Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 14 : Naga Elemental



Dengan membawa kepercayaan Sophia, Zeel memimpin pasukan khusus ini.


Tidak ingin buang-buang waktu, pasukan khusus di bawah pimpinan Zeel segera mengendarai kereta chobo.


Ketiga kereta itu berjalan berderet memanjang.


Sebelum mereka berkumpul, Sophia sudah lebih dulu menyiapkan kereta chobo di sekitar area gerbang.


Kereta chobo yang Sophia siapkan itu berjumlah tiga, sehingga mencukupi kebutuhan transportasi pasukan khusus.


Kini Zeel sedang berada di dalam kereta chobo yang di naiki tiga orang, satu anggota pasukan khusus sedang mengendarai kereta chobo itu.


Sementara itu  Zeel berada di dalam kereta, ia sedang duduk berhadapan dengan Bendetta.


Situasi tampak begitu canggung, Bendetta selalu menatap keluar jendela kereta.


Zeel terus menatap Bendetta agar terjadi kontak mata, namun itu tidak terjadi, sehingga Zeel sulit untuk memulai obrolan.


“Kalau tidak salah … namamu Bendetta kan?” tanya Zeel.


Zeel mencoba untuk memulai obrolan.


“Iya,” balas Bendetta.


Bendetta membalas tanpa memandang Zeel.


Suasana hening untuk beberapa saat.


“Bendetta … sudah berapa lama kamu menjadi pelayan pribadi Sophia? tanya Zeel.


“Sejak kecil,” jawab Bendetta.


Bendetta menjawab singkat, sulit bagi Zeel untuk memancing obrolan.


Suasana kembali hening.


Zeel memandang keluar jendela, kini mereka sedang melewati jembatan.


Zeel melihat ke sungai yang berada di bawah jembatan, sungai itu nampak begitu dingin, tidak ada ikan di sana.


Sungai tersebut menjadi pembatas antara dataran salju dan hutan wilayah netral.


Beberapa saat kemudian setelah mereka


memasuki wilayah netral, kereta terhenti secara tiba-tiba.


Gruoahhh …


Terdengar oleh Zeel suara raungan.


Mendengar suara itu, Zeel yang berada di dalam barisan kereta depan segera keluar dari dalam kereta.


Terlihat oleh Zeel seorang pria tua sedang jongkok di tanah sembari menutup kepala dengan kedua tangan.


Tidak jauh dari pria tua itu, terdapat sebuah gerobak berukuran sedang.


Gruoahhh …


Suara raungan itu semakin jelas.


Zeel memandang ke langit, terlihat oleh Zeel sosok seekor monster sedang melayang di udara dengan kedua sayap.


Monster itu tampak memiliki kulit bersisik serta berwarna putih.


“Ini … naga elemental,”


Terdengar oleh Zeel suara dari arah belakang, tanpa berbalik badan Zeel menoleh ke belakang.


Terpandang oleh Zeel semua anggota prajurit khusus kini sudah keluar dari dalam kereta, termasuk Bendetta.


Sembari terbang di udara dengan mengepakkan sayapnya, naga elemental itu membuka mulut lebar-lebar.


Terlihat taring-taring tajam berukuran kecil dengan jumlah banyak pada mulut.


Ini bukan sesuatu yang asing bagi Zeel, ia pikir naga elemental ini akan segera menembakkan sesuatu.


“Monster ini akan menembakkan sesuatu!” teriak Zeel.


Kemudian pasukan khusus itu memegang tameng masing-masing guna mengantisipasi serangan monster elemental itu.


Semua pasukan khusus membawa tameng, terkecuali Zeel dan dua wanita pelayan.


Mendengar teriakan Zeel spontan Bendetta dan satu pelayan lainnya berlari menghampiri pasukan khusus yang membawa tameng guna melindungi diri.


Kini Zeel menatap mulut monster elemental itu, berbeda dengan monster elemental yang Zeel jumpai sebelumnya, Zeel tidak melihat partikel memadat.


Jangan-jangan, batin Zeel.


Splash ….


Naga elemental itu menembakan sesuatu.


Lalu Zeel lari secepat mungkin menghampiri pria tua yang sedang jongkok tidak jauh di hadapannya.


Kemudian Zeel menutup matanya untuk beberapa detik, lalu ia kembali membuka matanya.


Mata Zeel kini menjadi hijau serta memancarkan cahaya.


Kini Zeel sedang berdiri melindungi pria tua itu.


Splash …


Sesuatu yang tidak kasat mata mengenai


wajah Zeel, seketika Zeel terpental ke belakang.


“Tuan Zeel!”


“Tuan Zeel!”


Zeel yang terbaring di tanah, tiba-tiba bangkit berdiri, kemudian ia menoleh ke belakang.


Terpandang oleh pasukan khusus, mata Zeel yang berwarna hijau serta memancarkan cahaya.


“Mata itu!” ucap salah satu pasukan


khusus.


Bendetta kaget dengan apa yang ia lihat sekarang, seorang pengguna batu sakral selain Sophia kini ada di hadapannya.


“Tembak!” seru Zeel.


Mendengar intruksi Zeel, pasukan panah segera menyiapkan panah dan busur.


Wuushh, wuushh, wuushh ….


Ketiga pengguna panah itu menembakan masing-masing satu anak panah.


Jleb, jleb ….


Dua dari tiga anak panah itu berhasil


menancap pada tubuh naga elemental tersebut.


Gruoahhh …


Naga elemental itu meraung, kemudian terbang


entah ke mana.


Kemudian Zeel mengulurkan tangan kepada pria tua yang sedang jongkok di dekatnya.


Pria tua itu tampak gemetar.


“Sudah tidak apa-apa paman … sekarang naga elemental itu sudah pergi,” kata Zeel.


Lalu pria tua itu menerima uluran tangan Zeel, kemudian ia ikut berdiri.


“Anak muda … terima kasih telah menyelamatkanku!” ucap pria tua.


Bagi pria tua itu, Zeel adalah pahlawan.


“Nama anak muda siapa?” tanya pria tua.


Zeel menjawab, “namaku Zeel.”


Kemudian seluruh pasukan khusus menghampiri Zeel serta pria tua itu.


“Zeel … kamu tidak terluka,” tanya salah satu pasukan khusus.


Zeel berkata, “aku tidak apa-apa.”


Kemudian Zeel menatap tubuh pria tua itu, tampak luka memar pada bagian kaki pria itu.


“Rawatlah pria ini … kakinya tampak terluka,” kata Zeel.


“Baiklah,” kata Bendetta.


Selepas itu Bendetta masuk ke dalam kereta chobo, kemudian kembali sembari membawa sebuah keranjang.


Lalu Bendetta merawat kaki pria tersebut.


Beberapa saat berlalu, kini peraaan pada bagian luka pria itu telah selesai.


“Selesai,” kata Bendetta sembari melilitkan perban berwarna putih pada luka pria itu.


“Terima kasih,” kata pria tua tersebut.


Zeel bertanya, “Bagaimana paman?”


“Aku sudah tidak apa-apa … tunggu sebentar!” kata pria tua itu.


Kemudian pria tua itu mendekati gerobak yang ia bawa, kemudian pria tua tersebut membuka kain penutup pada bagian atas gerobak.


Terpandang oleh Zeel begitu banyak barang pada barang pada bagian dalam gerobak.


“Ini dia!” ucap pria tua itu sembari memegang sesuatu.


Selepas itu pria tua tersebut menyerahkan sesuatu yang ia pegang kepada Zeel.


“Sebagai bentuk rasa terima kasihku … terimalah ini,” kata pria tua itu.


Terpandang oleh Zeel sebuah benda yang tidak pernah ia lihat seumur hidupnya, benda itu terbuat dari sebuah kaca transparan berbentuk bulat memanjang ke atas, pada bagian bawah kaca terdapat wadah berukuran kecil berisikan sesuatu yang cair.


“Ini adalah lentera,” kata pria itu.


“Lentera?” tanya Zeel penasaran.


Pria tua itu berkata, “Ini adalah alat penerangan … aku mendapatkannya dari suatu tempat yang jauh dengan harga yang mahal.”


Kemudian pria tua itu menjelaskan kepada Zeel cara menggunakan lentera tersebut.


“Ambillah ini Zeel … aku yakin ini akan bermanfaat,” ucap pria tua itu.


Zeel berkata, “baiklah,” kata Zeel sembari menerima lentera itu.


“Aku adalah seorang pedagang keliling … kelak jika kita bertemu kembali, aku akan memberikan harga murah padamu.”


Selepas itu pasukan khusus dan pedagang keliling tersebut berpisah, mereka pergi berlawanan arah.


..."Sophia mempercayakan tugas ini kepadaku ... aku harus menjawab kepercayaanya."...


...-Zeel Greenlight-...