
5 oktober tahun 1700.
Dini hari.
Ruang makan istana, Istana Bluelight, Kota Benteng Haven.
Cring, cring, cring ….
Kala itu bunyi decitan antara garpu, sendok, serta piring bergema pada seisi ruangan.
Zeel, Clare, Sophia serta Delmon sedang menikmati sarapan pagi.
Melalui jendela, sinar matahari menyinari piring-piring mereka.
Hap ….
Clare melahap lahapan pertamanya, tegukkannya agak sedikit berat.
Sementara itu, Zeel yang sedari tadi duduk di sebelah Clare, terus menerus menatap Clare.
Terpandang oleh Zeel, muka bantal Clare.
Entah kenapa, raut wajah Clare tampak kelelahan, bagian bawah kedua matanya sedikit menghitam.
“Clare … kenapa?” tanya Zeel.
Tanpa berpaling menghadap Zeel, Clare menjawab pertanyaan Zeel.
“Tidak apa-apa,” jawab Clare.
Hap ….
Clare melahap suapan keduanya.
Terpandang oleh Zeel, gerakan dagu Clare yang pelan.
Seakan-akan tidak ada napsu makan, Clare mengunyah sarapan begitu pelan.
“Sedang tidak napsu makan?” Tanya Zeel.
Seketika Clare berhenti mengunyah.
“Begitulah,” tutur Clare pelan.
Sementara itu, pada sisi lain meja Delmon sedang mengamati Zeel dan Clare sembari menyantap sarapan.
Sebaiknya aku tidak ikut campur … balon itu akan segera meletus, batin Delmon.
Pagi Hari.
Gerbang utama, Kota Benteng Haven.
Saat itu Delmon dengan setelan lengkap zirah besinya sedang berdiri di hadapan putri Sophia serta Bendetta.
Delmon berdiri pada sisi luar gerbang utama, sementara putri Sophia dan Bendetta berdiri pada sisi dalam gerbang utama.
“Tuan putri … saya pamit,” tutur Delmon.
“Berhati-hatilah,” ucap Sophia.
Delmon mengulurkan tangan kanannya kepada ratu Sophia.
Seeet ….
Putri Sophia menyambut tangan Delmon.
Mereka berjabat tangan.
Kepada putri Sophia, Delmon tersenyum kecil
“Aku harap hubungan Kota Benteng Clever dan Kota Benteng Haven dapat semakin membaik,” kata Delmon.
Putri Sophia membalas senyuman Delmon dengan senyuman.
Putri Sophia berucap, “aku juga … kaisar Clever.”
Delmon dan ratu Sophia saling melepaskan jabatan tangan.
Delmon memalingkan pandangannya ke arah Bendetta.
Kini mereka saling menatap, terpandang oleh Delmon, bibir merah muda Bendetta.
Delmon berucap, “aku pergi dulu.”
Tanpa berucap, Bendetta menganggukan kepala tiga kali.
Tap, tap, tap ….
Delmon maju beberapa langkah, mendekatkan dirinya kepada Bendetta.
Syuut, syuut, syuut ….
Secara tiga kali beruntun, Delmon mengelus rambut Bendetta.
Usai mengelus rambut Bendetta, Delmon berpaling menghadap sisi luar kota.
Tap....
Delmon melangkahkan kaki kanan selangkah.
“Monmon!” seru Bendetta.
Pffftt ….
Tawa putri Sophia hampir pecah, namun ia berhasil menahannya.
Beruntung putri Sophia cekatan menutup mulut dengan telapak tangan.
Tap …
Langkah Delmon terhenti, kemudian ia berpaling menghadap Bendetta.
Sementara itu, Bendetta Nampak menghindari kontak mata dengan Delmon, ia memandang ke samping.
Jemari Bendetta tampak bergerak tidak karuan.
“kenapa?” Tanya Delmon.
“Jika …,” ucap Bendetta pelan.
Delmon bertanya, “jika?”
“Jika nanti aku pergi ke sana … boleh?" Tanya Delmon.
Delmon tersenyum kecil.
“Tentu saja boleh … datanglah kapan saja,” tutur Delmon.
Tap, tap, tap ….
Delmon menjauhi Bendetta, Mendekati kereta chobo.
Bukan miliknya, kereta chobo itu merupakan milik istana Bluelight.
Putri Sophia meminjamkan kereta chobo lengkap dengan delmannya.
Terpandang oleh Bendetta dari kejauhan, sosok Delmon memasuki kereta chobo.
Sementara itu pada saat yang bersamaan, Zeel dan Clare sedang berpisah dengan Emily, Luis serta Leon.
“Kakak Zeel dan Clare benar-benar akan pergi?” Tanya Emily dengan mata berbinar-binar.
Clare menundukkan sedikit badan.
Syuut, syuut, syuut ….
Clare mengelus rambut Emily lembut.
“Begitulah … jaga diri kalian ya,” pinta Clare.
“Apakah kakak Clare dan kakak Zeel akan kembali lagi?” tanya Leon.
Kepada Leon, Clare tersenyum kecil.
Clare berucap, “iya … kami janji.”
Kepada Leon, Clare tersenyum kecil.
“Kakak janji … iya kan Zeel?” tanya Clare.
Clare memalingkan pandangannya kepada Zeel yang sedang berdiri tepat di sampingnya.
Zeel menatap Clare, terpandang oleh Zeel senyuman pada wajah Clare.
“Iya,” jawab Clare.
Syuut, syuut ….
Dengan kedua telapak tangannya, Clare mengelus rambut Leon dan Luis lembut.
Hiks, hiks, hiks ….
Terdengar oleh Clare, isak tangis Emily.
Tangis Emily pecah, Emily tidak dapat menahan rasa sedihnya.
“Padahal … aku belum memperkenalkan kakak Clare dan Zeel kepada ayah dan ibu,” tutur Emily.
Dengan kedua tangan Emily yang kecil, Emily berusaha membendung tangis dari mata.
Huuf ….
Clare menghembuskan napas berat.
Suut ….
Dengan jari telunjukknya, Clare membersihkan air mata pada pipi Emily.
Terpandang oleh Emily, senyuman hangat pada wajah Clare.
“Tidak apa-apa … kakak Clare dan Zeel pasti akan kembali,” ucap Clare
Clare kembali berdiri tegak.
Tap, tap, tap ….
Clare mundur beberapa langkah.
Kemudian ia melambaikan tangannya kepada tiga anak itu.
Tap, tap, tap ….
Clare menjauhi gerbang utama kota, mendekati kereta Chobo, tempat Delmon sedang berada.
Diikuti Shiro dengan kelima ekor putihnya yang bergoyang.
Tap, tap, tap ….
Sadar akan itu, Zeel mengikuti Clare dari belakang.
Zeel berusaha meraih tangan kiri Clare dengan tangan kanannya.
“Clar—“ tutur Zeel terputus.
Clare sama sekali tidak memperhatikan
Zeel.
Zeel gagal meraih tangan kiri Clare.
Kenapa dengannya? batin Zeel.
Tap, tap, tap ….
Zeel berjalan menjauhi kereta Chobo, berjalan mendekati chobo.
Tanpa kereta, chobo itu berada tepat di sebelah kereta chobo.
Sedikit berbeda dengan kereta chobo yang di pinjamkan kepada Delmon dan Clare, chobo itu tidak membawa kereta.
Di lengkapi dengan tempat duduk kecil di atasnya, chobo ini di khususkan hanya untuk membawa satu orang.
Siang hari, aliran sungai Donetsk, Wilayah Netral.
Di atas rerumputan hijau, di bawah pohon yang teduh sebuah kereta chobo serta seekor chobo sedang berteduh.
Pada tepian sungai Nampak, di bawah sinar matahari, sekumpulan orang sedang berdiri, mereka adalah Zeel, Delmon serta Clare.
Clare memandang lurus ke depan, terpandang oleh Clare sungai kecil di hadapannya.
Sungai itu begitu dangkal, arusnya cukup tenang serta airnya begitu bening.
“Clare,”
Terdengar oleh Clare, seseorang baru saja menyebutkan namanya, tidak asing bagi Clare, suara itu adalah suara Zeel.
Tap, tap, tap ….
Clare berjalan mendekati sungai, menjauhi Zeel yang sedang bediri tepat di sampingnya.
Sementara itu, Zeel yang terus di acuhkan menjadi bertanya-tanya.
Apakah aku berbuat kesalahan kepadanya? batin Zeel.
Tap, tap, tap ….
Clare berjalan di atas bebatuan, batu-batu itu Nampak besar serta licin.
Akibat air yang begitu jernih, bebatuan itu begitu jelas di mata Clare.
Tap ….
Clare menginjakan kaki kanannya pada salah satu batu.
Gyuuut ….
Clare kaget, batu yang menjadi pijakan kaki kanannya begitu licin.
Gawat! batin Clare.
Kehilangan kontrol keseimbangan akan tubuhnya, Clare terjauh ke belakang.
Pluk ….
Clare merasakan ada sesuatu yang menahan tubuhnya dari belakang.
“Clare tidak apa-apa?”
Terdengar oleh Clare suara Zeel.
Clare menoleh.
“Tidak apa,” tutur Clare pelan.
Usai menyelamatkan Clare, mereka berjalan mendekati daratan sembari bergenggaman tangan.
Terasa oleh Zeel, sensasi
dingin pada tangan kiri Clare.
Setibanya pada tepian sungai, Clare melepaskan genggaman tangan Zeel dari tangannya.
Kontak mata tidak terjadi di antara mereka, Zeel sejak tadi menatap Clare namun Clare tidak menatap
balik.
“Aku kembali dulu,” ucap Clare pelan.
Zeel berkata, “iya.”
Tap, tap, tap ….
Clare berjalan menjauhi Zeel, mendekati kereta chobo.
..."Apakah aku berbuat kesalahan kepadanya?"...
...-Zeel-...