
29 september tahun 1700.
Arena istana Bluelight.
Hari itu merupakan hari yang di tunggu-tunggu bagi Zeel dan Sophia, maupun penduduk kota benteng Haven.
Kabar akan pertandingan pada hari ini menyebar luas sepenjuru kota.
Butiran salju berjatuhan dari langit yang mendung.
Kerumunan orang meramaikan tempat duduk pada sesisi arena.
Tidak ada wadah duduk yang kosong.
Entah kenapa, hari itu kerumunan antara laki-kaki dan perempuan terpisah.
“Tuan putri semangat!”
“Tuan putri pasti bisa!”
“Tuan putri menikahlah denganku!”
Kerumunan laki-laki berseru, menyoraki putri Sophia.
Sebagian dari mereka adalah bangsawan, sebagian dari mereka adalah orang biasa.
Entah kemana rasa harga diri terbang menjauh, para bangsawan laki-laki berbaur selayaknya tidak ada perbedaan kelas sosial.
“Zeel berjuanglah!”
“Zeel jangan mau kalah!”
“Aku tidak keberatan menjadi simpananmu!”
Tidak ingin kalah dengan para lelaki, para wanita juga berseru, meneriaki nama Zeel.
Suasana ramai semakin menjadi, hingga kontak mata terjadi di antara kerumunan laki-laki dan perempuan.
“Apa-apaan para wanita itu!”
Terdengar suara dari kerumunan laki-laki.
“Apa-apaan para laki-laki itu!”
Terdengar suara dari kerumunan laki-laki.
Mereka saling memandang kesal, seperti siap berkelahi kapan saja.
Ehem!
Terdengar suara dari lapangan arena.
Nampak seorang pria berzirah besi, sedang berdiri di lapangan arena.
“Para penonton tolonglah untuk tenang!” seru pria berzirah besi.
Gedebug ….
Sebuah benda tumpul tepat pada kepala pria berzirah besi itu.
Arrrgghhh ….
Jerit pria berzirah besi.
“Tolong jangan berbuat rusuh!”
Gedebug ….
Lagi-lagi benda tumpul kembali mendarat ke kepala pria berzirah besi itu, beruntung pelindung kepala melindungnya.
“Aku adalah pengadil!” seru pria berzirah besi.
Pengadil memandang kesal kerumunan penonton.
“Cepatlah mulai!”
“Pengadil bodoh!”
“Tuan putri sudah menunggu!”
Huuuf ….
Pengadil menghembuskan napas berat.
Sementara itu di hadapan pengadil, Sophia dan Zeel sedang berdiri berhadap hadapan.
Mereka saling menatap sambil bertukar senyuman.
Salju-salju pada lantai mereka jajaki.
Dengan setelan gaunnya, putri Sophia nampak begitu anggun.
“Bagaimana jubahnya?” tanya Sophia.
Terpandang oleh Sophia, Zeel dengan jubah hijau tuanya.
“Nyaman … jubahnya cukup nyaman,” tutur Zeel.
Sophia berucap, “tentu saja nyaman, kualitas produk kota kami sangat bagus lho!”
Layaknya seorang ibu yang membanggakan kesuksesan anaknya, Sophia membanggakan produk kota benteng Haven.
“Hahaha,” Sophia tertawa lepas.
Zeel memandang Sophia datar.
“Maa--,” tutur Sophia terputus.
Ehem ....
Batuk kecil wasit, berusaha mencuri perhatian Zeel dan Sophia.
“Pertandingan akan segera di mulai!” seru pengadil.
Seketika secara serentak, suasana kerumunan menjadi hening.
“Pertama-tama, aku sebagai pengadil akan memberitau peraturan pertandingan ini!” seru pengadil.
Gluk ….
Di tengah keheningan, Zeel menelan ludahnya sendiri.
Pengadil berseru, “siapa yang berhasil membuat lawannya jatuh adalah pemenang, di larang membunuh lawan, penonton dilarang ikut serta ke dalam pertarungan!”
Pengadil menoleh memandang Sophia, lalu memandang Zeel.
“Mengerti?” tanya wasit.
Zeel dan Sophia berucap serentak, “mengerti.”
“Kalau begitu … mulai!” seru wasit.
Suasana hening seketika pecah menjadi bising.
“Putri Sophia!”
“Zeel!”
“Semangat!”
Sorak sorai bergema pada seisi arena.
Sementara itu, di antara kerumunan penonton, pada deretan paling belakang.
Tampak tiga orang sedang berdiri berjejer, bebreda dengan kerumunan lainnya, raut wajah mereka tampak begitu datar.
Ketiga orang itu adalah Bendetta, Delmon, serta Clare.
Di balik datarnya raut wajah mereka bertiga, mereka menyembunyikan ombak yang bergejolak dalam pikiran.
Bendetta memandang lurus ke depan, terpandang olehnya
sosok Sophia sedang mengambil posisi siap untuk bertarung.
“Tuan putri … berjuanglah!” batin Bendetta.
Sementara itu, di sebelah kiri Bendetta, Nampak Delmon sedang tersenyum kecil sembari tersenyum kecil.
“Zeel … tunjukkan padauk sesuatu,” batin Delmon.
Sementara itu, sembari mengepalkan tangan di atas dada, Clare sedang berdiri di sebelah kiri Delmon.
“Zeel berjuanglah!”
“Semangat Zeel!”
“Zeel!”
Zeel memandang ke salah satu wanita itu, terlihat oleh Clare sosok seorang wanita cantik dengan setelan pakaian mewah.
Seketika kepercayaan diri Clare berkurang.
Setetes keringat mengalir membasahi pipi kiri Clare.
Bibir Clare gemetar.
“Zee—” tutur Clare pelan dan terputus.
“Zeel!”
Tidak jauh dari Clare, seorang wanita bangsawan dengan
lantang menyerukan nama Zeel.
Gluk ....
Clare meneguk ludahnya sendiri, kemudian ia
menundukkan kepala perlahan.
Sementara itu, di tengah-tengah arena, Sophia dan Zeel saling menatap, siap menerjang satu sama lain.
Sophia memejamkan mata sepersekian detik, kemudian Kembali membuka mata.
Terlihat oleh Zeel, mata Sophia membiru serta
memancarkan cahaya.
“Itu!”
“Jangan-jangan!”
“Bluestone!”
Mata Sophia menjadi pusat perhatian penonton.
Huuuf ….
Sophia dan Zeel menghembuskan napas serentak.
Krak ….
Es pada pijakan mereka sedikit tengelam.
Tap, tap, tap ….
Mereka berlari, saling mendekati.
Sembari berlari, Sophia mebentangkan telapak tangan kanannya.
Tidak jauh dari telapak tangan kanan Sophia,
partikel-partikel kecil berwarna biru melayang di udara.
Freezee ….
Dalam sekejap, partikel-partikel biru itu memadat kemudian membentuk sebuah pedang.
“Aku pertama kali melihatnya!”
“Indah!”
“Itu pedang es bukan?”
Kerumunan penonton terdengar ramai membicarakan pedang pada tangan kanan Sophia.
Sementara itu di hadapan Bendetta, Zeel sedang berlari sembari meraba-raba paha kanan.
Grusuk, grusuk, grusuk ….
Dari balik jubahnya, Zeel mengeluarkan sebuah belati kayu.
“Apa itu?”
“Kayu?”
“Yang benar saja,”
Kerumunan penonton bertanya-tanya tentang senjata pada genggaman Zeel.
Sementara itu di antara kerumunan penonton, Clare tampak gusar.
“Zeel,” batin Clare.
Cring ….
Tepat di tengah-tengah arena, pedang Sophia dan belati Zeel bertemu.
Seketika suasana menjadi hening, semua yang ada di sana Nampak tidak percaya akan sesuatu yang terjadi.
Belati Zeel tidak patah bahkan lecet sama sekali.
Untuk sepersikan detik, Sophia menunjukan reaksi kaget di wajahnya, pupil mata Sophia membesar.
Kemudian Sophia tersenyum kecil.
“Menarik!” seru Bendeta.
Cring, cring, cring ….
Pedang es Sophia serta belati Zeel terus beradu.
“Berat,” batin Zeel.
Cring ….
Dengan begitu cekatan, Zeel menepis setiap tebasan yang Sophia tujukan padanya.
Tap, tap, tap ….
Zeel berada di bawah tekanan Sphia, ia terus melangkah mundur.
Sebenarnya kecepatan Sophia dalam mengayunkan pedang tidak seberapa … tetapi tenaganya cukup kuat, batin Zeel.
Cring ….
Dengan pedang esnya, Sophia menghantam belati Zeel cukup kuat.
Tap ….
Zeel mundur beberapa Langkah.
“Kenapa?” tanya Sophia.
Zeel hanya terdiam.
“Apakah hanya segini kemampuan prajurit Clever?” tanya Sophia.
Sophia mencoba untuk memanas-manasi Zeel, ia sadar Zeel belum bersungguh-sungguh.
Cring, cring, cring ….
Pedang es Sophia terus menghantam belati Zeel
betubi-tubi.
Zeel terdesak, kini ia tidak bisa menudur jauh, tembok besar menjulang tinggi berada di belakangnya.
Syuuut ….
Sophia mengayunkan pedang esnya kepada Zeel.
Kali ini Zeel tidak menangkis, ia menghindar.
“Eh,” kata Sophai terkejut.
Zeel sudah tidak lagi berada di hadapannya, Sophia hanya melihat tembok.
“Aku di sini,”
Terdengar oleh Sophia suara dari arah belakangnya.
Sophia memalingkan badan.
Terpandang Sophia, Zeel sedang berdiri sembari tersenyum tipis.
..."Belati kayu?"...
...-Sophia Bluelight-...