
Suasana hening untuk beberapa saat, mereka tenggelam di dalam rasa khawatir.
Sadar akan keadaan itu, Sophia ingin mencairkan suasana.
“Oh iya, selagi kalian ada di kota ini … bagaimana kalau jalan-jalan?” tutur Sophia lalu tersenyum kecil.
“Ide yang bagus,” ucap Clare tampak semangat.
Sophia bertanya, “bagaimana denganmu Zeel?”
“Jika Clare pergi maka aku akan pergi,” kata Zeel.
Kemudian Sophia menghampiri Clare lalu bediri tepat di sebelah kiri Clare.
Lalu Sophia menyikut Clare dengan pelan menggunakan sikut tangan kanannya.
“Enak ya … dari mana kamu mendapatkan pria seperti ini?” tanya Clare.
Clare tidak menjawab pertanyaan Sophia, ia sadar Sophia sedang mempermainkannya.
Namun Clare tidak dapat membendung rasa malunya, hal ini terpancar dari pipinya yang memerah.
Setelah itu, Zeel dan Clare serta Sophia sepakat untuk berangkat pada siang hari.
Siang hari tiba, kini Zeel dan Clare serta Sophia berada di dalam kereta chobo.
Berbeda dengan kereta chobo yang sebelumnya Zeel dan Clare kendarai.
Kereta ini jauh lebih mewah serta kursinya jauh lebih empuk.
Selain itu, kereta yang sedang mereka naiki memiliki ruang yang lebih luas.
Kini Clare dan Sophia sedang duduk berhadapan, sementara Zeel duduk tepat di samping Clare.
Kali ini Zeel tidak mengendarai kereta chobo, salah satu prajurit kerajaan menjalankan kereta
ini.
“Aku … pertama kali menaiki kereta chobo semewah ini,” ucap Clare sembari melirik-lirik
sekitarnya.
“Bagaimana?” tanya Sophia.
Clare menjawab, “bagus … di dalam kereta ini terasa nyaman.”
Bagi Zeel, ini juga pengalaman pertamanya menaiki kereta chobo semewah ini.
Berbeda dengan Clare, Zeel nampak terlihat lebih tenang.
Ditenagai oleh dua ekor chobo, pergerakan kereta ini cukup cepat.
Kereta ini tidak berjalan sendiri, tepat pada sisi depan dan belakang kereta terdapat kereta chobo dengan jenis yang sama.
Kedua unit kereta itu berisikan sejumlah prajurit kerajaan Bluelight.
Selepas sedikit berbincang-bincang dengan Sophia, Clare menoleh keluar melalui jendela kereta chobo.
Terlihat oleh Clare sejumlah orang dengan baju tebal sedang berjalan di tepian jalan.
Kebanyakan orang-orang itu melihat Clare dengan tatapan penasaran, seperti biasa Clare
menatap mereka dengan ekspresi marah.
Beberapa saat kemudian laju kereta terhenti.
Sreeet …
Pintu kereta yang mereka kendarai terbuka dari luar.
Zeel melihat seorang prajurit berzirah tebal sedang berdiri di sisi luar pintu kereta.
“Tuan putri … kita sudah sampai,” ucap prajurit berzirah tebal itu.
Sophia berkata, “baiklah.”
Lalu mereka bangkit dari kursi kemudian keluar dari dalam kereta.
Terpandang di sekitar Zeel sejumlah prajurit kerajaan berbaris dengan rapi.
“Kalian tunggu di sini sebentar ya,” tutur Clare.
Selepas itu Sophia pergi sedikit menjauhi Zeel dan Clare.
Tampak seluruh prajurit kerajaan itu menghampiri Sophia.
Dari kejauhan Zeel tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang Sophia sampaikan kepada
prajurit-prajurit itu.
Beberapa saat kemudian Sophia menghampiri Zeel dan Clare, sementara itu seluruh prajurit kerajaan yang bersama mereka pergi entah ke mana.
“Selamat datang di wilayah perbelanjaan,” ucap Sophia.
Selepas itu Zeel dan Clare melihat ke sekitar, tampak banyak toko-toko berjejer di sepanjang
tepian jalan.
Orang-orang disekitar yang tadinya sedang asik berbelanja sekarang tampak mengerumuni
mereka bertiga.
Kini mereka bertiga berada di tengah-tengah sebuah jalan besar.
Sadar akan tatapan yang diterimanya, Clare menghampiri Zeel.
Kemudian Clare bersembunyi di belakang tubuh Zeel.
“Kalau begitu … pertama-tama kita ke toko baju,” usul Sophia.
“Kenapa baju?” tanya Zeel dengan keadaan zirah penuh goresan serta sobek.
Sophia bertanya balik, “kenapa katamu?”
Selepas itu Sophia diikuti Zeel dan Clare masuk ke salah satu toko baju.
Toko itu begitu luas, hanya pakaian terlihat sejauh mata memandang.
Suasana kala itu cukup sepi.
Clare memilih baju ditemani Sophia, sementara Zeel seorang diri.
Tampak Clare membawa jubah hitam dan Zeel yang membawa jubah berwarna hijau tua.
Baik Zeel maupun Clare tidak membeli satu jubah saja, melainkan beberapa jubah sudah ada pada genggaman mereka dengan warna yang sama.
"Apa kalian punya tas?" tanya Sophia.
"Tidak," ucap Zeel dan Clare berbarengan.
"Yang benar saja ... bagaimana kalian akan membawa pakaian sebanyak itu?" tanya Sophia.
Lalu Sophia membimbing Zeel dan Clare pada sebuah rak kayu.
Rak kayu itu berisikan berbagai tas dengan varian harga berbeda.
Rata-rata tas pada toko ini merupakan tas serut.
Agar serasi dengan warna baju mereka, Zeel membeli tas serut berwarna hijau tua sementara Clare berwarna hitam.
Selepas itu mereka membayar di kasir.
Awalnya pemilik toko ingin memberikan pakaian itu dengan cuma-cuma Ketika tahu Zeel dan Clare adalah kenalan Sophia.
Tetapi Zeel dan Clare menolak.
Selepas itu Zeel dan Clare pergi ke ruang ganti untuk mengenakan baju yang baru saja mereka
beli.
Sementara itu Sophia menunggu mereka.
Beberapa saat kemudian Zeel dan Clare menghmpiri Sophia sembari mengenakan baju baru.
Terlihat oleh Sophia sosok Clare yang tampak anggun dengan jubah hitamnya, jubah Clare tampak begitu tebal dan hangat.
Kemudian Sophia menatap Zeel, berbeda dengan Clare jubah Zeel tampak lebih tipis, Zeel tampak keren dengan jubah barunya.
“Bagaimana?” tanya Clare pada Sophia.
“Terlihat cocok denganmu, kamu juga Zeel,” puji Sophia.
“Kamu terlihat cantik dengan jubah itu Clare,” puji Zeel.
Mendengar perkataan Zeel membuat Clare senang, namun disisi lain Clare merasa malu.
Dengan pipi merahnya Clare berkata, “aku tidak bertanya pendapatmu!”
“Baju sudah, tas sudah ... bagaimana kalo kita makan siang,” ajak Sophia.
Beberapa saat kemudian mereka berada di jalanan kota.
Karena begitu bersemangat, tanpa sadar Clare berdiri di paling depan.
Seperti sebelumnya, pandangan seluruh orang di sekitar tertuju pada mereka.
Namun kali ini Clare tidak peduli, kini pikiran Clare lebih fokus ke toko-toko.
La, la, la ....
Clare berjalan sembari bernyanyi.
Sementara Zeel dan Sophia berjalan beriringan.
“Maaf ya … aku mengganggu kencan kalian,” tutur Sophia sembari menatap Zeel.
Zeel membalas, “tidak apa-apa … justru kehadiranmu sangat membantu.”
“Oh begitu,” balas Sophia singkat.
“Sophia … terima kasih ya,” kata Zeel.
“Untuk apa? tanya Sophia Penasaran.
Zeel menjawab, “kamu ingin berteman dengan Clare … ia menanggapmu teman yang berharga.”
“Tidak masalah … Clare anaknya menarik,” ucap Sophia lalu tersenyum kecil.
“Kalian berdua, cepatlah!” kata Clare sembari melambaikan tangannya.
“Baik!” balas Sophia.
Selepas itu mereka tiba di salah satu rumah makan, suasana rumah makan itu cukup sepi.
Tampak sejumlah meja bundar dengan taplak putih tertata rapi.
Serta sebuah lilin yang menyala pada setiap meja makan.
Lalu Zeel, Clare serta Sophia duduk di salah satu meja makan.
Tak lama kemudian, seorang pria dengan pakaian ala pelayan datang menghampiri mereka.
Singkat cerita, makan siang selesai, kini mereka masih duduk di kursi meja makan sembari
sedikit berbincang-bincang.
“Clare kamu suka bunga kan?” tanya Sophia.
“Suka!” balas Clare dengan ekspresi semangat.
Ucap Sophia, “kalau begitu … selanjutnya kita ke toko bunga.”
“Asik,” kata Clare tampak senang.
Sophia bertanya, “Zeel tidak keberatan?”
“Aku tidak masalah,” jawab Zeel.
Sophia berkata, “kalau begitu sudah diputuskan ya.”
Selepas itu mereka pergi ke kasir rumah makan untuk melakukan pembayaran.
Karena Zeel dan Clare kenalan Sophia, pelayan rumah makan tidak ingin mereka bertiga untuk
membayar.
Namun mereka bertiga menolak untuk tidak membayar.
..."Toko bunga!"...
...-Clare-...