Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 4 : Sophia III



Tak lama setelah itu makan malam bersama antara Zeel, Clare dan Sophia selesai.


Zeel dan Clare memutuskan untuk menginap di penginapan yang sama.


Sementara itu Sophia memutuskan menginap di penginapan yang berbeda.


Kini mereka bertiga sedang berada di depan bar desa.


Zeel dan Sophia berdiri berhadap-hadapan, sementara Clare berdiri tepat di sebelah Zeel.


"Sampai jumpa Zeel ... Clare," kata Sophia lalu tersenyum kecil.


Zeel membalas, "sampai jumpa ... Sophia."


Kemudian Zeel tersenyum kecil kepada Sophia.


Clare menatap Zeel.


"Kenapa tersenyum-senyum seperti itu?" tanya Clare.


Clare menatap Zeel seperti detektif yang sedang menginterogasi penjahat.


Hahaha ....


Melihat itu spontan Sophia tertawa.


"kalian ini menarik ya," tutur Sophia.


"Menarik?" tanya Zeel.


"Kalau begitu sampai di sini ... selamat malam," tutur Sophia.


"Selamat malam," balas Zeel.


Lalu Sophia pergi, sesekali Sophia menoleh ke belakang lalu melambaikan tangannya pada Zeel dan Clare.


Zeel juga membalas lambaian tangan Sophia dengan lambaian juga, tampak Clare berusaha untuk menurunkan lambaian tangan Zeel.


Selepas itu Zeel dan Clare pergi menghampiri kereta chobo yang mereka parkir tidak jauh dsri bar desa.


Kemudian Zeel dan Clare berkeliling desa mengendarai kereta chobo.


Setelah beberapa saat berlalu, Zeel dan Clare tiba di depan sebuah penginapan, tidak sulit untuk mencari penginapan di desa kecil seperti ini.


Kemudian Zeel pergi mengantar kereta chobo ke kandang chobo yang berada tidak jauh dari penginapan.


Lalu Zeel meninggalkan kereta beserta chobo di sana.


Kandang chobo yang berada di sebelah penginapan merupakan hal yang lumrah, para pemilik penginapan umumnya sengaja menyiapkan kendang chobo bagi tamu yang akan menginap.


Sementara itu Clare menanti Zeel tepat di depan pintu penginapan.


Lalu Zeel menghampiri Clare kemudian mereka masuk ke penginapan bersama-sama.


Setibanya di dalam penginapan Zeel dan Clare di sambut oleh seorang kakek tua sang pemilik penginapan.


"Selamat datang tuan dan nyonya," ucap sang pemilik penginapan ramah.


Lobi penginapan nampak begitu sederhana, kursi panjang serta meja nampak tersusun rapi.


Beberapa lilin menyala terpajang di tembok penginapan.


“Dua kamar,” kata Clare.


Di saat yang bersamaan Zeel berkata, “satu kamar.”


Lalu Zeel dan Clare bertatap-tatapan.


Selepas itu tidak ada satupun dari mereka yang ingin mengalah.


Secara berulang kali mereka mereka memesan kamar.


Zeel ingin memesan satu kamar sementara Clare ingin memesan dua kamar.


"Maaf?" tanya pemilik penginapan


Hal ini membuat pemilik penginapan kebingungan.


Setelah beberapa saat berlalu akhirnya Clare mengalah.


Lalu pemilik penginapan pergi ke lantai dua penginapan untuk menyiapkan kamar


sesuai pesanan Zeel.


“Tunggulah di sini sebentar … aku akan menyiapkan kamar untuk kalian,” kata pemilik penginapan.


Sementara menunggu pemilik penginapan kembali Zeel dan Clare duduk menunggu di kursi panjang lobi penginapan.


Selama menunggu pemilik penginapan kembali tak ada percakapan antara Zeel dan Clare.


“Ini kunci kamar kalian … biayanya lima puluh mora untuk satu malam,” kata pemilik penginapan.


Selepas itu Zeel berdiri dari kursi panjang kemudian menghampiri sang pemilik penginapan yang berdiri tak jauh darinya.


Zeel menyodorkan sejumlah mora untuk satu malam.


Pemilik penginapan tersebut tidak menerima uang yang Zeel berikan melainkan menatap


wajah Zeel secara terus-menerus.


“Ada apa?” tanya Zeel.


Pemilik penginapan bertanya, “ah … kamu yang menyelamatkan desa ini dari para bandit?”


“Begitulah,” balas Zeel singkat.


“Kamu tidak perlu membayar … cepat ambil kunci ini,” ucap pemilik penginapan dengan tersenyum ramah.


Zeel berkata, “terima kasih.”


“Sama-sama,” balas pemilik penginapan.


Pemilik penginapan merupakan seorang kakek-kakek, pengelihatannya sedikit bermasalah karena usia.


Kakek tua pemilik penginapan ini merupakan salah satu dari kerumunan warga saat Zeel menerima sekantung uang dari kepala desa.


Selepas menerima kunci dari pemilik penginapan, Zeel dan Clare menaiki tangga menuju kamar penginapan.


Kemudian mereka menghampiri salah satu kamar sesuai angka yang tertera pada gantungan kunci.


Kreeek ....


Pintu kamar terbuka, nampak Clare terburu-buru masuk ke kamar penginapan.


Selepas itu Zeel juga masuk ke dalam kamar penginapan, lalu ia mengunci kamar penginapan dari dalam.


Usai menutup kamar penginapan Zeel melihat sosok Clare yang sedang terbaring di tempat tidur.


Clare berbaring dengan tubuh menghadap ke tempat tidur.


Lalu Zeel duduk di kursi yang berada tak jauh dari tempat tidur.


Tak lama kemudian Clare mengubah posisi berbaringnya, kini ia berbaring menyamping membelakangi Zeel.


“Zeel … kamu suka dada besar?” tanya Clare.


Zeel nampak kebingungan, “kenapa kamu bertanya hal itu?”


“Dada Sophia besar kan?” tanya Clare.


Zeel diam untuk beberapa saat, tampak ia sedang berusaha mengingat sesuatu.


Zeel berkata, “kalau tidak salah ... dadanya besar.”


“Jadi … suka?” tanya Clare.


Zeel berkata, “aku tidak membencinya.”


“Sudah kuduga … kamu pergi saja ke pulau dada!” Ucap Clare dengan nada tinggi.


Zeel bertanya, “memang ada palau seperti itu?”


“Mana kutahu,” ucap Clare dengan nada kesal.


Suasana menjadi hening untuk beberapa saat.


“Zeel … kenapa kamu hanya memesan satu kamar?” tanya Clare pelan.


Zeel berkata, “karena aku ingin melindungimu.”


Tiba-tiba Clare melempar bantal ke arah Zeel.


Dengan sigap Zeel menangkap bantal itu sebelum mendarat tepat di wajahnya.


"Jika kita berada di kamar yang berbeda ... aku akan kesulitan melindungimu," tutur Zeel.


Terlihat oleh Zeel wajah Clare yang nampak memerah.


“Tidurlah di kursi itu ... jika kamu naik ke tempat tidur, aku tidak akan memaafkanmu!” bentak Clare dengan pipi merah.


Zeel membalas, “baiklah.”


..."Karena aku ingin melindungimu."...


...-Zeel Greenlight-...