
5 september tahun 1700 kota benteng Clever.
Kala itu sedang musim gugur, tetesan air hujan turun di sepanjang hari.
Cuaca dingin menyelimuti seluruh wilayah kota
benteng Clever.
Keadaan seperti ini tidak membatasi aktivitas penduduk Clever.
Kebanyakan penduduk menggunakan payung apabila harus beraktivitas di luar ruangan.
Prajurit Clever melakukan aktivitas latihan
seperti biasa, sebagian ada yang berjaga di gerbang kota.
Aktivitas perdagangan di pasar Clever berlangsung seperti biasanya.
Para pembeli terlihat mengenakan payung.
Para petani cukup di untungkan selama musim
hujan ini, mereka tidak perlu repot-repot menyirami tanaman mereka.
Air hujan sudah lebih dari cukup untuk menyirami tanaman mereka.
Hal ini berbanding terbalik dengan para peternak.
Mereka harus menjaga keadaan tenak mereka supaya tetap dalam keadaan hangat.
Hal ini demi mencegah ternak mereka jatuh sakit.
Hari itu suasana kota benteng Clever berlangsung cukup kondusif.
Namun suasana kondusif tersebut sirna ketika malam di hari itu tiba.
Tidak ada yang menduga hal buruk akan terjadi.
Tepat pukul sebelas malam, Zeel yang sedang
tertidur di kamarnya terbangun karena ketukan pintu.
Tok, tok, tok ....
“Zeel!”
“Bangun Zeel!”
“Ada musuh!”
“Kita di serang!”
Terdengar teriakan dari balik pintu.
Zeel yang mendengar teriakan itu, dengan segera bangkit dari kasurnya.
Kemudian ia membuka pintu, terlihat sosok prajurit dengan zirah serta pedang besi di punggungnya.
“Di mana musuhnya?” tanya Zeel.
“Gerbang barat, sekarang kesatria dengan prajurit lainnya sedang menahan mereka di gerbang barat.”
Zeel bertanya kembali, “siapa musuhnya?”
“Monster … mereka sangat menakutkan,” ucap prajurit tersebut dengan nada gemetar.
Zeel yang medengar akan hal itu, segera bergegas ke gudang senjata untuk mengambil Zirah beserta pedang besinya.
Kemudian ia berlari menuju gebang barat.
Setelah berlari menuju gerbang barat selama
kurang lebih lima menit.
Zeel tiba di gerbang barat, di bawah hujan yang lebat di sertai kilat.
Terjadi pertumpahan darah antara prajurit Clever dengan monster misterius.
Zeel belum pernah melihat monster misterius ini sebelumnya.
Monster misterius tersebut memiliki bentuk fisik yang hampir mirip dengan manusia.
Yang membedakan adalah tinggi, warna
kulit, jumlah mata, serta bentuk tangan.
Tinggi monster misterius tersebut kurang lebih mencapai dua meter, dengan kulit berwarna putih pucat.
Monster tersebut hanya memiliki satu mata,
namun ukuran matanya lebih besar dari ukuran mata manusia normal.
Kedua tangan monster tersebut menyerupai tombak, terlihat sangat tajam.
Meskipun prajurit unit pedang Clever unggul
secara jumlah di bandingkan para monster.
Namun pasukan monster lebih dominan
dalam pertempuran.
Terjadi banyak pertumpahan darah dari unit pedang Clever.
Sementara di sisi monster tak satupun ada yang gugur.
Bagian kulit monster misterius tersebut cukup keras.
Tak satupun tebasan prajurit unit pedang Clever yang berhasil menimbulkan luka berarti.
Di sisi lain tusukan pasukan monster sangat efektif terhadap prajurit unit pedang Clever.
Dengan mudah tangan-tangan pasukan monster yang menyerupai bentuk tombak, menembus zirah besi prajurit unit pedang Clever.
Pertempuran berlangsung begitu cepat,
prajurit unit pedang Clever semakin terdesak.
Di bawah tekanan prajurit unit pedang Clever hanya mampu bertahan.
Dengan kelincahannya Zeel masih mampu bertahan di medan pertempuran, banyak
Hal ini membuat monster misterius semakin mendominasi pertempuran.
Kalah jumlah, membuat Zeel harus berhadapan
dengan dua monster misterius sekaligus.
Melawan dua moster misterius sekaligus
bukan sesuatu yang mudah bagi Zeel, dengan tangan yang menyerupai tombak.
Kedua monster misterius tersebut terus melancarkan serangan bertubi-tubi ke arah
Zeel.
Slash, slash ....
Tebasan pedang besi Zeel tidak begitu efektif.
Tebasan yang Zeel luncurkan hanya menimbulkan goresan tipis pada bagian kulit kedua monster misterius tersebut.
Tak ada opsi lain bagi Zeel selain melindungi
diri.
Zeel di paksa bertahan, menghindari serangan secara terus menerus membuat Zeel kewalahan.
Zeel yang kewalahan menciptakan celah bagi kedua monster misterius tersebut.
Di saat Zeel mengira hidupnya akan berakhir, ia mendengar sesuatu dengan kecepatan tinggi datang ke arahnya.
Seketika busur menancap di mata kedua
monster yang sedang Zeel hadapi.
Kedua monster tersebut nampak berhenti bergerak seketika setelah busur menancap di mata mereka.
Tubuh kedua monster tersebut terpecah menjadi partikel-partikel kecil berwarna putih, kemudian
menghilang di udara seketika.
“Kamu baik-baik saja Zeel?” terdengar suara dari kejauhan.
Zeel yang mendengar suara itu, menoleh ke arah sumber suara.
Dari kejauhan kurang lebih tiga puluh meter di belakang Zeel.
Terlihat Delmon dengan seragam prajurit unit panah Clever, lengkap dengan panah dan beberapa busur.
Delmon tidak datang sendiri, ia datang bersama
prajurit unit panah lainnya.
Zeel berkata, “aku baik-baik saja.”
“Incar bagian matanya!” teriak Delmon.
Keadaan berbalik sejak prajurit unit panah
tiba di medan pertempuran.
Senjata panah lebih efektif melukai area kelemahan musuh di bandingkan senjata pedang.
Berada di bawah pimpinan kesatria, prajurit unit pedang yang masih tersisa berdiri di barisan paling depan untuk melindungi prajurit unit panah.
Di tengah dominasi Zeel, datang seorang prajurit Clever dengan terpincang-pincang ke medan pertempuran.
Kemudian prajurit itu menepuk pundak Delmon dari belakang.
Tak lama setelah menepuk pundak Delmon prajurit itu seketika terkapar tepat di samping kanan Delmon.
“Apa yang terjadi denganmu?” tanya Delmon dengan ekspresi kaget.
Prajurit itu menjawab dengan nafas terengah-engah, “Gerbang Timur….”
Belum selesai kalimatnya, prajurit itu tiba-tiba memejamkan mata dan tak sadarkan diri.
Terlihat oleh Delmon pendarahan berat pada kaki kiri prajurit tersebut.
Delmon yang mendengar kalimat tak utuh itu, menyimpulkan bahwa telah terjadi penyerangan dari arah gerbang timur.
“Zeel, gerbang timur!” teriak Delmon kencang.
Zeel yang mendengar teriakan Delmon,
berlari dengan kencang ke arah Delmon.
“Aku mengandalkanmu,” ucap Zeel sembari berpapasan dengan Delmon.
Kemudian Zeel meninggalkan pertempuran di
gerbang barat dan terus berlari ke arah timur, tak ingin membuang waktu terlalu lama.
Zeel memutuskan untuk melewati rute tercepat, yaitu melewati markas defender tempat sang ayah berada.
Hujan dan petir terus mengiringi lari Zeel,
selama berlari menuju markas defender Zeel bertanya-tanya.
Kenapa shield defender tidak aktif, harusnya shield tersebut aktif di saat situasi seperti
ini.
Setelah berlari cukup jauh Zeel tiba di depan markas defender.
Terlihat jelas oleh Zeel bangunan markas defender.
Bentuknya menyerupai silinder dengan tinggi bangunan menjulang ke atas.
Dinding-dinding perbatasan wilayah kota benteng Clever menyatu pada sisi-sisinya.
Tak ada jendela kecuali pada bagian puncak bangunan.
Terdapat empat pintu sebagai akses masuk bangunan, masing-masing pintu berada pada sisi yang berbeda.
Hal ini memungkinkan akses keluar masuk ke seluruh wilayah yang berada berada di kota benteng Clever melalui bangunan itu.
..."Cara efektif bertarung adalah mencari kelemahan musuhmu."...
...-Delmon-...