
Kemudian pria berzirah besi lainnya datang menghampiri pria berzirah besi yang sedang membaca surat.
Lalu ia ikut membaca isi surat yang sebelumnya Zeel jatuhkan ke tanah.
“Tidak salah lagi,” ucap pria berzirah besi itu.
Kemudian kedua pria berzirah besi itu kembali memasukan pedang mereka ke sarung pedang mereka.
“Maafkan kami … kami tidak tahu jika kalian adalah tamu khusus tuan putri,” ucap salah satu pria berzirah besi itu.
“Tidak apa apa,” kata Zeel.
Lalu Zeel mengambil pedang besi yang sebelumnya ia jatuhkan ke tanah.
Kemudian Zeel memasukan pedang itu ke sarung pedang yang berada di balik punggungnya.
“Di dalam kereta ini ada anak-anak dan kesehatan mereka sedang memburuk,” ucap Zeel.
Salah satu pria berzirah besi berkata, “ kalau begitu tuan sebaiknya segera ke istana.”
“Istana?” tanya Zeel.
“Iya … tuan bisa berjalan lurus ke arah tenggara melalui gerbang ini, istana ada di sana.” Jawab salah satu pria berzirah besi.
“Baiklah,” ucap Zeel.
Perlahan-lahan badai besi mulai mereda, cakupan pandangan Zeel yang sebelumnya terhalang badai salju kini mulai kembali normal.
Kemudian Zeel menoleh ke belakang kedua pria berzirah besi itu.
Terlihat oleh Zeel sebuah gerbang raksasa serta dinding raksasa pada kedua sisi gerbang raksasa.
Dinding raksasa itu terbuat dari bahan dasar batu yang nampak terlihat kokoh.
Tidak hanya terlihat kokoh, dinding raksasa itu juga terlihat unik.
Dinding raksasa itu di lapisi es yang cukup tebal.
Lapisan es yang menutupi dinding raksasa itu nampak tembus pandang, sehingga dinding batu di dalamnya masih terlihat jelas.
Selepas itu Zeel kembali menaiki kereta chobo, kedua prajurit berzirah besi itu nampak membukakan jalan bagi Zeel.
Kemudian Zeel dengan segera memacu kereta chobo kemudian pergi memasuki gerbang raksasa.
Setelah memasuki gerbang raksasa, Zeel melewati sebuah jalan yang terbuat dari batu-batuan.
Jalan itu membentang lurus di hadapannya.
Kiri kanan jalan nampak berjejer rumah-rumah berbahan dasar batu menjulang tinggi ke atas.
Sepanjang jalan Zeel berpapasan dengan sejumlah orang, sebagian orang nampak sedang membersihkan halaman rumahnya yang tertutup es.
Semua orang yang berpapasan dengan Zeel nampak menggunakan mantel tebal berbulu.
“Zeel … sekarang kita ada di mana?” tanya Clare.
Zeel membalas, “aku tidak tahu nama tempat ini … yang jelas Sophia ada di sini.”
Beberapa menit kemudian Zeel secara perlahan menghentikan laju kereta, nampak di hadapan Zeel sebuah gerbang megah.
Kemudian sosok seseorang pria berzirah besi datang menghampiri kereta mereka.
Berbeda dengan kedua pria berzirah besi sebelumnya, pria ini nampak tidak begitu waspada dengan Zeel.
“Permisi … apa tuan memiliki izin masuk?” kata pria berzirah besi itu.
Zeel menjawab, “ada.”
Tanpa turun dari kereta Zeel menyerahkan sebuah surat ke pria berzirah besi itu.
“Ini tulisan tuan putri … silahkan tuan masuk,” ucap pria berzirah besi itu.
Kemudian pria berzirah besi itu mengembalikan surat yang Zeel serahkan.
Selepas itu mereka memasuki gerbang megah yang berada tidak jauh dari hadapannya.
Berbeda dengan gerbang sebelumnya yang mereka lalui, ukuran gerbang ini lebih kecil namun terlihat lebih megah.
Lalu Zeel melihat sebuah bangunan istana megah yang di lapisi lapisan es berada di hadapannya.
Malam hari tiba, jangkauan pandangan Zeel mulai terbatas.
Kemudian Zeel memacu kuda hingga sampai ke pintu istana, terlihat oleh Zeel dua orang berzirah besi serta bersenjatakan pedang sedang menjaga gerbang.
Setibanya di depan pintu, Zeel turun dari kereta chobo kemudian menghampiri kedua penjaga gerbang itu.
Sementara itu Clare mengintip dari dalam kereta chobo.
“Selamat datang di istana Bluelight … ada kepentingan apa tuan kemari?”
Salah satu penjaga gerbang menjawab, “apakah tuan sudah membuat janji sebelumnya?”
“Sudah … di dalam kereta ini ada tiga anak-anak sedang sakit, tolong rawat mereka,” ucap Zeel.
Salah satu penjaga gerbang membalas, “baiklah tuan … percayakan mereka pada unit medis kami.”
“Clare … tidak apa-apa,” kata Zeel sembari menoleh ke kereta chobo.
Lalu secara perlahan Clare turun dari kereta chobo kemudian berlari ke arah Zeel.
Selepas itu Clare berdiri tepat di belakang Zeel seolah-olah sedang berlindung dari sesuatu.
Salah satu penjaga gerbang menatap Clare dengan senyuman ramah, namun Clare menatap balik dengan wajah marah.
Setibanya di dalam istana, Zeel dan Clare di sambut oleh seorang wanita pelayan istana.
“Selamat datang,” ucap pelayan itu dengan nada ramah.
Pelayan tersebut nampak mengenakan pakaian lengan panjang serta rok panjang.
Perpaduan warna hitam dan putih membuat pakaian pelayan itu nampak elegan.
Selepas memberikan sambutan sederhana kepada Zeel dan Clare, pelayan itu membimbing Zeel dan Clare ke depan salah satu ruangan yang berada di istana.
“Tuan dan nyonya silahkan menunggu di ruangan ini … saya akan menyiapkan teh,” ucap pelayan itu.
Zeel membalas, “baiklah.”
Kemudian pelayan itu pergi meninggalkan Zeel dan Clare berdua.
Sreeet ….
Zeel membuka pintu salah satu ruangan istana, nampak di hadapan Zeel kursi-kursi serta sebuah meja tertata rapi.
Kemudian Clare dan Zeel duduk berseblahan di salah satu kursi ruangan itu.
Sembari duduk menunggu di kursi Clare menoleh ke sekitar ruangan, Clare melihat sebuah lemari dengan kaca transparan serta sejumlah buku di dalamnya.
Kemudian Clare melihat sebuah benda aneh memancarkan cahaya dari langit-langit ruangan, benda itu asing bagi Clare.
Selepas itu Clare menoleh ke arah Zeel yang sedang duduk tepat berada di sampingnya.
“Zeel,” kata Clare sembari menatap Zeel.
Zeel menoleh ke arah Clare kemudian membalas, “kenapa?”
“Matamu hebat ya … bisa mengalahkan monster,” kata Clare sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Zeel.
Kontak mata terjadi antara Zeel dan Clare.
Kini jarak wajah mereka sangat dekat, bahkan Zeel dapat mendengar suara napas Clare.
“Zeel … perlihatkan aku,” ucap Clare halus sembari menatap mata Zeel.
Kemudian Zeel menoleh ke bibir Clare, entah kenapa saat itu bibir Clare terlihat begitu seksi di mata Zeel.
Selepas itu secara perlahan Zeel mendekatkan bibirnya pada bibir Clare.
Tok, tok, tok ….
“Permisi,” terdengar suara dari arah pintu.
Spontan Zeel menoleh ke arah suara, sementara itu Clare masih menatap matanya dengan jarak yang sangat dekat.
Terlihat oleh Zeel sosok pelayan wanita sedang membawa dua gelas minuman di atas nampan.
Wajah pelayan wanita itu nampak terkejut.
“Maaf mengganggu,” ucap pelayan wanita itu kemudian ia menutup pintu dari luar.
Zeel berkata, “bukan begitu!”
“Kenapa?” tanya Clare sembari melihat ke arah pintu.
Beberapa menit kemudian pelayan wanita itu kembali ke ruangan tempat Zeel dan Clare sedang menunggu.
Kemudian pelayan itu meletakkan dua gelas berisi minuman ke atas meja yang berada di hadapan Zeel dan Clare.
Selepas itu pelayan wanita tersebut duduk di kursi yang bersebrangan dengan tempat duduk Clare dan Zeel.
“Maaf tuan dan nyonya … tadi saya mengganggu tuan dan nyonya saat hendak berciuman,” ucap pelayan wanita itu.
“Berciuman?” tanya Clare dengan ekspresi bingung.
..."Berciuman?"...
...-Clare-...