Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 18 : Etna



Sore hari tiba, kini Zeel sedang berada di dalam suatu bangunan.


Sebuah kasur kecil untuk satu orang serta lemari kayu berukuran sedang, tak banyak benda pada ruangan tersebut.


Bangunan itu merupakan kamar sementara Zeel.


Pada sisi barat dan timur ruangan itu terdapat jendela kecil tertutup tirai.


Melalui kedua jendela tersebut, Zeel dapat melihat bangunan yang berada di sebelah.


Kini Zeel sedang berdiri sembari memandang keluar jendela pada arah timur, terlihat olehnya bangunan tempat Anthony berada.


Malam hari tiba, Zeel masih belum melepaskan pandangannya dari tempat Anthony berada.


Dari sore hingga malam tiba, Zeel tidak melihat siapapun keluar masuk.


Sesekali Zeel mendengar suara desahan.


Tok, tok, tok ….


Tiba-tiba Zeel mendengar ketukan dari arah pintu kamarnya.


“Lena,”


“Kamu ada di dalam kan?”


“Lena,”


Terdengar oleh Zeel suara wanita dari balik pintu.


Zeel tidak menanggapi, ia berpikir wanita itu sedang mencari pemilik asli kamar ini.


“Lena,”


“Kamu tidak apa-apa?”


“Lena,”


Terdengar lagi oleh Zeel suara wanita dari balik pintu.


Tok, tok, tok ….


Merasa terganggu, Zeel memutuskan untuk membuka pintu.


Sreet ….


Pintu terbuka.


Terlihat oleh Zeel sosok wanita muda dengan pakaian ketat, warna rambutnya berwarna merah dengan iris mata berwarna biru.


Ini pemandangan unik bagi Zeel, pertama kali baginya melihat orang dengan mata berwarna biru dan rambut merah.


Wanita itu tampak kaget melihat Zeel, ia menunjuk Zeel dengan telunjuk tangan kanannya.


“Kamu bukan Lena … kamu siapa?” tanya wanita muda itu.


“Pergilah,” ucap Zeel dengan wajah datar.


Sontak wanita itu kaget, wanita cantik di hadapannya dengan gaun indah serta rambut terurai panjang berbicara dengan suara laki-laki.


“Kamu …laki-laki?” tanya wanita itu.


Penyemaran Zeel ketahuan, tanpa sengaja ia berkata dengan suara laki-lakinya.


Tidak ingin rahasianya tersebar lebih luas, segera Zeel menarik lengan wanita muda itu lalu menyekapnya di dalam kamar.


Setibanya di dalam kamar, Zeel segera mendorong tubuh wanita itu hingga tersandar di dinding.


Mmmm ….


Wanita muda itu berusaha untuk bicara, namun tidak berhasil.


Kini mulut wanita dan hidung muda itu tertutup tangan kanan Zeel.


Mmmm, mmm ….


Wanita itu kembali berusaha untuk bicara.


“Aku akan membuka mulutmu berjanjilah padaku jangan teriak,” ujar Zeel.


Tanpa berucap, wanita itu menganggukan kepalanya tiga kali.


Kemudian Zeel melepaskan tangannya dari wanita itu, lalu ia mundur beberpa langkah.


Segera wanita muda itu sedikit membungkukan badan.


Huh, huh, huh ….


Napas wanita itu terengah-engah.


“Jangan beritahu siapapun … atau aku akan membunuhmu,” ancam Zeel.


Tanpa berkata, wanita muda tersebut mengangguk tiga kali kemudian berlari meninggalkan kamar Zeel.


Khawatir wanita muda itu membongkar rahasianya. Zeel memutuskan untuk memantau wanita muda itu.


Terpandang oleh Zeel wanita tersebut memasuki


bangunan yang berada tepat di arah barat, sebelah kamar Zeel.


Kini pengawasan Zeel bertambah, ia harus memantau dua kamar sekaligus di kedua sisi kamarnya.


Keberadaan jendela pada kedua sisi kamar Zeel cukup membantu, sepanjang malam Zeel selang-seling mengintai kedua bangunan sekaligus melalui jendelanya.


Tengah malam tiba, Zeel memandang bangunan tempat wanita muda yang mengetahui rahasianya berada.


Malam itu suasana bulan cukup terang, Zeel mampu melihat keluar dengan cukup jelas.


Kreeek ….


Pintu kamar wanita muda itu terbuka dari dalam, terpandang oleh Zeel wanita muda tersebut menoleh ke kiri dan ke kanan seperti sedang mengamati sesuatu.


Kemudian wanita itu pergi ke luar.


Tengah malam begini … kemana wanita itu pergi? batin Zeel.


Tidak ingin penyamarannya terbongkar, Zeel keluar dari kamarnya lalu membuntuti wanita itu secara perlahan dari belakang.


Tampak wanita muda itu memasuki sebuah tempat sempit di antara dua bangunan.


Kemudian Zeel mengintip wanita muda itu dari balik dinding salah satu bangunan.


Terlihat oleh Zeel wanita muda itu tampak berbicara dengan dua anak kecil.


Keadaan pakaian dua anak kecil itu tampak lusuh dan robek pada bagian tertentu.


Kemudian wanita muda itu tampak menyodorkan sebuah kantung kepada salah satu dari kedua anak kecil itu.


Lalu wanita muda tersebut mengelus kepala kedua anak kecil itu dengan lembut.


Jadi begitu, batin Zeel.


Tanpa bertemu dengan wanita muda itu, Zeel memutuskan untuk kembali.


Sementara itu wanita muda tersebut masih bersama kedua anak kecil di hadapannya.


“Kalian hati-hati ya,” ucap wanita muda itu.


Kemudian wanita muda tersebut memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Setibanya di depan kamar, ia melihat sosok pria muda sedang bersandar pada pintu kamarnya.


Pria muda itu adalah Zeel.


Melihat pria yang beberapa jam lalu mengancamnnya, wanita itu takut.


Kini Zeel memandanganya.


Seketika keringat dingin mengalir dari tubuh wanita muda itu, entah kenapa nalurinya meminta untuk berlari.


Tap, tap, tap ....


Lalu wanita muda itu berlari.


Setelah beberapa langkah berlari, langkahnya terhenti.


Kini Zeel sedang menggenggam wanita itu.


“Tunggu sebentar … aku tidak bermaksud jahat,” tutur Zeel.


Wanita itu menoleh ke arah Zeel, ia melihat tatapan Zeel tampak begitu jujur.


“Boleh kita bicara?” tutur Zeel.


Kemudian wanita muda tersebut membawa Zeel ke kamarnya.


Terpandang oleh Zeel, isi kamar wanita muda itu, tidak ada yang spesial, semua tampak sama dengaan isi kamar sementara Zeel.


Lalu Zeel dan wanita muda itu duduk bersama pada tepian tempat tidur.


Tidak berdempetan, mereka saling menjaga jarak.


Selepas itu mereka berbincang tanpa saling menatap.


“Namaku Zeel …. Namamu?” tanya Zeel.


Wanita muda itu menjawab, “namaku Etna.”


“Anak-anak barusan itu siapa?” tanya Zeel.


Seketika Etna menunjukan kesedihan dari wajahnya.


Etna berkata, “mereka adalah adikku.”


“Apa yang terjadi?” tanya Zeel.


“Tempat asalku terjadi perang, dalam perang itu orang tua kami terbunuh, lalu aku dan kedua adikku di jual ke pasar budak … kemudian majikan kami menelantarkan kami,” cerita Etna.


“Lalu?” tanya Zeel.


Etna berkata, “setelah itu aku mulai bekerja di sini guna menghidupi kedua adikku.”


Cerita Etna menyentuh hati Zeel.


“Soal yang tadi … maaf ya, mungkin aku terlalu kasar kepadamu,” ujar Zeel.


“Tidak apa … itu tidak seberapa,” ujar Etna.


Zeel memandang ke arah Etna, Zeel melihat sejumlah luka goresan pada tubuh Etna.


“Ada apa dengan tubuhmu?” tanya Zeel.


Etna menatap Zeel.


“Tidak apa-apa,” ujar Etna.


Etna tersenyum ramah pada Zeel.


Melihat senyuman itu Zeel sadar Etna tidak sedang baik-baik saja, senyuman Etna mengingatkan Zeel pada senyuman Clare waktu masih kecil.


“Etna,” tutur Zeel.


Etna bertanya, “kenapa … Zeel?”


“Jika kamu di berikan kesempatan untuk hidup lebih layak … apakah kamu akan mengambilnya?” tanya balik Zeel.


Etna menjawab, “jika kedua adikku masih bersamaku … aku tidak masalah.”


Kemudian Zeel bangkit dari tepian tempat tidur.


“Maaf mengganggu tidur malammu … selamat malam,” kata Zeel.


“Malam,” balas Etna.


Selepas itu Zeel kembali ke kamarnya.


..."Aku akan menghidupi kedua adikku, bagaimanapun caranya"...


...-Etna-...