
Wilayah Netral
Sore hari.
Kala itu mentari sore menerangi jalan, tidak ada rumah di sekitar sana.
Hanya pepohonan hijau nan padat.
Cuit, cuit, cuit ….
Burung-burung bersandar pada ranting pepohonan, mereka bernyanyi begitu merdunya.
Tepat pada pertengahan jalan yang sedikit basah. Kereta chobo serta seekor chobo sedang berjalan beriringan.
Di dalam kereta itu, tampak Delmon dan Clare sedang duduk berhadap-hadapan.
Sedari tadi, tidak ada perbincangan di antara mereka, Delmon merasakan suatu aura aneh
Clare pencarkan, sekan-akan Clare sedang memasang benteng guna melindungi diri.
“Cla—” ucap Delmon terputus.
Delmon belum utuh melontarkan kalimatnya, Clare menatapnya begitu tajam.
“Tidak apa … tidak jadi,” tutur Delmon.
“Hmph,” tutur Clare pelan.
Clare memalingkan pandangannya ke arah jendela, terlihat oleh Clare, seekor burung
baru saja melintas pada sisi luar jendela.
Ahahaha ….
Delmon tertawa pelan sembari menatap burung yang sama.
Huuuf ….
Delmon mengembuskan napas berat sembari memegang dada.
Ini merupakan hal yang biasa saja … Clare selalu begini kepada banyak orang, batin
Delmon.
Ingin keluar dari suasana canggung, Delmon juga memandang keluar jendela.
Terpandang oleh Delmon, Zeel sedang menunggangi seekor chobo.
Tidak bergerak, Zeel tampak berdiam dengan chobonya.
“Kalau begitu … kita berpisah di sini,” tutur Zeel sembari memandang Delmon.
“Iya … berhati-hatilah!” seru Delmon.
Grudug, grudug, grudug ….
Terpandang oleh Delmon, Zeel bersama kereta chobonya menjauh, melalui jalan lain.
Delmon memalingkan pandangannya pada Clare, terpandang oleh Delmon, wajah datar Clare.
“Apakah Clare tidak ingin mengucapkan sesuatu?” tanya Delmon.
Gluk ….
Clare menelan liurnya sendiri sembari mengelus Shiro yang sedang tertidur dipahanya.
Clare berucap, “ tidak.”
Terlihat oleh Delmon, Clare menundukkan kepalanya perlahan, menghadap lantai kereta.
Clare Nampak menggumlakan kedua tangannya begitu erat.
Sreeet ….
Tiba-tiba Clare bangkit dari duduknya.
“Kenapa?” tanya Delmon.
Tap, tap, tap ….
Clare berjalan mendekati pintu keluar kereta.
Kreeek ….
Clare membuka pintu kereta.
Wuuushhh ….
Melalui pintu yang terbuka, udara berembus masuk ke dalam kereta.
“Clare apa yang ingin kamu lakukan!” seru Delmon.
Wuuusshh ….
Clare melompat keluar.
Delmon berseru, “Clare!”
Tap, tap, tap ….
Delmon berlari ke arah pintu, namun ia terlambat.
Wuuushh ….
Angin berhembus meniup rambut Delmon.
Delmon memandang keluar, terlihat olehnya Clare sedang terjatuh di atas tanah.
Sebagian dari tanah mengotori jubah yang Clare kenakan.
“Clare!” seru Delmon.
Clare memandang ke arah kereta chobo yang sedang melaju, tempat Delmon berada.
“Aku baik-baik saja … aku akan pergi bersama Zeel!” seru Clare.
Sementara itu Shiro yang terlelap menjadi terbangun, menyadari aroma Clare yang menjauhi.
Wushhh...
Shiro melewati melompat keluar mengikuti Clare.
Sembari memandang Clare, Delmon tersenyum kecil.
Akhirnya balon itu pecah, batin Delmon.
“Baiklah aku mengerti … jaga dirimu!” seru Delmon.
Beruntung kereta berjalan tidak begitu cepat.
Gruduk, gruduk, gruduk ….
Terlihat oleh Clare, kereta chobo menjauhinya.
Clare mengalihkan pandangannya ke arah lain, terpandang oleh Clare, bayangan Zeel
samar-samar di kejauhan.
Tap ….
Clare bangkit dari duduknya.
Tap, tap, tap ….
Dengan kaki yang sedikit terpincang-pincang, Clare berjalan, menghampiri bayangan Zeel
yang samar, di bawah matahari.
“Zeel!” seru Clare.
Gruduk, gruduk, gruduk ….
Sementara itu di kejauhan, Zeel sedang menunggangi kereta chobo dengan kecepatan sedang.
Pandangan Zeel fokus ke depan, tidak ada apa-apa di sekitarannya, kiri kanan hanyalah hutan.
Tap, tap ….
Zeel menurunkan kecepatan chobonya.
“Zeel!”
Terdengar oleh Zeel, suara samar-samar dari kejauhan.
Aneh …. rasanya seseorang baru saja menyebutkan namaku, batin Zeel.
Zeel sedikit menolehkan pandangannya ke belakang.
Grudug, grudug, grudug ….
Zeel memutar balik chobonya.
Aneh … badanku seperti bergerak sendiri, batin Zeel.
Di kejauhan, terpandang oleh Zeel sosok seseorang, entah siapa sosok itu Nampak
samar-samar di mata Zeel.
Grudug, grudug, grudug ….
Zeel mempercepat tempo pacuannya, mendekati sosok di kejauhan.
Hingga terlihat jelas oleh Zeel, sosok tersebut adalah Clare.
“Clare!” seru Zeel.
Terlihat oleh Zeel, langkah kaki Clare yang sedikit terpincang-pincang.
“Zeel!” seru Clare.
Huh, huh, huh ….
Napas Clare terengah-engah.
Tap….
Zeel segera turun dari atas chobo, berlari menghampiri Clare.
Gyut ….
Setibanya di hadapan Clare, Zeel menggenggam erat kedua bagian lengan atas Clare.
“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Zeel.
Terpandang oleh Zeel, mata Clare yang berkaca-kaca layaknya gelas, siap pecah kapan saja.
“Kenapa kamu meninggalkan aku?” tanya balik Clare.
“Tidak … aku sama-sekali tidak mengeerti,” tutur Clare.
Terdengar oleh Zeel, nada suara Clare yang sedikit gemetar.
Clare menundukkan kepala, memandang permukaan.
“Aku tahu … aku mungkin tidak berguna, aku mungkin hanya akan memberatkan
langkahmu,” ucap Clare.
“Bukan seperti itu, terlalu berbahaya … mungkin saja kamu bisa tersakiti,” kata Zeel.
“Tapi … aku tidak memilki tempat lain,” ucap Clare pelan.
Zeel bertanya, “tempat?”
Dengan mata berkaca-kaca, Clare menatap Zeel.
Terpandang oleh Zeel, air mata mengalir membasahi pipi Clare.
“Kamu adalah tempatku,” tutur Clare.
Gedebug ….
Clare meninju dada Zeel pelan.
Gyuuut….
Zeel memeluk Clare erat.
“Aku tidak masalah terluka … selama berada di sisimu,” tutur Clare.
Zeel berucap, “maaf ya.”
“Tidak … aku yang salah, aku tidak mengungkapkannya,” kata Clare.
Zeel melepaskan pelukannya dari Clare.
Terpandang oleh Zeel, kedua lutut Clare yang tampak memar.
Pasir menempel pada kedua lutut Clare.
“Kakimu … kenapa?” tanya Zeel.
Clare berucap pelan, “aku melompat.”
“Melompat?” tanya Zeel.
“Aku melompat dari kereta,” ujar Clare.
Reflek, Clare menutupi lukanya dengan jemari.
“Jangan begitu … perlihatkan padaku,” pinta Zeel.
Secara perlahan, Clare memisahkan jemari dari lutut.
Ini cukup parah, batin Zeel,
Terpandang oleh Clare, kepala Zeel yang menoleh ke sana kemari sekan akan sedang mencari sesuatu.
“Kenapa?” tanya Clare.
Byuuur ….
Terdengar oleh Zeel, suara air mengalir dari kejauhan.
“Tunggu sebentar,” tutur Zeel.
Tap, tap, tap ….
Zeel berjalan menjauhi Clare, mendekati tepian jalan, sembari membawa chobo.
Setibanya di tepian jalan, Zeel mengikatkan tali pada leher chobo dengan salah satu pohon.
Tap, tap, tap ….
Zeel mendekati Clare, menjauhi chobo.
“Ikuti aku,” pinta Zeel.
Syuut ….
Zeel menarik lengan kanan Clare.
“Tunggu,” tutur Clare.
Tepian sungai Donetsk, siang hari.
Matahari siang menembus dinginnya aliran sungai.
Kala itu Zeel dan Clare sedang duduk pada tepian sungai.
Byuuur….
Zeel menyirami kedua lutut Clare yang memar.
“Sakit!” seru Clare.
“Maaf!” seru Zeel.
Gyuur ….
Air pada lutut Clare mengalir ke bawah bersama pasir.
“Sekarang sudah bersih … tunggu sebentar,” ucap Zeel.
Tap, tap, tap ….
Zeel berjalan menjauhi Clare, berjalan mendekati semak belukar.
“Zeel mau ke mana?” tanya Clare.
“Obat,” kata Zeel.
Beberapa menit berlalu, Clare sedang duduk memeluk lutut, memandang aliran sungai.
Tap, tap, tap ….
Terdengar oleh Clare, suara langkah kaki mendekatinya.
Di kejauhan, Clare melihat Zeel dengan tangan penuh.
Berbagai dedaunan asing berada pada genggaman Zeel.
“Banyak sekali ya,” ucap Clare sembari memandang bawaan Zeel.
“Begitulah … kebetulan aku menemukan berbagai macam tanaman herbal,”
Seeek….
Zeel menggeletakkan dedaunan pada genggamannya di atas rerumputan.
Tap, tap, tap ….
Lalu Zeel berjalan mendekati tepian sungai, kemuudian ia mencelupkan kedua kaki ke
dalam permukaan air.
Seketika Zeel merasakan sensasi dingin pada kedua kakinya.
Zeel menundukkan kepala memandang air, menembus air.
Terlihat oleh Zeel, sejumlah bebatuan pada dasar permukaan sungai.
Glup, glup ….
Zeel mencelupkan kedua tangan ke dalam permukaan air, menggapai bebatuan.
Waktu berlalu.
Clare memandang Zeel yang sedang duduk tepat di sampingnya.
Gresek-gresek….
Terdengar oleh Clare, suara batu bergesekan.
Kini Zeel sedang menggosokan dedaunan di dua buah batu.
“Zeel?” tanya Clare.
Gresek, gresek ….
Zeel tampak begitu sibuk.
“Kenapa?” tanya Zeel tanpa memandang Clare.
“Meracik … tolong ajari aku,” pinta Clare pelan.
Gresek, gresek ….
Suara decitan batu lebih nyaring di abndingkan suara Clare.
Zeel bertanya, “apa?”
“Tolong ajarkan aku untuk meracik!” seru Clare sembari menutup kedua mata..
Gresek ….
Zeel berhenti menggesek.
Seketika suasana menjadi hening, Zeel menatap Clare, biasanya Clare hanya tertarik kepada bunga dan memasak.
“Boleh,” jawab Zeel.
“Asik!” seru Clare.
Gyuuut ….
Seketika Clare memeluk Zeel erat.
Sreeet, sreeet ….
Secara perlahan Clare menggesek-gesekan pipinya di pundak Zeel.
“Asik!” seru Clare.
Clare melepaskan Zeel dari pelukannya, kemudian ia sedikit menjauh.
“Maaf!” seru Clare.
..."Kamu adalah tempatku,"...
...-Clare-...