Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 2 : Malam Darah III



“Apa kamu bisa berlari?” tanya Zeel.


Clare menjawab, “sekarang aku sudah tidak apa-apa.”


Setelah itu Zeel dan Clare beserta Shiro berlari


menuju ke rumah Zeel.


Sepanjang perjalanan Zeel memegang tangan Clare dengan erat.


Sementara itu Shiro mengikuti mereka dari belakang.


Selama perjalanan mereka harus melalui wilayah


perumahan penduduk yang cukup padat.


Saat itu suasana perumahan wilayah penduduk sangat sepi, tak seorangpun yang mereka jumpai.


Sepanjang perjalanan saat mereka berpapasan dengan mayat, Zeel meminta Clare untuk memalingkan wajahnya.


Setibanya mereka di salah satu jalan persimpangan wilayah perumahan penduduk, mereka melihat monster misterius berdiri tepat di tengah persimpangan jalan.


Terlihat monster misterius tersebut sedang berdiri membelakangi mereka.


Zeel yang melihat itu spontan menarik Clare ke


salah satu rumah terdekat kemudian Shiro mengikuti dari belakang.


Suasana rumah tersebut nampak hening dengan keadaan pintu tidak terkunci.


Sebelum membawa Clare dan Shiro masuk ke dalam rumah tersebut, Zeel terlebih dahulu masuk untuk melihat keadaan di dalam rumah.


Selepas melihat keadaan rumah Zeel berkata pada Clare.


“Clare tutuplah matamu ... jangan buka matamu sampai aku memintanya,” ucap Zeel pada Clare dengan tatapan serius.


Clare mengangguk kemudian menutup matanya


perlahan, ia paham Zeel melakukan ini demi kebaikannya.


Selepas itu Zeel berjalan ke belakang Clare kemudian memegang kedua bahu Clare dengan kedua tangannya dari belakang.


Secara perlahan Zeel membimbing langkah Clare


untuk masuk ke dalam rumah.


Setibanya mereka di dalam rumah, Zeel melepaskan kedua tangannya dari punggung Clare.


Ucap Zeel pelan, “tunggulah di sini.”


“Baiklah,” balas Clare singkat.


Terdengar oleh Clare suara langkah kaki menjauhinya.


Clare yang menutup matanya tidak bisa melihat apa-apa.


Clare mencium bebauan gosong di dalam rumah tersebut.


Tak lama setelah itu terdengar suara langkah kaki mendekati Clare.


“Duduklah … aku menaruh kursi di belakangmu,” ucap Zeel.


Clare membalas, “Baiklah.”


Selepas itu, Clare meraba-raba ke belakang dengan kedua tangannya, teraba oleh Clare sebuah kursi kayu kemudian ia duduk di kursi


tersebut.


Sesaat setelah Clare duduk Shiro melompat ke arah Clare kemudian duduk dengan nyaman di pangkuan majikannya.


Clare mungkin tidak melihat dengan matanya, tapi ia tahu bahwa itu Shiro.


“Aku akan kembali,” ucap Zeel pada Clare.


Ucap Clare, “harus … kalau tidak aku akan marah.”


Terdengar oleh Clare suara langkah kaki menjauh.


Sebenarnya Clare ingin membantu Zeel, tapi Clare sadar bahwa ia hanya akan membebani Zeel.


Dengan penuh kekhawatiran Clare menunggu Zeel di dalam rumah tersebut.


Zeel menutup pintu dari luar, ia meninggalkan


Clare beserta Shiro di dalam rumah itu.


Dengan perlahan Zeel melangkah mendekati monster yang berada di persimpangan jalan.


Monster tersebut nampak berdiri di persimpangan jalan seolah-olah sedang menunggu sesuatu.


Sesekali monster tersebut menoleh ke arah jalan


yang Zeel lalui.


Dengan cerdiknya Zeel berkamuflase dengan mayat di sekitarnya.


Tak ingin monster misterius tersebut curiga, Zeel memutuskan untuk masuk ke salah satu bar sederhana yang berada di dekatnya.


Bar tersebut berjarak tiga rumah dari tempat ia meninggalkan Clare dan Shiro.


Suasana bar hening.


Terlihat oleh Zeel pria botak dengan perut buncit tak bernyawa, pria tersebut nampak terkapar dilantai dekat meja bar.


Zeel perlahan melangkah mendekati belakang meja bar tempat umumnya pelayan bar berada.


Zeel menemukan pelayan tersebut sudah tidak bernyawa lengkap dengan pakaian pelayan bar.


Zeel terus mencari keberadaan orang di dalam bar tersebut, Zeel pergi ke gudang bar namun tidak menemukan siapa-siapa.


Hanya barel dalam jumlah cukup banyak ia jumpai di gudang bar, dari aroma yang tercium  Zeel menduga isi barel-barel tersebut adalah anggur.


Lalu Zeel naik ke lantai dua bar tersebut menaiki


tangga.


Sembari menaiki anak tangga Zeel sesekali memegangi pegangan tangga.


Zeel merasakan ada debu yang menempel di telapak tangannya.


Setibanya di lantai dua Zeel tidak menjumpai


siapapun.


Tak ada mayat hanya meja dan kursi yang tertata rapi, serta beberapa lilin yang menyala di tembok.


Di bandingkan lantai satu pencahayaan di lantai


dua lebih minim.


Sebagian wilayah di lantai dua bar tersebut tidak


memiliki lantai, wilayah tersebut di batasi dengan pagar kayu.


Melalui wilayah tak berlantai tersebut, orang-orang yang berada di lantai dua dapat dengan jelas melihat meja bar serta sebagian kursi dan meja yang berada di lantai satu.


Setelah memastikan di lantai dua tidak ada


siapa-siapa Zeel kembali menuju lantai satu.


Kemudian Zeel duduk di salah satu kursi yang berada di lantai satu sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan.


Zeel mencoba untuk melihat ke sekitar dan melihat sebuah busur kecil terpampang di dinding.


Zeel mengambil busur kecil tersebut dari dinding, Zeel mecoba busur tersebut dan berfungsi dengan normal.


Awalnya Zeel ragu busur tersebut dapat berfungsi dengan normal, ia menduga busur tersebut hanyalah pajangan.


Walaupun fungsi busur tersebut normal, hanya saja ukurannya lebih kecil dari ukuran busur pada


umumnya.


Setelah mendapatkan busur, Zeel membutuhkan anak panah namun ia tidak menemukan anak panah di dalam bar tersebut.


Zeel pergi ke meja bar dan ia menemukan sebuah pisau dapur di balik meja bar.


Pisau dapur tersebut berbahan dasar kayu dan


terlihat cukup tajam.


Zeel menduga pisau dapur tersebut milik pelayan bar, ia bermaksud menjadikan pisau dapur tersebut sebagai pengganti anak panah.


Setelah mendapatkan busur dan pengganti anak panah Zeel pergi ke lantai dua.


Zeel mencoba untuk mencari jendela yang berada di lantai dua.


Karena keadaan pencahayaan di lantai dua tidak begitu terang Zeel agak kesulitan mencari jendela.


Setelah terus meraba raba dinding Zeel menemukan jendela.


Zeel mendorong jendela tersebut secara perlahan.


Zeel tidak ingin monster misterius yang berada di luar sadar akan keberadaanya.


Jendela terbuka dan Zeel melihat monster misterius tersebut masih berdiri di persimpangan jalan.


Zeel terus memantau monster misterius tersebut


dari balik jendela.


Zeel menunggu waktu yang tepat untuk menghujamkan pisau dapur ke arah monster misterius itu.


Waktu yang tepat akhirnya tiba, mata monster misterius tersebut berada di dalam jangkauan busur Zeel.


Zeel menutup mata kirinya sambil menarik tali


busur lalu ia melepaskan tali busur.


Wushhh ....


Pisau dapur meluncur dengan cepat.


Namun sayang tidak akurat.


Pisau dapur sebagai pengganti anak panah tidak mendarat akurat sesuai keinginan Zeel.


Zeel bermaksud untuk membidik mata monster


tersebut namun justru mengenai bagian leher.


Zeel yang sadar anak panahnya tidak mengenai sasaran dengan segera menunduk ke bawah jendela.


..."Berpikirlah!"...


...-Zeel-...