Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian Tambahan : Dewa III



*Catatan penting : bagian tambahan dewa ini merupakan buku dewa yang Zeel baca di perpustakaan istana Bluelight, jika tidak berminat silahkan di lewati saja, terima kasih, selamat membaca.


Sosok tersebut ialah adik dewi Athena, dewa Ares.


Melihat sosok itu sontak anak laki-laki ini ketakutan.


Dewa Ares tersenyum pada anak itu.


“Si … siapa?” tanya anak itu gemetar.


Dewi Ares memegang leher anak laki-laki itu lalu mengangkatnya ke udara.


“Le … lepaskan,” ucap anak laki-laki itu.


Anak itu berusaha melepaskan cekikan dewa Ares dengan kedua tangannya.


Aaarghhh ....


Anak itu tampak kesakitan.


Namun cekikan dewa Ares sangat kuat.


Dewa Ares tidak melepaskan cekikannya dari anak itu.


Kaki anak itu terus bergerak-gerak di udara, seperti ikan yang terkapar di daratan.


Namun gerakan kaki anak itu tidak bertahan lama.


Akibat cekikan kuat dewa Ares anak itu jatuh pingsan, sekujur tubuhnya menjadi lemas.


Orang-orang yang berada di sekitar melihat kejadian itu.


“Kenapa?” ucap dewa Ares sembari menoleh ke sekelilingnya.


Seketika orang-orang yang berada di sekitar lari terbirit-birit.


Perasaan ini … Ares,batin dewi Athena.


Kemudian Dewi Athena terbang meninggalkan Athena.


Dewi Athena menoleh ke berbagai arah.


Pandangan dewi Athena terhenti pada sebuah jalanan kota, terlihat olehnya orang-orang sedang lari terbirit-birit.


Kemudian dewi Athena menghampiri keramaian itu.


Terpandang olehnya sosok dewa Ares sedang berdiri di antara kerumunan itu.


Tampak dewa Ares sedang menggegam kepala manusia pada tangan kanannya.


“dewa Ares … apa yang sedang kamu lakukan!” bentak dewi Athena.


“Kakak sendiri … apa yang sedang kakak lakukan?” tanya dewa Ares.


Terpandang dewa Ares sosok kakanya dewi Athena, tetes mata mengalir di pipi dewi Athena.


Pandangan dewi Athena tertuju pada kepala manusia pada tangan kanan dewa Ares.


“Kakak … ayo pulanglah,” bujuk dewa Ares.


“Tidak!” bentak dewa Athena.


Dewa Ares berkata, “Sekarang aku mengerti … ciptaanmu telah mengikatmu!”


Dewi Athena terdiam.


“Kalau begitu … aku akan membunuh mereka semua!” bentak dewa Ares.


Kemudian dewa Ares melempar kepala manusia pada genggaman tangannya.


“Jangan!” seru dewi Athena.


Kepala manusia itu meluncur dengan kecepatan tinggi.


Lalu mengenai salah satu orang di sekitaran sana.


Seketika orang yang terkena lemparan kepala manusia itu tewas seketika, dengan keadaan


bersimbah darah.


Lemparan dewa Ares begitu kencang hingga mampu menewaskan orang.


“Hentikan!” seru dewi Athena.


Tidak tahan akan kelakuan adiknya.


Dewi Athena meninju adiknya hingga terpental ke udara.


Dewa Ares yang terpental ke udara, tidak jatuh melainkan melayang ke udara.


Dewi Athena membentangkan kedua telapak tangannya.


Pertikel-partikel itu secara cepat memadat lalu berubah menjadi pedang.


Kini dewi Athena memegang pedang dengan api membara pada tangan kanannya.


Sementara tangan kanan dewi Athena memegang pedang air.


Dewi Athena lalu mengambil ancang-ancang.


Slash ….


Dewi Athena menebas pedang apinya.


Hasil tebasan dewi Athena membentuk garis vertikal yang tersusun dari api yang padat.


Garis tebasan api itu melayang di udara bergerak secara cepat menuju dewa Ares yang sedang berdiri melayang di langit.


Buuum ….


Ledakan api terjadi di langit kota benteng Eve.


Seketika suasana kota menjadi terang, lalu meredup seiring berakhirnya ledakan.


Kini ledakan berakhir, terpandang oleh dewi Athena sosok dewa Ares masih berdiri tegak.


Seolah tidak terjadi apa-apa pada dewa Ares, ia masih tegak melayang di udara.


Dengan kecepatan tinggi dewi Athena terbang mendekati dewa Ares.


Bam ….


Dewi Athena menghantam dewa Ares dengan kaki kanannya.


Seketika dewa Ares terpental semakin jauh ke atas.


Pertarungan sengit terjadi di langit kota benteng Eve.


Orang-orang kota yang tadinya panik ketakutan, kini terdiam menatap langit.


Pertarungan antara dewa Ares dan dewi Athena berlangsung begitu cepat, hingga mata manusia


biasa tidak dapat mengikuti pergerakan mereka.


Sadar akan perbedaan kekuatan, raja Eriksen hanya terdiam terpana menatap langit.


Sementara itu di atas langit, dewi athena menebas dewa Ares dengan pedangnya.


Slash ….


Slash ….


Slash ….


Dewa Ares menerima semua serangan dewi Athena tanpa terluka sedikitpun.


“Kenapa kakak melindungi mereka … membunuh mereka jauh lebih menyenangkan!” tutur dewa


Ares.


Hahahaha ....


Dewa Ares tertawa terbahak-bahak.


“Tutup mulutmu … apa yang kamu tahu tentang manusia!” bentak dewi Athena.


“Mereka hanya makhluk lemah!” bentak dewa Ares.


Dewi Athena berkata, “karena itu aku melindungi mereka.”


“Aku sama sekali tidak mengerti denganmu,” tutur dewi Athena.


Kemudian pertarungan sengit terus berlanjut.


Hingga terdengar suara dentuman besar dari langit.


Duarrr ….


Tiba-tiba langit menjadi begitu terang.


Seluruh pandangan sesisi kota tertuju pada langit.


Tak lama kemudian, empat batu kecil bercahaya berjatuhan dari langit.


Batu itu di kenal dengan nama batu sakral.


..."Manusia itu lemah."...


...-Dewa Ares-...