Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 16 : Bendetta dan Dendam II



Pergerakan Zeel yang cepat membuat bandit itu kaget.


Blam ….


Zeel meninju dagu bandit itu sekuat tenaga hingga terpental.


Akibat pukulan Zeel, pedang yang berada di genggaman bandit itu terlepas lalu melayang di udara.


Jleb ….


Pedang itu menancap di tanah.


Melihat itu, para bandit lainnya datang menghampiri Zeel.


Namun langkah para bandit terhenti.


Kresek , kresek, kresek ….


Mereka kembali mendengar saura dari penjuru arah, suara itu semakin jelas.


Zeel berteriak, “sekarang!”


Tiba-tiba dari berbagai penjuru arah muncul sejumlah pasukan bersenjata, mereka adalah pasukan khusus.


Kini pasukan khusus mengepung para bandit itu.


Suara tawa hilang dari kerumunan bandit tersebut, sekarang mereka takut.


“Angkat tangan kalian!” bentak Zeel.


Tanpa senjata kawanan bandit itu hanya bisa menyerah, tidak sempat bagi mereka untuk mengambil senjata-senjata mereka yang berada di dalam tenda.


Sekarang seluruh bandit mengangkat kedua tangan.


Namun salah satu bandit itu tidak menyerah begitu saja, ia berlari lalu mengambil pedang besi yang menancap di tanah.


Zeel dan seluruh pasukan khusus lainnya lengah, bandit itu bergerak dengan cepat.


Aaarghhh ….


Terdengar suara jeritan.


Kini salah satu anggota pasukan khusus pengguna panah, sedang tertancap pedang besi pada perutnya.


Hahaha …


Bandit yang menusukan pedang itu tertawa dengan liciknya.


Kini satu perlima dari pedang besi itu sedang menancap di perut pengguna panah malang itu.


Jlebb ….


Tusukan pedang itu semakin dalam, kini dua perlima dari pedang besi itu telah memasuki perut pengguna panah tersebut.


Arghhhh ....


Jerit pengguna panah itu semakin kesakitan.


Berbeda dengan zirah besi pengguna besi, umumnya zirah besi pengguna panah lebih tipis.


Hal ini karena zirah besi pengguna panah tidak di rancang untuk pertarungan jarak dekat.


“Kurang ajar!” bentak Zeel.


Secepat mungkin Zeel menghampiri anggota pasukan khusus yang tertusuk.


Kemudian Zeel menyentuh badan pedang besi itu.


Bandit yang memegang pedang besi tersebut tampak tekejut, ia melihat dengan jelas Zeel sedang menggenggam pedang besi itu.


Anehnya tangan Zeel tidak berdarah.


Selepas itu Zeel mencabut pedang yang sedang tertancap pada pengguna panah malang itu.


Arghhh ....


Pengguna panah itu kesakitan, seketika pengguna panah itu terkapar di tanah bersimbah darah.


Kemudian Zeel menarik paksa pedang besi dari bandit itu.


Namun bandit tersebut tidak ingin melepaskan genggamannya.


Kontak mata terjadi antara Zeel dan bandit itu, terpandang oleh badit tersebut mata Zeel yang berwarna hijau serta memancarkan cahaya.


“Kenapa pengguna batu sakral ada di sini?” tanya bandit itu panik.


“Entahlah,” jawab Zeel.


Selepas itu Zeel dengan cepat menendang perut bandit itu hingga terpental.


Arghhh ....


Jerit bandit itu kesakitan, kini ia sedang terkapar di tanah.


Zeel mengambil pedang besi dari bandit yang terkapar itu.


“Tenang saja … aku tidak akan membunuhmu,” kata Zeel.


Jleb ….


Zeel menancapkan pedang besi ke perut bandit itu.


Kini satu anggota pasukan khusus serta satu orang bandit sedang tergeletak di tanah dengan keadaan bersimbah darah.


Tengah malam, perkemahan pasukan khusus, wilayah netral.


Dengan strateginya, Zeel berhasil menangkap seluruh bandit serta mengamankan barang bukti berupa sejumlah benda berharga serta senjata tajam.


Kini para bandit-bandit itu duduk bergerombol di tanah dengan keadaan kedua pergelangan tangan terikat tali.


Tampak Zeel sedang berdiri di hadapan bandit-bandit itu, para bandit tersebut tampak ketakutan menatap Zeel.


“Apakah kalian yang melakukan penyerangan di desa Bibury?” tanya Zeel.


Bandit-bandit itu hanya terdiam, Zeel yang tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan marah.


“Apakah kalian yang melakukan penyerangan di desa Bibury!” tanya Zeel dengan nada tinggi.


“Benar … ketua menyuruh kami,” kata salah satu bandit.


Zeel bertanya, “siapa ketua kalian?”


“Anthony,” ucap salah satu bandit.


Zeel bertanya kembali, “Sekarang ia ada di mana?”


“Sekarang ia berada di kota benteng Haven,” tutur salah satu bandit.


“Apa yang sedang ia lakukan di sana?” tanya Zeel.


“Kata ketua … ia ingin pergi ke wilayah prostitusi,” kata salah satu bandit.


Zeel kebingungan, ia belum pernah mendengar kata prostitusi sebelumnya.


Lalu Zeel menatap salah satu anggota pasukan khusus yang berada di seekitarnya.


Tanpa berkata-kata, anggota pasukan khusus itu tampak paham dengan maksud Zeel.


“Wilayah prostitusi adalah wilayah di mana wanita menjajakan tubuhnya demi uang,” jelas salah satu anggota pasukan khusus itu.


Zeel tampak seditik terkejut mendengar itu, kota benteng Clever tidak memilki wilayah semacam itu.


“Untuk sekarang aku percaya kepada ucapanmu,” kata Zeel pada bandit itu.


Selepas itu Zeel mengampiri korban yang terluka dari penyerangan itu, kini ketiga korban itu sedang dibaringkan pada sebuah tikar medis.


Mereka terbaring pada tiga tikar yang berbeda, berbentuk persegi, tikar-tikar tempat korban terbaring itu merupakan tikar umum yang di gunakan sebagai alas korban ketika perang.


Tikar ini umum digunakan jika tidak ada tenda khusus perawatan.


Terpandang oleh Zeel pelayan wanita yang sedang gelabakan, hanya seorang diri ia mengatasi tiga nyawa sekaligus.


“Bagaimana?” tanya Zeel.


“Kedua pria ini sedang dalam keadaan berbahaya … setidaknya aku berhasil menghentikan pendarahan dari perut mereka, tapi mereka tetap perlu perawatan lebih lanjut,” jelas pelayan tersebut.


Terlihat oleh Zeel salah satu bandit serta satu anggota pasukannya dengan keadaan perut tertutup perban putih tebal terbaring di tikar, kedua orang itu tampak tidak sadarkan diri.


“Bagaimana dengan Bendetta?” tanya Zeel.


“Bendetta baik-baik saja … ia hanya mengalami luka gores pada pipinya,” kata pelayan tersebut.


Terpandang oleh Zeel sosok Bendetta sedang terbaring di tikar dengan keadaan pipi kanan tertutup perban putih.


Berbeda dengan dua korban lainnya, Bendetta tampak sadar, kini Bendetta sedang terbaring diam sembari menatap langit malam.


Tidak ingin mengganggu Bendetta, Zeel tidak menegur.


“Terima kasih atas kerjanya … aku pergi dulu,” ucap Zeel sembari menatap pelayan yang sedang merawat ketiga korban.


“Baik,” ucap pelayan itu.


Kemudian Zeel perlahan berjalan menjauhi ketiga korban.


“Zeel,” ucap Bendetta.


Mendengar itu Zeel berhenti melangkah, namun ia tidak menoleh.


Bendetta berkata, “Terima kasih.”


“Iya,” balas Zeel.


Selepas itu Zeel meniggalkan ketiga korban itu.


20 september tahun 1700, perkemahan pasukan khusus, hutan wilayah netral.


Pasukan khusus bersama para tawanan kini sedang dalam perjalanan kembali menuju kota benteng Haven.


Setibanya mereka di gerbang kota Benteng Haven, matahari sudah mulai terbit.


Segera Zeel membawa para tawanan menuju singgasana istana, pagi itu sinar matahari menerangi singgasana istana melalui jendela.


Kini Sophia dengan gaun tuan putrinya sedang duduk pada salah satu kursi singgasana.


Terpandang oleh Sophia sosok Zeel serta sejumlah laki-laki sedang berdiri di belakang Zeel dengan keadaan tangan terikat.


..."Maju ke medan pertempuran tanpa perencanaan sama saja dengan bunuh diri."...


...-Zeel Greenlight-...