Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 5 : Hutan Tidur IV



Sementara itu Clare menatap Zeel dengan tatapan kagum, tidak semua orang bisa melakukan apa yang Zeel lakukan.


Pada momen itu ketertarikan Clare pada pengobatan muncul, ia merasa kagum melihat bagaimana Zeel mengobati luka Emily.


“Ada apa?” tanya Zeel sembari menatap Clare.


“Tidak apa-apa,” balas Clare.


Zeel berkata, “sudah selesai … dengan begini luka Emily akan cepat sembuh.”


“Terima kasih kakak Zeel,” ucap Leon dan Luis serentak dengan ekspresi senang.


"Apa tidak ada racun pada lukanya?" tanya Clare khawatir.


Zeel menjawab, "tidak ... sepertinya sesuatu yang melukainya tidak beracun."


"Emily ... apa yang terjadi?" tanya Clare.


"Pada saat aku berlari untuk mengambil air ... aku terjatuh, kemudian kakiku mengenai sesuatu," cerita Emily.


"Sekarang kamu sudah tidak apa-apa," tutur Clare sembari mengelus lembut rambut Emily.


“Emily .... tidurlah supaya lukamu lekas sembuh,” kata Zeel.


Emily berkata, “baiklah … terima kasih.”


Tubuh Emily tampak lemas.


Selepas itu Emily tertidur dengan lelap di kursi panjang.


Lalu Zeel pergi ke depan rumah untuk membagikan air yang tersisa kepada Chobo.


Kemudian Zeel memanggil Leon dan Luis.


“Ada apa kakak Zeel?” tanya Leon.


Zeel berkata, “bantu aku mengambil kereta Chobo.”


Kemudian Zeel bersama Leon dan Luis kembali memasuki hutan Tidur.


Keadaan hutan semakin gelap dibandingkan sebelumnya.


Tidak ada kendala berarti selama mereka mengambil kereta chobo yang berada di dalam hutan.


Di saat mereka keluar dari hutan hari sudah menjadi gelap.


Mereka bergegas pergi ke rumah di mana Clare dan Emily menunggu kepulangan mereka.


Setibanya di halaman rumah Zeel, Leon dan Luis meniggalkan kereta Chobo tepat di sebelah chobo yang sedang tidur.


Dari halaman rumah tampak cahaya terpancar dari selah-selah pintu dan jendela rumah.


Lalu Zeel diikuti Leon dan Luis masuk ke dalam rumah.


Terlihat oleh Zeel sebuah lilin menyala di dinding, namun tidak ada orang.


“Mereka ke mana?” tanya Leon.


Zeel dengan ekspresi panik berkata, “Clare!”


Zeel yang panik segera memeriksa ruangan terdekat.


Sebuah pintu dengan tertutup kain Zeel hampiri, lalu Zeel membuka penutup kain dengan cepat.


Terlihat oleh Zeel sosok Clare yang sedang mengupas kulit buah sunetta, serta Emily yang sedang berdiri di atas kursi.


Kemudian Leon dan Luis mengikuti langkah Zeel dari belakang.


Sama seperti Zeel, mereka yang tadinya panik nampak lebih tenang setelah melihat Emily dan Clare baik-baik saja.


“Kenapa sampai berteriak seperti itu?” tanya Clare.


Zeel berkata, “tidak apa-apa … aku pikir hal buruk terjadi.”


“Kakak Clare sedang apa?” ucap Leon sembari menghampiri Clare.


Terlihat oleh Leon sosok Clare yang sedang mengupas buah Sunetta di meja makan.


Tangan kanan Clare memegang sebuah pisau besi sementara tangan kirinya memegang buah sunetta.


Srettt, srettt ....


Secara perlahan Clare mengupas kulit buah sunetta yang ada di tangan kirinya lalu menaruh buah yang sudah di kupas itu ke piring kaca.


“Emily sedang apa?” tanya Luis sembari menghampiri Emily.


Emily menjawab, “aku membantu kakak Clare mencuci buah.”


Terpandang oleh Luis sosok Emily yang sedang berdiri di atas salah satu kursi meja makan.


Tepat pada meja makan yang berada di hadapan Emily nampak sebuah ember kayu yang berisikan air serta buah sunetta.


Secara perlahan Emily membersihkan buah sunetta lalu menyerahkannya kepada Clare untuk di kupas.


"Bagaimana dengan lukamu Emily?" tanya Luis.


Emily menjawab, "sekarang sudah tidak apa-apa kak."


“Ada yang bisa aku bantu?” tanya Zeel sembari menatap Clare.


“Kalian pasti lelah ... duduklah,” kata Clare.


Lalu Zeel, Leon dan Luis duduk di kursi meja makan sembari menunggu Clare dan Emily menyiapkan buah.


Setelah seluruh buah sunetta selesai dibersihkan dan dikupas, mereka akan menyantap buah-buah sunetta itu sebagai makan malam.


Mereka semua sudah di kursi meja makan, namun Emily nampak kesusahan untuk meraih meja dengan tangannya.


Clare yang melihat itu lalu mengangkat tubuh Emily kemudian membiarkan Emily duduk di pangkuannya.


“Emily biasanya bagaimana?” tanya Clare.


Leon menjawab, “biasanya ia duduk di pangkuan ibu atau ayah.”


Selepas itu mereka menyantap makan malam bersama.


Leon, Luis dan Emily nampak melahap buah sunetta dengan lahap terutama Emily, hal ini membuat Zeel dan Clare senang.


Meskipun hanya memakan buah sebagai makan malam, baik Leon, Luis maupun Emily tidak mengeluh sekalipun.


“Kenapa Emily suka mengangkat air?” tanya Zeel.


Emily berhenti mengunyah lalu menjawab, “aku suka mengangkat air ... ayah dan ibu akan memujiku.”


Makan malam selesai, Clare dibantu Zeel mencuci piring kayu serta gelas yang baru saja mereka kenakan.


Sementara Leon dan Luis sudah naik ke lantai dua untuk tidur, di saat yang bersamaan Emily tertidur di meja makan.


Zzz...zz...z....


Terdengar suara dari Emily yang sedang tidur.


Usai mencuci piring kayu dan gelas yang baru saja mereka kenakan, Zeel lebih dulu pergi ke ruang tamu lalu berbaring di kursi panjang.


Lalu beberapa saat kemudian Clare menghampiri Zeel sembari menggendong Emily yang sudah tidur.


“Apa yang akan kita lakukan pada mereka?” tanya Clare.


Zeel menjawab, “kita akan membawa mereka bersama kita.”


“Baiklah … kalau begitu selamat malam,” kata Clare lalu pergi.


Lalu Clare masuk ke salah satu ruangan yang berada di sebelah dapur, nampak di hadapan Clare tempat tidur untuk dua orang.


Kemudian Clare membaringkan tubuh Emily di tempat tidur selepas itu ia tidur di sebelah Emily.


..."Meskipun hanya buah ... syukurlah mereka menikmatinya."...


...-Clare-...