Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 20 : Kedatangan Delmon



Selepas itu Zeel menceritakan apa yang terjadi kepada Clare guna meluruskan kesalahpahaman.


“Benarkah?” tanya Clare.


Clare menatap Zeel curiga.


Zeel menjawab, “benar … mana mungkin aku punya dua anak dalam waktu sesingkat itu.”


Clare tersenyum kecil, kini kesedihan di wajahnya sudah hilang entah ke mana.


Kemudian Clare bangkit berdiri, lalu ia memeluk Zeel.


“Zeel!” seru Clare.


Selepas itu Zeel memeluk balik Clare.


Tercium oleh Zeel aroma rambut Clare, tidak asing baginya.


Aroma rambut Clare begitu khas dan harum.


“Aku kangen,” ujar Clare.


Zeel berkata, “aku juga.”


22 September tahun 1700, kamar Zeel, Istana Bluelight.


Pagi itu Zeel masih terlelap dalam tidurnya,


Rasa kantuk akibat tidak tidur kemarin ia lampiaskan.


Dengan keadaan telanjang dada serta mengenakan celana panjang hitam Zeel tertidur pulas.


Tok, tok, tok ….


Terdengar ketukan dari sisi luar pintu kamar Zeel.


“Tuan Zeel,”


Terdengar oleh Zeel suara wanita samar-samar.


“Tuan Zeel,”


Suara itu semakin jelas.


Kini Zeel terbangun.


“Sebentar,” ucap Zeel.


Kemudian Zeel mengenakan jubahnya, lalu membuka pintu kamarnya.


Kreeek ….


Pintu kamar Zeel terbuka, terpandang olehnya sosok Bendetta dengan pakaian ala pelayan istana Bluelight.


Di belakang Bendetta, tampak Clare sedang berdiri sembari mengucek-ucek mata.


Hoam ....


Clare menguap


“Selamat pagi tuan Zeel … tuan putri memanggil anda dan Clare,” ujar Bendetta.


Zeel berkata, “baiklah.”


Kreeek ....


Zeel menutup pintu kamarnya dari sisi luar.


Cekrek, cekrek ….


Lalu Zeel mengunci pintu kamarnya.


Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, Bendetta tampak lebih ramah kepada Zeel maupun Clare.


Zeel tidak lagi merasakan aura kebencian terpancar dari Bendetta.


Selepas itu Bendetta membimbing Zeel dan Clare menuju ruang kerja Sophia melalui lorong istana.


Kini Zeel dan Clare berjalan beriringan, sementara Bendetta berjalan di depan mereka.


Hoam ....


Clare menguap.


“Selamat pagi Zeel,” ucap Clare.


Belum bangun seutuhnya, Clare tampak mengantuk.


“Pagi,” balas Zeel.


Berbeda dengan Clare, Zeel sudah terlatih sebagai prajurit terbiasa kurang tidur.


Sembari berjalan di lorong istana Zeel menatap sisi kiri dan kanan lorong, terpandang olehnya sejumlah jendela pada sisi lorong.


Melalui jendela tersebut matahari menyinari sepanjang lorong.


Sinar matahari tidak begitu terang, seperti hari-hari biasa di kota ini, cuaca cenderung mendung.


Zeel memandang ke luar jendela, ia melihat salju berjatuhan.


Setelah beberapa saat berjalan kini mereka bertiga tiba di hadapan pintu ruang kerja Sophia.


Pintu ruang kerja Sophia tampak renggang.


“Permisi tuan putri,” kata Bendetta.


“Masuklah … aku tidak menguncinya,”


Terdengar oleh mereka bertiga, suara Sophia dari dalam ruangan.


Kreeek …


Bendetta membuka pintu secara perlahan lalu masuk ke dalam, selepas itu Zeel diikuti Clare juga ikut masuk ke dalam ruangan.


Setibanya di dalam Bendetta melihat Sophia sedang duduk pada kursi kerjanya.


“Tuan putri … aku sudah mengantarkan Zeel dan Clare,” ucap Bendetta.


Sophia berkata, “Bendetta tolong siapkan.”


“Baik tuan putri,” ujar Bendetta.


Kemudian Bendetta pergi meninggalkan ruangan kerja Sophia, entah ke mana.


Setibanya di dalam, Zeel melihat sosok yang tidak asing sedang duduk pada kursi panjang.


“Selamat pagi,” ucap sosok itu.


Ia adalah Delmon, kaisar Clever.


Delmon tampak mengenakan zirah besi tanpa membawa senjata.


Tepat di sebelah Delmon terpandang oleh Clare sebuah kandang besi.


Pada sisi dalam kendang besi itu, terdapat seekor monster berbulu putih menyerupai kucing dengan empat ekor.


Monster tersebut nampak sedang tidur.


“Shiro!” seru Clare.


Tap, tap, tap ….


“Shiro!” seru.


Mendengar suara majikannya, Shiro terbangun.


Kini keempat ekor Shiro bergoyang-goyang.


Terpandang oleh Shiro sosok majikannya Clare sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


Dengan segera Shiro mencakar-cakar kandang besi, seakan-akan ingin keluar.


“Sebentar ya,” ucap Delmon.


Kemudian Delmon membuka kandang besi itu.


Segera Shiro melompat ke pelukan Clare, kemudian Clare mengelus Shiro dengan lembut.


Melihat kejadian itu membuat Zeel, Delmon, dan Sophia ikut senang.


Beberapa saat berlalu, kini Zeel dan Clare sedang


duduk berseblahan, sementara Shiro tertidur pada pangkuan Clare.


Pada kursi panjang di hadapan Zeel dan Clare, Delmon sedang duduk.


“Baiklah … mereka sudah terkumpul, silahkan kaisar Clever,” ujar Sophia.


“Terima kasih tuan putri … sebenarnya kedatangan saya kemari untuk menyampaikan sesuatu yang penting kepada tuan putri dan Zeel,” ucap Delmon.


“Delmon … tentang apa itu?” tanya Zeel.


“Tentang misi dan keselamatan kita,” balas Delmon.


Sophia bangkit dari duduknya.


Sophia berkata, “baiklah … Zeel dan kaisar Clever ikuti aku”


Kemudian Zeel dan Delmon bangkit dari duduknya.


Clare berkata, “aku kembali ke kamarku ya.”


“Baiklah,” balas Zeel.


Selepas itu, Clare membawa Shiro ke kamarnya.


Kemudian Zeel dan Delmon mengikuti Sophia.


Lorong panjang istana mereka lalui.


Kini Zeel dan Delmon berjalan beriringan, sementara Sophia berjalan di depan mereka.


“Zeel … aku senang kalian berdua baik-baik saja,” ujar Delmon.


Zeel berkata, “Aku juga senang kamu baik-baik saja."


Tap,tap,tap ....


Langkah kaki mereka bertiga menggema pada lorong.


"Ngomong-ngomong ... dari mana kamu tahu aku dan Clare berada di kota ini?" tanya Zeel.


Sembari terus berjalan, Delmon mendekati telinga Zeel lalu ia berbisik.


Delmon berbisik, "mata-mata."


Beberapa saat berlalu.


Zeel memandang lurus ke depan, ia melihat Bendetta sedang berdiri pada sisi lorong.


Tidak jauh dari Bendetta terdapat sepasang pintu berukuran sedang.


Sophia menghampiri Bendetta, entah apa yang mereka bicarakan.


Kreeek ....


Bendetta membuka sepasang pintu itu.


Kemudian Sophia masuk, diikuti Zeel dan Delmon.


Kini mereka berada pada sebuah ruangan berbentuk persegi.


Tanpa jendela, bangunan itu terlihat begitu tetutup.


Pada ruangan itu tersedia meja panjang serta sejumlah kursi mengelilingnya.


Setibanya di ruangan itu, Sophia segera duduk pada


sebuah kursi yang berada di ujung ruangan.


Berbeda dengan kursi-kursi lainnya, kursi itu tampak lebih besar dan megah.


“Kemarilah,” kata Sophia.


Zeel dan Delmon menghampiri kursi kosong di dekat Sophia, lalu mereka duduk.


Kini Zeel dan Delmon duduk bersebrangan.


Posisi duduk Sophia, Zeel, dan Delmon membentuk pola segitiga.


“Kaisar Clever … silahkan.” Kata Sophia.


Delmon berkata, “Terima kasih tuan putri … aku akan menceritakannya dari awal.”


Sembari bercerita, Delmon mengingat mundur ke belakang.


16 September tahun 1700, gerbang perbatasan wilayah kuil dan wilayah penduduk, kota benteng Clever.


Usai melambaikan tangan kepada temannya Zeel, Delmon membulatkan tekat untuk memasuki wilayah kuil.


Ia melepaskan jubah prajurit khusus yang ia kenakan, kini ia mengenakan zirah besi unit panah.


Bersama senjata panahnya, ia memutuskan untuk memasuki wilayah kuil.


Setibanya di wilayah kuil, suasana cukup sepi.


Delmon melangkahkan kaki mendekati kuil utama.


Setibanya di kuil utama, ia melihat sejumlah prajurit khusus pada halaman istana.


Sebagian prajurit khusus itu terbaring pada halaman kuit utama.


Sebagian prajurit khusus itu menjaga yang terluka.


Dengan wajah polosnya, Delmon menghampiri salah satu prajurit khusus.


“Apa yang terjadi?” tanya Delmon.


Prajurit khusus itu berkata, “kaisar, penyusup … ada penyusup.”


Meskipun tidak berada di bawah pimpinan kaisar secara langsung, prajurit khusus menghormati Delmon.


Delmon memandang sejumlah prajurit khusus yang tergeletak di tanah.


“Ada apa dengan mereka?” tanya Delmon.


Pasukan khusus itu berkata, “akibat penyusup itu mereka terluka … sekarang kamu sedang menuggu peracik.”


..."Mii-Mii-Mii"...


...-Shiro-...