Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian Tambahan : Bunga Es II



*Catatan penting : bagian tambahan perang dewa ini merupakan buku bunga es yang Clare baca di perpustakaan istana Bluelight, jika tidak berminat silahkan di lewati saja, terima kasih, selamat membaca.


Setelah masakan Elli selesai, mereka menyantap makanan bersama di meja pendek.


Sembari menyantap makanan, mereka berbicara tentang banyak hal


Sesekali Edgar melakukan gerakan-gerakan aneh.


Hahaha ....


Hingga Elli tertawa terbahak-bahak.


Setelah selesai menikmai makan siang, Elli tampak ingin pergi.


Kini mereka saling berhadap-hadapan di halaman rumah.


“Aku kerja dulu,” tutur Elli.


Edgar membalas, “iya hati-hati.”


Lalu Elli perlahan pergi menjauhi rumah Edgar.


Setelah beberapa meter, Elli menoleh ke belakang mentap Edgar.


Lalu Elli melambaikan tangannya.


Edgar membalas laimbaian tangan Elli dengan lambaian juga.


Keesokan Hari, rumah Jonathan, kota benteng Haven.


Jonathan tampak terbaring di atas kasur.


Luka lebam masih tersisa di wajahnya.


Perlahan Jonathan membuka matanya, terpandang di hadapannya sejumlah wanita berpakaian ala pelayan.


Mereka semua adalah pelayan pribadi Jonathan.


Apa yang terjadi padaku, tutur batin Jonathan.


“Tuan muda!” tutur salah satu pelayan.


Kalau tidak salah aku sedang bertarung, ucap batin Jonathan.


“Apakah tuan sudah baik-baik saja?” tutur salah satu pelayan.


Sial … rakyat jelata itu, tutur batin Jonathan.


Jonathan kembali mengingat apa yang terjadi sebelum ia terbaring.


Kekalahannya atas Edgar.


Seketika ekspresi Jonathan tampak begitu kesal.


Kekalahan Jonathan melawan orang biasa adalah aib bagi Jonathan.


Ia tidak bisa membayangkan tanggapan keluarganya, maupun keluarga bangsawan lainnya.


“Tasya,” tutur Jonathan.


Salah satu pelayan itu menjawab Jonathan.


“Ada apa tuan … apa ada yang sakit?” tanya Tasya khawatir.


Jonathan berkata, “Cari semua orang yang memiliki hubungan dengan Edgar … aku akan menghancurkan Edgar.”


“Baik tuan, saya akan segera mencarinya … kalau begitu saya permisi,” tutur Tasya.


Lalu Tasya pergi meninggalkan ruangan tempat Jonathan berbaring, kemudian Tasya pergi entah ke mana.


Keesokan hari, wilayah perbelanjaan, kota benteng Heaven.


Pagi itu Elli sedang bekerja, ia bekerja di salah satu toko kue sebagai sebagai pelayan.


Toko tempat Elli bekerja hanyalah toko kecil


sederhana.


Tidak ada pelayan lain di toko, hanya ia dan bosnya.


Bos Elli bekerja di dapur untuk memasak, sementara Elli melayani para tamu.


Jika luang, terkadang Elli membantu pekerjaan bosnya di dapur.


Pagi itu Elli tampak sedang membawa sejumlah kue di atas nampan.


Kemudian Elli menata kue-kue itu di rak kayu yang berada di dalam toko kue.


Asap-asap tampak mengepul dari kue-kue itu, tanda kue-kue tersebut masih hangat.


Setelah beberapa saat berlalu, kini rak kayu yang


berada di dalam toko kue sudah penuh.


Tok, tok, tok ....


Tiba-tiba terdengar suara ketokan dari arah pintu kue.


“Permisi,” terdengar suara dari balik pintu.


Dengan segera Elli mengampiri pintu.


Lalu Elli membuka pintu secara perlahan.


Tampak di hadapan Elli seorang pria dengan baju ala bangsawan.


Pria itu adalah Jonathan.


Jonathan tampak senyum ramah kepada Elli, Lalu Elli membalas senyuman Jonathan dengan senyuman juga.


“Silahkan … masuk tuan,” tutur Elli ramah.


Elli sangat gugup Ketika tahu tamu hari itu adalah keturunan bangsawan, namun Elli berusaha untuk tenang.


Ini pertama kalinya ada bangsawan yang memasuki toko itu.


Jonathan tidak seorang diri, tampak seorang pelayan wanita bernama Tasya bersamanya.


Pelayan wanita itu tampak membawa sebuah kantung cukup besar dengan kedua tangannya.


“Silahkan tuan untuk melihat-lihat kue kami,” tutur Elli ramah.


Kemudian Elli menjelaskan kue-kue itu secara satu persatu, mulai dari bahan, rasa, dan nama-nama kue yang tersedia di atas meja.


Elli berusaha seramah mungkin.


“Kalau begitu … aku beli semuanya,” tutur Jonathan.


“Semuanya?” tanya Elli.


Tiba-tiba entah dari mana bos Elli muncul.


Lalu bos Elli berkata “semua?”


“Semua,” tutur Jonathan.


“Elli segera siapkan keranjang kue,” perintah bos


Elli.


Elli menjawab, “baik bos.” Tutur Elli.


Setelah beberapa saat berlalu, kini seluruh kue-kue itu sudah berada di dalam wadah keranjang.


“Berapa total semuanya?” tanya Jonathan.


Dengan ramah bos Elli menjawab, “seribu mora tuan.”


“Tasya,” tutur Jonathan.


Tasya menjawab, “baik tuan.”


Lalu Tasya menyerahkan sebuah kantung cukup besar yang ia bawa kepada boss Elli.


Dengan segera bos Elli membuka kantung itu.


Bos Elli tampak kaget.


Tampak sejumlah uang koin di dalam kantong itu.


“Tuan ini banyak sekali … mungkin ini melebihi sepuluh ribu mora,” ucap bos Elli.


Sementara itu Elli hanya diam terpaku, ia tidak pernah melihat uang sebanyak itu sebelumnya.


“Kalau begitu,” kata Jonathan.


Selepas itu Jonathan tampak sedang mencari sesuatu di dalam sakunya.


Elli melihat Jonathan mengeluarkan sebuah kantung kecil dari dalam saku.


Kemudian Jonathan melemparkan kantung kecil itu ke arah Elli.


“Terimalah … untukmu,” tutur Jonathan.


Elli dengan sigap menyambut kantung itu, lalu ia


membuka kantung tersebut.


Elli melihat sejumlah mora di dalam kantung itu.


Mata Elli nampak berbinar-binar sembari menatap sejumlah mora yang berada di genggamannya.


“Terima kasih tuan,” tutur Elli dengan wajah senang.


“Anggap saja itu tip dariku,” tutur Jonathan lalu


tersenyum ramah.


Elli bertanya, “Tuan … kalau boleh tau siapa namamu?


“Namaku Jonathan … kita akan segera bertemu lagi,” jawab Jonathan ramah.


Selepas itu Jonathan di bantu pelayannya Tasya,


mengangkat seluruh kue yang sudah mereka beli.


Lalu pergi meninggalkan toko.


Keesokan hari, rumah Edgar, kota benteng Haven.


Kala itu, Edgar dan Elli sedang memasak menu makan siang bersama.


Edgar tidak begitu paham tentang memasak, ia hanya mengikuti arahan Elli.


Tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara ketukan.


“Edgar … kamu perhatikan masakan ini ya, aku akan membuka pintu,” tutur Elli.


Kemudian Elli pergi ke arah pintu, lalu ia membuka pintu.


Terpandang di hadapan Elli sosok Jonathan yang sedang tersenyum ramah.


Jonathan tidak datang seorang diri, ia bersama


pelayannya Tasya.


Pelayan Edgar nampak membawa sebuah kantung berukuran cukup besar dengan kedua tangannya.


Beberapa saat kemudian, Elli, Edgar dan Jonathan duduk bersama pada sisi meja pendek.


Edgar duduk berseblahan dengan Elli sementara Jonathan duduk pada sisi yang bersebrangan.


Pelayan Edgar tidak ikut duduk, ia berdiri pada sisi belakang Jonathan


“Ada apa kedatangan tuan Edgar ke sini?” tanya Elli.


Edgar menjawab, “aku ingin bertemu denganmu.”


Mendengar ucapan itu, membuat Edgar naik darah.


“Bertemu dengannya katamu!” bentak Edgar.


Jonathan menatap ke arah Edgar, tatapan Jonathan tampak begitu licik.


“Maaf … kalau tidak salah namamu Edgar ya, aku tidak ada urusan denganmu,” tutur Jonathan.


Seketika Edgar mengepal tangannya, tangan Edgar bergetar seolah-olah sedang menahan sesuatu.


“Tasya,” tutur Jonathan.


Tasya menjawab, “baik tuan.”


Kemudian pelayan Jonathan itu meletakkan kantung yang ia bawa ke permukaan meja pendek, tepat di hadapan Edgar dan Elli.


Lalu Jonathan membuka Kantung itu.


Tampak begitu banyak uang koin pada bagian dalam kantung itu.


“Elli … ikutlah bersamaku,” ucap Jonathan.


..."Uang!"...


...-Elli-...