Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 3 : Penyelamatan Clare V



Zeel yang menutup mata dengan kedua tangannya nampak kesakitan.


Badan Zeel gemetar, darah mengalir dari matanya.


Selepas itu Zeel membuka matanya kemudian menggengam tangan Clare.


Lalu Zeel bersama Clare melarikan diri dari ruangan tersebut.


Salah satu prajurit khusus Clever berkata, “haruskah kami mengejar mereka ketua?”


“Tidak usah ... suatu hari anak itu akan datang padaku,” kata sosok yang dipenuhi perban.


Zeel dan Clare berpegangan tangan sambil berlari.


Zeel bersama Clare pergi menuju arah gerbang perbatasan wilayah kuil dan wilayah penduduk sesuai intruksi Delmon.


Zeel menyesuaikan tempo berlarinya dengan Clare.


Tak ada halangan berarti selama perjalanan, suasana wilayah kuil cukup sepi.


Hingga mereka tiba di gerbang gerbang perbatasan wilayah kuil dan wilayah penduduk.


Zeel dan Clare melihat dua prajurit khusus Clever menggeliat di tanah dengan keadaan tubuh terikat tali.


Tidak jauh dari kedua prajurit itu, tampak Delmon serta sebuah kereta chobo.


Delmon melambaikan tangan ke arah Zeel dan Clare.


Kemudian Zeel dan Clare menghampiri lambaian itu.


“Kalian berdua pergilah keluar kota dengan kereta ini,” ucap Delmon.


Zeel berkata, “kereta?”


“Iya, kereta chobo ini ... kota ini tidak aman untuk kalian, untuk sementara pergilah ke luar kota,” kata Delmon.


Mendengar ucapan Delmon, Zeel dan Clare menerima masukan tersebut lalu naik menunggangi kereta chobo.


Zeel duduk pada bagian depan kereta guna mengendalikan kereta, sementara Clare masuk ke dalam kereta.


Kereta chobo adalah kendaraan transportasi, umumnya berbahan dasar kayu.


Pada bagian depan kereta ini biasanya tersedia tempat duduk bagi pengendara kereta, serta sejumlah kursi pada bagian dalam kereta.


Kereta ini memanfaatkan hewan chobo sebagai tenaga penggerak, chobo termasuk golongan unggas hanya saja jauh lebih besar.


“Bagaimana denganmu Delmon?” tanya Zeel.


Delmon berkata, “aku tidak ikut, aku akan melakukan sesuatu pada orang-orang kuil tersebut.”


“Jangan sampai mati ya," balas Zeel.


Delmon tersenyum kecil kemudian membalas, “ya, setidaknya sampai kita bertemu lagi.”


“Terima kasih,” ucap Clare pada Delmon.


Delmon membalas, “tidak masalah.”


Lalu Zeel dan Clare pergi mengendarai kereta chobo.


Zeel mengendarai kereta chobo dengan pengalamannya, mengendarai kereta chobo merupakan bagian dari latihan wajib prajurit Clever.


Setelah waktu terus berlalu Zeel dan Clare sudah tiba di wilayah penduduk.


Suasana wilayah penduduk cukup sepi.


Wushhh ....


Terdengar suara angin.


Malam itu angin bertiup kencang serta suhu udara yang dingin.


“Zeel,” kata Clare.


Zeel menoleh ke belakang, kemudian berkata, “ada apa Clare?”


“Bisa kita pergi ke rumahku sebentar?” tanya Clare.


Zeel menjawab, “Baiklah, kita masih punya waktu, sepertinya mereka tidak mengikuti kita.”


Zeel dan Clare pergi ke rumah Clare mengendarai kereta chobo.


Setelah tiba di halaman rumah Clare, Zeel menunggu di kereta kemudian Clare masuk ke rumahnya.


Lalu Clare kembali ke kereta dengan membawa sebuah kantung kain.


“Apa itu Clare?” tanya Zeel dengan penasaran.


Clare menjawab, “uang ... kita akan membutuhkan ini.”


“Baiklah,” kata Zeel.


Selepas itu Zeel dan Clare pergi ke arah timur menuju gerbang perbatasan kota benteng Clever.


Di saat melewati gerbang perbatasan kota Zeel


dan Clare sempat di hentikan prajurit Clever yang sedang menjaga gerbang.


Zeel menjelaskan bahwa ia mendapatkan tugas khusus dari kesatria Delmon, selepas itu


Zeel diizinkan pergi meninggalkan kota.


Tujuan mereka selanjutnya adalah desa terdekat.


Sepanjang perjalanan mereka melalui jalan yang menurun serta sedikit terjal, hal ini wajar mengingat mereka tinggal di kota yang berdiri atas bukit.


Setelah melalui jalan yang menurun serta cukup terjal, Zeel dan Clare tiba di hutan dengan pepohonan yang menjulang tinggi.


Ukuran gua cukup besar namun tidak begitu dalam.


Tetesan air mengalir dari langit-langit gua.


Zeel membawa kereta chobo hingga masuk di dalam gua.


Zeel tidak ingin chobo yang menarik kereta mereka jatuh sakit karena hujan.


Zeel dan Clare duduk bersandar di dinding dengan jarak yang sedikit berjauhan.


Malam itu suasana di dalam gua cukup terang, bulan bersinar dengan terang, hingga mampu menyinari gua.


Genangan-genangan air nampak di lantai gua.


“Clare maafkan aku,” Zeel membuka pembicaraan.


“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja,” balas Clare tanpa menatap Zeel.


Zeel melihat Clare yang tampak sedang menutupi-menutupi lengan kiri dengan telapak tangan kanan.


Clare seolah-olah sedang menutupi sesuatu.


Zeel yang curiga mendekati ke arah Clare kemudian membuka lengan kiri yang ditutupi Clare.


Lalu Zeel melihat luka goresan yang cukup besar.


“Kamu tidak sedang bak-baik saja, “kata Zeel sembari menatap luka Clare.


Lalu Zeel berkata, “aku akan mencarikanmu obat, tunggulah.”


“Zeel aku—” Ucapan Clare terhenti melihat Zeel yang sudah pergi meninggalkan gua.


Clare yang ditinggal Zeel duduk memeluk lutut sembari bersandar di dinding menunggu kedatangan Zeel.


Clare merasa bersalah karena Zeel selalu menolongnya.


Tak lama kemudian Zeel kembali.


Zeel kembali dengan beberapa tumbuh-tumbuhan yang Clare tidak kenali.


Lalu Zeel nampak meracik sesuatu dengan peralatan seadanya, ia mencampur tumbuh-tumbuhan yang ia bawa dengan memanfaatkan batu.


Kemudian Zeel datang ke arah Clare dengan tumbuh-tumbuhan yang ia sudah campur.


“Ini akan terasa sedikit sakit, tidak apa?” tanya Zeel sembari menatap Clare.


“Baiklah,” balas Clare dengan suara kecil.


Selepas itu Zeel mengoleskan tumbuh-tumbuhan yang sudah ia racik ke pinggiran luka yang berada di lengan kiri Clare,serta ke beberapa luka kecil lainnya di bagian tubuh Clare.


Aw ....


Sesekali Clare mengerang kesakitan.


Lalu Zeel merobek celananya kemudian menutup luka yang berada di lengan kiri Clare.


“Sudah tidak apa, lukamu akan membaik besok,” ucap Zeel.


Clare berkata, “dari mana kamu mengetahui obat seperti ini.”


“Semua prajurit Clever mempelajari ini,” balas Zeel.


Setelah itu perbincangan berlanjut, Clare bertanya tentang apa yang terjadi dengan mata kekasihnya.


Lalu Zeel menjelaskan dengan rinci tentang apa yang terjadi.


Selepas itu, tiba-tiba ekspresi Clare berubah, seperti baru teringat sesuatu yang penting.


“Zeel, bagaimana dengan Shiro?” Tanya Clare dengan memasang wajah panik.


Zeel membalas, “Shiro baik-baik saja ... malam itu Delmon menemukan tubuhku yang sedang pingsan di tempat tidur serta Shiro yang sedang


tertidur, Delmon menitipkannya ke salah satu tempat penitipan."


“Syukurlah,” balas Clare lega.


“Bagaimana dengan ayah ibumu?” tanya Clare dengan wajah khawatir.


“Mereka mati,” kata Zeel.


Tiba-tiba air mata mengalir dari mata Clare.


Zeel yang melihat itu kemudian mengelus-elus rambut Clare dengan lembut.


Hiks, hiks ....


Terdengar oleh Zeel suara tangisan Clare.


Clare teringat momen ketika ia makan malam bersama keluarga Zeel, momen itu sangat spesial


bagi Clare.


“Tidurlah,” kata Zeel.


Selepas itu Clare melepaskan jubah khusus prajurit Clever yang ia gunakan, lalu menjadikannya sebagai alas tidur.


Kemudian Zeel sedikit menjauhi Clare lalu bersandar di dinding gua.


“Zeel, terima kasih telah menyelamatkanku,” ucap Clare sambil berbaring.


..."Terima kasih Zeel."...


...-Clare-...