
Bianno adalah pemuda tersebut, gajih bekerja di lahan tidak mencukupi biaya hidupnya sehingga ia harus mencari pendapatan tambahan melalui pemenuhan permintaan.
Tap, tap, tap...
Pencarian Bianno menghantarkannya semakin ke dalam hutan, pohon semakin lebat dan suasana semakin gelap karena dedaunan di atas sana menahan matahari.
Nectus nama tanaman yang sedang Bianno cari, bentuknya menyerupai bunga mawar, hanya saha setengah bunganya berwarna hijau dan perlahan menguning pada bagian ataa serta tidak memiliki duri.
"Ada!" kata Bianno sembari menunjuk sekumpulan Nectus didepannya sedang berkumpul pada salah satu sisi pohon.
Hufff...
Biano mengembuskan napas lega sebari menempelkan telapak tangan di dada.
Untung saja ketemu, jika tidak aku hanya membuang tenagaku dan kembali ke desa dengan sia-sia, batin Bianno.
Bianno berjalan mendekati bunga dan mendengar suara riuh tidak jauh dari tempatnya berada, Bianno sempat berpikir apa ia udah berjalan terlalu jauh hingga mendekati desa lainnya.
Tapi, harusnya tidak mungkin ada desa di tempat pedalaman seperti ini terutama jauh dari sungai, batin Bianno mematahkan dugaanya sendiri.
Tap, tap, tap...
Bianno berjalan menjauhi bunga Nectus dan memekakan telinga.
Suara laki-laki? batin Bianno.
Bianno mengintip di antara pohon ketika melihat sejumlah tenda pucat dengan sekumpulan laki-laki tampak sedang berkomunikasi.
Bianno melihat sang guru, Dail sedang berdiri membelakanginya dari kejauhan, tidak salah lagi didepan Dail adalah bandit dan Bianno sadar akan itu.
Bandit, apa yang guru sedang bicarakan bersama mereka? batin Bianno bertanya.
Hingga Dail mengeluarkan sesuatu dari balik zirahnya membuat prasangka buruk Bianno semakin tajam, Bianno menduga isinya adalah uang.
Krincing, krincing...
Suara hentakan kantung itu semakin memperjelas bagi Bianno bahwa isinya adalah logam.
Tidak munkin? batin Bianno.
Bianno memelototi kantung di genggaman Dail sembari menutup mulut.
Krak...
Bianno yang melangkah mundur tidak sengaja menginjak ranting kecil, suara yang dimunculkan tidak terlalu nyaring tetapi cukup membuat Dail menoleh dan menyadari ada orang lain sedang melihatnya.
Sontak suara tersebut menjadi pusat perhatian para bandit dan Dail.
"Serahkan kepada kami," bisik ketua Bandit sembari berjalan mendekati asal suara.
Tap, tap, tap...
Perlahan tapi pasti ketua Bandit diikuti dengan anak buahnya menghampiri Bianno yang sedang menahan kencing.
Bagaimana ini, harusnya aku membawa pedang, batin Bianno.
Tap, tap, tap...
Bianno berusaha untuk berlari secepat mungkin sembari meminimalisir langkah
"Hei!" seru Ketua Bandit mendapati Bianno yang sedang berlari membelakanginya.
"Jangan lari!"
Bianno mengabaikan perintah itu dan semakin mempercepat larinya, kali ini ia tidak perduli dengan suara langkah kakinya karena keberadaanya sudah ketahuan.
Wushhh...
Sesuatu berkecapatan tinggi melewati dan membuat angin di telinga kiri Bianno, hingga membuat bulu Bianno berdiri seketika.
Sesuatu itu menancap tepat di pohon yang berjarak lima meter di depan Bianno.
Bianno memelototi tancapan itu di depannya, sebuah kapak besi dengan pegangan kayu serta ikatan yang sudah sedikit usang.
Hampir saja, batin Bianno.
Bianno berlari pada sisi kanan pohon menerobos hutan.
Tetapi kawanan bandit itu lebih cerdik sari dugaanya.
Gubrak...
Bianno yang terus berlari tidak sengaja menabrak seorang bandit berbadan besar dua kali dari tingginya.
Bandit itu muncul dari balik pohon.
"Aduh!" seru Bianno.
Tubuh Bianno kemudian terpental menduduki dedaunan kering yang sedikit basah, dan ia kaget mendapati bandit berbadan besar sedang berdiri dihadapannya dengan helm besi bertanduk.
Dari balik helm besinya bandit itu tersenyum dengan gigi yang menguning.
"Mau pergi ke mana kau, ini adalah wilayah kami," ucap Bandit.
Sementara itu di perkemahan Bandit, Dail mulai gelisah karena kawanan bandit tak kunjung berhenti.
Apa yang sedang mereka lakukan, bagaimana jika kabarnya sedang memberikan uang kepada kawanan bandit menyebar ke penjuru desa, bahkan kerjaan, batin Bianno.
"Lepaskan!" seru Dail sembari menggoyangkan kakinya.
Berusaha untuk melepas pelukan pengawalnya yang dari tadi masih ketakutan.
Tap, tap, tap...
"Komandan!" seru pengawal dengan wajah kusam.
Tap, tap, tap...
Sang pengawal mengikuti langkah Dail.
Setibanya di tempat tujuan, Dail mendapati muridnya Bianno sedang dikelilingi empat orang bandit, diantaranya adalah ketua Bandit.
Kenapa Bianno bisa ada di sini? batin Dail.
Tap, tap, tap...
Dail berjalan mendekati ketua Bandit dan menepuk pundaknya.
"Siapa dia?"
"Dia adalah warga desa Rout dan dia menguping pembicaraan kita," bisik ketua Bandit.
Dail mendapati Bianno yang terduduk lusuh dengan kedua lutut mencium tanah, kepalanya menduduk sejak tadi.
"Bunuh dia!" seru ketua Bandit.
Tap, tap, tap...
Seorang Bandit membelakangi punggung Bianno dan siap menebas leher Bianno yang terbuka.
Dengan begini hidupku berakhir, maafkan aku Aysila, batin Bianno.
Matanya tampak kosong, Biannoo hanya bisa menerima keadaan.
Wuuush...
kapak bandit berayun.
"Hentikan!" seru Dail.
Sontak bandit itu menghentikan ayunannya ketika ujung kapak hanya berjarak tipis dengan leher Bianno.
Bianno yang tadinya bertatan kosong seketika menyala kembali.
Suara guru? batin Bianno.
Dail menaikkan kepala dan matanya tidak berkedip mendapati Dail sedang berdiri dihadapannya.
"Jangan sentuh wargaku," ancam Dail.
Dail berjalan ke balik punggung Bianno lalu membukakan ikatan di tangan Bianno perlahan, ikatan yang cukup kencang membuat pergelangan tangan Bianno memerah.
"Guru, sebenarnya apa yang sedang terjadi, kenapa guru bersama para bandit ini?"
"Detailnya nanti aku jelaskan, sekarang berdirilah,"
Prok, prok...
Dail menepuk tangan guna membuang rerumputan yang menempel di telapak tangannya.
Dail membantu Bianno berjalan dan meninggalkan kawanan bandit.
"Komandan!" seru pengawal Dail yang masih tertatih-tatih mengikugi Dail dan Bianno.
Melihat kejadian itu membuat seorang bandit bertanya-tanya, membuat dia mendekati ketua bandit.
"Ketua sebenarnya apa yang terjadi, bukankah ia baru saja meminta kita untuk bekerja sama menyerang desa Rout?"
Ketua Bandit menutup wajah dengan telapak tangan.
"Entahlah, dia pasti sedang memikirkan sesuatu,
Bwahahaha...
Dail tertawa lepas tiba-tiba, membuat bandit kebingungan.
"Licik juga caramu bermain, Komandan Dail aku akan mengikuti cara mainnmu," seru Dail membuat burung disekitarnya terbang menjauhi sarang.
Sementara itu, Bianno berjalan menuju desa diikuti Dail yang sedang membantu anak buahnya berjalan,
"Komandan kenapa anda membiarkan. bocah itu tetap hidup," bisiknya.
Dail tersenyum, "Bocah itu adalah alat,"
"Alat?"
"Alat untuk kita dalam meraih kepercayaan masyarakat desa, kabar tentang aku menyelamatkan dia dari kawanan bandit pasti akan tersebar luas,"
Tap, tap, tap...
Dail mendekati punggung Bianno lalu memekik pundaknya.
"Apa yang kamu lakukan di dalam hutan?"
"Ah guru, aku mencari tanaman obat dan tidak sengaja melihat perkemahan bandit,"
Bianno menhentikan langkah lalu sujud dihadapan Dail.
"Terima kasih guru engkau telah menyelamatkan nyawaku!" seru Bianno.
..."Bocah itu adalah alat,"...
...-Dail-...