itu.


Tampak di hadapan Clare semua mayat di hadapannya mengalami pendarahan hebat pada bagian perut.


Hingga darah dari para mayat-mayat itu membasahi permukaan lantai rumah


Seketika Clare merasakan mual, spontan Clare


menutup mulut dengan kedua tangannya.


Mata Clare tiba-tiba berair.


Shiro yang melihat itu tampak kaget kemudian


melompat dari pangkuan majikannya.


Hueek ….


Clare yang tidak tahan melihat mayat-mayat


tergeletak di depannya seketika muntah.


Beberapa saat kemudian, dari arah belakang Zeel


mendengar suara Langkah kaki mendekatinya.


Suara Langkah kaki itu adalah Zeel.


Zeel menghampiri kemudian dengan segera menarik tangan Clare untuk keluar dari bangunan tersebut.


“Clare kamu baik-baik saja?” tanya Zeel khawatir.


Clare menjawab, “aku sudah tidak apa-apa.”


Clare berkata sambil menunduk, “maafkan aku Zeel … aku membuka mataku.”


“Tidak apa-apa, maafkan aku juga … aku terlalu


lama,” ucap Zeel halus.


Lalu Zeel mengusap-usap rambut Clare dengan lembut


Clare tampak masih menundukan kepalanya, ia menyesal telah membuka matanya.


Ia merasa telah berbuat buruk bagi Zeel.


Clare sadar Zeel melakukan itu demi dirinya, namun ia tidak dapat membendung rasa penasarannya.


Di sisi lain Zeel merasa bersalah telah meninggalkan Clare di rumah yang berisikan mayat.


Namun bagi Zeel tidak ada pilihan lain saat itu.


Setelah saling meminta maaf Zeel menggengam tangan Clare.


“Clare … tolong tutup matamu,” ucap Zeel halus.


Dengan nada rendah Clare membalas, “baiklah.”


“Apa kamu masih kuat berlari?” tanya Zeel khawatir.


Clare membalas, “aku masih bisa.”


Selepas itu Zeel berlari bersama Clare sembari


berpegangan tangan, sementara itu Shiro mengikuti mereka dari belakang.


Clare sebenarnya merasakan rasa sakit pada bagian kakinya.


Tidak biasa bagi Clare untuk berlari sejauh ini, namun Clare berusaha menyembunyikan rasa sakit itu dari Zeel.


Clare tidak ingin membebani Zeel, Clare berusaha sekuat tenaga untuk terus berlari.


Selama perjalanan Zeel menurunkan kecepatan


berlarinya, ia berusaha untuk mengimbangi kecepatan berlari Clare.


Setelah terus berlari, Zeel dan Clare tiba di


halaman rumah keluarga Zeel.


Clare masih menutup matanya.


Perlahan langkah kaki Zeel menjadi pelan dan Clare mengikuti tempo langkah kaki Zeel.


Kemudian Langkah kaki Zeel terhenti.


Clare yang sadar akan itu kemudian juga menghentikan Langkah kakinya


“Ibu?” terdengar oleh Clare suara Zeel.


Seketika suasana menjadi sangat hening, setelah


mengucapkan kalimat itu Zeel tak berkata apapun.


Clare merasakan hilangnya gengaman tangan hangat Zeel.


Clare yang penasaran bertanya pada Zeel.


“kenapa Zeel?” tanya Clare penasaran.


Namun Zeel tak menjawab pertanyaan Clare.


Clare yang semakin penasaran membuka matanya.


Terlihat oleh Clare mayat ibu Zeel terbaring bersimbah darah di lantai.


Serta Zeel yang nampak diam terpaku dengan


keadaan lutut mencium tanah.


Clare nampak terkejut dengan apa yang ia lihat, Clare menoleh ke arah Zeel yang diam terpaku.


Tak ada satu katapun terucap dari mulut Zeel.


Terlihat oleh Clare air mata menetes dari kedua mata Zeel.


Clare yang melihat itu kemudian memeluk Zeel dengan erat.


Sesaat setelah Clare memeluk Zeel, seketika mata Zeel berubah menjadi warna hijau sempurna serta memancarkan cahaya berwarna


hijau.


Clare yang menyadari itu panik dan bingung harus berbuat apa.


Clare tidak tahu apa yang terjadi pada mata Zeel.


“Zeel?” tanya Clare khawatir


Tidak ada respon dari Zeel, perlahan lahan mata


Zeel tertutup.


Clare nampak sangat khawatir pada Zeel.


Tak lama kemudian mata Zeel tertutup sempurna lalu tubuh Zeel terbaring lemas di pelukan Clare.


Keringat dingin mengaliri tubuh Clare.


Ia terus menyebut nyebut nama Zeel namun tak ada jawaban.


Clare memutar pergelangan tangan Zeel hingga telapak tangan Zeel menghadap ke atas.


Lalu Clare menempatkan jari telunjuk dan jari tengahnya di pergelangan tangan Zeel.


Clare merasakan denyut nadi dari pergelangan


tangan Zeel.


Clare yang tadinya panik terlihat lebih tenang saat mengetahui Zeel hanya pingsan dan jantungnya masih berdetak.


Clare sambil menahan rasa sakit kakinya mengangkat tubuh Zeel ke salah satu tempat tidur yang berada di rumah keluarga Zeel.


Selepas mengantar Zeel ke salah satu tempat tidur, Clare pergi ke dapur untuk mengambil air minum.


Namun Clare tidak kembali.


..."Membunuh atau dibunuh."...


...-Zeel Greenlight-...