Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian Tambahan : Bunga Es III



Melihat begitu banyak uang koin di hadapannya, mata Elli berbinar-binar.


Rasa kesal Jonathan menguap, ia bangkit berdiri lalu melakukan ancang-ancang pada tangan kanannya.


Reaksi Jonathan tampak biasa saja, ia tampak begitu tenang.


Elli yang melihat itu, segera menahan tangan kanan Edgar dengan kedua tangan kanannya.


“Edgar … jangan!” bentak Elli.


Edgar menoleh ke wajah Elli, Elli terlihat begitu


kesal.


Melihat itu membuat Edgar begitu kaget.


“Jika Edgar mau … silahkan ambil Sebagian mora ini,” tutur Jonathan dengan nada ramah.


Emosi Edgar lagi-lagi meluap, ia menatap Jonathan dengan tatapan kesal.


“Edgar,” ucap Elli dengan nada kesal.


Edgar menoleh ke arah Elli.


Elli berkata, “aku akan ikut dengannya.”


Seketika edgar memegang kedua punggung Elli dengan kedua tangannya.


“Elli?” tanya Edgar dengan wajah putus asa.


Kamudian Elli melepaskan kedua tangan Edgar dari punggungnya.


Beberapa saat kemudian Jonathan, Tasya, serta Elli pergi meninggalkan rumah Edgar.


Edgar hanya berdiri terdiam seperti patung, Edgar masih sulit menerima apa yang terjadi.


Sementara itu Elli bersama Jonathan serta pelayannya pergi mengendarai kereta chobo.


Kereta chobo milik Jonathan seperti milik bangsawan umumnya, tampak begitu mahal.


“Tuan Jonathan … kita ingin pergi ke mana?” tanya Elli penasaran.


Jonathan berkata, “Kita akan ke rumahku … jangan panggil aku tuan, panggil saja Jonathan.”


“Baiklah … Jonathan,” balas Elli malu-malu.


Selepas itu tidak ada perbincangan di dalam kereta, perbedaan kelas sosial membuat mereka cukup sulit menemukan topik.


Ketika kedua mata mereka bertemu, mereka hanya akan seling tersenyum.


Selama di dalam kereta chobo milik Jonathan, Elli mencium aroma harum.


Elli tidak pernah mecium aroma seharum ini sebelumnya.


Beberapa saat kemudian, tibalah mereka di daerah perumahan bangsawan.


Terpandang di mata Elli sejumlah rumah mewah,


rumah-rumah itu tampak megah.


Bagi Elli, gajihnya seumur hidup sebagai pelayan di toko kue tidak akan cukup membeli satupun di antara rumah-rumah ini.


Beberapa saat kemudian kereta Jonathan berhenti tepat di halaman salah satu rumah mewah.


Kemudian pelayan Edgar yang bernama Tasya, membuka pintu untuk Edgar dan Elli.


Lalu Tasya berdiri di luar menunggu tuannya serta Elli untuk turun.


“Silahkan tuan,” ucap Tasya ramah.


Jonathan dengan ramah berkata, “Elli … ayo turun.”


“Baiklah,” balas Elli.


Kemudian Jonathan keluar dari dalam kereta diikuti Elli.


Pada saat Elli keluar dari kereta, terjadi kontak mata antara dirinya dengan Tasya.


Untuk sepersekian detik mereka bertatapan.


Elli melihat senyuman aneh dari wajah Tasya, bukan senyuman kebahagiaan.


Senyuman Tasya tampak seperti laba-laba yang sedang melihat mangsanya sedang tersangkut pada jaring.


Kemudian Elli berjalan mengikuti Jonathan dari


belakang.


Mereka berjalan di atas permukaan batu yang tertata rapi lurus ke depan.


Permukaan batu itu merupakan jalan.


Tepat pada ujung jalan itu terdapat sepasang pintu masuk menuju rumah mewah.


Elli menoleh ke kiri dan ke kanan sembari bejalan


lurus.


Elli melihat air mancur berukuran kecil pada kedua sisi, serta sejumlah bunga tampak tertata rapi pada kedua sisi.


Beberapa saat kemudian mereka berada di hadapan pintu, kini Jonathan dan Elli saling berdiri berseblahan menghadap pintu.


Jonathan mengetuk pintu.


Tak lama setelah itu, pintu terbuka dari dalam.


Tampak dua orang wanita berpakaian ala pelayan membuka pintu rumah mewah itu dari dalam.


Elli menoleh ke dalam rumah, terpandang di hadapan Elli sejumlah wanita cantik berpakaian ala pelayan.


Pelayan-pelayan itu berbaris rapi sembari tersenyum ramah.


“Selamat datang tuan,” tutur pelayan-pelayan itu


serentak.


Kemudian Edgar berjalan di antara pelayan-pelayan itu diikuti Elli dari belakang.


Entah kenapa, Elli tidak berani bertatapan dengan para pelayan itu.


Elli berjalan sembari menundukkan kepala.


Tepat di hadapan Jonathan terpandang sebuah tangga menuju lantai atas.


Lalu Jonathan menaiki anak tangga itu langkah demi langkah diikuti Elli dari belakang.


Setibanya di lantai atas, Jonathan membimbing Elli kepada pintu sebuah ruangan.


Jonathan membuka pintu ruangan itu.


“Masuklah,” tutur Jonathan ramah.


Elli berkata, “baiklah.”


Tanpa berpikir panjang, Elli masuk ke dalam ruangan itu.


Tampak di hadapan Elli sebuah tempat tidur mewah ala bangsawan, tempat tidur itu ditutupi tirai berwarna putih pada keempat sisinya.


Tirai putih itu sedikit transparan, sehingga Elli mampu melihat ke dalam tempat tidur.


Elli menoleh ke sekelilingnya, ia melihat sebuah


cermin berukuran besar menempel pada salah satu dinding ruangan.


Melalu cermin itu, Elli mampu melihat seluruh


tubuhnya.


Terpandang oleh Elli sosok wanita biasa dengan pakaian sederhana yang seharusnya tidak berada di ruangan semewah ini.


Sosok wanita yang ia lihat itu ialah dirinya sendiri.


Elli menoleh lagi ke sekitarnya, Elli melihat sebuah perapian dengan keadaan api menyala.


Semenjak Elli memasuki ruangan itu, ia mencium aroma harum, aruma yang belum pernah ia cium sebelumnya.


Lalu Elli menoleh ke tengah ruangan, Elli melihat


sebuah peti berukuran sedang pada permukaan lantai.


Elli dengan mata berbinar-binar mendekati peti itu.


“Jonathan … ini apa?” tanya Elli tampak bersemangat.


Jonathan mendekati peti itu, Kemudian ia membuka peti tersebut.


Terlihat oleh Elli sejumlah mora serta berbagai


perhiasan mewah.


Mata Elli begitu berbinar-binar, seperti anjing yang sedang menunggu majikannya untuk memberi makan.


“Untukku?” tanya Elli.


Kemudian Jonathan mengambil sebuah koin mora dari dalam peti itu.


“Iya,” balas Edgar.


Tiba-tiba Edgar melempar koin itu ke arah Elli dengan kencang.


“Jonathan … kenapa?” tanya Elli kebingungan.


Hahahaha ....


Tiba-tiba Jonathan tertawa terbahak-bahak.


“Akhirnya!” kata Jonathan dengan nada tinggi.


“Kenapa?” tanya Elli lagi.


Jonathan berkata, “Akhirnya aku bisa membalaskan dendamku … terima kasih telah membantuku membalaskan dendamku.”


Lagi-lagi Jonathan tertawa terbahak-bahak.


“Kekasihmu itu mengalahkanku pada seleksi militer … karena itu aku melakukan ini!” tutur Jonathan dengan nada tinggi.


Mendengar ucapan itu, membuat Elli begitu kaget.


Jonathan yang tadinya begitu ramah, kini terlihat seperti penjahat yang puas dengan aksi kejahatannya.


“Tasya!” kata Jonathan.


Lalu dari arah pintu, Tasya memasuki ruangan itu lalu menghampiri Elli.


Kemudian Tasya memegang kedua tangan Elli.


lalu Tasya menaruh kedua tangan Elli di belakang


punggung Elli.


Elli tampak masih kaget, ia tidak melakukan


perlawanan.


Lagi-lagi Jonathan tertawa terbahak-bahak.


Kemudian Jonathan dengan wajah senang tanpa henti melempari Elli dengan sejumlah mora.


Elli tidak bisa melawan, Tasya menahan kedua tangannya dengan kuat.


Hiks, hiks ....


Tatapan Elli tampak kosong, air mata mengalir pada pipinya.


Tidak berhenti sampai di situ, Jonathan melempari Elli dengan sejumlah perhiasan yang berada di dalam peti.


Perhiasan itu cukup berat, Jonathan tanpa segan


melempari Elli dengan perhiasan-perhiasan itu.


Aaarghhh ....


Elli mengerang kesakitan.


Hingga luka memar muncul pada beberapa bagian tubuh Elli.


Elli tidak bisa berbuat apa-apa.


“Rasakan itu!” bentak Jonathan.


“Dasar miskin!” bentak Jonathan lagi.


“Lepaskan dia,” kata Jonathan.


Tasya membalas, “baik tuan.”


Kemudian Tasya melepaskan tangan Elli, seketika Elli terbaring ke lantai.


Jonathan yang sudah tampak begitu puas, mengunci Elli di dalam ruangan itu.


Elli dengan keadaan lemas masih terbaring di lantai, tetes air mata Elli tampak membasahi permukaan lantai.


Malam hari tiba, Elli dengan tatapan kosong duduk bersandar pada salah satu sisi dinding ruangan sembari memeluk lutut.


Sisa air mata masih membasahi pipi Elli, luka lebam yang ia dapatkan akibat benda tumpul masih terlihat jelas.


Elli merasa bersalah, ia merasa telah berbuat buruk pada Edgar.


Terpintas di pikiran Elli untuk melarikan diri dari


rumah itu.


Ia melihat sekeliling lalu menemukan sebuah jendela.


Elli mendekati jendela itu lalu memandang ke luar.


Ia sadar dirinya berada di ketinggian, tidak mungkin dirinya melompat begitu saja.


Lalu Elli mengumpulkan sejumlah kain yang berada di ruangan itu.


Kemudian ia menyambungkan kain-kain itu menjadi sebuah kesatuan yang panjang.


Elli mengulurkan kesatuan kain panjang itu melalui jendela hingga permukaan tanah.


Lalu Elli melarikan diri melalui jendela, memanfaatkan kain-kain itu.


Tidak ada penjagaan yang berarti, Elli berhasil


melarikan diri dari rumah Jonathan.


Kemudian Elli berlari secepat mungkin menuju rumah Edgar.


Malam itu begitu dingin, badai salju turun dari


langit.


Elli berlari di antara badai salju.


Sesampainya di rumah Edgar, Elli mengetuk pintu.


“Edgar?” tanya Elli.


Namun tidak ada jawaban.


Kreeek ....


Elli mencoba mendorong pintu rumah Edgar.


Dan terbuka.


Pintu rumah Edgar tidak terkunci.


Lalu Elli masuk ke dalam.


Terpandang oleh Elli sosok Edgar sedang kepala


berbaring di meja pendek.


“Edgar?” tanya Elli.


Lagi lagi tidak ada jawaban.


Elli mendekati Edgar, lalu ia menggoyang-goyangkan tubuh Edgar dengan tangannya.


Namun tidak ada jawaban, Edgar tampak tidak sadarkan diri.


Elli melirik ke pergelangan tangan tangan Edgar, ia menemukan luka goresan pada pergelangan tangan Edgar.


Elli menoleh ke permukaan lantai, ia melihat lantai bersimbah darah tidak jauh dari Edgar.


Tanpa Elli sadari sebelumnya, kini Sebagian dari darah itu sedang ia injak.


Elli tidak percaya dengan yang apa ia lihat, keringat dingin membasahi tubuhnya dengan seketika.


Elli melihat ke permukaan meja pendek, lalu ia melihat sebuah pot berisikan bunga.


Bunga itu berwarna putih transparan, bunga itu


memancarkan asap dari setiap bagiannya.


Bunga ini dikenal dengan nama bunga es.


Elli menatap ke bawah pot bunga itu, terpandang olehnya sebuah kertas terselip di bawah pot.


Lalu Elli mengambil kertas itu, kertas tersebut tampak terlipat menjadi dua bagian.


Dengan tangan gemetar Elli secara perlahan membuka lipatan kertas itu.


Lalu ia melihat tulisan pada kertas tersebut, tidak asing bagi Elli, ini adalah tulisan Edgar.


Kemudian Elli membaca tulisan itu.


"Sama seperti bunga es ini ... kini perasaanku padamu membeku - tertanda Edgar."


Setelah membaca tulisan itu, Elli begitu kaget,


keringat dingin pada tubuhnya semakin menjadi-jadi.


Rasa bersalah Elli semakin mendalam.


Tanpa berpikir panjang, Elli memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara yang sama seperti Edgar.


..."Sama seperti bunga es ini ... kini perasaanku padamu membeku."...


...-Edgar-...