
Sementara itu Zeel yang nampak terburu-buru itu masuk ke hutan sekitaran desa.
Di antara pepohonan hutan, terlihat oleh Zeel kereta chobo yang sedang berteduh di bawah sebuah pohon.
Di saat yang bersamaan Sophia sedang berbicara dengan seorang kakek-kakek tua dengan sebuah tongkat.
Setelah sedikit berbincang-bincang dengan kakek-kakek tua, Sophia nampak terburu-buru masuk ke hutan sekitaran desa.
Lalu Sophia melihat Zeel bersama wanita berjubah sedang berdiri berhadapan.
“Zeel, ternyata di sini kamu rupanya,” ucap Sophia.
Zeel bertanya, “ada apa Sophia?”
“Kepala desa mencarimu,” kata Sophia.
“Seben—” ucap Zeel terpotong Sophia.
Sophia berkata, “ajak saja dia bersamamu.”
Lalu Sophia pergi meninggalkan Zeel dan Clare menuju desa.
Tak lama kemudian Zeel dan Clare menyusul dengan mengendarai kereta Chobo.
Setibanya di desa terlihat oleh Zeel dan Clare Sophia dan seorang kakek-kakek tua nampak di kerumuni warga.
“Ah, kamu Zeel ya … terima kasih telah menyelamatkan desa kami,” ucap kakek-kakek tua.
Zeel berkata, “aku hanya kebetulan lewat.”
“Jangan begitu … aku sebagai kepala desa tidak enak jika tidak berterima kasih, terimalah ini,” ucap kepala desa sembari menyodorkan Zeel sekantung uang.
“Tapi—” kata Zeel terpotong.
Kepala desa sembari tersenyum kecil berkata, “terimalah ini … kebetulan desa kami baru panen besar … jangan sungkan begitu.”
“Terima saja,” kata Sophia sembari memperlihatkan sekantung uang yang ia pegang.
Lalu Zeel menerima sekantung uang yang di sodorkan kepala desa padanya.
Setelah itu kepala desa pergi diikuti keraimaian warga desa, hanya tersisa Zeel, Clare, Sophia serta orang-orangnya.
“Kalian pulanglah ke kota,” kata Sophia pada orang-orangnya.
Salah satu dari orang-orang itu berkata, “tapi tuan pu—”
‘Tidak ada tapi-tapi, aku akan pulang besok!” kata Sophia tegas.
Lalu sekumpulan orang-orang itu pergi meninggalkan desa, nampak wajah mereka yang sedikit bersedih karena Sophia tidak ikut bersama mereka.
Setelah di tinggalkan orang orang itu kini hanya tersisa Zeel, Clare dan Sophia.
“Zeel, ayo makan malam bersama,” kata Sophia sembari tersenyum kecil.
“Maaf—” kata Zeel.
Lalu Sophia memotong kalimat Zeel, “tidak perlu di jawab sekarang, jika bersedia datanglah segera ke bar desa, ajak Clare bersamamu, aku akan ada di sana.”
Lalu Sophia pergi meninggalkan Zeel dan Clare, selepas itu Zeel menoleh ke arah Clare.
Terlihat oleh Zeel wajah Clare yang nampak kesal, pandangan kesal Clare tertuju pada Sophia yang sedang berjalan membelakangi mereka.
“Kenapa?” tanya Zeel penasaran.
Clare menatap wajah Zeel dengan ekspresi kesal, “siapa wanita itu?”
“Sophia,” kata Zeel.
Setelah itu Zeel dihujani banyak pertanyaan oleh Clare.
Zeel merasa dirinya seperti penjahat
yang sedang di adili.
Sementara itu di sisi lain, Clare tidak suka melihat Sophia berada di dekat Zeel.
Untuk menyudahi hujanan dari pertanyaan dari
Clare, Zeel memperjelas situasi.
“Kami hanya berteman,” kata Zeel.
Clare dengan mata berbinar-binar berkata, “hanya berteman?”
“Iya,” balas singkat Zeel.
“Kalau begi—” kata Clare dengan mata berbinar-binar.
Zeel memotong perkataan Clare, “ayo kita ke bar desa.”
Malam hari tiba.
Malam itu Zeel dan Clare serta Sophia sedang makan malam bersama di salah satu bar
desa yang mereka selamatkan.
Zeel dan Clare serta Sophia menjadi pusat perhatian oleh para warga yang juga sedang makan malam di bar tersebut.
Zeel, Clare serta Sophia duduk di meja untuk empat orang.
Zeel dan Sophia duduk berhadap-hadapan, sementara Clare duduk di sebelah kanan Zeel.
Pelayan bar melayani mereka dengan ramah.
Zeel yang sadar dengan perilaku Clare awalnya tidak ingin mengajak Clare, tetapi Clare memaksa untuk ikut.
“Zeel … ada yang aku ingin bicarakan berdua bersamamu, suasana bar ini terlalu berisik … bisa kita keluar sebentar?” tanya Sophia.
Lalu Zeel menoleh ke arah Clare, Clare dengan ekspresi kesalnya mengeleng-gelengkan kepala ke kiri dan ke kanan sebagai respon kepada Zeel.
Hahaha ....
Melihat itu Sophia tertawa terbahak-bahak.
“Clare .. aku pinjam Zeel sebentar ya?” tanya Sophia dengan wajah memelas.
Clare berkata, “lima menit … tidak boleh lebih dari itu.”
Selepas itu Zeel dan Sophia pergi untuk meninggalkan bar, sementara menunggu Zeel dan Sophia kembali.
Clare seorang diri di dalam bar, hanya ada orang asing di sekitarnya.
beberapa pria mencoba menggoda Clare, namun beberapa pria itu membatalkan niatnya setelah melihat tatapan Clare.
Sementara itu Zeel dan Sophia pergi ke sebuah danau kecil yang berada di dekat desa.
Cahaya bulan nampak menembus hingga permukaan danau kecil tersebut.
Malam itu bulan cukup cerah, setelah tiba di tepian danau kecil tersebut, terjadi percakapan antara Zeel dan Sophia.
“Ada apa sampai membawaku kemari?” tanya Zeel.
“Lucu sekali ya Clare … wajahnya begitu jujur,” balas Sophia.
Zeel dengan ekspresi serius berkata, “begitulah, dari mana kamu mengenal Clare?”
“Kami cukup sering bertemu,” kata Sophia.
Suasana hening sejenak.
Kini Zeel berdiri di belakang Sophia.
Tiba-tiba Sophia balik badan.
Slash ....
Sophia mengarahkan sebuah pedang ke arah perut Zeel.
Terpandang oleh Zeel padang Sophia yang memancarkan asap.
Dengan cekatan Zeel menahan laju pedang Sophia dengan kedua tangannya.
Sophia nampak kaget melihat tangan Zeel yang tidak berdarah sedikitpun.
Lalu Sophia mengarahkan pandangannya pada mata Zeel.
Wajah Sophia yang tadinya kaget tampak lebih kaget setelah melihat mata Zeel.
Ia melihat mata Zeel yang berwarna hijau serta memancarkan Cahaya.
“Jadi begitu,” kata Sophia sembari menarik pedangnya.
Tiba-tiba pedang yang Sophia kenakan berubah menjadi partikel partikel kecil, lalu menghilang di udara.
Kemudian Sophia bertanya tentang mata itu pada Zeel.
Lalu Zeel mencoba meringkas apa yang terjadi belakangan ini pada kotanya maupun dirinya.
Sophia nampak mendengarkan Cerita Zeel.
“Sophia boleh aku bertanya?” tanya Zeel.
Sophia berkata , “apa itu?”
“Pedang apa yang kamu gunakan barusan?” tanya Zeel.
Sophia berkata, “ah itu … pedang es, aku membuatnya.”
“Lalu kenapa matamu tadi berubah menjadi biru?” tanya Zeel penasaran.
“Kita sama … namaku Sophia Bluelight,” kata Sophia sembari tersenyum kecil.
Zeel dengan ekspresi kebingungan berkata, “sama?”
Lalu Sophia menjelaskan tentang batu sakral pada Zeel.
Sophia berusaha menjelaskan sesederhana serta seringkas mungkin pada Zeel.
Dari wajah Zeel terlihat bahwa ia tidak mengetahui apa-apa tentang batu sakral.
“Jadi … batu yang ada di mata kita berdua adalah dua dari empat batu sakral,” ucap Sohia setelah menjelaskan pada Zeel.
Zeel berkata, “jadi begitu … kurang lebih aku paham.”
“Untuk lebih detailnya … datang saja ke perpustakaan Haven,” kata Sophia pada Zeel.
Setelah lima menit berlalu, Zeel dan Spohia kembali ke dalam bar desa.
Setibanya di sana terlihat oleh mereka sosok Clare yang sedang duduk dengan posisi kepala bersandar pada tangan.
..."Apa yang sedang mereka lakukan?"...
...-Clare-...