Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 35 : Aysila



2 oktober tahun 1700.


Desa Bosa, Kerajaan Rout.


Malam itu seorang gadis sedang berdiri di sebuah tepian danau.


Aysila nama gadis itu, lehernya mendongkak ke langit.


Matanya yang abu bersinar menatap rembulan dingin.


Baju Aysila terlihat sedikit kumuh, tetapi cukup bersih.


Kedua kaki Aysila sedikit terhisap ke tanah, pasir putih diinjaknya.


Permukaan danau begitu tenang, kini


air danau memenuhi pandangan Aysila.


Sinar bulan dengan pesona dinginnya


menyinari permukaan danau.


Pada tepian sungai, pepohonan menjulang tinggi, terkadang pepohonan bergoyang akibat monster ada di dalam sana.


Permukaan danau layaknya kanvas bagi


bulan, pada permukaan tepian danau, bulan melukiskan pepohonan.


Tidak ada seorangpun di sana, Aysila


hanya sedang seorang diri.


Tes ….


Air mata Aysila menetes, sekarang


kedua pipinya sedikit basah.


Tap, tap, tap ….


Dengan pandangan kosong Aysila


melangkah lurus ke depan.


Kedua kaki Aysila meninggalkan jejak


pada tanah yang dilaluinya.


Clup ….


Kaki kanan Aysila kini masuk ke dalam


air, dalam sekejap sandal yang Aysila kenakan menjadi basah.


Wushhh …


Angin tengah malam berhembus.


Menerima terpaan angin, badan Aysila


sedikit bergetar.


Clup ….


Asysila mencelupkan kaki kirinya.


Tap, tap, tap ….


Langkah kaki Aysila sama sekali tidak menunjukkan keraguan, ia terus berjalan di antara dinginnya air danau.


Kini separuh tubuhnya berada di dalam air, Aysila sudah berdiri tepat di tengah danau.


Kemudian Aysila mengangkat kedua tangannya ke atas, tangan kirinya tampak memegang sebuah pisau kecil.


Tidak begitu tajam, pisau itu cukup kuat untuk memotong sayuran hijau.


Sreeet ….


Aysila menyayat tipis jari tengahnya, seketika darah merah cukup kental mengalir dari jari tengahnya.


Clup, clup, clup ….


Tiga tetes darah segar Aysila mendarat secara berurutan ke permukaan air, lalu memudar perlahan menyatu dengan dinginnya air danau.


Cring ….


Tiba-tiba cahaya merah mengelilingi Aysila, cahaya merah itu membentuk lingkaran jika dilihat dari atas danau, cahaya merah itu bersinar tetapi tidak cukup terang.


Tetapi cahaya merah tersebut tidak bertahan lama, cahayanya hanya bertahan untuk satu detik.


Baiklah, hari ini aku pikir sudah cukup,batin Aysila.


Aysila perlahan pergi meninggalkan tengah danau, bibirnya tampak gemetar.


Sebagian rambut Aysila basah sebab mengenai permukaan danau.


Setibanya di tepian danau, Aysila berjalan sedikit membungkuk sambil memeluk tubuhnya.


3 oktober tahun 1700.


Desa Bosa, Kerajaan Rout.


Di suatu teras rumah kecil yang tepat berada di pinggiran desa Bosa, seorang pemuda sedang terburu-buru mengikat tali sepatu.


Sepatunya sedikit usang, sebagian kulit di sepatu itu sudah terkelupas.


Bianno nama pemilik sepatu tersebut, ia adalah sosok pemuda yang dipenuhi senyum.


Usai mengikat tali sepatu Bianno berlari, seakan-akan waktu mengejarnya.


Aroma tanah sedikit menempel pada sepatunya yang bau.


Sementara itu di waktu yang sama, Aysila bersama neneknya sedang berdiri di balik bar kedai.


Pagi itu suasana kedai cukup sepi, tidak banyak penduduk desa yang datang di pagi hari.


Suasana ini adalah hal yang sudah bagi Aysila dan neneknya.


Sinar matahari pagi masuk melalui


jendela, meyinari sebagian meja yang sudah Aysila bersihkan sebelumnya.


kayu yang sedikit basah.


Sambil mengusap piring Aysila memandang ke sebuah keranjang kayu yang ada di bar.


Di atas keranjang itu tersisa sebuah


roti lapis selai buah arpabica.


Apakah hari ini dia tidak datang? tanya Aysila dalam batinnya.


Kreek ….


Tiba-tiba dari arah pintu, Aysila mendengar pintu terbuka.


Benar adanya pintu kedai terbuka, di sana Bianno sedang berdiri sedikit membungkuk.


Nafas Bianno sedikit berat, ia seperti orang yang baru saja mengikuti lomba lari, dahinya sedikit berkeringat.


"Selamat pagi Aysila, selamat pagi nenek," sapa Bianno.


"Selamat pagi," jawab Nenek Aysila dengan mata sedikit tertutup.


Berbeda dengan Aysila, pandangan sang nenek sudah terbatas sehingga ia hanya mengenai suara saja.


“Bianno kamu hampir terlambat, hampir


saja roti kesukaanmu habis!” seru Aysila.


Aysila tampak sedikit marah, tetapi


sebenarnya ia menantikan kedatangan Bianno.


Bianno duduk di salah satu kursi bar sambil memperhatikan Aysila sedang bekerja.


Hap ….


Bianno melahap satu-satunya roti lapis selai buah arpabica, satu-satunya yang tersisa pada pagi hari itu.


Meskipun keadaan kedai pada pagi hari cukup sepi, tetapi roti lapis selai buah arpabica selalu laris untuk dibawa pulang atau ke tempat bekerja.


Seperti biasa, enak! Seru Bianno.


“Kamu sepertinya tidak pernah bosan dengan roti itu?” tanya Aysila.


“Tentu saja, soalnya roti buatanmu


pasti selalu enak!” puji  Bianno.


“Apa yang kamu katakan, biasa saja”


kata Aysila.


Usai melahap roti hingga habis, Bianno melihat Aysila yang tampak begitu sibuk mengusap piring.


“Apakah perlu aku bantu?” tawar Bianno.


Aysila menoleh lalu tersenyum kecil.


“Tidak apa, aku baik-baik saja,” jawab Aysila.


Terpandang oleh Bianno, kantung mata Aysila yang sedikit menghitam.


Bianno seketika berenti mengunyah roti.


“Aysila apakah kamu kurang tidur?” tanya Bianno.


“Ah, begitulah,” jawab Aysila.


Bianno kembali mengunyah roti dan bertanya, “Apakah karena terlalu sibuk?”


Seketika Aysila berhenti menghusap piring.


“Jika kamu membutuhkan bantuan, bilang


saja kepadaku,” pinta Bianno.


“Baiklah, bukannya kamu pagi ini harus membersihkan lahan milik tuan Bosios?" tanya Aysila.


Seketika Bianno berhenti mengunyah roti dan menatap Aysila dengan mata lebar.


"Ah iya, aku hampir saja lupa," ucap Bianno.


Sama seperti kebanyakan penduduk desa, Bianno adalah seorang petani.


Lagi-lagi sama seperti kebanyakan penduduk desa, Bianno tidak memiliki lahan sendiri sehingga ia harus bekerja untuk tuan pemilik tanah.


"Aku pergi dulu, terima kasih sudah mengingatkan," tutur Bianno.


Kemudian Bianno pergi meninggalkan Bar untuk pergi ke lahan bersama sisa roti dibibirnya.


Siang hari itu itu pelanggan bar Aysila datang cukup banyak sebagian dari mereka sedikit kotor, tanah liat menempel di baju mereka


akibat bekerja di lahan.


Aysila tampak kewalahan, neneknya yang sudah berumur menjadi jauh lebih lamban.


Asyila berbagi tugas dengan neneknya.


Biasanya nenek Aysila berada di balik bar, menuangkan anggur ke dalam gelas kayu, menyiapkan roti lapis.


Sementara Aysila mengantarkan pesanan ke meja, berjalan mengelilingi bar sebenarnya tidak begitu jauh, tetapi kehadiran pelanggan yang silih berganti membuat Aysla menjadi sering berkeliling.


Sejak kecil melakukannya kaki Aysila menjadi terbiasa dan cukup kuat.


Terkadang Aysila mencuci piring di dapur, terkadang Aysila pergi ke bar membantu neneknya meniapkan roti lapis atau minuman, terkadang piring di dapur menumpuk.


Aysila memang kewalahan, tetapi ketidakhadiran neneknya membuat Aysila lebih kewalahan.


Memang Aysila paham apa yang harus ia lakukan di bar, mengambil roti dari Gudang, mengoleskan selai ke roti lalu menutup roti dengan roti lainnya.


Mengambil anggur dari gudang dan memutar kerannya ke dalam gelas kayu.


Tetapi tangan Aysila tidak secepat tangan neneknya ketika masih lebih muda, Aysila punya bayangan itu ketika dirinya masih kecil.


..."Roti lapis selai buah arpabica terbaik!"...


...-Bianno-...