Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 48: Tepi Jurang



Semuanya!


Mari kita lawan balik!


Bianno menyerukkan keberanian, ia mengangkat pedang ke langit, membangkitkan semangat warga desa.


Ayooo!


Warga desa berseru, seruan Dail membakar semangat mereka di bawah malam yang dingin itu, di bawah kerut sinar bulan.


Crang, cring, crang...


Dengan sekup besi seadanya penduduk desa berhasil memberikan perwalanan, membalikkan keadaan, satu-satunya diantara mereka yang mengenakan pedang besi hanyalah Bianno.


Tetapi keberadaan Bianno cukup untuk menyeimbangkan keadaan.


Bianno kini berhadapan dengan tiga bandit sekaligus, mengepungnya dari berbagai arah, satu-persatu bandit itu menebas ke arah Bianno, saling menunggu celah.


Cring, cring, cring...


Sialan! seru seorang bandit.


Kenapa? hanya segitu kemampuan kalian? gertak Bianno.


Awas kau!


Dari arah belakang seorang bandit mengayunkan kapak besi ke arah Bianno.


Swinggg...


Seperseskian detik Bianno berhasil menghindarinya.


Jlub...


Membuat kapak besi bandit itu menancap ke tanah.


Bandit itu berusaha membungkung berusaha menarik pedangnya sekuat tenaga, tetapi kapak itu tak kunjung lepas karena tanah yang cukup padat.


Sial, kenapa pada saat seperti ini! batin bandit.


Sadar akan setuasi tersebut, Bianno menemukan celah.


Gedebuk...


Bianno mengayunkan kaki kanan cukup tinggi lalu menendang perut bandit itu.


Hueek...


Mata bandit menjadi putih dan darah mengalir dari mulutnya.


Tendangan Bianno cukup kencang, cukup membuat bandit itu terkapar, di atas pasir yang dingin, dengan kapak yang masih menancap.


"Awas kau!"


Seru seorang bandit sambil menggertakan giginya.


Ia berlari ke arah Bianno begitu cepat, membuat Bianno tidak punya waktu untuk berpikir panjang.


Bianno berusaha mengambil kapak besi yang menancap di tanah.


"Tidak akan sempat!" swru bandit.


Jlebbb...


Kapak mendarat di kepala bandit itu, mebelah otaknya hingga menjadi dua, darah bercucuran, mulutnya menganganga.


Tubuh bandit itu perlahan tergeletak di tanah, dengan keadaan yang sudah tak bernyawa.


Membuat seorang bandit yang tersisa murka.


Apa yang kamu lakukan!


Tanpa berpikir panjang dan dipenuhi amarah, bandit itu berlari ke arah Bianno.


Cring...


Kapak besi dan pedang besi berkarat tengah beradu.


Gawat! batin Dail.


Sejatinya kapak adalah kelemahan pedang, terlebuh bandit itu mengencangkan ototnya yang kekar.


"Hahaha, kelihatannya kamu sedang kesulitan,"


"Begitulah,"


Bianno mendorong sekuat tenaga, membuat pedangnya naik ke atas.


Gedebug...


Dengan cekatan Bianno menendang perut bandit itu hingga tak sadarkan diri.


"Sepertinya sudah tidak ada!"


Seru Bianno mencoba untuk mengendalikan situasi.


"Yang terluka tolong pergi ke balai desa, yang masih bertahan tolong patroli ke dalam desa, jangan bertindak sendiri!" seru Dail.


Membawa pedang yang bersimbah darah, Bianno kembali ke dalam desa, ke tempat Aysila harusnya masih berada.


Hari semakin gelap, membuat Bianno semakin kesusahan untuk mencari Aysila, ia terus meneriakkan nama Aysila.


Sampai langkahnya terhenti di gang sempit yang suram, seorang bandit sedang menarik paksa anak perempuan dari sang ibu.


Tangan bandit yang kasar terus berusaha menarik anak perempuan itu, sementara ibunya menangis tak karuan sambil menahan sang anak, hanyanbisa duduk tak berdaya.


"Wanita sialan!"


Gubrak...


Bandit itu menendang kepala sang ibu, hingga genggaman untuk sang anak lepas.


Sementara itu Bianno mengepalkan tangan di kejauhan, tangannya gemetar dan keringan mengalir di dahinya.


Tidak disadari keberadaan Bianno, membuatnya diuntungkan di tengah amarah yang tinggi.


Bandit menyeret paksa anak perempuan itu, berjalan menjauh membelakangi Bianno, meninggalkan isak tangis sang ibu.


Jleb...


Urghh...


Mata anak perempuan melotot di tengah tangisnya, perlhana genggaman erat bandit mulai terasa lemah.


"Kuran ajar!"


Pwdang berkarat itu perlahan mundur diiringi tubuh bandit yan gtergeletak ke belakang, Bianno dengan pedang berkarat berdiri di belakangnya.


"Kamu tidak apa?"


Tanya Bianno pada anak perempuan dengan goresan luka di penjuru tubuh, menggeggam pedang berkarat yang dari tadi darah segar terus menetes.


"Tidakkk!"


Reaksi pertama gadis berteriak lalu berlari ke pelukan ibu yang tergeletak, Mata ibu yang lemas mencoba untuk menerawang, mengenali siapa orang baik yang baru saja menyelamatkan anaknya.


Pupil matanya melebar, "Kamu Bianno, putra dari Leno,"


"Iya, bisa berdiri,"


Delmon menyodorkan tangan pada ibu yang tengah dipeluk sang anak.


Perlahan mata ibu menyempit, dari balik tubuh Bianno muncul cahaya membara dari kejauhan.


Apakah musuh! batin Bianno.


Segera ia menoleh, ternyata bukan musuh melainkan seorang penduduk pria yang tengah berpatroli dengan lampu obor.


"Apakah itu kamu Bianno?"


"Iya!"


"Apa yang terjadi, ibu itu?"


"Mereka di serang oleh bandit,"


"Bandit?"


Penduduk itu berjalan medekati Bianno di antara gang sempit, perlahan jalan menerangi langkahnya, hingga ia menginjak cairan warna merah di kegelapan.


"Apa ini" perlahan tangannya gemetar menciba untuk memajukan obor lebih jauh.


 Mayat di hadapannya sedang terbaring bersimbah darah, cairan merah mengalir dari dada mayat itu, aroma amis melekat di kakinya.


Hueeek...


Matanya melebar, air menetes dari mata beserta rasa mual.


Hueeek...


Muntahannya membasahi lantai dan menyatu dengan darah.


"Jangan terlalu dilihat!"


"Cepat datang kemari dan bawa ibu dan anak ini ke tempat yang aman!"


"Aku pergi dulu!"


Bianno menepuk pundak ibu itu lalu pergi entah ke mana, meninggalkan penduduk desa dengan muntahan di tangannya.


Bianno pergi ke alun-alun, ia bermaksud untuk mencari petunjuk, ia yang kesal meninju tepian air mancur hingga retak.


"Sial!"


"Ada di mana kamu Aysila!"


Sementara itu di tepiantebing, Aysila berjalan lemas dengan tangan terikat.


Tarrr...


Sesekali petir menyambar tepian tebing, membuat langkah Aysila semakin gemetar.


Talinya dipegang erat oleh pengawal Dail yang berjalan dengan beriringan.


Sementara Dail berjalan beberapa langkah didepannya sambil menenteng pedang besi.


"Katakan nenek ada di mana?" bentak Aysila.


Tanpa menoleh Dail berkata, "Diam saja dan ikuti aku jika kamu ingin nenekmu dalam keadaan selamat!"


"Jika nenekku sampai terluka, awas saja kau!"


Alis Aysila menegang dan matanya meruncing.


"Tenang saja, aku selalu memegang janjiku ketika membuat kesepakatan, aku akan melepaskan nenekmu jika kamu menikah denganku,"


Ahahaha...


Dail tertawa lepas sementara Aysila diam di dalam amarahnya.


Setibanya di atas tebing, Aysila mendapati neneknya yang terikat di kayu dekat tepian tebing.


"Nenek!" seru Aysila sambil berlari mendekati sang nenek.


Langkahnya terhenti oleh jarak tali yang pendek, mengikat tangannya.


"Lihatlah nenek, aku di sini bersama cucu kesayanganmu!"


 "Aysila kenapa kemari!"


"Soalnya nenek-"


"Kembalilah ke desa, orang ini berbahaya!"


Cekatan Dail menggenggam rahang nenek yang rapuh.


"Berbahaya katamu?"


Ahahaha...


"Memang"


Mata Aysila berkaca-kaca mendapati tangan sang nenek yang terikat di sebuah kayu twpi jurang, tak berdaya, bajunya menyatu dengan debu yang tertiup udara dingin.


..."Memang"...


...-Dail-...


"Aku akan menikah denganmu, tolong lepaskan nenek!"