Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 34 : Kalah



Beberapa jam berlalu semenjak pertandingan antara Zeel dan Sophia usai


Zeel kini terbaring di atas sebuah tempat tidur.


Secara perlahan, Zeel membuka mata.


Terpandang oleh Zeel, Clare sedang menyandarkan kepala di atas dadanya.


Serta Bendetta, Sophia dan Delmon sedang berdiri mengelilinginya.


Hiks, hiks, hiks ….


Terdengar oleh Zeel, isak tangis yang tidak asing


baginya, isak tangis Clare.


“Zeel!” seru Clare.


“Sekarang aku ada di mana?” tanya Zeel.


Hiks, hiks, hiks ….


Clare masih menangis tersedu-sedu.


Clare berkata, “Aku pikir kamu tidak akan bangun


lagi.”


Air mata Clare menetes, sedikit membasahi dada Zeel.


“Sekarang kamu sedang berada di ruang perawatan,” jelas Sophia.


Zeel menaikan sedikit kepala, memandang ke arah bawah, ia melihat bagian bawah tubuhnya yang sudah terlilit perban putih tebal.


Pada bagian pinggang kiri Zeel, perban putih terlihat sedikit kemerahan.


“Bendetta … bagaimana dengan lukanya?” tanya Sophia.


Bendetta berucap, “Harusnya pendarahan sudah


berhenti.”


Huuuf ….


Sophia menghembuskan napas, tanda lega.


Terpandang oleh Zeel, Bendetta sedang membawa sebuah nampan, berisikan sebuah gelas kosong.


“Kalau begitu … saya pamit,” tutur Bendetta.


“Baiklah,” ucap Sophia.


Bendetta menatap Zeel.


“Jika perlu sesuatu … tolong bunyikan lonceng ,” tutur Bendetta.


Zeel bertanya, “lonceng?”


“Ada di sebelah kirimu,” kata Bendetta.


Zeel menoleh ke arah kiri, tampak sebuah meja berada sejajar dengan posisi kepala Zeel.


Pada permukaan meja, tersedia sebuah loceng berukuran sedang.


“Baiklah,” jawab Zeel.


Tap, tap, tap ….


Bendetta melangkah pergi.


“Bendetta,” ucap Zeel pelan.


Bendetta berpaling, terlihat olehnya Zeel sedang tersenyum kecil kepadanya.


“Terima kasih,” ujar Zeel.


Tap, tap, tap ….


Bendetta Kembali melangkah pergi.


“Lalu … bagaimana perasaanmu Zeel?” tanya Sophia.


“Kepalaku … sedikit pusing,” tutur Zeel sembari


memegang kepala.


Sophia berkata, “untuk sementara … sebaiknya kamu perbanyak istirahat.”


“Baiklah,” jawab Zeel sembari memejamkan mata.


Sophia menoleh ke samping, terpandang oleh Sophia sosok Clare yang masing menangis tersedu-sedu.


Hiks, hiks, hiks ….


Tangis Clare terdengar pada seisi ruangan.


“Clare … bisa temani aku?” pinta Sophia.


“Kenapa?” tanya Clare dengan mata berkaca-kaca.


Sopia berucap, “ikuti aku.”


Sophia meraih tangan Clare, kemudian ia menarik Clare pergi.


Tap, tap, tap ….


Zeel melihat langkah kaki kiri Sophia yang sedikit terpincang-pincang.


Kreeek ….


Sophia membuka pintu ruangan, kemudian ia membawa Clare keluar bersamanya.


Tap ….


Setibanya di sisi luar ruangan, langkah Sophia dan Clare terhenti.


Kini mereka berada di sebuah Lorong sempit, di sekitar mereka hanya ada pintu-pintu, serta lampu yang menyala pada lingit-langit.


“Kenapa … Sophia?” tanya Clare.


Gyuut ….


Tiba-tiba Sophia memeluk Clare erat.


“Eeeeh!” seru Clare kaget.


Tap ….


Clare mundur selangkah.


“Kenapa kenapa?” tanya Clare.


Sophia berbisik di dekat telinga kiri  Clare.


“Tentang Zeel … aku percayakan dia padamu,” bisik Sophia.


Eeeeh … kenapa kenapa, apa yang terjadi? batin Clare.


Clare terjatuh dalam kebingungan, ia sama sekali tidak mengerti apa yang Sophia katakan.


“Percayakan?” tanya  Clare.


“Dan juga … tolong jaga Zeel,” bisik Sophia.


“Jaga?” tanya Clare pelan.


Aku, menjaga Zeel … mungkin Zeel selama ini lebih banyak menjagaku, batin Clare.


Sophia melepaskan peluknya dari Clare, kemudian ia menggegam kedua Pundak Clare.


Sophia menatap lurus Clare.


“Clare?” tanya Sophia.


“Iya?” tanya balik Clare.


Sophia sedikit memerengkan kepala.


“Kenapa kamu tidak menjawab?” tanya Sophia.


Clare berkata, “maaf … iya tentu saja, serahkan


padaku.”


Clare tersenyum kecil.


Sophia melepaskan genggamannya dari Pundak Clare.


Sophia melambaikan telapak tangan kanannya kepada Clare.


“Dadah,” balas Clare sembari melambaikan tangan balik.


Tap, tap, tap ….


Sohia pergi entah ke mana.


Sementara itu pada waktu yang bersamaan, Delmon masih berada di kamar perawatan Zeel.


Hanya mereka berdua di sana, Zeel masih berbaring sembari menjadikan tangannya bantalan.


Delmon tampak bersandar pada dinding.


“Sudah kuduga … kamu cocok dengan senjata belati,” kata Delmon.


Zeel bertanya, “jadi kamu mengujiku?”


“Begitulah,” jawab Delmon.


“Jika aku terluka lebih parah dari ini ... bagaimana?”


Hahaha ….


Tawa Delmon.


“Kamu tidak selemah itu,” tutur Delmon.


“Aku tidak sehebat seperti apa yang kau pikirkan,” kata Zeel sembari memandang langit-langit.


Delmon berucap, “Tentang matamu … kamu tidak bisa mempertahankannya begitu lama kan?”


“Begitulah,” jawab Zeel.


“Tuan putri itu, ia bisa menggunakan batu sakral lebih lama darimu,” ucap Delmon.


Zeel memutarbalik ingatannya, ia bersuaha mengingat ke belakang, apa saja yang terjadi.


“Benar … Sophia mengaktifkan batu sakral lebih lama dariku,” ucap Zeel.


Tap, tap, tap ….


Delmon berjalan menjauhi Zeel, mendekati pintu keluar.


“Sebaiknya kamu menggali informasi darinya … tentang batu sakral,” saran Delmon.


Delmon memegang ganggang pintu.


“Aku pergi,” ujar Delmon.


Kreeek ….


Dari sisi dalam, Delmon membuka pintu.


Pintu terbuka secara perlahan.


Pada sisi luar pintu, Delmon melihat Clare sedang berdiri sembari menyembunyikan tangan di balik pinggang belakang.


Delmon sedikit memiringkan badan, membukakan jalan bagi Clare.


Tap, tap ….


Clare melangkahkan kaki, memasuki ruangan.


Tap, tap, tap ….


Delmon melangkahkan kaki, meninggalkan ruangan.


Kreeek ….


Dari sisi luar Delmon menutup pintu perlahan.


Tup ….


Pintu tertutup.


Pada ruang rawat Zeel, sepasang jendela sedikit


terbuka, sedikit menerangi ruangan.


Kini hanya Zeel dan Clare berada di dalam ruangan.


Clare menghindari kontak mata dengan Zeel, ia takut melihat Zeel.


Terpandang oleh Zeel, bibir Clare yang gemetar.


Clare bertanya, “bagaimana dengan lukamu?”


“Sekarang sudah tidak apa-apa,” jawab Zeel.


Wuushhh ….


Angin berhembus, memasuki ruangan melalui jendela yang renggang.


Sore hari, kamar Sophia, istana Bluelight.


Sakit!


Terdengar suara Sophia dari dalam kamar.


Kini dengan gaun yang sedikit terangkat, Sophia sedang duduk pada tepian kasur.


Tepat di bawah mata kaki kiri  Clare, tampak sedikit menghitam.


Dengan kain tipis berisikan air hangat, Bendetta mengusap luka Sophia.


“Sakit!” seru Sophia.


“Sejak tadi … kamu pasti menahan sakit luka ini kan?”


Clup ….


Sophia mencelupkan kain hangat itu kedalam sebuah wadah.


Lali dengan sedikit kasar, Bendetta menyentuh luka Sophia dengan kain hangat.


Sophia bertanya bali, “kamu sengaja melakukannya kan?”


Bendetta sedikit menaikan pandangan, meandang Sophia tajam.


“Kenapa kamu menahannya?” tanya balik Bendetta.


Sophia berucap, “karena … aku tidak ingin kelihatan lemah di hadapannya.”


Sembari mengusap lembut luka Sophia, Bendetta tersenyum kecil.


“Jadi begitu … tapi itu belum tentu hal baik,” kata


Bendetta pelan.


Sophia sedikit memerengkan kepala.


Sophia bertanya, “apa?”


“Lupakan,” kata Bendetta.


Beberapa saat berlalu, Bendetta sedang melilitkan


perban pada kaki Sophia.


Tes ….


Entah dari mana, setetes air terjatuh ke atas


permukaan lantai, tidak jauh dari Bendetta.


Sadar akan itu, Bendetta mengalihkan pandangan kebatas.


Tampak di pandangan Bendetta, Sophia dengan genangan air di mata.


Seakan-akan Sophia sedang menahan tangis.


Bendetta segera bangkit dari duduknya.


Gyuutt ….


Bendetta memeluk Sophia erat.


Hiks, hiks, hiks ….


Tangis Sophia pecah di pelukan Bendetta.


..."Aku melindungi Zeel?"...


...-Clare-...