
Gawat … tanpa sengaja aku berteriak … kalau begini tidak ada artinya aku mengenakan topeng, batin Sohphia.
Sophia berpaling menatap ke luar jendela, terpandang olehnya Delmon dan Bendetta sudah tiada.
Dengan segera, Sophia bangkit dari duduknya.
Tap, tap, tap ….
Salah satu pelanggan rumah makan menghampiri meja makan mereka.
Dengan jarinya, ia menunjuk Sophia.
“Jangan-jangan kamu—” ucap pelanggan itu terpotong.
“Permisi,” ucap Bendetta.
Tap, tap, tap ….
Sophia mengacuhkan pelanggan itu, lalu ia pergi meninggalkan rumah makan.
Selama berjalan meninggalkan rumah makan, Sophia terus menjadi sorotan, semua terdiam membatu menatapnya.
Sementara itu, Zeel berusaha membangunkan Clare.
“Clare bangunlah,” pinta Zeel.
Clare berucap, “baik.”
Namun Clare tidak menunjukkan tanda-tanda dirinya sudah terbangun.
Tidak ada pilihan lain, batin Zeel.
Beberapa saat berlalu.
Tap, tap, tap ….
Di jalanan wilayah perbelanjaan, Zeel berlari sembari menggendong Clare yang tertidur pulas.
Akibat guncangan selama berlari, Clare terbangun.
Pandangan Clare yang tadinya buram akibat baru terbangun, kini semakin jelas.
Terpandang olehnya wajah Zeel.
“Zeel?” tanya Clare.
Kucek, kucek ….
Clare mengucek matanya.
Seketika Clare tersadar.
Sadar dirinya digendong Zeel, pipi Clare memerah.
“Kenapa kamu menggendongku!” seru Clare.
“Habisnya kamu tertidur,” kata Zeel.
“Lepaskan!” seru Clare.
Gedebug, gedebug, gedebug ….
Clare memukul dada Zeel pelan, berkali-kali.
“Untuk sementara tenanglah … sekarang aku sedang mengejar Bendetta,” pinta Zeel.
Clare memandang Zeel kesal.
Bagaimana aku bisa tenang … bodoh, batin Clare.
Tap, tap, tap ….
Sementara itu, Sophia terus berlari mendekati Delmon dan Bendetta.
“Permisi!”
“Permisi!”
“Permisi!”
Sophia menyelip orang-orang di sekitarnya.
“Maaf!”
Tanpa sengaja, ia menyenggol orang di sekitarnya.
Pada Saat yang bersamaan, Bendetta berlari diikuti Delmon dari belakang.
“Sebenarnya kenapa Bendetta terburu-buru?” tanya Delmon.
Bendetta berkata, “sebenarnya aku sudah berjanji kepada tuan putri.”
“Janji ap aitu?” tanya Delmon.
“Aku akan pulang pukul sepuluh malam … dan ini sudah lewat,” jawab Clare.
“Tidak usah terburu-buru … tuan putri pasti akan mengerti,” ucap Delmon.
“Ke sini,” kata Sophia.
Terpandang oleh Delmon, Bendetta memasuki gang kecil di antara bangunan-bangunan.
Tidak ada pilihan lain … aku harus terus mengikutinya, batin Delmon.
Tunggu! Seru Delmon.
Tap, tap, tap ….
Delmon berlari memasuki gang kecil yang sama.
Setibanya di dalam gang kecil, Delmon melihat tiga orang pria dewasa di hadapan Bendetta.
Tap, tap, tap ….
Sementara itu, sambil berlari membuntuti Sophia, Zeel terus menggendong Clare.
Pada salah satu gang wilayah perbelanjaan, terpandang oleh Zeel, langkah Sophia terhenti.
Pada salah satu sisi bagunan, Sophia tampak bersembunyi.
Tap, tap, tap ….
Zeel berlari menghampiri Sophia.
“Kenapa?” tanya Zeel.
Sophia menoleh ke arah Zeel, lalui ia menempelkan jari telunjuknya pada bibir.
Ssssttt ….
“Kecilkan suaramu Zeel,” bisik Sophia.
Tatapan Clare tampak kesal, namun telinganya memerah.
“Turunkan aku,” pinta Clare pelan.
Dengan segera Zeel melepaskan Clare dari gendongannya.
Tap, tap, tap ….
Tanpa bertanya kepada Sophia, Clare memutuskan untuk mengintip ke dalam gang kecil
Terlihat oleh Zeel, Delmon sedang berhadapan dengan tiga orang pria dewasa.
Sementara itu, Bendetta berlindung di belakang Delmon.
Kala itu suasana gang sedikit gelap, sampah berserakan serta tercium aroma tidak sedap.
“Mereka itu siapa?” bisik Zeel.
Sophia menjawab, “mereka adalah preman.”
“Bagaimana?” tanya Zeel.
Sophia berucap, “biarkan Delmon menghadapinya.”
Karena kedudukan Delmon sebagai kaisar Clever, Sophia cukup yakin Delmon memiliki cukup kuat untuk menghadapi preman-preman itu.
Sementara itu di dalam gang sempit.
Ketiga preman itu memandang Delmon sinis
“Bocah … kenapa kamu menghalangi kami?” tanya salah satu preman.
“Netta larilah,” pinta Delmon.
Netta berucap, “tapi Monmon.”
“Aku akan menahan mereka,” kata Delmon.
“Kamu punya nyali yang bagus juga ya,” puji salah satu preman.
Gedebug ….
Delmon menerima tinju dari salah satu preman, seketika Delmon terkapar.
Aaarghh ….
Jerit Delmon kesakitan.
“Delmon!” seru Bendetta.
“Netta larilah,” pinta Delmon.
Salah satu preman menatap Bendetta sambil memainkan lidahnya.
“Sabar ya nona … setelah menghabisi bocah ini, kami akan memanjakannmu,” ucap salah satu preman.
Gedebug, gedebug, gedebug ….
Secara bergantian, tiga preman itu menginjak Delmon yang terkapar.
Seketika air mata mengalir membasahi pipi Sophia.
“Hentikan!” seru Clare.
Kemudian Sophia melipatkan kedua tangannya.
Dewi Athena tolong bantu kami! batin Sophia.
Sementara itu dari kejauhan, Sophia di buat bingung dengan Delmon.
Sophia menggumpalkan kedua tangannya, siap meninju kapan saja.
“Apa yang di lakukan kaisar bodoh itu?” tanya Sophia.
“Sebenarnya … Delmon payah dalam pertarungan jarak dekat," jelas Zeel.
Plak ….
Sophia menepuk jidatnya.
“Harusnya kamu bilang dari tadi,” ucap Sophia.
“Bagaimana … kita bantu?” tanya Zeel.
Sophia berucap, “ayo cepat kita selesaikan.”
23 September 1700, kamar Zeel, istana Bluelight.
Pagi hari.
Kala itu Zeel sedang tertidur pulas.
Tok, tok, tok ….
Terdengar oleh Zeel suara ketukan dari sisi luar pintu kamarnya.
“Tuan Zeel … tuan putri mencarimu!”
Terdengar oleh Zeel suara wanita.
Kucek, kucek ….
Sambil berbaring di atas kasur, Zeel mengucek matanya.
Hooaam ….
Zeel menguap.
“Tunggu sebentar! Seru Zeel.
Lima menit berlalu, Zeel tak kunjung bangkit dari
tidurnya.
Tok, tok, tok ….
Pada sisi luar pintu, Etna dengan stelan pelayan sedang mengetuk pintu.
“Tuan Zeel!”
“Cepatlah bangun!”
“Tuan putri sudah menunggumu!”
“Tunggu sebentar,” seru Zeel.
Etna berucap, “ya ampun.”
Tap, tap, tap ….
Entah ke mana, Etna pergi menjauhi kamar Zeel.
Beberapa menit berlalu.
Tap, tap, tap ….
Etna kembali berdiri di hadapan pintu kamar Zeel, pada lengan kanannya ia memegang sebuah kunci.
“Tuan Zeel!”
“Sudah bangun?”
“Aku masuk ya,”
Etna berseru.
“Sudah!”
Terdengar oleh Etna, suara Zeel dari balik pintu.
Tidak ada pilihan lain, batin Etna.
Cekrek ….
Memanfaatkan kunci pada genggamannya, Etna membuka pintu.
Kreeek ….
Etna membuka pintu kamar Zeel secara perlahan.
“Tuan Zeel?” tanya Etna.
Terpandang oleh Etna, seisi kamar Zeel.
Luas ruangan tampak tidak sebanding dengan jumlah properti ruangan, begitu banyak ruang kosong.
Gorden jendela tampak terbuka, pada sisi luar jendela salju berjatuhan.
Terlihat oleh Etna, Zeel masih tertidur di atas tempat tidur.
Tanpa atasan, Zeel hanya mengenakan celana panjang.
Huuuf ….
Etna menghembuskan napas berat.
Tap, tap, tap ….
Etna berjalan mendekati tempat tidur Zeel.
Etna berseru, “tuan Zeel bangunlah … tuan putri memanggilmu!”
Tidak ada respon dari Zeel, ia masih tenggelam dalambtidurnya.
Sreeet ….
Dengan tangan kirinya, tiba-tiba Zeel menarik tangan Etna.
Gedebug ….
Etna berbaring di atas kasur yang sama dengan Zeel.
“Tuan Zeel?” kata Etna.
Terpandang oleh Etna, lekuk otot pada perut Zeel.
Huuuf ….
Napas Etna seketika menjadi berat.
Gawat … apa yang harus aku lakukan? batin Etna.
Seeet ….
Etna berusaha bangkit, namun tangan Zeel menahan pinggangnya.
“Tuan Zeel?” ucap Etna.
Gyuuut ….
Zeel tiba-tiba memeluk tubuh Etna, layaknya guling.
Mereka begitu dekat.
Huuuf ….
Terdengar oleh Etna, suara napas Zeel.
Ini … gawat! Seru Etna.
Batin dan tubuh Etna berlawanan, batin Etna ingin pergi namun tubuhnya masih ingin di sana.
Terpandang oleh Etna, wajah Zeel yang tertidur pulas.
Aku sudah tidak tahan! Batin Etna.
Tanpa perlawanan, Etna hanya memejamkan mata.
Kreeek ….
Terdengar oleh Etna, suara dari arah pintu kamar Zeel.
Spontan Etna membuka matanya.
Terlihat oleh Etna, Clare sedang berdiri memandang mereka dengan tatapan kosong.
Tubuh Clare ada di sana, namun jiwanya entah ke mana.
..."Ini ... gawat!"...
...-Etna-...