
*Catatan penting : bagian tambahan dewa ini merupakan buku dewa yang Zeel baca di perpustakaan istana Bluelight, jika tidak berminat silahkan di lewati saja, terima kasih, selamat membaca.
Lalu dewi Athena mengelus kepala bayi manusia itu dengan lembut.
Beberapa tahun berlalu semenjak hari itu, kini jumlah makhluk hidup baik yang ada di daratan, udara, maupun air semakin meningkat jumlahnya.
Pada hari itu dewi Athena sedang duduk di bawah pohon rindang.
Hewan-hewan yang ada di sekitar datang menghampiri dewi Athena.
Tampak dewi Athena sedang mengelus-elus hewan-hewan itu dengan lembut.
Suasana hari itu begitu tenang, matahari bersinar dengan teriknya.
Tiba-tiba dari kejauhan, tampak sesuatu sedang berlari mendekati dewi Athena.
Sosok itu adalah Eve sang manusia pertama, ia berlari menghampiri dewi Athena sembari
melambai-lambaikan tangannya.
Pada saat itu Eve bukan bayi lagi, melainkan anak perempuan.
Sebagian tubuh Eve tampak tertutup oleh dedaunan.
“Dewi!" tutur Eve dengan nada tinggi.
Eve tampak tersenyum sembari melambaikan tangannya.
Kini Eve tiba di hadapan dewi Athena, napas Eve terdengar berat, karena berlari ia kelelahan.
“Duduklah,” tutur dewi Athena.
Kemudian Eve duduk di permukaan rerumputan hijau, tepat di hadapan dwei Athena.
Dewi Athena bertanya, “Eve … kenapa kamu menutupi dirimu dengan dedaunan itu?”
“Ah ini … dedaunan ini melindungiku dari sengatan panas dan dinginnya udara,” jelas Eve.
Dewi Athena berkata, “jadi begitu.”
Lalu dewi Athena tersenyum kecil, ia merasa senang makhluk ciptaannya berakal.
“Selain itu … baju ini terlihat indah kan dewi? tanya Eve.
Selepas itu Eve bangkit berdiri lalu berputar-putar di hadapan dewi Athena.
Eve ingin menunjukkan dedaunan yang ia kenakan pada bagian tubuhnya, Eve merancang daun sedemikian rupa sehingga enak untuk di pandang.
“Begitu indah,” tutur dewi Athena.
Kemudian Eve kembali duduk di hadapan dewi Athena.
“Dewi …,” tutur Eve dengan nada rendah.
“Kenapa?” tanya dewi Athena.
Eve sedikit menundukan kepala.
Eve berkata, “aku kesepian … binatang maupun tumbuhan tidak dapat berbicara denganku.”
“Jadi begitu … berdirilah,” tutur dewi Athena.
Selepas itu Eve bangkit berdiri diikuti dewi Athena.
“Eve … bentangkan kedua telapak tanganmu ke arah atas,” perintah dwei Athena.
Lalu Eve membentangkan kedua telapak tangannya menghadap ke atas.
Kemudian dewi Athena membentangkan kedua tangannya, kini kedua telapak tangan dewi
Athena menghadap ke telapak tangan Eve.
Selepas itu partikel-partikel kecil muncul di antara telapak tangan dewi Athena.
Partikel pertikel itu berwarna hijau serta memancarkan cahaya begitu silau.
Eve yang tidak sanggup menatap sinar itu menutup pandangannya untuk beberapa saat.
Pada kedua tangan Eve, ia merasakan ada beban.
Lalu Eve kembali membuka matanya.
Tampak di kedua tangannya sosok makhluk berukuran kecil.
Makhluk itu memiliki kulit sedikit kemerahan dengan tekstur begitu halus.
Eve memperhatikan lebih lanjut sosok yang sedang ia angkat, makhluk ini menyerupai dirinya hanya saja lebih kecil.
“Dewi … ini apa?” tanya Eve tampak bersemangat.
Dewi Athena menjawab, “ini adalah manusia ... sama seperti dirimu.”
“Kecil sekali … begitu imut,” kata Eve.
“Sama seperti dirimu … manusia ini akan terus bertumbuh, suatu saat kamu akan mampu berkomunikasi dengannya,” tutur dewi Athena.
“Terima kasih dewi,” ucap Eve.
“Aku beri nama manusia mungil ini Adam,” ucap dewi Athena.
“Adam,” kata Eve.
"Bayi ini akan menjadi temanmu," ucap dewi Athena.
"Teman?" tanya Eve.
"Teman adalah hubungan saling berbagi," tutur dewi Athena.
"Berbagi?" tanya Eve tampak kebingungan.
Dewi Athena berucap, "seiring berjalannya waktu ... kamu akan mengerti."
“Karena manusia ini masih belum bisa mengurus dirinya sendiri … untuk beberapa waktu aku akan membesarkannya,” tutur dewi Athena.
Kemudian Eve menyerahkan manusia mungil itu kepada dewi Athena.
“Dewi … apa aku boleh untuk mengunjunginya?” tanya Eve.
“Boleh saja,” jawab dewi Athena.
Kini Eve begitu senang.
Satu abad berlalu sejak hari itu, kini dewi Athena sedang berdiri di antara dua buah kuburan.
Dewi Athena menoleh ke sisi kanannya, tertulis Eve pada batu lisan makam itu.
Kemudian dewi Athena melayang ke udara.
Terpandang di sekelilingnya peradaban manusia.
Peradaban itu begitu indah, rumah-rumah tertata sedemikian rupa berdiri dengan begitu megahnya.
Dewi Athena memandang lebih jauh ke sekitar, tepandang olehnya sebuah benteng besar
sedang mengelilinginya.
Itulah benteng Eve, benteng pertama umat manusia.
Hari itu matahari bersinar terang, senyuman tersebar di seluruh penjuru benteng itu.
Kemudian dewi Athena terbang menuju tengah benteng.
Terlihat olehnya sebuah bangunan yang begitu besar dan megah.
Itulah istana Eve, istana pertama umat manusia.
Istana Eve dikelilingi oleh benteng tinggi menjulag ke atas, dengan menara pengawas
dari seiap sudutnya.
Istana itu begitu megah, terdiri dari beberapa lantai, pada salah satu lantai istana terdapat sebuah balkon.
Lalu dewi Athena terbang menuju balkon istana itu.
Setibanya di balkon istana, dewi Athena segera memasuki istana.
Terpandang olehnya singgasana megah.
Terdapat dua buah kursi pada singgasana itu, masing-masing dari kursi itu berwarna emas
dan berkilau.
Dewi Athena menoleh ke sisi kiri dan kanannya, terpandang olehnya sejumlah orang berzirah, mereka sedang sujud menghadap dewi Athena.
Dari hadapan dewi Athena terdengar langkah kaki sedang menghadapinya.
Suara langkah kaki itu berasal dari Eriksen dan Natasya, mereka adalah Raja dan Ratu istana Eve.
“Selamat datang dewi,” tutur Raja Eriksen.
Lalu raja Eriksen bersujud di hadapan Dewi Athena, diikuti oleh Natasya sang ratu istana Eve.
“Ada apa dengan kedatangan dewi kemari,” tutur Ratu Eve sembari bersujud.
Dewi Athena berkata, “wahai anakku Eriksen dan Natasya … angkat kepala kalian.”
Lalu Raja Eriksen dan Ratu Natasya bangki dari sujudnya.
“Tidak ada hal khusus dalam kedatanganku kemari anak-anakku,”
Tiab-tiba dari langit terdengar saura gemuruh diiringi hujan lebat.
Beberapa saat kemudian terdengar sesuatu terjatuh dari langkit.
Spontan dewi Athena menoleh ke arah sumber suara.
Sebelum suara gemuruh terjadi, aktivitas para penduduk kota benteng Eve berjalan normal.
Jalanan kota diramaikan oleh suara langkah kaki penduduk, para penduduk sedang saling bercengkrama.
Namun kini suasana menjadi heboh seketika setelah gemuruh diiringi hujan lebat tejadi.
Para penduduk yang ketakutan kini seang berlarian untuk menghindari hujan lebat yang terjadi secara seketika.
Di antara keramaian penduduk yang sedang berlari, seorang anak laki-laki terpisah
dari ibunya.
“Ibu!”
“Ibu!”
“Ibu di mana?”
Seru anak itu namun tidak ada jawaban.
Orang-orang di sekitarnya tidak memperhatikan.
Semua sibuk menjauhi diri dari hujan lebat.
Karena kepadatan orang di sekelilingnya, anak itu tidak sengaja tersenggol lalu jatuh ke permukaan tanah.
Aw ....
Anak itu tampak kesakitan.
Kini kedua lututnya terluka akibat tergesek jalanan batu.
Anak itu tiba-tiba mendengar sesuatu dari belakangnya.
Gedebum ....
Seperti sesuatu terjatuh dari atas.
Krak ....
Anak itu mendengar suara retakan dari belakangnya
Segera anak laki-laki itu menoleh ke belakang.
Terpandang olehnya sosok menyerupai manusia dengan badan kekar.
Anak laki-laki itu memandang sedkit lebih tinggi ke atas.
Terlihat olehnya sosok itu memiliki sepasang mata dengan warna berbeda.
Mata kiri sosok tersebut berwarna hijau sementara mata kanannya berwarna merah.
Kedua pasang mata sosok itu sama-sama memancarkan cahaya.
..."Teman adalah hubungan saling berbagi."...
...- Dewi Athena-...