Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 22 : Bendetta dan Delmon III



Kemudian Alevero dengan kedua tangannya, mengelus rambut Delmon kecil dan Bendetta kecil.


“Jaga diri kalian,” ucap Alvero ramah.


Usai hari itu, Delmon kecil dan Bendetta kecil sering menghabiskan waktu bermain bersama.


Hingga pada suatu hari dan seterusnya, Delmon tidak pernah kembali ke desa Freudenberg.


22 september tahun 1700.


Pintu ruang rapat istana Bluelight, istana Bluelight, kota benteng Clever.


Siang hari.


Pada siang itu, Bendetta dan Delmon sedang saling menatap.


Tiba-tiba Delmon mengacungkan jari telunjuknya pada wajah Bendetta.


“Apakah ini benar-benar kamu Bendetta?” tanya Delmon.


Tanpa berkata, Bendetta mengangguk-nganggukan kepala.


Menerima respon itu, dengan segera Delmon memegang kedua pipi Sophia dengan kedua tangannya.


Terpandang oleh Bendetta, sosok Delmon sedang menatapnya dengan begitu serius.


Berbeda dengan Delmon kecil yang ia kenal, kini paras Delmon tampak lebih tampan.


Sadar dirinya sedang di tatap, Bendetta memalingkan wajah, entah kenapa pipi Bendetta memerah.


“Benar … Bendetta asli!” seru Delmon.


Kemudian Delmon menggegam kedua tangan Bendetta.


“Bendetta … mari kita mengobrol?” ajak Delmon.


Bendetta menatap Delmon untuk beberapa detik, lalu ia kembali memalingkan wajah.


Malu-malu, Bendetta berbicara dengan nada rendah.


“Aku … aku masih ada pekerjaan,” kata Bendetta.


Selepas itu Bendetta melepaskan genggaman tangan Delmon dari kedua tangannya.


Lalu Bendetta memalingkan badan.


“Kalau begitu … bagaimana kalau malam ini?” bujuk Delmon.


Bendetta berkata, “Kalau malam ini … aku tidak ada pekerjaan.”


Mendengar perkataan Bendetta, Delmon tampak senang.


"Bagaimana kalau malam ini kita bertemu di air mancur haven?" ajak Delmon.


Bendetta bertanya, "jam berapa?"


"Jam delapan," jawab Delmon.


Tap, tap, tap …


Tanpa berkata, Bendetta berlari menjauhi


Delmon.


Kamar Bendetta, istana Bluelight, kota Benteng Haven.


Sore hari.


Melalui jendela kamar Bendetta, matahari sore masuk menerangi seisi ruangan.


Dengan pakaian pelayannya, kini Bendetta sedang berbaring pada kasur.


Sembari memeluk guling, Bendetta teringat kalimat ajakan Delmon


Kalau begitu … ini semacam kencan? batin Bendetta.


Plak ….


Bendetta menepuk jidatnya dengan tangan kanannya.


“Aku ... tidak pernah pergi kencan,” ucap


Bendetta.


Seketika pipi Bendetta memerah.


Grasak, grusuk, grasak ….


Bendetta mengguling-gulingkan badannya pada permukaan kasur.


Apakah aku tolak saja? batin Bendetta.


Tapi … Delmon, batin Bendetta.


Pipi Bendetta semakin memerah.


Tiga puluh menit berlalu, Bendetta masih tenggelam dalam pikirannya yang tiada akhir.


Tidak ingin tenggelam lebih lama dalam pikirannya, Bendetta memutuskan untuk bertanya pendapat Sophia.


Kemudian Bendetta bangkit dari kasur, lalu ia pergi menuju ruang kerja Sophia.


Tok, tok, tok ….


Bendetta mengetuk pintu ruang kerja Sophia.


“Tuan putri ... ada di dalam?” ucap Bendetta.


“Ada, masuklah,”


Terdengar oleh Bendetta, suara Sophia pada balik pintu.


Kreeek ….


Bendetta membuka pintu ruang kerja Sophia, lalu ia masuk ke dalam.


“Kenapa Bendetta?” tanya Sophia.


Terpandang oleh Bendetta, kini Sophia sedang duduk pada kursi kerja.


Dengan pipi merahnya, Bendetta menatap Sophia.


“Kenapa pipimu memerah?” tanya Sophia.


Kemudian Bendetta meraba pipinya sendiri.


Melihat reaksi Bendetta, Sophia nampak terkejut.


Sophia bertanya, “jangan-jangan … Bendetta, kamu ingin menyatakan cinta padaku?”


“Bukan!” seru Bendetta.


Hahaha ….


Melihat reaksi Bendetta, Sophia tertawa.


Bendetta berkata, “tuan putri … tolong jangan Jahili aku.”


Beberapa saat berlalu.


Kini Bendetta sedang duduk pada kursi panjang, sembari berbincang dengan Sophia.


Dengan mata berbinar-binar, Bendetta bercerita panjang lebar kepada Sophia, tentang Delmon.


Sesekali Bendetta menggerakan tubuhnya tidak beraturan.


“Bagaimana menurut tuan putri?” tanya Bendetta.


Sophia menjawab, “Bukannya bagus?”


“Tapi,” kata Bendetta.


Terpandang oleh Sophia, pipi Bendetta yang memerah.


“Kalian sudah lama tidak bertemu bukan ... bukannya bagus?” tanya Sophia.


“Tapi ... aku sama sekali tidak pernah pergi kencan,” ucap Bendetta dengan nada rendah.


Melihat tingkah Bendetta, Sophia tersenyum.


Bendetta yang Sophia kenal, tidak pernah bertingkah seperti ini, Bendetta cenderung bersikap dingin.


Sophia yakin, Delmon merupakan sosok spesial di mata Bendetta.


Selepas itu Sophia bangkit dari kursi kerjanya.


Tap, tap, tap ….


Sophia menghampiri Bendetta, lalu ia menatap Bendetta sembari tersenyum.


“Kenapa tuan putri?” tanya Bendetta bingung.


Beberapa saat berlalu.


Kini Bendetta sedang duduk di hadapan cermin rias pada kamar Sophia.


Pada meja rias, terpandang oleh Bendetta sejumlah botol kaca transparan dalam jumlah banyak, berbagai jenis sisir, serta berbagai peralatan kecantikan lainnya.


Lalu Bendetta menatap bayangan dirinya pada cermin, nampak dirinya sedang mengenakan gaun berwarna hijau.


“Cantik … tapi akan aku buat lebih cantik lagi!” seru Sophia.


Selepas itu Sophia mengambil salah satu botol kaca pada meja rias.


Kemudian Sophia membuka tutup botol itu.


Lalu Sophia menuangkan sedikit isi botol pada rambut Bendetta.


Usai menuangkan isi botol pada rambut Bendetta, Sophia mengembalikan botol pada tempatnya.


“Tuan putri … bukankah ini cairan mahal?” tanya Bendetta.


Sophia berkata, “tidak apa.”


Dengan kedua tangannya, Sophia mengusap-usap rambut Bendetta secara perlahan.


Lalu Sophia mengambil salah satu sisir pada meja rias.


Kemudian Sophia sedang menyisir rambut Bendetta secara perlahan.


Pada cermin, Sophia melihat Bendetta sedang tersenyum kecil.


“Kenapa kamu tersenyum seperti itu?” tanya Sophia sembari menyisir rambut Bendetta.


Bendetta berkata, “Tidak apa tuan putri … aku hanya teringat masa lalu, waktu kecil kita sering seperti ini.”


Sophia tersenyum.


“Begitulah,” ujar Sophia.


Beberapa saat berlalu, Sophia berhenti mengerakkan sisirnya.


“Selesai!” seru Bendetta.


Bendetta menatap cermin, ia melihat dirinya lebih menarik.


Rambut Bendetta memancarkan aroma yang wangi.


Lalu Bendetta menyentuh rambutnya sendiri, ia


merasakan sensasi lembut.


“Aku suka,” kata Bendetta.


Clap, clap, clap ….


Sophia bertepuk tangan kecil.


Malam hari, air mancur Haven, kota Benteng Haven.


Berada pada pusat kota, air mancur Haven menjadi titik bertemu dari berbagai wilayah yang ada di kota benteng Haven.


Berbahan dasar batu, air mancur Haven memiliki bentuk bulat sempurna dengan ukuran sedang.


Berbeda dengan air mancur pada umumnya, air mancur Haven memiliki air berwarna biru menyala.


Pada malam itu, Delmon sedang duduk pada tepian air mancur Haven, ia menanti kedatangan Bendetta.


Waktu terus berlalu, Bendetta melewatkan waktu yang ia janjikan.


Hal ini membuat Delmon khawatir.


Ada apa dengan Bendetta … apakah dalam perjalanan terjadi sesuatu padanya, batin Delmon.


Waktu terus berjalan, Delmon terus menatap


sekelilingnya.


Tap, tap, tap ….


Di tengah keramaian kota, Delmon mendengar suara langkah kaki mendekatinya.


Delmon menoleh, ia melihat seorang gadis dengan gaun hijau berlari menghampirinya.


Gadis itu adalah Bendetta.


Spontan Delmon bangkit berdiri.


Bendetta kini berdiri di hadapan Delmon sembari memegang kedua lutut


Huf, huf, huf ….


Terdengar oleh Delmon, napas Bendetta yang terengah-engah.


“Maaf!” seru Bendetta.


Terlihat oleh Delmon, keringat mengalir pada wajah Bendetta.


..."Selama itu membuat Bendetta senang, aku pasti akan mendukungnya....


...-Sophia-...