Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 22 : Bendetta dan Delmon



Kini Bendetta kecil sedang duduk pada rerumputan hijau.


Lima tahun berlalu semenjak ia kehilangan kedua orang tuanya.


Ingatan itu masih sangat membekas dalam pikiran Bendetta kecil.


Sembari menatap langit, pandangan Bendetta kecil tampak begitu kosong.


Sementara itu, pengasuh gereja mengamati Bendetta kecil dari kejauhan.


Merasa khawatir, pengasuh gereja menghampiri Bendetta kecil.


“Bendetta?” ucap pengasuh gereja itu.


Terpandang oleh Bendetta seorang wanita dewasa dengan pakaian serba hitam datang menghampirinya.


Tidak asing bagi Bendetta kecil, wanita itu adalah pengasuhnya selama lima tahun ke belakang.


Entah kenapa, semakin lama Bendetta menatap pengasuh wanita itu, ia melihat Anthony.


“Jangan!” seru Bendetta kecil.


Seketika keringat dingin mengalir dari tubuh Bendetta kecil.


Pengasuh itu bertanya, “kenapa Bendetta?”


“Jangan dekati aku!” seru Bendetta.


Di mata Bendetta kecil, pengasuh wanita tersebut adalah Anthony.


Aaarghh ….


Jerit Bendetta kecil.


Merasa khawatir, pengasuh wanita itu ingin menyentuh Bendetta.


Tap, tap, tap ….


Sadar akan itu, Bendetta segera lari bersama rasa takutnya meniggalkan gereja Freudenberg.


“Bendetta!” seru pengasuh itu.


Terpandang oleh pengasuh wanita tersebut, sosok Bendetta kecil sedang lari terbirit-birit.


Bendetta kecil terus berlari tanpa tujuan arah yang jelas, entah seberapa jauh ia berlari.


Langkah kaki Bendetta kecil terhenti ketika ia melihat sungai kecil di hadapannya.


Sungai itu tampak dangkal serta arusnya tenang.


Melalui airnya yang jernih, sungai tersebut menampakkan permukaanya berupa bebatuan kecil dalam jumlah banyak.


Melihat arus sungai yang tenang, perasaan Bendetta perlahan tenang.


Warga sekitar menamai sungai itu Donetsk.


Melihat air sungai secara terus menerus insting bermain Bendetta kecil bangkit.


Clup, clup ….


Bendetta kecil mencelupkan kedua kakinya pada permukaan air sungai.


Dingin sekali, batin Bendetta kecil.


Seketika Bendetta kecil merasakan sensasi dingin pada kedua kakinya.


Sembari mengangkat roknya, Bendetta kecil berjalan di antara air.


Dingin … tapi menyenangkan, batin Bendetta kecil.


Pada saat yang bersamaan, Delmon kecil sedang dalam perjalanan bersama ayahnya.


Kini Delmon kecil sedang mendorong gerobak ayahnya dari belakang, pada saat yang bersamaan, ayah Delmon menarik gerobak dari sisi depan.


Masa kecil yang normal bagi Delmon kecil, ayahnya merupakan pedagang keliling.


Sembari terus medorong gerobak dagangan ayahnya, Delmon menatap sekitar guna membunuh rasa jenuh.


Terpandang oleh Delmon seorang gadis sebaya dengannya sedang bermain pada permukaan sungai.


Gadis itu tampak mengenakan daster berwarna putih serta memilki rambut panjang sebahu berwarna cokelat.


Seketika langkah Delmon kecil terhenti.


Sadar akan itu, ayah Delmon menoleh ke belakang.


“Kenapa Delmon?” tanya ayah Delmon.


Tanpa menatap ayahnya Delmon berkata, “Ayah … aku pergi bermain dulu.”


“Dasar … yasudah, jangan jauh-jauh," tutur Ayah Delmon.


Dengan segera Delmon kecil menghampiri gadis itu. sementara ayahnya melanjutkan perjalanan menuju desa Freudenberg.


Kini Bendetta kecil sedang menatap permukaan, ikan-ikan kecil pada permukaan sungai menarik perhatian Bendetta kecil.


Berusaha menangkap ikan-ikan kecil itu, Bendetta kecil tampak serius.


“Apa yang kamu lakukan?”


Terdengar oleh Bendetta kecil suara laki-laki.


Bendetta kecil kaget, lalu ia menoleh.


Terlihat oleh Bendetta kecil, seorang lelaki kecil sebaya dengannya sedang berdiri pada tepian sungai.


Anak laki-laki itu tampak mengenakan pakaian pakaian lengan panjang berwarna abu-abu dan celana panjang berwarna hitam, rambutnya berwarna cokelat dengan gaya belah tengah.


Dengan segera Bendetta kecil memalingkan wajahnya.


Bendetta kecil hanya diam.


Clup, clup ….


Sadar dirinya diacuhkan, Delmon kecil


mencelupkan kedua kakinya pada permukaan kecil.


Lalu Delmon kecil menghampiri Bendetta kecil, kini mereka berdiri berseblahan.


Delmon kecil menatap permukaan air, ia melihat batu berbentuk aneh.


Clup ....


Delmon kecil mencelupkan tangan kanannya.


Lalu Delmon kecil mengambil batu aneh


itu, kemudian ia menyodorkan batu aneh tersebut kepada Bendetta dengan tangan


kiri.


Bendetta menatap batu yang Delmon kecil sodorkan padanya.


“Benar!” seru Bendetta kecil.


Terpandang oleh Delmon kecil, mata Bendetta kecil yang berbinar-binar.


Tujuan Delmon tercapai.


“Namaku Delmon … nama kamu?”” tanya Delmon.


Bendetta kecil memalingkan pandangannya.


“Ben …,” ucap Bendetta dengan nada rendah.


Delmon bertanya, “Ben?”


“Bendetta,” tutur Bendetta dengan nada rendah.


Suasana hening untuk beberapa saat, Delmon menurunkan tangan kirinya.


Delmon kecil menatap Bendetta kecil secara terus-menerus, sementara itu Bendetta kecil mengacuhkannnya.


“Ingin lihat?” kata Delmon sembari menyodorkan kembali batu aneh.


Kemudian Bendetta kecil mengarahkan tangan kanannya secara perlahan guna menerima batu aneh itu.


Hap …


Seketika tangan kanan Delmon menyambar


tangan kanan Bendetta.


Sontak Bendetta kecil kaget.


“Salam kenal!” seru Delmon kecil sembari tersenyum.


Lalu Bendetta kecil sedikit menundukkan kepala.


Dengan nada rendah Bendetta kecil berkata, “sa … salam kenal.”


Itulah awal dari pertemanan Bendetta dan Delmon.


Pertemanan mereka terus berlanjut.


Setiap ayah Delmon mampir ke desa Freudenberg, Delmon kecil selalu menggunakan kesempatan itu untuk bertemu dengan Bendetta


kecil.


Sementara itu, Bendetta kecil selalu memanfaatkan kelengahan pengasuh gereja untuk bertemu dengan Delmon kecil.


Hari-hari mereka habiskan dengan bermain bersama.


27 april tahun 1685, sungai Donetsk, desa


Freudenberg, wilayah netral.


Matahari sore menyinari sungai Donetsk.


Pada saat itu Delmon kecil dan Bendetta kecil sedang bermain bersama.


Pada dasar sungai Donetsk yang dangkal, mereka mencari batu sungai.


Siapa yang mendapatkan batu aneh terlebih dahulu ialah pemenangnnya, begitulah aturan permainan ini.


Terpandang oleh Delmon kecil, sosok Bendetta kecil yang sedang fokus menatap dasar sungai.


Terpintas di pikiran Delmon kecil, untuk berbuat nakal kepada Bendetta kecil.


Byuuur ….


Delmon kecil mencipratkan air sungai ke arah Bendetta.


Tidak sadar akan itu, Bendetta kecil terkena cipratan air sungai.


“Dingin!” seru Bendetta kecil.


Bendetta kecil tampak kaget, kini ia memandang Delmon kecil dengan wajah kesal.


Byuuur ….


Bendetta kecil membalas perlakuan Delmon kecil.


Tidak berhenti sampai di situ, jual beli cipratan air terus terjadi untuk beberapa saat.


Permainan saling mencipratkan air menjadi permainan baru bagi Delmon kecil dan Bendetta kecil.


Sesekali mereka tertawa.


Hingga mereka berdua sadar pakaian yang mereka kenakan sudah basah kuyup.


“Gawat!” seru Bendettta kecil.


Delmon kecil bertanya, “kenapa Bendetta?”


“Kita sudah basah kuyup,” ujar Bendetta kecil.


Kemudian Delmon kecil menundukkan kepala, terlihat olehnya keadaan pakaian yang ia kenakan sudah basah kuyup.


“Benar,” kata Delmon kecil.


Bendetta kecil berkata, “Delmon … mari kita pergi ke tepian sungai.”


Setibanya di tepian sungai, mereka duduk pada rerumputan.


Sembari menatap sungai, mereka berbincang.


“Gawat … jika ayah melihat ini pasti ia akan memarahiku,” ujar Delmon kecil.


“Aku juga … pasti pengurus gereja akan memarahiku,” kata Bendetta kecil.


Delmon kecil berkata, “Kalau begitu … mari kita tunggu hingga kering.”


“Iya,” ucap Bendetta kecil


Suasana hening untuk beberapa saat.


“Bosan!” seru Bendetta kecil.


Delmon kecil terdiam kebingungan,


“Kalau begitu … mari kita bermain sesuatu!” ajak Delmon.


Bendetta kecil menatap Delmon kecil dengan wajah jenuhnya.


Bendetta kecil bertanya, “bermain apa?”


..."Salam kenal!"...


...-Delmon-...