
Usai mendapatkan apa yang Bendetta inginkan, sekarang Delmon sedang berdiri di antara keramaian wilayah perbelanjaan.
Pada sekitar mereka, orang-orang ramai lalu lalang.
“Ini … untukmu,” ucap Delmon.
Delmon memberikan boneka yang baru saja ia dapatkan kepada Bendetta.
Bendetta bertanya, “untukku?”
“Terimalah,” tutur Delmon.
Dengan mata berbinar-binar, Bendetta menerima boneka itu.
“Pasti putri akan senang,” ucap Bendetta.
Delmon bertanya, “putri?”
“Iya … putri sangat menyukai boneka, karena itu aku ingin memberikan boneka ini kepadanya,” ucap Bendetta.
Huuufff ….
Delmon menghembuskan napas.
“Kamu sama sekali tidak berubah ya,” ucap Delmon.
Bendetta bertanya, “apanya?”
Tap, tap, tap ….
Delmon berjalan di antara keramian.
“Lupakanlah … ayo kita cari tempat makan,” ajak Delmon.
Tanpa mereka sadari, dari kejuhan Sophia, Zeel dan Clare sedang membuntuti mereka.
Tidak ingin ketahuan, Sophia, Zeel, dan Clare tampak mengenakan topeng.
Berwarna dasar putih serta corak merah, mereka membeli topeng-topeng itu dari salah satu pedagang yang ada di sana.
“Sial … apa yang baru saja mereka lakukan di dalam sana,” tutur Sophia.
Selama Bendetta dan Delmon berada di dalam tenda permainan panah, Sophia, Zeel serta Clare memantau dari sisi luar tenda.
Tidak dapat melihat apa yang terjadi di dalam sana, imajinasi Sophia menggila.
Pipi Sophia memerah, suhu badannya memanas.
Jangan-jangan mereka melakukan sesuatu yang tidak senonoh! batin Sophia.
Tap, tap, tap ….
Sophia berjalan ke arah Delmon dan Bendetta.
Sophia berseru, “aku harus memberi kaisar Clever itu pelajaran!”
“Jangan … kita hanya akan membuntuti mereka kan?” tanya Clare.
Clare menahan laju langkah kaki Sophia.
Zeel berpinta, “Sophia tenangkanlah dirimu.”
Terpandang oleh Sophia, Delmon dan Bendetta berjalan menjauh.
“Gawat … mereka semakin menjauh!” seru Sophia.
“Ayo kita ikuti,” ajak Clare.
Tap, tap, tap ….
Secara perlahan, mereka bertiga membuntuti Delmon dan Bendetta dari belakang.
Tidak ingin ketahuan, mereka bertiga menyatu di antara kerumunan, sesekali mereka bersembunyi ke dalam tenda.
Sementara itu, Delmon sadar dirinya sedang di buntuti.
Delmon tersenyum kecil.
Delmon menoleh ke belakang untuk beberapa detik, kontak mata terjadi antara Delmon dan Zeel.
Meskipun wajah Zeel tertutup oleh topeng, dan hanya menyisakan sedikit ruang terbuka pada area mata, Delmon tetap dapat mengenali
Zeel.
Sepertinya mereka, batin Delmon.
Sudah kuduga Delmon akan tahu, matanya begitu tajam, batin Zeel.
Di balik topengnya, Zeel tersenyum kecil.
Zeel memandang Sophia dan Clare yang sedang berdiri di hadapannya.
Sebaiknya aku tidak usah memberi tahu mereka, batin Zeel.
Sementara itu, Delmon dan Bendetta berjalan
beriringan.
Merasa gugup, Bendetta secara terus menerus
menggerak-gerakan jarinya.
Sadar akan itu, Delmon heran.
“Jari-jarimu … kenapa?” tanya Delmon.
Bendetta menatap Delmon, terpandang oleh Delmon wajah Bendetta yang memerah.
“Ka … karena dingin!” seru Bendetta.
Bendetta berbohong, ia hanya tidak terbiasa dalam situasi ini.
Tanpa Bendetta sadari, rasa gugupnya semakin menjadi-jadi.
“Jadi begitu,” ucap Delmon.
Zeel dan Clare bukan tipe orang yang suka membuntuti orang lain, batin Delmon.
Tiba-tiba Delmon tersenyum kecil, terpintas sesuatu di dalam pikiran Delmon.
Tuan putri mungkin tidak suka dengan hubungan kami, batin Delmon.
Gyuuut ….
Delmon merangkul Bendetta dengan tangan kanannya.
“Ke ke ke … kenapa?” tanya Bendetta.
Bendetta menundukkan padangannya ke bawah.
“Bukannya kamu kedinginan?” tanya Delmon.
Bendetta hanya terdiam, namun batinnya bergejolak.
Delmon kembali memandang lurus ke depan.
Aku senang tapi … terlalu dekat! batin Bendetta.
Bendetta curi pandang ke wajah Delmon.
Sadar dirinya di tatap, Delmon menatap balik Bendetta.
“Kenapa Bendetta?” tanya Delmon.
Aku sudah tidak tahan … jika terus seperti ini aku
akan pingsan! batin Bendetta.
“Lepaskanlah … aku tidak apa,” tutur Bendetta pelan.
Dengan segera, Delmon melepaskan rangkulannya.
Mungkin aku berlebihan, batin Delmon.
“Bagaimana kalau kita mencari makanan yang hangat?” ajak Delmon.
Tanpa berkata, Bendetta menganggukan kepala tiga kali.
Beberapa menit berlalu, kini Delmon dan Bendetta sedang berada di dalam sebuah rumah makan.
Mereka sedang duduk di dekat jendela, pada sisi luar jendela tampak ramai orang lalu lalang.
Hari semakin malam, pada sisi luar jendela salju
berjatuhan.
Duduk berhadap-hadapan, Bendetta tidak berani menatap mata Delmon.
Bendetta memandang sekitarnya.
Kala itu suasana rumah makan cukup sepi, para pekerja maupun pelayan di sana tampak mengakan mantel tebal.
“Aneh ya … tempat makanan hangat seperti ini begitu sepi,” tutur Delmon.
Bendetta berkata, “begitulah … kebanyakan penduduk kota lebih meyukai makanan dingin.”
“Walapun di cuaca sedingin ini?” tanya Delmon.
“Begitulah,” jawab Bendetta.
Delmon bertanya, “lalu bagaimana denganmu?”
“Awalnya aku tidak terbiasa … lama-lama aku terbiasa,” jawab Bendetta.
Ahaha ….
Bendetta tertawa kecil.
Sejauh ini perbincangan mereka lancar, namun tidak terjadi kontak mata.
Apakah Bendetta marah karena kejadian tadi? batin Delmon.
“Bendetta kenapa?” tanya Delmon.
Bendetta bertanya balik, “apanya?”
“Kamu tidak menatapku,” ucap Delmon.
Untuk sepersekian detik, Bendetta menatap Delmon.
Gawat … tidak mungkin, batin Bendetta.
Dag, dig, dug ….
Jantung Bendetta berdetak kencang.
“Tidak apa-apa,” jawab Bendetta.
Huuuf ….
Delmon menghembuskan napas berat.
“Syukurlah … aku kira kamu marah,” ucap Delmon.
Bendetta berkata, “ti … tidak.”
Sementara itu, pada rumah makan yang berbeda, Sophia, Zeel serta Clare sedang duduk pada meja makan yang sama.
Zeel dan Clare duduk bersampingan, sementara itu Sophia duduk di hadapan mereka.
Berbanding terbalik dengan tempat rumah makan Delmon dan Bendetta berada, rumah makan tempat mereka nampak lebih ramai.
Para pelanggan di sana tidak ragu mengkonsumsi hidangan dingin.
Sadar akan itu, Zeel dan Clare heran.
Yang benar saja … di cuaca sedingin ini, batin Zeel dan Clare serentak.
Sementara Zeel dan Clare di buat heran dengan perilaku aneh orang-orang di sekitarnya, Sophia memandang ke luar jendela.
Sophia menyandarkan dagu pada telapak tangan, melalui jendela ia melihat Delmon dan Bendetta duduk pada meja makan yang sama.
Layaknya istri yang sedang memergoki suaminya
selingkuh, Sophia tampak cemberut.
Sadar akan itu, Zeel mencoba menenangkan Sophia.
“Tidak apa … Delmon adalah orang yang baik,” tutur Zeel.
Sophia memandang Zeel curiga.
Sophia berucap, “bukannya aku tidak percaya dengan perkataanmu … tapi aku ingin melihatnya dengan mataku sendiri.”
Mendengar itu, di balik topengnya Clare tersenyum kecil.
“Sophia menyayangi Bendetta ya,” ucap Clare.
Sophia berkata, “bagiku … Bendetta sudah seperti adik.”
Seketika Sophia teringat akan masa kecilnya.
11 januari tahun 1686, halaman gereja Freudenberg, desa Freudenberg, wilayah netral.
Pagi hari.
Kala itu gereja Freudenberg kedatangan tamu tidak terduga, putri Sophia beserta para prajuritnya datang.
Sadar akan itu, pendeta gereja Freudenberg menyambut Sophia kecil dengan ramah.
“Tu … tuan putri selamat datang,” ucap pendeta.
Kehadiran prajurit berzirah besi di sekeliling putri
Sophia, membuat pendeta sedikit gemetar.
“Gereja yang bagus ya,” puji Sophia kecil.
Mengenakan gaun putih serta rambut yang terkuncir, Sophia kecil tampak begitu imut.
Pendeta bertanya, “Terima kasih atas pujiannya tuan putri … apa yang membuat tuan putri datang ke gereja kecil ini?”
..."Bendetta sudah seperti adik bagiku"...
...- Sophia Bluelight-...