Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 13 : Pasukan Khusus



19 september tahun 1700, istana Bluelight, kota benteng Haven.


Pagi itu Clare terbangun dari tidurnya.


Hoam ....


Clare menguap sembari menutup mulut.


Dengan keadaan setengah sadar Clare menatap sekitar.


Kalau tidak salah … aku tertidur di meja, batin Clare.


Lalu Clare bangkit dari tidurnya kemudian ia duduk pada tepian tempat tidur.


Tidak salah lagi … pasti Zeel yang memindahkanku, batin Clare.


Kemudian Clare bangkit dari duduknya, lalu berjalan menghampiri pintu.


Clare ingin memarahi Zeel, ia menduga Zeel berbuat yang tidak tidak padanya.


Zeel pasti mengambil kesempatan … aku akan


memarahinya! batin Clare.


Berbeda dengan ucapannya, ekspresi Clare nampak senang.


Sebelum tiba di pintu kamarnya, Clare menoleh ke sekitar.


Terpandang olehnya sebuah pot berisikan bunga pada meja di kamarnya.


Seketika Clare menghentikan langkahnya.


Clare berdiri terdiam sembari menatap pot itu.


Clare melihat sebuah bunga dengan warna putih


transparan.


Melalui jendela sinar Mentari menyinari bunga itu.


“Bunga?” tutur Clare.


Seingat Clare, ia tidak pernah melihat bunga pada meja itu sebelumnya.


Clare yang penasaran segera menghampiri lalu menyentuh bunga itu.


Ketika Clare menyetuh bunga itu, ia merasakan sensasi dingin, seperti memegang es.


“Bunga es!” seru Clare.


Kini Clare tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


Kemudian Clare meninggalkan kamarnya lalui ia berlari menuju kamar Zeel.


Tok, tok, tok ….


Clare mengetok pintu kamar Zeel.


“Zeel!” seru Clare.


Mendengar ketukan itu membuat Zeel terbangun dari tidurnya.


Kemudian Zeel bangkit dari tempat tidurnya, lalu ia membuka pintu kamarnya.


Terlihat oleh Zeel sosok Clare dengan mata berbinar-binar.


“Zeel!” seru Clare.


Seketika Clare memeluk Zeel.


“Bunga es … terima kasih,” ucap Clare.


Kemudian Zeel mengelus rambut Clare yang sedikit berantakan.


“Heee … pagi-pagi sudah bermesraan,” terdengar suara wanita dari arah lorong.


Spontan Zeel dan Clare menoleh ke sumber suara, terpandang oleh mereka sosok Sophia sedang berdiri di lorong.


Dengan segera Clare melepaskan pelukannya dari Zeel.


Terpandang oleh Sophia sosok Clare dengan pipi


memerah.


“Bu … bukan begitu,” ucap Clare dengan nada rendah.


“Benarkah?” rayu Sophia.


Ekspresi malu Clare kini berganti, ia tampak bersemangat.


“Sophia … aku ingin menunjukann sesuatu padamu,” kata Clare.


Kemudian Mereka bertiga memasuki kamar Clare, terpandang oleh mereka bertiga sebuah pot berisikan bunga.


Lalu mereka mendekati bunga itu.


“Ini bunga apa?” tanya Sophia.


“Bunga es,” tutur Clare.


Tidak percaya dengan yang apa ia lihat, Sophia


mencubit pipinya sendiri.


Aaaww ....


“Ternyata bukan mimpi!” tutur Sophia tampak kaget.


“Dari mana kamu mendapatkannya Clare?” tanya Sophia.


Clare menjawab, “ bukan aku yang mendapatkannya … tapi Zeel.”


“Benarkah Zeel?” tanya Sophia.


Kini Sophia tampak begitu bersemangat.


“Begitulah,” jawab Zeel.


“Dari mana kamu mendapatkannya?” tanya Sophia.


“Aku mendapatkannya dari bukit es ... nenek-nenek pemilik toko bunga memberi tahuku,” kata Zeel.


“Di sana banyak monster elemental lho … dan bunga ini cukup langka, hebat juga kamu bisa mendapatkan bunga ini,” ucap Sophia.


“Indah kan?” tanya Clare.


“Indah,” jawab Clare.


Kemudian Sophia menyentuh bunga itu, sama seperti Clare ia juga merasakan sensasi dingin.


“Jika kamu menjual bunga ini … kamu akan mendapatkan uang banyak,” kata Sophia.


“Aku tidak ingin menjualnya,” balas Zeel.


“Bunga ini aku berikan untuk Clare,” kata Zeel.


“Heee … jadi begitu,” kata Sophia sembari menatap Clare.


Untuk beberapa saat, mereka hanya terdiam kagum menatapi bunga es.


Tiba-tiba Sophia teringat akan sesuatu.


“Oh iya … aku kemari untuk menyampaikan sesuatu yang penting,” kata Sophia.


“Apa?” tanya Zeel dan Clare serentak.


“Ikuti aku,” tutur Sophia.


Kemudian mereka bertiga berjalan pada lorong, Sophia membawa Zeel dan Clare pada sebuah ruangan.


Kreeek ….


Sophia membuka pintu ruangan itu.


“Masuklah,” ajak Sophia.


Kemudian Zeel dan Clare terlebih dahulu memasuki ruangan itu.


Terpandang oleh Zeel dan Clare dua buah kursi panjang saling berhadapan serta sebuah meja pada tengahnya.


Zeel mengalihkan pandangannya sedikit ke depan, terlihat oleh Zeel sebuah meja dan kursi.


Meja itu tampak di penuhi oleh tumpukan kertas.


Tepat pada belakang meja dan kursi itu, terdapat


jendela berukuran besar.


Cahaya menerangi seisi ruangan melalui jendela itu.


Kemudian Sophia memasuki ruangan itu.


Cekrek ….


Lalu Clare mengunci pintu ruangan tersebut dari dalam.


Kemudian Sophia menghampiri kursi dekat jendela, selepas itu ia duduk di kursi.


Terpandang oleh Zeel dan Clare, salju berjatuhan dari langit melalui jendela.


“Aku ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian … terkait ketiga anak itu,” kata Clare.


Sophia tampak berbicara dengan ekspresi serius.


“Kenapa Sophia?” tanya Clare.


Sophia menjawab, “tim investigasi yang aku bentuk untuk menyelidiki desa Cochem sudah kembali.”


“Apakah mereka menemukan sesuatu?” tanya Zeel.


“Mungkin kamu tidak akan percaya … tim investigasi menemukan ratusan mayat terkubur di tanah desa itu,” kata Sophia.


Mendengar itu, wajah Zeel menjadi serius.


Sementara itu, Clare menutup mulut dengan kedua tangannya.


“Bisa kamu ceritakan lebih lanjut?” tanya Zeel


penasaran.


Sophia bercerita, “ketika tim investigasi berada di sana … mereka mencium bau busuk, mereka menemukan bau busuk itu berasal dari tanah desa lalu menggalinya, kemudian mereka menemukan ratusan mayat terkubur pada tempat yang sama.”


Tidak percaya dengan kekejaman yang disampaikan, Clare hanya terdiam dengan mata berkaca-kaca.


“Bagaimana dengan pelakunya … apa sudah di temukan?” tanya Zeel.


“Sampai sekarang masih belum … karena itu aku ingin meminta tolong padamu Zeel,” kata Clare.


“Apa itu?” tanya Zeel.


“Aku akan membentuk pasukan khusus ke sana … maukah kamu memimpin pasukan khusus itu?”


“Tujuan dari tim khusus ini apa?” tanya Zeel.


“Tujuan dari tim khusus ini adalah untuk menguburkan mayat-mayat itu dengan layak dan menangkap pelaku,” jelas Sophia.


“Baiklah … aku akan mengambil tanggung jawab ini,” kata Zeel.


Sophia berkata, “Pelayan pribadiku akan ikut bersamamu … aku yakin dia akan sangat membantu.”


“Zeel …,” ucap Clare dengan rendah.


Kontak mata terjadi antara Zeel dan Clare, kemudian Zeel mengelus rambut Clare dengan lembut.


“Zeel pasti baik-baik saja … karena dia kuat,” kata


Sophia.


Zeel berkata, “aku akan segera kembali ... tunggulah.”


“Janji … ya?” kata Clare dengan mata berkaca-kaca.


Siang hari, gerbang utama kota benteng Haven.


Pada siang itu, delapan orang dengan zirah tebal ala prajurit istana Bluelight serta dua wanita dengan pelayan ala pelayan istana Bluelight sedang berbaris di gerbang.


Tampak Zeel sedang memimpin barisan itu.


Tanpa senjata dan Zirah besi, Zeel hanya mengenakan jubah berwarna hijau tua dan tas serut.


“Siapa anak itu?”


“Dia masih muda,”


“Apakah dia bisa memimpin kita?”


Terdengar bisik-bisik berasal dari barisan itu.


Ehem ….


Zeel berusaha menarik perhatian.


“Semuanya perkenalkan … namaku Zeel, dalam tugas ini … aku di percaya tuan putri Sophia untuk memimpin pasukan khusus ini, mohon kerjasamanya,” kata Zeel.


Mendengar pertanyaan itu, membuat rasa kepercayaan pasukan khusus tersebut tumbuh pada Zeel.


“Baik!” seru anggota pasukan khusus itu serentak.


Pasukan khusus ini terdiri dari enam orang pengguna pedang termasuk Zeel, tiga orang pengguna panah, dan dua orang perawat.


Salah satu dari dua orang perawat itu tidak asing bagi Zeel, ia adalah Benetta sang pelayan pribadi ratu Sophia.


..."Bunga es ... indah."...


...-Clare-...