
Sophia tidak menjawab.
“Sophia?” tanya Clare.
Tiba-tiba dari belakang Clare terdengar sesuatu.
Clare nampak kaget.
Tampak sosok Sophia muncul dari permukaan air yang berada tepat di belakang Clare.
“Dapat!” seru Sophia.
Kini kedua telapak tangan Sophia sedang menggenggam kedua buah dada Clare dari belakang.
Ah ....
Spontan Clare mendesah.
“Ini … cukup besar juga ya,” tutur Sophia.
Clare bertanya, “apa yang kamu lakukan?”
“Tes payudara,” balas Sophia.
Clare berkata, “Apa itu … hentikan!”
Ah ....
Lagi-lagi Clare mendesah.
“Apa Zeel menyukai dadamu?” goda Sophia.
“Tidak tahu,” balas Clare.
“Jadi begitu … kalau begitu aku yang pertama ya?” tanya Sophia.
Kali ini Clare tidak menjawab, tubuhnya tampak lemas tak berdaya.
Hal ini tidak membuat Sophia berhenti melakukan aksinya.
Kini Sophia meremas kedua buah dada Clare dengan lembut.
Ah ....
Kini desahan Clare bertambah nyaring.
Sadar akan itu, Spontan Clare menutup mulutnya.
Malam hari, ruang makan istana, istana Bluelight.
Seperti malam-malam sebelumnya, Clare, Sophia dan Zeel makan malam bersama.
Sembari menyatap hidangan makan malam, mereka sedikit berbincang-bincang.
“Zeel, bagaimana latihanmu?” tanya Sophia.
Zeel menawab, “prajurit istana menemani latihanku … banyak hal-hal baru yang aku pelajari.”
“Syukurlah,” balas Sophia.
Zeel menoleh ke arah Clare.
Tidak seperti makan malam sebelumnya, kini Clare duduk tepat di sebelah Zeel.
“Kenapa?” tanya Zeel.
“Tidak apa-apa,” jawab Clare.
Clare nampak seperti hewan yang sedang di buru, ia begitu was-was.
Hahaha ....
Sophia tertawa.
“Apakah terjadi sesuatu di antara kalian?” tanya Zeel penasaran.
Sophia tersenyum kecil.
“Tidak ada … biasa saja,” tutur Sophia.
Tengah malam, istana Bluelight, kota benteng Haven.
Malam itu begitu sunyi, hampir seluruh penghuni istana tertidur kecuali yang berjaga.
Pada tengah malam itu Zeel terbangun dari tidurnya.
Ia terbangun karena ingin buang air kecil
Lalu Zeel memutuskan untuk pergi ke toilet.
Lorong istana Zeel lalui, tidak ada satupun orang
berpapasan dengannya.
Sesampainya di toilet, Zeel segera buang air kecil.
Dengan keadaan setengah sadar Zeel kembali ke kamarnya.
Di perjalanan Kembali, Zeel mendengar suara tangisan.
Lalu Zeel menghampiri sumber suara tangisan itu.
Semakin Zeel mendekat, semakin jelas suara tangisan itu.
Setibanya Zeel di sumber suara, ia melihat sosok
Sophia sedang menangis sembari duduk di salah satu sisi lorong.
“Sophia?” tanya Zeel.
Sophia menoleh ke arah Zeel dengan mata berkaca-kaca.
“Kenapa?” tanya Zeel khawatir.
Tanpa berkata apa-apa, Sophia segera bangkit berdiri, lalu berlari menjauhi Zeel.
“Sophia?” tanya Zeel.
Lalu Zeel berniat untuk mengejar Sophia.
Namun langkah Zeel terhenti Ketika mendengar suara dari salah satu ruangan.
Pintu ruangan itu berada tepat di hadapan tempat Sophia duduk sebelumnya.
Zeel perlahan menghampiri pintu ruangan itu, keadaan pintu nampak tidak terkunci.
Pintu itu tampak sedikit terbuka.
Zeel perlahan membuka pintu itu, lalu melihat ke dalam ruangan.
Terpandang di hadapan Zeel sosok wanita sedang duduk dia tas tempat tidur.
Bagian kaki hingga pinggang wanita itu tertutup
selimut.
Wanita itu tampak tidak sadar akan kehadiran Zeel.
Zeel melihat wanita itu sedang memegang sebuah boneka dengan kedua tangannya.
Wanita itu tampak tersenyuu-senyum sembari menatap boneka.
“Wahai anakku Sophia,” ucap wanita itu.
Zeel menoleh ke seisi ruangan, namun tidak ada orang lain di ruangan tersebut.
“Suatu saat … kamu akan menjadi gadis yang cantik,” tutur wanita itu.
Wanita itu berbicara kepada boneka.
Lalu Zeel menutup pintu ruangan itu dari luar.
Entah apa yang membawanya ke sana.
Sophia benar ada di sana.
Zeel melihat Sophia dari kejauhan, saat itu Sophia sedang bersandar pada pagar pembatas balkon istana.
Tanpa berkata-kata, Zeel berjalan menghampiri Sophia.
Kini mereka berdiri bersampingan, selepas itu Zeel juga bersandar pada pagar.
Malam itu begitu sunyi, sinar bulan menyinari mereka.
Zeel menatap Sophia.
Sophia tampak begitu sedih.
Hiks, hiks ....
Tetesan air mata mengalir pada pipinya.
Tiba-tiba Zeel teringat kejadian beberapa hari lalu.
Saat ia melihat Sophia bertarung begitu Tangguh.
Kini Sophia tampak begitu tak berdaya
“Sophia … kenapa?” tanya Zeel khawatir.
Sophia membersihkan air mata dari pipinya.
“Wanita di ruangan itu siapa?” tanya Zeel.
“Kamu melihatnya?” tanya Clare.
Zeel menjawab, “aku melihatnya.”
“Ia adalah ibuku,” tutur Clare.
Lagi-lagi air mata Sophia mengalir.
Sophia berkata, “tiga tahun lalu, semenjak ayah di bunuh … ibu menjadi seperti itu.”
Kemudian Sophia bercerita panjang lebar tentang kematian ayahnya pada tiga tahun lalu.
Sophia tampak begitu sedih, namun di sisi lain ia
tampak begitu lega.
Sophia bukan orang yang suka menceritakan masalahnya kepada orang lain.
Sebagai tuan putri, Sophia harus menjadi sosok yang tangguh.
“Aku harus melindungi serta memajukan seluruh kota ini, demi seluruh penduduk … demi ayahku,” tutur Sophia sembari memandang langit malam.
Lalu Zeel mendekati Sophia, kemudian ia mengelus rambut Sophia secara perlahan.
“Kenapa?” tanya Sophia tampak kaget.
Zeel menjawab, “Ketika Clare sedih … aku selalu
melakukan ini.”
“Maaf … tapi aku bukan Clare,” ucap Sophia.
Seketika Zeel menjauhkan tangannya dari Sophia.
Kemudian Zeel Kembali ke posisi awal.
Lalu Zeel berkata, “maaf.”
“Tidak apa-apa,” balas Sophia.
Suasana menjadi canggung untuk beberapa saat.
Kini mereka berdua sedang menatap langit malam.
Sophia menatap ke arah Zeel.
Di mata Sophia, malam itu Zeel terlihat begitu tampan.
Tiba-tiba Zeel menatap balik ke arah Sophia.
Entah kenapa Sophia memalingkan wajahnya.
Seketika pipi Sophia menjadi sedikit kemerahan.
“Kenapa Sophia? apa kamu sedang tidak enak badan?” tanya Zeel dengan wajah polos.
“Bukan!” teriak Sophia.
“Lalu?” tanya Zeel.
Sophia menatap Zeel dengan resah.
“Zeel … jika kamu tidak peka seperti ini, mungkin
suatu saat Clare akan meninggalkanmu,” ucap Sophia.
“Apa maksudmu?” tanya Zeel tampak bingung.
Sophia memalingkan wajahnya, kemudian menatap langit malam.
Lalu Sophia berkata, “sudahlah … lupakan.”
Suasana Kembali hening untuk beberapa saat.
Sophia tampak lebih tenang, kini tidak ada lagi air mata di pipinya.
Zeel dan Sophia menatap langit malam.
“Zeel … kamu bisa Kembali ke kamarmu,” tutur Sophia.
“Kamu?” tanya Zeel.
“Nanti aku akan kembali … sekarang aku ingin sendiri,” ucap Sophia.
“Baiklah … selamat malam,” kata Zeel.
“Selamat malam,”
Kemudian Zeel pergi meninggalkan Sophia seorang diri di balkon.
Lalu Zeel berjalan di antara lorong.
Malam itu Zeel melalui ruangan tidur Clare.
Nampak ruangan tidur Clare tidak terkunci.
Lalu Zeel masuk ke kamar Clare, ia berniat untuk
mengingkatkan Clare mengunci pintu.
“Clare kenapa kamu tidak me—” kalimat Zeel terhenti.
Ia melihat Clare sedang tidur dengan keadaan duduk di kursi panjang.
Tampak di pangkuan Clare sebuah keranjang yang Clare beli Ketika mereka jalan-jalan.
Zeel memutuskan untuk tidak membuka isi keranjang itu.
Lalu ia memindahkan keranjang itu ke tempat lain, kemudian mengangkat tubuh Clare ke tempat tidur.
Selepas itu Zeel menutupi tubuh Clare dari kaki hingga leher dengan selimut.
...“Aku harus melindungi serta memajukan kota ini, demi seluruh penduduk … demi ayahku.”...
...-Sophia-...