
“Tidak apa-apa … aku juga baru saja datang,” ucap Delmon.
Huuuf ….
Bendetta menghembuskan napas lega.
“Syukurlah,” kata Bendetta.
Delmon berbohong, ia sudah tiba jauh lebih awal.
Dengan kebohongan ini, Delmon tidak ingin membuat Bendetta merasa bersalah.
“Maaf!” seru Delmon.
Menerima permintaan maaf Delmon, Bendetta sontak kaget.
“Kenapa Delmon minta maaf?” tanya Bendetta.
Terpandang oleh Bendetta, Delmon sedang
menggaruk-garukan rambut
Delmon berkata, “meskipun aku yang mengajakmu untuk pergi ke luar … tapi aku tidak tahu kita harus ke mana.”
Hahaha ….
Sontak Bendetta tertawa, Bendetta pikir ada apa, ternyata hanya hal sepele bagi Bendetta.
Di sisi lain, Bendetta paham bahwa Delmon bukan penduduk asli kota benteng Haven.
“Kalau begitu … aku yang sudah lama tinggal di sini akan membimbingmu, ayo ikuti aku” ajak Bendetta.
Kemudian Bendetta berpaling lalu berjalan menuju wilayah perbelanjaan.
Tanpa bertanya, Delmon mengikuti Bendetta dari belakang.
Beberapa saat berlalu, kini Bendetta dan Delmon sudah tiba pada gerbang wilayah perbelanjaan.
Tanpa pintu, gerbang wilayah perbelanjaan tampak berdiri megah.
Kala itu salju turun dengan intensitas rendah, suasana wilayah perbelanjaan sedang ramai di kunjungi penduduk lokal.
Lampu pada bagian depan teras toko-toko, menerangi sepanjang jalan wilayah perbelanjaan.
Pada malam hari, jalanan wilayah perbelanjaan sedikit menciut, hal ini terjadi karena maraknya tenda berukuran kecil.
Tenda itu adalah milik pedagang-pedagang keliling, dari berbagai belahan dunia.
Alhasil apa yang di jajakan para pedagang begitu
bervariatif, mulai dari makanan, aksesoris hingga permainan.
Kini Bendetta dan Delmon sedang berdiri berseblahan pada gerbang wilayah perbelanjaan.
Nampak di sekitar mereka, orang lalu lalang.
Sadar akan ramainya wilayah perbelanjaan, Bendetta mencengkram bagian belakang mantel yang Delmon kenakan.
Sontak Delmon menoleh ke belakang, terlihat olehnya Bendetta yang sedang menundukkan kepala dengan pipi yang memerah.
Andai saja kami pegangan tangan,batin Delmon sembari menatap Bendetta.
Sadar dirinya sedang ditatap, Bendetta kemudian menatap Delmon untuk beberapa detik, lalu ia kembali menundukkan kepala.
Andai saja kami pegangan tangan, batin Bendetta sembari menatap jalan bebatuan.
“Ayo kalau kita masuk,” ajak Delmon.
Bendetta menganggukkan kepala.
Tap, tap, tap ....
Kemudian Delmon dan Bendetta berjalan beriringan.
Setibanya di wilayah perbelanjaan, berbagai keramaian yang ada di sana mencuri perhatian mereka.
“Domba panggang … enak dan murah!”
“Vas ini … langka!”
“Cobalah permainan ini!”
Terdengar oleh Delmon dan Bendetta, banyak pedagang yang sedang mempromosikan dagangannya.
Sembari berjalan dan menatap sekitar, Bendetta masih belum melepaskan genggamannya pada mantel Delmon.
Tiba-tiba seorang laki-laki dewasa datang menghampiri Delmon.
“Tuan … apakah tuan tertarik dengan permainan panah?” tanya laki-laki itu.
“Tertarik!” seru Delmon.
Tanpa berpikir panjang, Delmon menerima ajakan pria itu.
Sulit bagi Delmon menolak ajakan sesuatu yang berbau panahan.
Kemudian Delmon berpaling kepada Bendetta.
“Bagaimana?” tanya Delmon.
“Aku tidak keberatan,” jawab Bendetta.
Selepas itu Delmon dan Bendetta mengikuti pria itu dari belakang, hingga mereka tiba di hadapan sebuah tenda.
Tampak tertutup, Delmon dan Bendetta tidak bisa melihat ke dalam tenda.
Kemudian pria itu membuka tenda dari luar.
“Silahkan masuk,” pinta pria itu.
Secara berurutan, Delmon dan Bendetta masuk ke dalam tenda.
Sementara itu, pria yang mengajak mereka tidak ikut masuk ke dalam.
Setibanya di dalam terpandang oleh Delmon, seorang pria sedang berdiri di hadapan sebuah meja kayu.
“Selamat datang tuan dan nyonya,” ucap pria itu.
Sembari menghampiri pria itu, Delmon diikuti Bendetta.
Suasana tenda tampak begitu hening.
Pencahayaan seadanya yang hanya mengandalkan sejumlah lilin kecil.
“Perkenalkan nama saya Valez, sang pedagang keliling,” ucap Valez.
Terlihat di hadapan Delmon, seorang pria buncit dengan baju tebal serta berkumis.
Delmon menatap pada sisi lain tenda, nampak sebuah rak kayu berisikan berbagai benda tertata rapi.
Delmon bertanya sembari menatap rak, “ini apa?”
“Ini adalah permainan memanah … apakah tuan tertarik untuk mencobanya?” tanya Valez.
“Bagaimana dengan nona?” tanya Velz sembari menatap Bendetta.
“Aku … tidak, aku hanya akan melihat.” Kata Bendetta.
Valez berkata, “baiklah.”
Kresek, kresek, kresek ….
Kemudian Valez nampak sedang mencari sesuatu pada bawah meja.
Lalu Valez mengeluarkan sebuah panah lalu meletakannya pada meja.
Terlihat oleh Delmon, sebuah panah kayu.
Berbeda dengan panah yang sering Delmon kenakan, panah itu tampak berkualitas rendah.
“Tuan ingin berapa anak panah?” tanya Vlez.
Delmon bertanya balik, “harganya berapa?”
“Satuan, lima puluh mora.” Jawab Valez.
“Kalau begitu … aku pesan dua,” pinta Delmon.
Yang benar saja … mana mungkin ia akan mengenai terget dalam dia bidikan, batin Valez.
“Tunggu sebentar tuan,” ucap Valez.
Kresek, kresek, kresek ….
Valez mengeluarkan dua anak panah dari bawah meja.
Lalu Delmon meraih panah dan anak panah yang di berikan padanya.
Pada kedua anak panah, Delmon merasakan ada sesuatu yang aneh.
Ada yang aneh dengan kedua anak panah ini, batin Delmon
Untuk beberapa saat, Delmon hanya terdiam sembari menatap anak panah.
Sadar akan itu, Bendetta bertanya.
“Kenapa Delmon?” tanya Bendetta.
“Tidak apa,” jawab Delmon.
Kemudian Delmon tersenyum sembari menatap Bendetta, lalu ia mengalihkan pandangannya kepada rak bidikan.
Syuuut ….
Delmon menarik anak panah, kemudian membidik.
Wuuushhh ….
Busur panah meluncur cepat.
Cepat! batin Valez.
Pertama kali bagi Valez, panah meluncur di hadapannya dengan kecepatan begitu tinggi.
Anak panah meluncur lulus ke arah sebuah guci, benda termahal yang ada di rak.
Tiba-tiba anak panah yang Delmon luncurkan menukik ke bawah.
Aneh, batin Delmon.
Huuuff ….
Valez menghembuskan napas lega.
Syukurlah, batin Valez.
Sudah pasti bukan angin, ruangan ini tetutup, batin Delmon.
Delmon menatap Valez, lalu ia tersenyum.
“Semoga beruntung tuan!” seru Valez.
Semoga gagal! batin Valez.
Delmon kembali mengalihkan pandangannya ke rak bidikan.
Syuuut ….
Delmon menarik anak panah, siap untuk di luncurkan.
“Bendetta ingin apa?” tanya Delmon.
Bendetta menjawab, “mungkin … boneka.”
“Tunggu sebentar,” tutur Delmon.
Berbeda dengan sebelumnya, Delmon sedikit membidik ke atas.
Jangan-jangan! batin Valez.
Wuuushhh ….
Anak panah yang lontarkan meluncur dengan cepatnya.
Pria ini hebat ya, batin Valez.
Meskipun sudah dua kali melihat Delmon meluncurkan anak panah, ia masih takjub.
Secara perlahan, anak panah yang Delmon luncurkan, secara perlahan menukik ke bawah.
Jleeeb ….
Anak panah itu mengenai salah satu barang yang ada di rak, bukan barang mahal hanya boneka.
Huuuf ….
Valez menghembuskan napas lega, ia bersyukur anak panah Delmon tidak mengenai benda termahal yang ada di sana.
Prok, prok, prok ….
Bendetta tepuk tangan.
“Hebat!” tutur Bendetta.
Beberapa saat berlalu, kini Delmon dan Valez berdiri berhadap-hadapan.
“Ini,” tutur Valez.
Dengan senyuman di wajahnya, Valez menyerahkan boneka.
Tidak asing bagi Delmon, boneka itu menyerupai monster elemental.
..."Akurasi di butuhkan dalam memanah"...
...-Delmon-...